sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Konstruksi Alat Tangkap Bottom Gillnet


Gillnet adalah jenis jaring yang berbentuk empat persegi panjang dimana di dalam air kedudukannya menghadang pergerakan ikan dan akan menjerat insang ikan atau membelit badannya (Alam Ikan 1). Sedangkan menurut (Alam Ikan 2), jaring insang (gillnet) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring atau terpuntal pada bagian tubuh jaring.


Klasifikasi Gillnet
Klasifikasi jaring insang menurut Internasional Standart Clasification of Fishing Gear menggunakan singkatan dan berkode ISCFG 07.1.0. (FAO,1971).
(Alam Ikan 3), menjelaskan bahwa klasifikasi jaring insang berdasarkan metode pengoperasian yaitu dengan cara dibiarkan hanyut di perairan. Jaring insang yang dihanyutkan di bagian permukaan disebut dengan jaring insang hanyut permukaan (surface drift gillnet), yang dihanyutkan di kolam perairan disebut jaring insang hanyut kolam perairan (mid water / Submerged drift gillnet) dan yang dihanyutkan di dasar perairan disebut dengan jaring insang hanyut dasar (bottom drift gillnet).
Menurut (Alam Ikan 4), mengelompokkan gillnet ke dalam empat kelompok besar, sebagai berikut :
1. Berdasarkan letak alat dalam perairan, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet permukaan (surface gillnet), gill net pertengahan (midwater gillnet) dan gillnet dasar (bottom gillnet).
2. Berdasarkan kedudukan alat waktu dipasang, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet hanyut dan gillnet tetap.
2. Berdasarkan bentuk alat waktu operasi, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet melingkar (encircling gillnet) dan gillnet mendatar (drift gillnet).
3. Berdasarkan jumlah lembaran, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet rangkap (trammelnet) dan gillnet tunggal.

Konstruksi Bottom Gillnet
Menurut (Alam Ikan 4), menyebutkan walau terdapat perbedaan pokok pada tiap-tiap jenis gillnet sesuai dengan klasifikasinya, namun  secara umum gillnet mempunyai persamaan bentuk yang umum yang terdapat pada tiap-tiap jenis, sehingga tiap-tiap jenis gillnet mempunyai persamaan bentuk pokok.
Menurut (Alam Ikan 4), alat tangkap jaring insang mempunyai bagian-bagian sebagai berikut :

1. Jaring Utama atau Badan Jaring
Jaring utama adalah merupakan sebuah lembaran jaring yang tergantung pada tali ris atas. Warna jaring yang umum dipakai untuk gillnet adalah warna bening atau biru laut, agar ikan sulit mendeteksi keberadaan jaring di dalam perairan. Warna jaring apabila pengoperasian pada waktu malam hari yaitu jenis jaring yang dipilih sebaiknya warna biru atau hijau, sedangkan untuk operasi siang hari dipilih warna putih.

2. Tali Ris Atas
Tali ris atas adalah tempat untuk menggantungkan jaring utama dan tali pelampung. Untuk menghindarkan agar gillnet tidak terbelit sewaktu dioperasikan (terutama pada bagian tali ris atasnya) biasanya tali ris atas  dibuat rangkap dua dengan arah pintalan yang berlawanan (S-Z).
 Fungsi dari tali ris atas terutama adalah untuk tempat melekatnya pelampung serta bersama dengan tali ris bawah memberi bentuk pada jaring tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa bahan dari tali ris atas sebaiknya dipilih bahan yang memiliki berat jenis kurang dari satu serta tahan terhadap gesekan, baik itu gesekan dengan bahan diluar jaring (misalnya gesekan tali dengan bagian tertentu dari perahu). Tali ris yang biasanya digunakan untuk jaring insang biasanya  terbuat dari polyethylene (Alam Ikan 5).

3. Tali Ris Bawah
Pada gillnet permukaan jarang menggunakan tali ris bawah sedangkan pada gillnet pertengahan dan gillnet dasar kadang-kadang digunakan tali ris bawah. Tali ris bawah ini berfungsi untuk tempat melekatnya pemberat.

4. Tali Pelampung
Untuk gillnet pertengahan dan gillnet dasar disamping tali ris atas yang berfungsi melekatkan pelampung jaring, masih ada lagi pelampung tambahan  yang berada di permukaan perairan yang berfungsi sebagai tanda tempat gillnet  dioperasikan. Pelampung ini biasanya dipasang pada tiap-tiap piece (pada sambungan antara piece dengan piece). Tali  pelampung ini, terentang panjangnya dari tempat pemasangan alat itu, kedudukan alat dipasang sampai permukaan laut.

5. Pelampung
Pelampung yang melekat pada tali ris atas, pada gillnet pertengahan  dan gillnet dasar berfungsi untuk mengangkat tali ris agar jaring dapat berdiri tegak terhadap permukaan air, diperlukan pelampung tambahan yang berfungsi sebagai tanda di permukaan perairan. Bahan pelampung umumnya dari gabus/plastik/busa karet.

6. Pemberat
Ada dua macam pemberat yang biasanya digunakan untuk gillnet, yaitu pemberat dari saran dan pemberat dari logam atau batu. Pemberat dari saran adalah berbentuk jaring dengan ukuran mata yang sama dengan ukuran mata jaring yang dipergunakan dan umumnya memang sudah dipasang langsung dari pabrik pembuatannya. Pemberat dari logam biasanya bahannya dari timah atau logam lain yang tidak mudah berkarat dan dibentuk serta murah harganya. Kadang-kadang  pemberat juga dapat mempergunakan bahan dari batu atau benda-benda lain yang  berat jenisnya  lebih besar daripada  berat jenis air laut. Fungsi dari pemberat adalah memperbesar kekuatan jaring dan memberikan gaya rentangan pada jaring bersama dengan pelampung.

7. Tali Selambar
Pada ujung gillnet (yang pertama diturunkan sewaktu operasi) dipasang  tali selambar yang disebut tali selambar depan dan gunanya untuk mengikatkan  ujung gillnet yang lain diikatkan dengan tali selambar yang disebut tali selambar belakang. Fungsi  tali selambar belakang  disamping untuk  mengikatkan  ujung gillnet  dengan pelampung tanda kadang-kadang juga untuk mengikatkan gillnet dengan kapal.

8. Mata Jaring
(Alam Ikan 6), mengatakan bahwa satu mata jaring dibentuk oleh empat simpul. Mata jaring akan terbuka secara maksimum, jika keempat simpul ini bekerja gaya-gaya yang sama besarnya, dua gaya pada arah horizontal yang berlawanan arah dan dua gaya pada arah vertikal yang berlawanan arah pula. Baik arah maupun besar dari gaya-gaya ini haruslah selalu berada dalam keadaan seimbang sehingga biarpun keadaan perairan berubah-ubah, mata jaring tetap terbuka maksimum. Pada kenyataannya tidaklah mudah untuk mendapatkan hal yang demikian.


Prinsip Pengoperasian Gillnet
Pada prinsipnya dalam pengoperasian jaring insang (gillnet) tidak menggunakan keahlian yang khusus. Adapun cara tertangkapnya ikan pada gillnet, karena ikan-ikan menumbukkan dirinya pada dinding rajutan jaring, atau oleh karena terbelit-belit tubuhnya oleh mata jaring (Alam Ikan 3).

Cara operasi alat tangkap bottom gillnet pada prinsipnya yaitu membentangkan jaring di dasar perairan secara horisontal di mana bottom gillnet berdiri tegak lurus terhadap dasar perairan (Alam Ikan 9 ).

(Alam Ikan 4) mengemukakan, bahwa sebelum penebaran jaring harus diperhatikan beberapa hal supaya gillnet yang dioperasikan bisa bekerja optimal, yaitu :

  • Posisi perahu ditempatkan sedemikian rupa sehingga arah angin datangnya dari tempat penurunan alat.
  • Kedudukan jaring sebaiknya disesuaikan dengan arah arus agar jaring tersebut tidak menggulung. Kedudukan terbaik dari jaring gillnet pada waktu dioperasikan yaitu memotong arus.
  • Selanjutnya dijelaskan pula bahwa penebaran jaring dimulai dengan penurunan pelampung (tanda ujung jaring) kemudian tali selambar depan lalu jaring gillnet, disusul tali selambar belakang diikuti oleh pelampung tanda. Sedangkan urutan penarikan bottom gillnet adalah kebalikan dari penebarannya, yaitu mulai dari penarikan pelampung pada ujung jaring lalu tali selambar belakang, kemudian jaring bottom gillnet diikuti penarikan tali selambar muka dan terakhir yaitu pengangkatan pelampung tanda.
Daerah Penangkapan Gillnet
Syarat-syarat daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gillnet menurut (Alam Ikan 4) adalah :
1. Bukan daerah pelayaran umum
2. Untuk gillnet dasar, dasar perairan  tidak berkarang
3. Arus arahnya beraturan  dan paling kuat  sekitar empat knot
4. Untuk gillnet permukaan dalam perairan sekitar 20 - 30 meter
5. Untuk gillnet pertengahan (midwater gillnet) dalam perairan dari 50 meter.

Menurut (Alam Ikan 8), menyatakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan daerah penangkapan ikan antara lain sebagai berikut :
1. Daerah perairan dengan dasar yang karang berpasir.
2. Perairan dengan kecepatan arus dan gelombang yang tidak cukup kuat.
3. Arus pasang surut yang tidak terlalu kuat.
4. Daerah perairan yang kaya akan bahan makanan berupa sejenis plankton.

Menurut (Alam Ikan 6), daerah penangkapan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Arus laut tidak terlalu kuat
2. Dasar peraiaran terdiri dari lumpur atau pasir, tidak terdapat benda yang dapat       menyangkut pada jaring  saat dilakukan operasi penagkapan
3. Dasar perairan datar, tidak terdapat perbedaan kedalaman perairan yang mencolok

Kegiatan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang pasif umumnya dilakukan pada malam hari, salah satu alasannya adalah supaya indera penglihatan dari ikan (hewan air lainya) sulit untuk mendeteksi keberadaan jaring  dalam perairan. Salah satu alasan tertangkap atau tidak tertangkapnya ikan pada jaring insang adalah karena adanya pengaruh internal dan eksternal, pengaruh internal adalah karena adanya pengaruh indera ikan, seperti indera penglihatan, penciuman, lateral line dan indera lainnya. Pengaruh eksternal dapat ditimbulkan  karena adanya  pengaruh dari konstruksi alat tangkap, kondisi perairan termasuk cuaca  dan pengaruh lainnya.

Warna jaring didalam air sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman dari perairan, transparansi, sinar matahari, sinar bulan, sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan-ikan yang berbeda-beda. Hal ini sehubungan dengan  keberadaan jaring yang terlentang di dalam air bagi ikan yang sedang berenang merupakan  penghalang / pengganggu. Pengaruh hari bulan (age of moon) juga dapat memberi pengaruh terhadap hasil tangkapan   (Alam Ikan 6).

Kapal yang Digunakan Gillnet
Menurut (Alam Ikan 7), jenis kapal yang digunakan untuk operasi gillnet dan trammel net sebaiknya di rancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut:

  • Keleluasan dalam olah gerak pada saat penebaran dan penarikan jaring, serta untuk menempatkan jaring diatas kapal, hal ini membutuhkan lebar yang cukup.
  • Stabilitas yang mantap dengan mengurangi frekuensi goncangan dan ayunan, akan memberikan kenyamanan bagi nelayan dalam melakukan operasi penangkapan, untuk keperluan ini dapat diperbesar.
Hasil Tangkapan Gillnet
Jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Direktorat Jendral Perikanan, 1991
Alam Ikan 2 : Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan 2006
Alam Ikan 3 : Mulyono 1986
Alam Ikan 4 : Sadhori 1985
Alam Ikan 5 : Yusuf, 1985
Alam Ikan 6 : Ayodhyoa 1981
Alam Ikan 7 : Direktorat Jenderal Perikanan 1991
Alam Ikan 8 : Balai Pengembangan Penangkapan Ikan 1985
Alam Ikan 9 : Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, 1993

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

8 Filum Klasifikasi Organisme Avertebrata

Avertebrata berasal dari dua kata yaitu A yang berarti tidak dan vertebrata yang artinya bertulang belakang. Jadi avertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Avertebrata Air adalah  ilmu yang mempelajari  semua biota-biota yang hidup dalam air, terutama biota atau hewan air yang tidak memiliki tulang belakang sebagai penopang tubuhnya termasuk juga tumbuhan air dan karang. Kelompok hewan avertebrata mempunyai ciri-ciri tidak bertulang belakang, susunan syaraf terletak di bagian ventral (perut) di bawah saluran pencernaan, umumnya memiliki rangka luar (eksoskeleton) dan otak tidak dilindungi oleh tengkorak.

Berikut adalah kelompok hewan yang termasuk 8 filum dalam Klasifikasi Avertebrata:
1. Cacing gelang atau Annelida
Cacing gelang atau Annelida  adalah cacing yang bagian tubuhnya bersegmen. Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata).Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Ciri tubuh annelida meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Annelida memiliki 3 kelas, yaitu Oligochaeta, Polychaeta, dan Hirudinae. Contoh dari kelas Olygochaeta adalah cacing Pheretima atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Cacing Tanah. Cacing tanah memiliki sedikit satae (rambut halus dan pendek). Contoh dari Polychaeta adalah Cacing Laut (Nereis) yang memiliki banyak satae pada tiap segmennya. Contoh dari Kelas Hirudinae adalah Lintah yang hidup di air tawar dan Pacet yang hidup di darat.



Arthropoda / organisme berbuku-buku bisa menjadi parasit. Filum Artropoda memiliki spesies yang paling besar, yaitu 75% dari seluruh hewan yang ada di seluruh dunia. Artropoda memiliki nama lain yaitu hewan berbuku-buku. Arthropoda berasal dari bahasa latin: Arthra artinya ruas, buku, segmen, dan Podos artinya kaki yang berarti merupakan hewan yang memiliki kaki beruas, berbuku, atau bersegmen. Tubuh Arthropoda merupakan simetri bilateral dan tripoblastik selomata.

Coelenterata atau cnidaria adalah invertebrata yang memiliki rongga tubuh. Rongga tubuh berfungsi sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler). Golongan Coelenterata merupakan avertebrata yang sebagian besar hidupnya dilaut. Ukuran tubuhnya merupakan yang paling besar baik yang soliter maupun yang berbentuk koloni jika dibandingkan dengan invertebrata lainnya. Cara hidupnya yang melekat didasar perairan, disebut polip, ada yang berenang bebas disebut medusa. Coelenterata memiliki anggota sekitar 9.500 spesies yang terbagi kedalam 4 kelas, yaitu: Hydrozoa, Scyphozoa, Anthozoa, dan Cubozoa. Coelenterata atau juga dikenal dengan Cnidaria merupakan avertebrata yang memiliki tubuh berongga. Bentuk tubuh Coelenterata ada 2, yaitu bentuk tubuh Polip seperti pada Hydra atau Karang dan Medusa seperti pada Ubur-ubur. Coelenterata memiliki 2 lubang tunggal pada tubuhnya, salah satu diantaranya sebagai mulut dan yang lainnya sebagai anus. Mereka mendapatkan makanan dengan cara yang sangat pasif, yaitu menunggu mangsa untuk mendekat lalu menyengatnya dengan tentakel nematocyst. 

4. Echinodermata 

Echinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat.Echinodermata merupakan hewan berkulit duri dan memiliki sistem sirkulasi air (ambulakral) yang unik.Klasifikasi Echinodermata: Asteroidea,Holothuroidea, EchinoideaOphiuroidea,Crinoidea.





5. Moluska 

Moluska adalah hewan triploblastik slomata yang bertubuh lunak. berdasarkan bentuk tubuh, bentuk dan jumlah cangkang, serta beberapa sifat lainnya, filum Mollusca dibagi menjadi 8 kelas, yaitu: 1). Chaetodermomorpha; 2). Neomeniomorpha; 3). Monoplacophora; 4). Polyplacophora; 5). Gastropoda; 6). Pelecypoda; 7). Scaphopoda; dan 8). Cephalopoda




Porifera adalah hewan yang memiliki tubuh yang cukup sederhana

 6. Porifera 
Porifera adalah hewan multiseluler yang paling sederhana.Porifera adalah hewan yang memiliki tubuh yang cukup sederhana, hewan ini biasanya hanya memiliki ukuran tubuh sekitar 1-2 cm. Selain memiliki pori-pori mikroskopis pada tubuhnya, porifera juga memiliki ciri khusus berupa sistem kanal atau sistem saluran air yang berfungsi sebagai tempat bersirkulasinya air di dalam tubuhnya.


Platyhelminthes atau Cacing Pipih adalah filum dalam kerajaan Animalia (hewan)7. Platyhelminthes atau Cacing Pipih 
Platyhelminthes atau Cacing Pipih adalah filum dalam kerajaan Animalia (hewan). Platyhelminthes ada yang hidup bebas di air tawar, air laut, atau tempat yang lembap dengan cara memakan sisa-sisa organisme dan tumbuhan atau hewan kecil. Ada cacing yang hidup sebagai endoparasit atau parasit di dalam tubuh inang, misalnya pada manusia, sapi, babi, anjing, kucing, burung, katak, siput air, dan ikan. 


Nemathelminthes adalah cacing benang yang mencakup berbagai cacing gilig
8. Nemathelminthes 
Nemathelminthes adalah cacing benang yang mencakup berbagai cacing gilig Nemathelminthes adalah cacing yang berbentuk bulat panjang (gilig). Cacing ini dapat hidup di tanah lembap, air tawar, air asin, dan berparasit pada hewan atau manusia. Karena cacing ini hidup sebagai parasit pada makhluk hidup, maka bersifat merugikan kehidupan manusia.



Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kondisi dan Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan

Daerah Penangkapan Ikan

1. Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan
Kondisi-kondisi yang perlu dijadikan acuan dalam menentukan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut :
a)Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang bersama-sama dalam kelompoknya, dan tempat yang baik untuk dijadikan habitat ikan tersebut. Kepadatan dari distribusi ikan tersebut berubah menurut musim, khususnya pada ikan pelagis. 

Daerah yang sesuai untuk habitat ikan, oleh karena itu, secara alamiah diketahui sebagai daerah penangkapan ikan. Kondisi yang diperlukan sebagai daerah penangkapan ikan harus dimungkinkan dengan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan dan habitat ikan, dan juga melimpahnya makanan untuk ikan. 

Tetapi ikan dapat dengan bebas memilih tempat tinggal dengan kehendak mereka sendiri menurut keadaan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Oleh karena itu, jika mereka tinggal untuk waktu yang agak lebih panjang pada suatu tempat tertentu, tempat tersebut akan menjadi daerah penangkapan ikan.


b)Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan.

Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan. 

Terkadang tempat tersebut memiliki arus yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar. Pada tempat tersebut para nelayan sedemikian perlu memperhatikan untuk menghiraukan mengoperasikan alat tangkap. Terkadang mereka menggunakan trap nets, gill nets dan peralatan memancing ikan sebagai ganti peralatan jaring seperti jaring trawl dan purse seine.

Sebaliknya, daerah penangkapan lepas pantai tidak mempunyai kondisi seperti itu, tapi keadaan menyedihkan datang dari cuaca yang buruk dan ombak yang tinggi. Para nelayan juga harus mengatasi kondisi buruk ini dengan efektif menggunakan peralatan menangkap ikan.

c) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis.
Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. 

Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan. Para manajer perikanan harus membuat keuntungan pada setiap operasi. 

Jika daerah penangkapan tersebut terlalu jauh dari pelabuhan, itu akan memerlukan bahan bakar yang banyak. Jika usaha perikanan tersebut benar-benar memiliki harapan yang besar, usaha yang dijalankan mungkin boleh pergi ke tempat yang lebih jauh. 

Nelayan yang dalam kasus demikian dapat memperoleh keuntungan dengan manajemen usaha perikanan. Jika kita dapat membuat alat untuk meningkatkan efisiensi usaha perikanan seperti menggunakan mesin perikanan yang lebih efisien, kemudian kita dapat juga memperbesar kapasitas kita untuk menangkap ikan ke tempat yang lebih jauh.

Daerah penangkapan ikan juga dikontrol oleh permintaan pasar untuk ikan. Permintaan untuk produk ikan akan dipengaruhi oleh kapasitas ketersediaan dari tempat tersebut, sebagai contoh, adalah baru saja dikembangkan sebagai daerah penangkapan ikan. Jadi, daerah penangkapan ikan selalu memiliki nilai yang relatif, berhubungan dengan keseimbangan ekonomi, daerah penangkapan ikan lainnya, efisiensi usaha perikanan dan permintaan ikan di dalam pasar. Begitulah, harus selalu berusaha menemukan daerah penangkapan ikan yang ekonomis dan efektif dari metode penangkapan ikan yang dimodernisasi.


2. Pemilihan Daerah Penangkapan Ikan
Hal pertama yang harus kita ketahui tentang keberadaan daerah penangkapan ikan menurut spesis ikan dan dari musim. Pemilihan daerah penangkapan ikan akan dibahas dengan sesuai pemahaman dari efisiensi, keuntungan dan ekonomi usaha perikanan. Metode pemilihan akan dibahas sebagai berikut :
  • Asumsi awal tentang area lingkungan yang cukup sesuai dengan tingkah laku ikan yang diarahkan dengan menggunakan data riset oseanografi dan meteorologi.
  • Asumsi awal tentang musim dan daerah penangkapan ikan, dari pengalaman menangkap ikan yang lampau yang dikumpulkan ke dalam arsip kegiatan penangkapan ikan masa lampau.
  • Pemilihan daerah penangkapan ikan yang bernilai ekonomis dengan mempertimbangkan dengan seksama jarak dari pangkalan, kepadatan gerombolan ikan, kondisi meteorologi, dan lain sebagainya.

3. Karakter Permukaan Dasar
Secara umum keadaan permukaan dasar mempunyai karakter yang ditunjukkan pada tabel kelautan. Sedimen lautan sendiri terdiri dari sedimen terrigeneous, hemi-pelagis dan sedimen pelagis.

Tingkah Laku Ikan Hubungannya dengan Daerah Penangkapan Ikan dan Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
1. Tingkah Laku Ikan dan Kondisi dari Daerah penangkapan Ikan
Tidak dapat dikatakan bahwa ikan hidup dimana saja di seluruh lautan. Menurut spesiesnya, ikan didistribusikan secara horizontal atau vertikal di pada daerah batasan tertentu. Daerah penangkapan ikan juga berbeda menurut garis lintang dan garis bujur seperti kedalaman air di mana ikan berada.
Alasan utama kenapa spesies ikan tertentu berkumpul di daerah tertentu diperkirakan jadi seperti berikut :
  • Ikan memilih kehidupan lingkungan yang sesuai untuk spesiesnya.
  • Mereka memburu sumber makanan yang berlimpah.
  • Mereka mencari tempat yang sesuai untuk memijah dan berkembang biak.

Dituntun oleh instingnya dan terbawa oleh arus musiman, ikan bergerak sesuai temperatur perairan, mencari makanan dan tempat memijah di perairan tersebut. Pergerakan ini disebut migrasi, dan pengalaman migrasi mereka selalu lebih baik sepanjang tahun. 


Migrasi yang untuk mencari makanan disebut food-seeking ground (pencarian daerah makanan). Kemudian migrasi untuk memijah disebut spawning migration dan area perairan dimana mereka memijah disebut spawning ground (daerah bertelur/memijah). Selama mereka bermigrasi dan dalam pencarian makanan dan daerah memijah, ikan tersebut bergerombol bersama dalam kelompok yang padat. 

Tempat tersebut yang penuh sesak dengan ikan secara alamiah menjadi daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan. Peristiwa dari gerombolan ikan haring di awal musim semi adalah satu contoh yang bagus dari migrasi ikan untuk mencari tempat memijah.

Di samping jenis ikan tersebut diatas di mana terjadi migrasi yang besar, ada spesies ikan lainnya di mana telah tertentu pada suatu daerah terbatas di lautan. 

Radius pergerakan mereka terbatas. Jenis utama dari pergerakan mereka adalah secara vertikal, yang dimana, mereka berpindah antara dasar dan permukaan air pada siang hari atau malam hari. 

Ada juga beberapa spesies yang berpindah antara perairan pantai yang dangkal dan perairan lepas pantai yang dalam sepanjang musim. Jenis pergerakan ini disebut secara horizontal atau perpindahan kedalaman. Ikan yan tinggal menetap terus-menerus juga menjadikan daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan.

Variasi kondisi dari laut memberi dampak perubahan pada daerah penangkapan ikan. Lautan dipengaruhi oleh arus hangat dan arus dingin. Ikan memilih masing-masing perairan tempat tinggal mereka menurut kisaran temperatur optimum mereka. 

Pada continental shelf yang mana adalah daerah subur yang terdapat aliran nutrisi garam dari daratan pantai adalah suatu daerah penangkapan ikan yang baik untuk ikan yang menetap terus-menerus. Jumlah plankton yang besar berkembang pada pusaran yang terbentuk oleh arus atau bentuk konvergen dari arus dingin dan arus hangat. 

Organisme ini menarik bagi makhluk hidup secara umum, khususnya ikan yang berkumpul bersama pada titik daerah pencarian makanan mereka. Tempat seperti itu juga disebut daerah penangkapan ikan yang bagus. Area selanjutnya di mana dasar lautan naik menjorok dan membentuk apa yang disebut sea bank (gugus laut) juga sesuai untuk daerah penangkapan ikan.

Kebanyakan gugus laut berada lebih dangkal dibandingkan 400 meter pada kedalaman. Asal usul gugus laut dibagi menjadi dua: vulkanik dan tektonik. Berbicara secara umum, bentuk dari kehidupan pada gugus laut adalah lebih berlimpah dan bervariasi daripada di continental shelf. Banyaknya perpindahan dan ikan demersal yang ditemukan di gugus laut membuatnya jadi suatu daerah penangkapan ikan yang bagus. Pengetahuan tentang oseanografi seperti itu akan bermanfaat ke arah peningkatan produksi perikanan.


2. Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi :
  • Spesies dari ikan: tuna dan skipjack fishing ground, salmon fishing ground, dan sebagainya.
  • Jenis alat tangkap ikan: trawl fishing ground, long line fishing ground, fixed-net fishing ground, pole and line fishing ground, surrounding-net (jaring lingkar) fishing ground, dan sebagainya.
  • Kawasan perairan: daerah penangkapan dalam laut atau permukaan, daerah penangkapan yang dekat dengan pantai, daerah penangkapan pantai dan daerah penangkapan pada perairan darat.
  • Kawasan laut: daerah penangkapan di Pasifik Utara, daerah penangkapan di Laut China Selatan, daerah penangkapan di China Bagian Tenggara, dan lain sebagainya.

Tetapi daerah daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut: daerah penangkapan ikan di perairan pantai dan di laut lepas, atau daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat) dan ikan perairan dasar secara berturut-turut.

1. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai
Pada keadaan normal, pesisir pantai memiliki banyak daerah penangkapan ikan yang bagus. Produksi perikanan dari daerah ini dengan baik meningkat dari tahun ke tahun. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai termasuk meliputi usaha rumput laut, ikan dan kerang-kerangan dan untuk jenis yang khusus bergerak seperti ikan haring, ikan salmon, ikan ekor kuning, ikan tuna dan ikan laut air tawar yang mendekati daerah pantai untuk mencari makanan atau untuk memijah. 

Daerah penangkapan ikan di perairan pantai ini mungkin dibagi lagi ke dalam trap-net (jaring perangkap) fishing ground, small trawling (pukat tarik yang kecil) fishing ground, driving in net fishing ground, beach seine (pukat pantai) fishing ground, hand purse seine (purse seine tangan) fishing ground, surrounding net (jaring lingkar) fishing ground, pole and line fishing ground, dan lain sebagainya.

Untuk tujuan konservasi sumberdaya perikanan di pesisir perairan pantai dan menjaga mutu dari daerah penangkapan ikan, ukuran harus diambil di sepanjang garis pembangunan pada pembatas di laut, penangkaran buatan dan melepaskan anak ikan lalu menjaganya. Ini juga sangat penting untuk pemeliharaan dan pembangunan dari nilai mutu dari daerah penangkapan ikan, untuk menghasilkan pemahaman dan kerja sama dari nelayan untuk konservasi sumberdaya perikanan sama halnya sesuai pengambilan keputusan dan manajemen dari administrasi perikanan.


2. Daerah penangkapan ikan pelagis
Salah satu contoh ikan pelagis di Lautan Pasifik adalah ikan skipjack. Daerah penangkapan untuk ikan skipjack utamanya berlokasi pada lapisan subtropis yang konvergen yang dibentuk oleh pertemuan aliran arus hangat dan arus dingin. Spesies ikan lainnya yang bermigrasi, di kedua jenis arus hangat dan dingin, seperti ikan tuna dan ikan salmon, secara musiman naik menuju utara atau turun ke selatan untuk mencari makanan di dalam pusaran air atau arus rip yang dibentuk oleh pertemuan dua aliran arus.

Lebih lanjut, bentuk topografi yang rumit pada pantai dan perairan sampai kedalaman 200 meter di mana arus dasar laut naik keatas dan bercampur dengan massa air hangat pada bagian atas, menghasilkan plankton dalam jumlah yang sangat besar yang dimana mengundang ikan untuk bermigrasi dan menetap di sana. Area migrasi ikan skipjack, tuna dan salmon di Pasifik adalah sangat luas dan hampir tak terhingga dari bagian atas garis katulistiwa hingga ke perairan daerah utara.

Tapi hal itu harus diperhatikan bahwa daerah penangkapan ikan yang sesuai untuk spesies ikan pelagis adalah hampir terbatas pada daerah arus rip di perairan tersebut.

3. Daerah penangkapan ikan demersal
Pada continental shelf (paparan benua) di mana umumnya terdapat pada kedalaman 200 m adalah sangat sesuai untuk ikan demersal atau yang hidup di dekat dasar laut. Kolom perairan yang kedalamnya lebih dari 400 m adalah sangat tidak sesuai untuk ikan, kecuali beberapa spesies yang khusus. Makhluk hidup pada dasar laut termasuk yang selalu tinggal di satu tempat, meliputi pergerakan secara horizontal atau pada kedalaman dan pergerakan menuju daerah dangkal, atau secara musiman membuat suatu migrasi yang panjang. 

Pada continental shelf dimana terdapat pasir atau berbagai bahan organik lain yang mengalir dari perairan pantai lalu mengendap, sebagian besar menjadi pupuk dan sesuai untuk pertumbuhan plankton. Oleh karena manfaat dari daerah paparan (shelf), pada daerah pesisir pantai atau pintu masuk perairan adalah daerah penangkapan yang ideal untuk kerang-kerangan dan rumput laut, khususnya ikan-ikan kecil. Ketika melakukan penangkapan ikan, jaring yang tarik di dasar perairan (bottom drag nets) adalah yang paling sering digunakan. Beberapa spesies ikan pelagis mungkin tertangkap di perairan tersebut.

Tapi kolom perairan yang lebih dari kedalaman 800 meter, meskipun ada ditemukan beberapa spesies ikan, sangat tidak sesuai untuk digunakan sebagai daerah penangkapan ikan bukan hanya karena kesulitan dalam operasi penangkapan ikan tetapi juga jarangnya terdapatsumberdaya perikanan.


4. Exploitasi Daerah Penangkapan ikan dan Pemeliharaannya
Dengan mulai ditingkatkannya konstruksi kapal perikanan menjadi berukuran besar, modernisasi pada peralatannya dan pengenalan pada peningkatan peralatan observasi untuk keperluan penangkapan ikan, luas dari daerah penangkapan ikan semakin diperbesar.

Adalah menjadi hal vital yang sangat penting demi pengembangan daerah penangkapan ikan dengan persiapan melalui kapal perikanan yang sempurna dan dengan kru kapal yang terlatih dengan baik, bersama dengan seluruh ilmu pengetahuan praktis dan pengetahuan oseanografi dan ilmu tentang sumberdaya perikanan yang ditambah dengan studi berbagai faktor penilaian dan pengamatan oseanografi. 

Arus rip, temperatur air, salinitas dan kecerahan pada daerah penangkapan ikan di lepas pantai seperti halnya temperatur air pada lapisan pertengahan dan lapisan bawah adalah faktor yang sangat penting untuk tujuan operasi penangkapan ikan. Sebagai contoh, pengenalan detektor akustik untuk penangkapan ikan telah membawa revolusi operasi penangkapan ikan. 

Pengembangan dari echo sounder juga telah memperjelas keadaan dasar laut yang mana dahulu tidak diketahui nelayan. Sebagai hasil, ruang lingkup penangkapan ikan, yang mana dahulu dioperasikan dengan hanya melihat gerombolan ikan pada bagian atas permukaan air, sekarang telah dikembangkan untuk menjadi lebih vertikal dan pada waktu yang bersamaan tipe yang lebih efektif dari usaha perikanan.

Sumberdaya perikanan di daerah perairan yang sangat luas nampak seperti tidak akan ada habis-habisnya pada pengamatan pertama. Tapi jika hal tersebut diabaikan ke exploitasi yang bersifat agresif dengan mekanisasi terbaru operasi penangkapan yang tanpa menghiraukan ketentuan konservasi dalam mengambil sumberdaya, maka seluruh daerah penangkapan ikan akan mengalami kerusakan. 


Lagipula, dan tidak adanya larangan menangkap ikan yang memijah dan anak ikan atau ikan muda akan menghancurkan stok persediaan diri mereka sendiri. 

Oleh karena itu, ketentuan pencegahan yang melawan penangkapan ikan secara berlebihan pada tingkat nasional dan tingkat internasional tentu saja merupakan hal yang penting demi pemeliharaan dan penjagaan daerah penangkapan ikan secara luas. 

Inilah alasannya mengapa berbagai konvensi internasional dan hukum nasional telah ditetapkan di seluruh dunia.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Fyson, 1985
Alam Ikan 2 : BPPI, 1988
Alam Ikan 3 : Pasaribu, 1985

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Alat Tangkap Ikan Bubu dasar lawan Bubu Lipat

Pengertian bubu dasar
Bubu dasar merupakan alat yang terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti selinder, setengah lingkaran,empat persegi panjang, segitiga memanjang, dan sebagainya, dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa umpan. Sebagai contoh yang dapat di kemukakan adalah jenis bubu yang banyak di operasikan di perairan kepulauan Spermonde sulawesi selatan untuk menangkap berbagai jenis ikan karang, khususnya ikan kerapu.(Alam Ikan 1)

Umumnya bubu yang digunakan terdiri dari tiga bagian yaitu:
1) Badan atau tubuh bubu
Badan atau tubuh bubu biasanya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 40 cm bagian ini di lengkapi dengan pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu kedasar perairan yang terletak pada keempat sudut bubu.

2)Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada sisi bagian bawah bubu, lubang ini berdiameter 35 cm, posisisnya tepat di belakang mulut bubu. Lubang ini di lengkapi dengan penutup.

3)Mulut bubu
Mulut bubu berfungsi sebagai tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badan bubu, posisi mulut bubu menjorok kedalam badan atau tubuh bubu berbentuk selinder, semakin kedalam diameter lubangnya semakin mengecil dan bagian mulut dalam melengkung kebawah sepanjang 15 cm. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk akan kesulitan untuk keluar.


Pengertian bubu lipat
Bubu lipat merupakan bubu dasar yang sudah di modifikasi bentuknya hingga bubu ini dilihat tampak lebih modern. Biasanya berbentuk kotak dan di bagian tengahnya terdapat pintu bukaan yang berfungsi untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Bubu lipat pada bagian - bagian ujungnya memiliki beberapa tuas agar dapat di lipat dan lebih praktis dalam pembawaanya (Alam Ikan 3).

Klasifikasi bubu dasar
Bubu dasar menurut (Alam Ikan 2), termasuk ke dalam alat tangkap yang berupa perangkap (Traps). Telah banyak jenis perangkap yang ditujukan baik bagi ikan maupun crustacea. Adapun caranya adalah dengan memikat ikan agar masuk ke dalamnya, setelah masuk mereka sukar keluar ataupun tidak dapat keluar lagi. Pemasangan perangkap didasari pengetahuan tentang lintasan-lintasan yang merupakan jalan ikan ataupun hal yang erat hubungannya dengan  ruaya-ruaya ikan ke arah pantai yang mereka lakukan pada waktu-waktu tertentu.

Klasifikasi bubu lipat
Bubu lipat menurut (Alam Ikan 2), sama seperti bubu dasar yaitu termasuk traps atau alat tanggap dengan menggunakan perangkap. Penggunaanya dapat di sesuaikan dengan daerah hasil penangkapan. Apakah itu terapung, hanyut, maupun tenggelam. Tujuanya untuk menjebak ikan agar masuk ke dalam bubu dan tidak dapat keluar kembali. Bubu bentuknya lipat bentuknya telah di modifikasi sebagai alat tangkap berupa jebakan.


Metode dan cara pengoprasian bubu dasar 
Menurut (Alam Ikan 3), alat tangkap bubu lebih cocok dioperasikan di perairan dangkal, berkarang clan berpasir dengan keadalaman 2-7 m karena umumnya terbuat dari bambu. Bubu diletakkan pada celah karang untuk menghadang ikan yang keluar dari celah karang clan posisi mulutnya harus menghadap ke hilir mudik ikan yang berada di perairan karang. Metode pengoperasian untuk semua jenis bubu biasannya sama, yaitu dipasang di daerah penangkapan yang sudah diperkirakan adanya stok ikan seperti ikan dasar, udang, kepiting, keong, cumi-cumi dan biota lainnya yang bisa ditangkap oleh bubu. Pemasangan bubu ada yang dipasang secara tunggal dan juga ada yang berantai (seperti pemasangan rawai). 

Menurut (Alam Ikan 4), cara pengoperasiaan bubu dapat dimulai antara lain pemberian umpan, selanjutnya perahu berangkat menuju daerah operasi (fishing ground) sambil mengamati kondisi perairan. Bubu dipasang di perairan karang dan merupakan habitat ikan karang. Kemudian pengangkatan bubu harus dilakukan dengan perlahan-lahan untuk memberikan kesempatan ikan dalam beradaptasi terhadap perbedaan tekanan air dalam perairan.


Explanation :
Alam Ikan 1 : Martasuganda, 2002
Alam Ikan 2 : A Von Brandt,1984
Alam Ikan 3 : BPPI, 1996
Alam Ikan 4 : Direktorat Jendral Perikanan, 1997

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Bentuk Kasko dan Bagian Kapal Perikanan

Kapal perikanan juga harus maemiliki kapasitas yang cukup besar dan tetap stabil dalam kondisi apapun.  Kasko kapal adalah kemiringan bagian bawah kapal, yang merupakan dasar dari bentuk kapal. Bentuk kasko kapal sangat berpengaruh terhadap daya tampung stabilitas kapal ketika berlayar.  (Alam Ikan 1) menjelaskan bahwa bentuk kasko kapal perikanan pada bagian haluan berbentuk ”V”  bottom, sedangkan pada bagian tengah hingga buritan terdapat lima variasi bentuk kasko kapal perikanan, yaitu: 
  1. Round bottom, yaitu tipe kasko kapal dengan bentuk bulat hampir setengah lingkaran; 
  2. Round flat bottom, yaitu tipe kasko kapal dengan bentuk bulat yang rata pada bagian bawahnya; 
  3. ”U”  bottom, yaitu tipe kasko kapal yang memiliki bentuk seperti huruf ”U”,
  4. Akatsuki bottom, yaitu tipe kasko kapal yang berbentuk hampir menyerupai huruf ”U”, tetapi setiap lekukannya membentuk suatu sudut dan rata pada bagian bawahnya; dan 
  5. Hard chin bottom, yaitu tipe kasko kapal yang berbentuk hampir sama dengan Akatsuki bottom, tetapi pertemuan antara lambung kiri dan kanan kapal pada bagian lunas membentuk suatu sudut seperti dagu.


Bentuk-bentuk kasko kapal.
  1. a. Tipe ‘’V’’ bottom
  2. b. Tipe round bottom 
  3. c. Tipe round flat bottom 
  4. d. Tipe ‘’U’’ bottom
  5. e. Tipe akatsuki bottom
  6. f. Tipe  hard chin bottom 


Menurut (Alam Ikan 2), Bagian konstruksi kapal terdiri dari :
1. Lunas
Lunas kapal merupakan tulang punggung untuk kekuatan memanjang kapal dan wrang menghubungkan gading kiri dan gading kanan. Ukuran lunas ditentukan oleh ukuran besar kapal dan konstruksinya.

2.Linggi haluan
Linggi haluan kapal merupakan lanjutan dari lunas ke arah depan dan berfungsi menghubungkan papan kulit bagian kiri dan bagian kanan. Selain itu linggi haluan juga menghubungkan galar-galar pada kedua sisi kapal. Seperti lunas, linggi haluan dapat dibuat terdiri dari satu bagian saja, atau terdiri dari dua bagian, linggi haluan atas dan linggi haluan bawah.

3.Linggi buritan
Linggi buritan kapal merupakan lanjutan lunas, ke arah belakang dimana ujung belakang lunas ini disebut sepatu linggi, jika berfungsi menjadi bantalan bawah untuk poros kemudi.

4.Gading-gading dan wrang
Gading-gading kapal bertugas menghubungkan lajur papan kulit luar satu dengan lajur lainnya dan juga memperkuat lambung kapal ke arah melintang, yaitu gading-gading dan papan kulit menahan tekanan air dan muatan dalam palka. Gading tunggal terdiri dari bagian lambung kiri dan bagian lambung kanan dan di bagian bawah saling dihubungkan dengan wrang.

5.Balok geladak dan papan geladak
Balok geladak kapal berfungsi sebagai penghubung lajur papan geladak satu dengan lajur lainnya dan juga memperkuat geladak ke arah melintang, yaitu balok geladak dan papan geladak pada daerah-daerah yang mendapat beban tinggi. Sedangkan geladak kapal berfungsi untuk menutup badan kapal bagian atas sehingga menjadi kedap air dan merupakan bagian utama kekuatan memanjang kapal. Selain itu geladak juga menjadi tempat bekerja awak kapal, sehingga harus dibuat tidak licin. Papan geladak umumnya dipasang memanjang.


Explanation :
Alam Ikan 1 : Rouf, 2004
Alam Ikan 2 : Setiyanto, 2007

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Jenis Kapal dan Bentuk Kapal

Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya) seperti halnya sampan atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Sedangkan dalam istilah inggris, dipisahkan antara ship yang lebih besar dan boat yang lebih kecil. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat.

Kapal ikan adalah kapal yang digunakan dalam usaha perikanan yang mencakup penggunaan atau aktivitas menangkap atau mengumpulkan sumberdaya perairan, pengelolaan usaha budidaya perairan dan penggunaan lainnya seperti riset, training, dan inspeksi sumberdaya perairan

Konstruksi kapal adalah proses pembangunan kapal di galangan kapal yang didahului oleh desain dan dilanjutkan dengan pembangunan konstruksi kapal yang diawali dengan peletakan lunas, dilanjutkan dengan konstruksi rangka/gading-gading, geladak, anjungan, kulit kapal. Setelah kapal selesai dikonstruksi selanjutnya diluncurkan ke laut untuk selanjutnya dilakukan finishing.

Sistem konstruksi
Sistim konstruksi di kapal dapat dibagi tiga yaitu:
1. sistim konstruksi memanjang (longitudinal framing system)
2. sistim konstruksi melintang (transverse framing system)
3. sistim konstruksi campuran (mixed framing system)

Konstruksi kulit ganda
Aturan baru yang diterapkan khusus untuk kapal tangker adalah kewajiban untuk menggunakan kulit ganda (double hull) untuk mengurangi peluang pencemaran lingkungan karena kebocoran yang mungkin terjadi. Kebocoran kapal tangker dapat mengakibatkan terganggunya lingkungan khususnya terhadap biota laut dan hewan yang hidup dilingkungan laut dan garis pantai.

Salah Satu Karakteristik Kapal 
Kecepatan merupakan salah satu karakteristik kapal disamping  kemampuan olah gerak, ketahanan, jangkauan navigasi, konstruksi, fasilitas penanganan dan mesin penangkapan, jika dalam konteks kapal perikanan. Kecepatan banyak disinggung dalam proses desain namun dalam proses ini banyak faktor masih dalam perhitungan statis, sedangkan kapal akan berinteraksi dengan lingkungan perairan yang dinamis. Dengan demikian banyak aspek  mempengaruhi kecepatan, baik internal maupun eksternal kapal. Metode yang dipakai dalam menentukan kecepatan melalui perhitungan, tes model dan percobaan skala sesungguhnya.
a. KECEPATAN KAPAL
Kecepatan kapal umumnya diperhitungkan oleh galangan dari pengalaman pembuatan kapal sejenis dan dukungan beberapa elemen lain seperti dimensi utama, benaman, koefisien bentuk dan daya mesin.

Laju kapal pada kecepatan tertentu akan mengalami tahanan yang harus diatasi oleh sistem propulsi kapal. Upaya untuk meningkatkan kecepatan harus mengurangi hal yang menjadi tahanannya, misalnya tahanan gesek, tahanan gelombang yang terbentuk karena kecepatan kapal dan hidrodinamika yang berhubungan dengan bangunan kapal. Oleh karenanya untuk mencakup karakteristik yang komplek dibuat bentuk lambung kapal yang disebut displacement hulls dan plan hulls.

Displacement hulls mempunyai beberapa keterbatasan antara lain dalam penerapan rasio panjang-kecepatan. Nilai rasio ini sampai 1,4 dan jika dikehendaki kecepatan lebih besar lagi diperlukan tenaga tambahan untuk mengatasinya dan perlu dukungan hidrodinamika terhadap lambung kapal. Sebaliknya plan hulls dirancang untuk menunjang dinamika kecepatan tinggi dengan salah satu cara adalah bagian lambung bawah air berbentuk V dari transom sampai bagian tengah kapal.

b. TEKNOLOGI
Teknologi kapal didukung oleh empat unsur yaitu teknologi perancangan, konstruksi, perlengkapan dan perawatan. Keempat unsur tersebut berkaitan dengan kecepatan kapal yang akan terkait secara langsung maupun tidak langsung.

Dimensi utama kapal ditentukan oleh masukan dari kapal sejenis yang telah ada, jumlah dan jenis barang yang diangkut, rasio dimensi kapal, daerah pelayaran dan sebagainya sehingga tenaga penggerak dapat mencapai kecepatan tertentu yang diinginkan. Dimensi utama kapal diperhitungkan dengan seksama karena menentukan kemampuan suatu kapal. Rasio diantara dimensi utama kapal berpengaruh terhadap kemampuan laju, stabilitas dan kemampuan propulsi.

Demikian juga pemilihan dan perhitungan yang memadai tentang bahan, kapasitas, metoda penangkapan, instalasi ruang mesin dan rencana permesinan untuk penanganan sesuai dengan "perkembangan teknologi akan berpengaruh terhadap perhitungan kekuatan dan kecepatan kapal. Dalam kaitan tersebut dapat ditentukan juga bentuk bagian bawah kapal yang berpengaruh terhadap tahanan, hidrodinamika dan karakteristik propeler yang berpengaruh terhadap propulsi.

Semua yang tercakup dalam sifat struktural semua bagian kapal disebut konstruksi dan merupakan tahap lanjut perancangan. Bahan pembuatan kapal merupakan faktor penting yang mempengaruhi desain. Bahan tersebut dapat berupa kayu, FRP, ferro cement, besi dan aluminium.

Berdasarkan perbandingan perhitungan berat kapal sejenis, umumnya kayu lebih ringan dari besi tetapi diperlukan badan kapal yang lebih besar untuk kapasitas yang sama dibandingkan besi karena kayu mempunyai ketebalan lebih untuk konstruksi. Tetapi hal tersebut dipengaruhi oleh sifat mekanis kayu yang akan mempengaruhi fisik kayu meliputi penyusutan dan berat jenis.

Ferro cement (15% lebih berat dibandingkan kayu) lebih berat dari besi memiliki berat keseluruhan yang lebih besar meskipun dimensi badan kapal dapat lebih kecil untuk kapasitas sama. Contoh lain adalah aluminium (25-32% lebih ringan dari kayu) yang dapat menghemat berat 30% dibandingkan besi, sehingga keuntungan ini dapat meningkatkan kapasitas dan operasional.
Sistem perlengkapan kapal antara lain adalah sistem  propulsi, navigasi, telekomunikasi dan peralatan bongkar muat. Pemilihan dan perlakuan sistem tersebut memerlukan perhatian seksama karena akan berpengaruh terhadap berat kapal dan selanjutnya berpengaruh terhadap kecepatan kapal.

Perawatan kapal telah dicakup dalam plant-maintenance system setiap kapal. Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagian badan bawah air yang mempengaruhi tahanan yang bervariasi sesuai dengan keadaan bagian tersebut dan berhubungan dengan lapis lindung yang dipergunakan.

c. INTERNAL
Dimensi utama kapal adalah panjang, lebar, dalam dan draft. Panjang (L) yang dimaksud umumnya panjang garis air diantara perpendicular (depan-belakang), lebar (B) adalah jarak horisontal pada lebar terlebar, dalam (D) adalah jarak vertikal dari garis dasar ke dek lambung timbul di bagian tengah kapal dan sarat (d) adalah jarak vertikal dari garis dasar ke garis air. Dimensi ini merupakan elemen penting untuk menentukan kapasitas kapal.

Pengaruh dimensi utama adalah tahanan yang terjadi karena struktur badan kapal diatas air dan rasio antara dimensi tersebut yang mempengaruhi stabilitas dan kemampuan olah gerak sehingga akan mempengaruhi kecepatan yang dihasilkan. Rasio L/B berpengaruh terhadap tahanan propulsi sehingga jika nilai ini mengecil berpengaruh buruk terhadap kecepatan kapal. Rasio B/D berpengaruh terhadap stabilitas kapal namun membesarnya nilai ini mengakibatkan kemampuan propulsi menurun dan kecepatan kapal menurun pula.

Bentuk badan kapal menentukan kapasitas muat, keamanan dan stabilitas, kenyamanan, dan kecepatan yang dapat dicapai. Rasio antara dimensi utama tidak menggambarkan bentuk badan kapal karena dimensi tersebut merupakan dimensi dari kapal yang diasumsikan berbentuk kotak. Sementara untuk bentuk kapal digambarkan oleh beberapa koefisien utama yang berhubungan dengan fenomena hidrodinamika.

Koefisien blok (antara 0,400-0,780) adalah rasio antara volume benaman terhadap bentuk persegi panjang yang membatasi bentuk kapal sebatas garis air. Koefisien tersebut menunjukkan kurus atau gemuknya kapal (tipe fair, good atau fine). Koefisien garis air menunjukkan proporsi bidang datar pada garis air terhadap bidang persegi panjang yang membatasi bentuk kapal pada garis air. Koefisien tengah kapal (antara 0,722-0,980) adalah rasio luas antara bagian melintang tengah kapal terhadap bidang persegi panjang yang membatasi bentuk kapal pada bidang tengah tersebut. Koefisien prismatik (antara 0,554-0,788) menunjukkan distribusi benaman pada arah memanjang kapal atau rasio antara koefisien blok dengan koefisien tengah kapal.

Kemampuan mesin kapal untuk menggerakkan kapal dengan kecepatan yang diinginkan disebut daya mesin. Sedangkan daya mesin tersebut ada dua jenis yaitu daya kontinyu dan daya maksimum. Daya kontinyu untuk mencapai kecepatan servis dan daya maksimum untuk mencapai kecepatan maksimum atau kecepatan percobaan.

Terdapat beberapa istilah horse power sebagai daya mesin dikenal di kapal yaitu IHP, BHP, SHP atau DHP atau PHP dan EHP. IHP ditentukan dari tekanan di dalam silinder atau diperhitungkan dari diagram mesin. BHP merupakan tenaga yang dibutuhkan untuk memutar poros dan nilainya lebih kecil dari IHP karena adanya kehilangan tenaga didalam silinder. SHP ditentukan dari torsi pada poros dan EHP merupakan tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan kapal.

Adapun tipe perangkat propulsi atau jenis propeler yang digunakan adalah screw propeller terdiri dari: fixed pitch, controllable pitch dan contra-rotating; jet propellers terdiri dari jet air melalui nosel di dalam air dan di permukaan air dan vertical axis propellers terdiri dari Kirsten-Boeing dan Voith-Schneider.
d. EKSTERNAL
Selama proses desain sebagian konsep berdasarkan perhitungan statis sedangkan lingkungan operasional kapal adalah permukaan laut yang selalu bergerak. Perpaduan antara lingkungan tersebut dan kebutuhan mobilitas yang memadai dituntut suatu konstruksi yang aman, ekonomis pada beberapa tingkat gerakan/goyangan kapal di laut. Gerakan yang dimaksud adalah pith, roll, heave, yaw, sway dan surge.

Ilustrasinya adalah jika ditarik garis semu membelah kapal simetris memanjang (XX'), membelah melintang (YY') dan garis tegak melalui bagian tengah kapal (ZZ'), maka pitch adalah gerakan naik-turun melintang sumbu YY'. Besarnya periode pitching secara alami adalah antara 0,3-0,6 periode rolling.

Roll adalah gerakan naik-turun melintang sumbu XX'. Besarnya periode rolling adalah T = CB / 4GM. C adalah konstanta yang tergantung pada kapal dan muatannya (antara 0,42-0,45 untuk kapal besar), B adalah lebar dalam kaki dan GM adalah jarak metacentre terhadap titik berat.

Heave adalah gerakan tegak naik-turun pada sumbu ZZ'. Periode heaving diperhitungkan  bedasarkan  gaya gravitasi, TPI dan sarat. Heaving dan pitching pada umumnya berhubungan dan hal ini sukar untuk digambarkan sebagai fenomena tunggal, belum lagi adanya pengaruh rolling, yawing, swaying dan surging bersama-sama.

Yaw adalah gerakan kesamping disekitar sumbu ZZ'. Salah satu sebab gerakan ini adalah tekanan berbeda pada badan kapal, misalnya karena profil gelombang di lambung kiri dan kanan. Sway adalah gerakan kesamping kearah lambung kanan dan lambung kiri kapal sepanjang sumbu YY' dan surge adalah gerakan maju dan mundur sepanjang sumbu XX' karena pengaruh kecepatan dan lintasan propeler. Gerakan diatas dapat terjadi bersama atau beberapa gerakan saja dalam waktu singkat atau saling tumpang tindih menjadi gerakan yang komplek.

Angin dan arus adalah faktor luar yang mempengaruhi kecepatan kapal, meskipun pengaruh angin lebih besar daripada pengaruh arus kecuali pada perairan tertentu. Bersamaan dengan angin adalah ombak yang didukung tinggi dan panjangnya oleh angin. Pengaruh angin terhadap kapal tergantung pada bidang kapal diatas air dan arah datang air.

Ombak mempengaruhi kecepatan kapal pada saat kapal pitching dan rolling. Selain itu efisiensi kemudi dan propeler juga berkurang karena perlawanan ombak yang tidak merata pada badan kapal.

A. Kapal Menurut Bahannya.
Bahan untuk membuat kapal bermacam-macam adanya dan tergantung dari tujuan serta maksud pembuatan itu. Tentunya dicari bahan yang paling ekonomis sesuai dengan keperluannya.
  1. Kapal kayu adalah kapal yang seluruh konstruksi badan kapal dibuat dari kayu
  2. Kapal fiberglass adalah kapal yang seluruh kontruksi badan kapal dibuat dari fiberglass.
  3. Kapal ferro cement adalah kapal yang dibuat dari bahan semen yang diperkuat dengan baja sebagai tulang-tulangnya. Fungsi tulangan ini sangat menentukan karena tulangan ini yang akan menyanggah seluruh gaya-gaya yang bekerja pada kapal. Selain itu tulangan ini juga digunakan sebagai tempat perletakan campuran semen hingga menjadi satu kesatuan yang benar-benar homogen, artinya bersama-sama bisa menahan gaya yang datang dari segala arah.
  4. Kapal baja adalah kapal yang seluruh konstruksi badan kapal dibuat dari baja. Pada umumnya kapal baja selalu menggunakan sistem konstruksi las, sedangkan pada kapal-kapal sebelum perang dunia II masih digunakan konstruksi keling. Kapal pertama yang menggunakan sistem konstruksi las adalah kapal Liberty, yang dipakai pada waktu perang dunia II. Pada waktu itu masih banyak kelemahan-kelemahan pada sistim pengelasan, sehingga sering dijumpai keretakan-keretakan pada konstruksi kapalnya. Dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam teknik pengelasan dan teknologi pembuatan kapal, kelemahan-kelemahan itu tidak dijumpai lagi. Keuntungan sistem las adalah bahwa pembuatan kapal menjadi lebi hcepat jika dibandingkan dengan konstruksi keling. Disamping padakonstruksi las berat kapal secara keseluruhan menjadi lebih ringan.

B. Kapal Berdasarkan Alat Penggeraknya.
Penggerak kapal juga menentukan klasifikasi kapal sesuai dengan tujuannya.
  1. Kapal dengan menggunakan alat penggerak layar. Pada jenis ini kecepatan kapal tergantung pada adanya angin. Banyak kita jumpai pada kapal-kapal latih dan pada kapal barang tetapi hanya terbatas pada kapal- kapal kecil saja.
  2. Kapal dengan menggunakan alat penggerak padle wheel Sistim padle wheel, pada prinsipnya adalah gaya tahanan air yang menyebabkan/menimbulkan gaya dorong kapal (seperti dayung). Padle wheel dipasang dikiri dan kanan kapal dan gerak putarnya dibantu oleh mesin. Umumnya digunakan di daerah yang mempunyai perairan yang tenang misalnya di danau, sungai sebagai kapal-kapal pesiar.
  3. Kapal dengan menggunakan alat penggerak jet propultion sistim ini pada prinsipnya adalah air diisap melalui saluran di muka lalu didorong ke belakang dengan pompa hingga menimbulkan impuls (jet air ke belakang). Sistim ini banyak kita jumpai pada tug boat tetapi fungsinya untuk mendorong bukan menarik.
  4. Kapal dengan menggunakan alat penggerak propeller (baling-baling). Kapal bergerak karena berputarnya baling yang dipasang di belakang badan kapal sehingga menimbulkan daya dorong. Alat penggerak inilah yang pada umumnya digunakan pada saat sekarang.
C. Kapal Berdasarkan Mesin Penggerak Utamanya.
Beberapa faktor ekonomis dan faktor-faktor design akan menentukan mesin macam apa yang cocok untuk dipasang pada suatu

kelas tertentu dari sebuah kapal. Jenis-jenis yang biasa dipakai diantaranya:
1. Mesin uap torak (Steam reciprocating engine)
Biasanya yang dipakai adalah triple expansion engine (bersilinder tiga) atau double Compound engine.
Keuntungan:
  • mudah pemakaian dan pengontrolan.
  • mudah berputar balik (reversing) dan mempunyai kecepatan putar yang sama dengan perputaran propeller.
  • Kerugiannya:
  • konstruksinya berat dan memakan banyak tempat serta pemakaian bahan bakar besar.
2. Turbine uap (Steam turbine)
  • Tenaga yang dihasilkan oleh mesin semacam ini sangat rata dan uniform dan pemakaian uap sangat efisien baik pada tekanan tinggi ataupun rendah.
  • Kejelekannya yang utama adalah tidak dapat berputar balik atau non reversible sehingga diperlukan reversing turbine yang tersendiri khusus untuk keperluan tersebut.
  • Juga putarannya sangat tinggi sehingga, reduction propeller gear, sangat diperlukan untuk membuat perputaran propeller jangan terlalu tinggi.
  • Vibration sangat kecil dan pemakaian bahan bakar kecil kalau dibandingkan dengan mesin uap torak. Mesin semacam ini dapat dibuat bertenaga sangat besar, oleh karena itu digunakan untuk kapal yang membutuhkan tenaga besar.
3. Turbine Electric Drive.
  • Beberapa kapal yang modern memakai sistem dimana suatu turbin memutarkan sebuah elektrik generator, sedangkan propeller
  • digerakkan oleh suatu motor yang terpisah tempatnya dengan mempergunakan aliran listrik dari generator tadi. Disini reversing turbine yang tersendiri dapat dihapuskan dengan memakai sistim ini sangat mudah operasi mesin-mesinnya.
4. Motor pembakaran dalam (internal combustion engine).
  • Mesin yang paling banyak dipakai adalah motor bensin untuk tenaga kecil (motor tempel atau out board motor). Sedangkan tenaga yang lebih besar dipakai mesin diesel yang dibuat dalam suatu unit yang besar untuk kapal-kapal yang berkecepatan rendah dan sedang.
  • Keuntungannya dapat langsung diputar balik dan dapat dipakai dengan cara kombinasi dengan beberapa unit kecil. Untuk tenaga yang sama, jika dibandingkan dengan mesin uap akan lebih kecil ukurannya. Dengan adanya kemajuan dalam pemakaian turbo charger untuk supercharging maka beratnyapun dapat diperkecil dan penghasilan tenaga dapat dilipat gandakan.
5) Gas turbine.
  • Prinsipnya adalah suatu penggerak yang mempergunakan udara yang dimampatkan (dikompresikan) dan dinyalakan dengan menggunakan bahan bakar yang disemprotkan dan kemudian setelah terjadi peledakan udara yang terbakar akan berkembang. Kemudian campuran gas yang dihasilkan itu yang dipakai untuk memutar turbine. 
  • Gas yang telah terpakai memutar turbine itu sebelum dibuang masih dapat dipakai untuk “heat exchangers” sehingga pemakaiannya dapat seefektif mungkin. Type mesin ini yang sebetulnya adalah kombinasi dari “Free Piston Gas Fier” dan gas turbine belum banyak dipakai oleh kapal-kapal dagang. Research mengenai mesin ini masih banyak dilakukan.
6. Nuclear Engine
Bentuk Propulsi ini hanya dipakai pada kapal-kapal besar non komersil seperti kapal induk, kapal perang sehingga kapal yang memakainya masih terbatas.
Jenis – jenis kapal ikan yang ada di Indonesia
1. Kapal perikanan
Kapal, perahu atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan dan penelitian/eksplorasi perikanan.

2. Kapal penangkap ikan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

3. Perahu penangkap ikan
Sarana apung penangkapan yang tidak mempunyai geladak utama dan bangunan atas/rumah geladak dan hanya memiliki bangunan atas/rumah geladak yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

4. Rakit penangkap ikan
Sarana apung penangkapan yang terdiri dari susunan batang bambu, kayu, pipa atau bahan lainnya yang berdaya apung secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

5. Kapal pukat hela
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat hela yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi pukat, penggantung, tempat peluncur dan batang rentang.

6. Kapal pukat cincin
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat cincin yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa blok daya, derek tali kerut, sekoci kerja dan tempat peluncur.

7. Kapal penggaruk
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap penggaruk yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggaruk dan batang rentang.

8. Kapal jaring angkat
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring angkat yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi jaring angkat, batang rentang depan dan belakang serta lampu pengumpul ikan.

9. Kapal jaring insang
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring insang yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggulung jaring.

10. Kapal pemasang perangkap
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap ikan dengan perangkap yang dilengkapi perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penarik tali perangkap.

11. Kapal pancing
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk mengoperasikan pancing yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa penarik/penggulung tali (line hauler), pengatur tali, pelempar tali, bangku umpan, ban berjalan, bak umpan hidup atau mati dan alat penyemprot air kapal long line kapal pole end line (huhate).

12. Kapal dengan pompa
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pompa penyedot untuk menangkap ikan.

13. Kapal serba guna (multi purpose)
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan lebih dari 1 (satu) alat penangkapan ikan yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan yang sesuai dengan jenis alat penangkapan ikan yang digunakan.

14. Kapal induk perikanan
Kapal khusus yang memiliki fasilitas untuk pengolahan ikan hasil tangkapan dan siap dipasarkan atau memiliki fasilitas untuk mengangkut atau menarik kapal-kapal penangkap yang berukuran kecil untuk mendukung operasi penangkapan ikan.

15. Kapal pengangkut perikanan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk mengangkut ikan, termasuk memuat, menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

16. Kapal pengawas perikanan dan perlindungan
Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas pengawasan dan perlindungan untuk mendukung kegiatan eksplorasi dan perlindungan terhadap kegiatan perikanan.

Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas laboratorium untuk melakukan riset dan penelitian perikanan.


Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat