sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pengukuran Morfometri Tubuh Ikan dan Alat Calliper

Morfometri adalah suatu pengamatan pada tubuh ikan, dengan cara identifikasi bentuk tubuh ikan menyeluruh, yang berfungsi untuk menentukan adaptasi dan cara hidup ikan di alam. Mengidentifikasi ikan bisa dilakukan dengan mengukur mulai dari kepala sampai ekor, identifikasi ini disebut morfometri. Identifikasi bentuk tubuh ikan dapat di klasifikasikan ke jenis dan tipe bentuk tubuh ikan



Pengukuran tubuh ikan agar hasilnya sesuai perlu menggunakan alat, alat morfometri disebut calipper.
alat morfometri disebut calipper.

Alat ini akan mengukur dari kepala sampai ekor. Dengan ukuran dasar mutlak (CM) sampai dengan (MM). Ada beberapa tahap pengukuran morfometri, mulai dari kepala, badan, sirip dan ekor.
Berikut bagian-bagian pengukuran morfometri : 

  1. Panjang baku atau biasa diujur dari bagian kepala atau ujung rahang sampai pelipatan pangkal sirip ekor
  2. Panjang cagak (fork length), dengan mengukur tubuh mulai dari ujung kepala terdepan sampai ujung bagian luar lekukan cabang sirip ekor.
  3. Panjang total, adalah diukur jarak garis lurus mulai ujung kepala yang terdepan dengan ujung sirip ekor yang paling belakang.
  4. Tinggi badan, diukur pada tempat yang tertinggi antara bagian dorsal dengan ventral, dimana bagian dari dasar sirip yang melewati garis punggung tidak ikut diukur.
  5. Tinggi batang ekor, pengukuran pada batang ekor dengan memilih pada tujuan yang tingginya paling terkecil. 
  6. Panjang batang ekor, dengan mengukur jarak miring antara ujung dasar sirip dubur dengan pangkal jari-jari tengah sirip ekor.
  7. Panjang dasar sirip punggung dan sirip dubur, dengan mengukur jarak antara pangkal jari-jari pertama dengan tempat selaput sirip di belakang jari-jari terakhir bertemu dengan badan. Jarak ini diukur melalui dasar sirip.
  8. Panjang di bagian depan sirip punggung, dengan mengkuru jarak antara ujung kepala terdepan sampai ke pangkal jari-jari pertama sirip punggung.
  9. Tinggi sirip punggung dan sirip dubur, dengan mengukur mulai dari pangkal keping pertama sirip sampai ke bagian puncaknya.
  10. Panjang sirip dada dan sirip perut, dengan mengukur panjang terbesar menurut arah jari-jari dan diukur dari bagian dasar sirip yang paling depan atau terjauh dari puncak sirip sampai ke puncak sirip ini. Sambungan sirip berupa rambut atau benang halus, oleh beberapa ahli juga ikut diukur, sehingga harus lebih waspada. Pengukuran panjang sirip dada hanya dilakukan jika bentuk sirip dada itu tidak simetris.
  11. Panjang jari-jari sirip dada yang terpanjang, pengukuran ini hanya dilakukan jika jari-jari yang terpanjang terletak di tengah-tengah atau di bagian tengah sirip. Pengukuran dilakukan mulai dari pertengahan dasar sirip sampai ke ujung jari-jari tersebut. Jika jari-jari lain yang dimaksudkan dan bukan jari-jari tengah maka hal ini harus dinyatakan.
  12. Panjang jari-jari keras dan jari-jari lemah. Panjang jari-jari keras adalah panjang pangkal yang sebenarnya sampai ke ujung bagian yang keras, walaupun ujung ini masih disambung oleh bagian yang lemah atau sambungan seperti rambut. Panjang jari-jari lemah diukur dari pangkal sampai ke ujungnya.
  13. Panjang kepala, adalah jarak antara ujung termuka dari kepala hingga ujung terbelakang dari keping tutup insang. Beberapa peneliti melakukan pengukuran sampai ke pinggiran terbelakang selaput yang melekat pada tutup insang (membrana branchiostega) sehingga diperoleh panjang kepala yang lebih besar.
  14. Tinggi kepala, merupkan panjang garis tegak antara pertengahan pangkal kepala dan pertengahan kepala di sebelah bawah.
  15. Lebar kepala, merupakan jarak lurus terbesar antara kedua keping tutup insang pada kedua sisi kepala.
  16. Lebar / tebal badan, adalah jarak lurus terbesar antara kedua sisi badan.
  17. Panjang hidung, merupakan jarak antara pinggiran terdepan dari hidung atau bibir dan pinggiran rongga mata sebelah ke depan.
  18. Panjang ruang antar mata, merupakan jarak antara pinggiran atas dari kedua rongga mata (orbita).
  19. Panjang bagian kepala di belakang mata, adalah jarak antara pinggiran belakang dari orbita sampai pinggir belakang selaput keping tutup insang (membrana branchiostega).
  20. Tinggi bawah mata, merupakan jarak kecil antara pinggiran bawah orbita dan rahang atas.
  21. Tinggi pipi, merupakan jarak tegak antara orbita dan pinggiran bagian depan keping tutup insang depan (os preoperculare).
Pada bagian atas merupakan cara mengukur morfometri dikeseluruhan tubuh ikan dari kepala sampai ekor, baik diukur panjang, lebar dan tingginya, pengukuran ini akan diperlukan biasanya dalam melakukan sebuah penelitian morfometri tubuh ikan. Jika ukuran morfometri yang ada 21 tipe pengukuran dilakukan akan dilanjutkan pada pengukuran khusus pada kepala ikan. Pengukuran kepala ikan dibagi menjadi 5 jenis tipe pengukuran yaitu sebagai beriku : 
  1. Panjang antara mata dan sudut keping tutup insang depan (os preoperculare), adalah panjang antara sisi rongga mata dengan sudut os preoperculare. Pada saat pengukuran, senantiasa juga turut diukur panjang duri yang mungkin ada pada sudut os preoperculare tersebut.
  2. Panjang atau lebar mata, adalah panjang garis menengah orbita (rongga mata).
  3. Panjang rahang atas, adalah panjang tulang rahang atas yang diukur mulai dari ujung terdepan sampai ujung terbelakang tulang rahang atas.
  4. Panjang rahang bawah, adalah panjang tulang rahang bawah yang diukur mulai dari ujung terdepan sampai pinggiran terbelakang pelipatan rahang.
  5. Lebar bukaan mulut, merupakan jarak antara kedua sudut mulut jika mulut dibuka selebar-lebarnya.
Pengukuran morfometri 26 tipe dalam artikel ini, pengukuran dilakukan dengan alat calliper, untuk memudahkan dalam menyesuaikan dan agar ukuran tepat. 

Jenis dan tipe bentuk tubuh ikan

Jenis dan tipe bentuk tubuh ikan
Berbagai macam ikan memiliki bentuk dan ukuran tertentu yang berbeda satu sama lain.  Bentuk tubuh ikan  beradaptasi dengan cara tingkah laku dan kebiasaan hidup di dalam habitat ikan tersebut. Ikan yang hidup di daerah dasar perairan mempunyai bentuk perut datar dan punggung mengelembung. Sedangkan untuk ikan-ikan pelagis mempunyai bentuk bagian tubuh yang mengelembung pada bagian perut maupun punggung
Sebutan nama bentuk ikan

Macam bentuk tubuh ikan secara umum adalah :
1. Bentuk Pipih, bentuk pipih dibagi menjadi dua tipe
- pertama Pipih Lateral, bentuk ikan pipih lateral menandakan ikan memiliki sifat bergerak lambat dan santai tetapi dapat bergerak cepat saat terdapat ancaman bahaya
- kedua pipih dorsaventral, bentuk ikan pipih dorsanventral memiliki sifat ikan yang suka hidup di dasar perairan.
2. Bentuk Torpedo, bentuk torpedo pada ikan terlihat pada badan yang terlihat ramping bentuk seperti senjata torpedo, ikan ini cenderung berenang cepat, dengan badan elips.
3. Bentuk Paruh
4. Bentuk Tubuh membulat
5. Bentuk Pita dan Kombinasi
6. Bentuk tubuh memanjang,

pipih lateral


tubuh ikan
Tubuh ikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor. Batas kepala adalah dari moncong sampai bagian belakang tutup insang, batas badan dari mulai bagian belakang tutup insang sampai dubur, sedangkan batas ekor mulai dari dubur sampai ujung sirip ekor.
bentuk tubuh ikan dikelompokkan menjadi delapan, yaitu:



  • Fusiform, dengan ciri bentuk tubuh ramping, potongan dan bentuk badan elips, bentuk ekor sempit, sering disebut dengan bentuk torpedo. Contohnya ikan tuna.
Fusiform, dengan ciri bentuk tubuh ramping, potongan dan bentuk badan elips, bentuk ekor sempit, sering disebut dengan bentuk torpedo. Contohnya ikan tuna.
  • Compressed, bentuk tubuhnya pipih dan kecepatan berenang konstan. Contohnya ikan mas.
Compressed, bentuk tubuhnya pipih dan kecepatan berenang konstan. Contohnya ikan mas
  • Depressed, badan berbentuk picak. Contohnya ikan pari.
Depressed, badan berbentuk picak. Contohnya ikan pari.

  • Angulliform, bentuk tubuh sangat panjang dan bundar. Contohnya ikan belut.
Angulliform, bentuk tubuh sangat panjang dan bundar. Contohnya ikan belut.

  • Filiform, bentuk tubuh panjang seperti benang dan sangat tipis. Contohnya ikan snipe cel.
Filiform, bentuk tubuh panjang seperti benang dan sangat tipis. Contohnya ikan snipe cel.

  • Taeniform, bentuk tubuh pipih melebar pada bagian badan sampai ekor. Contohnya, ikan gunmel.
Taeniform, bentuk tubuh pipih melebar pada bagian badan sampai ekor. Contohnya, ikan gunmel.

  • Sagitiform, contohnya ikan pike dari famili Esocidae.
Sagitiform, contohnya ikan pike dari famili Esocidae.

  • Globiform, contohnya ikan in sucher
Globiform, contohnya ikan in sucher


Semoga Bermanfaat

Video Nusatik 35 Aquascape Keren



 Nusatik 35 Aquascape Keren
Terima Kasih sudah menonton video ini, Kasih Like, Share jika kalian suka dan komentarnya.

Jangan lupa subcribe untuk video-video kami selanjutnya.

Facebook ► http://bit.ly/2AKKgJy
Twitter ► http://bit.ly/2E8AGo4
Instragram ► http://bit.ly/2Sn0xeX
Google+ ► http://bit.ly/2RufbB0
Website ► http://www.alamikan.com
Youtube ► http://bit.ly/2E9eYjE

Thanks Guys

Video 25 ikan koki keren bentuk unik menawan, cantik elegan dan imut



25 ikan koki keren bentuk unik menawan, cantik elegan dan imut
Terima Kasih sudah menonton video ini, Kasih Like, Share jika kalian suka dan komentarnya.

Jangan lupa subcribe untuk video-video kami selanjutnya.

Facebook ► http://bit.ly/2AKKgJy
Twitter ► http://bit.ly/2E8AGo4
Instragram ► http://bit.ly/2Sn0xeX
Google+ ► http://bit.ly/2RufbB0
Website ► http://www.alamikan.com
Youtube ► http://bit.ly/2E9eYjE

Thanks Guys

Video Lab Testing part 3, tanaman rotala tanpa filter, no co2



Video lab ini ada 3 bagian Silakan di lihat pada playlist eksperimen Lab Terima Kasih sudah menonton video ini, Kasih Like, Share jika kalian suka dan komentarnya.

Jangan lupa subcribe untuk video-video kami selanjutnya.

Facebook ► http://bit.ly/2AKKgJy
Twitter ► http://bit.ly/2E8AGo4
Instragram ► http://bit.ly/2Sn0xeX
Google+ ► http://bit.ly/2RufbB0
Website ► http://www.alamikan.com
Youtube ► http://bit.ly/2E9eYjE

Thanks Guys

Video Ikan Louhan SRD Thailand- Ciri Ciri Super Red Dragon Import


Ikan Louhan SRD Thailand- Ciri Ciri Super Red Dragon Import
Terima Kasih sudah menonton video ini, Kasih Like, Share jika kalian suka dan komentarnya.

Jangan lupa subcribe untuk video-video kami selanjutnya.

Facebook ► http://bit.ly/2AKKgJy
Twitter ► http://bit.ly/2E8AGo4
Instragram ► http://bit.ly/2Sn0xeX
Google+ ► http://bit.ly/2RufbB0
Website ► http://www.alamikan.com
Youtube ► http://bit.ly/2E9eYjE

Thanks Guys

Sirip Ikan dan Fungsinya

Sirip merupakan bagian dari rangka appendicular. Pada ikan terdapat lima macam sirip, yaitu sirip dada, sirip ekor, sirip perut, sirip dubur, dan sirip punggung. 

sirip ekor, punggung, dan anus termasuk sirip tunggal, sedangkan sirip perut dan dada termasuk sirip berpasangan. Sirip punggung yang terdapat pada ikan-ikan kelas condrichthyes disokong oleh keping-keping tulang rawan yang dinamakan rawan basal dan terletak di bagian bawah tertumpu pada cucuk neural dan rawan radial yang terletak diatas rawan basial, menunjang jari-jari sirip.




    Berikut Sirip ikan dilihat dari penempatan sirip  pada badan :
    a.   Pinna dorsalis (sirip punggung)
    Sirip punggung Ikan adalah sirip yang berada pada bagian dorsal tubuh ikan dan berfungsi dalam stabilitas ikan ketika berenang. Bersama sama dengan bagian pinna analis membantu ikan untuk bergerak memutar.
    b.   Pinna pectoralis (sirip dada)
    Sirip dada Ikan merupakan sirip yang terletak di posterior operculum atau pada pertengahan tinggi pada kedua sisi tubuh ikan. Fungsi sirip ini adalah untuk pergerakan ke samping, maju,  dan diam (mengerem).
    c.   Pinna ventralis (sirip perut)
    Sirip perut Ikan adalah sirip yang berada pada bagian perut ikan dan berfungsi  membantu menstabilkan ikan saat renang. Selain itu juga, sirip ini berfungsi dalam membantu untuk menetapkan posisi ikan pada suatu kedalaman.
    d.   Pinna analis (sirip dubur)
    Sirip dubur Ikan merupakan sirip yang berada dibagian ventral tubuh di daerah posterior anal. Fungsi sirip ini ialah membantu  stabilitas berenang ikan.
    e.   Pinna caudalis (sirip ekor)
    Sirip ekor Ikan adalah sirip  yang berada di bagian posterior tubuh dan biasanya disebut sebagai ekor. Pada kebanyakan ikan, sirip ini berfungsi sebagai pendorong utama ketika berenang (maju) dan juga sebagai kemudi ketika bermanuver.
    f.   Adipose fin
    Adipose fin Ikan adalah  sirip yang keberadaannya tidak pada semua jenis ikan yang terletak  pada dorsal tubuh, sedikit di depan pinna caudalis.

    Semoga Bermanfaat

    Syaraf dari Sistem Nervorum Ikan

    Syaraf dari Sistem Nervorum Ikan

    Sistem nervorum merupakan sistem syaraf pusat, yaitu otak. Otak ini berfungsi untuk menerima semua rangsangan dari luar sehingga otak merupakan organ yang  vital bagi ikan. Pada ikan elasmobranchii, otaknya memiliki chondrocranium dan pada seluruh bagian otaknya dibungkus oleh tulang rawan yang pasif  dan tanpa batas yang nyata.

    Pembuluh darah dan saraf  berhubungan dengan otak melalui lubang yang terdapat pada dinding chondrocranium. Pada ikan tolestei, keping-keping tulang yang mengelilingi otak berhubungan erat dengan osifikasi neorocranium dan foramen-foramen yang berfungsi untuk keluar masuknya saraf  otak.

    Otak ikan dibagi menjadi 5 bagian yaitu : 
    • Methencephalon terdiri dari cherebellum yang berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuh ikan dalam air, tegangan otot, dan daya orientasi terhadap lingkungan. Pada ikan teleostei, cerebellum dibagi menjadi dua, yaitu chorpus cerebelli dan valvula cerebelli 
    • Myenchephalon merupakan otak ikan bagian posterior. Komponen utama bagian ini adalah medula oblongata yang berfungsi sebagai pusat saraf cranial. Pada bagian ini terdapat cristal cerebelli yang tidak diketahui fungsinya.
    • Telenchephalon adalah otak ikan bagian depan, dan saraf utama yang keluar dari daerah ini adalah saraf alfaktori yang berhubungan dengan hidung sebagai penerima rangsangan. 
    • Dienchephalon  terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu talamus, ephitalamus dan hipothalamus. Di bagian atas bagian ini terdapat kelenjar hypopisa.
    • Mesenchephalon (otak tengah) relatif berukuran besar, berfungsi sebagai pusat penglihatan. Terdapat lobus optikus yang terdiri dari tegmentum (pusat saraf motorik) dan tekstum opticum (organ koordinat yang melayani rangsang penglihatan). 

    Sistem saraf ikan dibagi menjadi sistem saraf pusat dan sistem saraf periferi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis. Sistem saraf periferi terdiri dari saraf spinal dan cranial beserta cabang-cabangnya. Sistem saraf otonom merupakan bagian dari sistem perifera, mempengaruhi otot polos dan kelenjar

    Bagian-bagian otak ikan yaitu medulla spinalis (sumsum tulang belakang), epiphyse (kelenjar), cerebrum di depannya terdapat lobusol foktorices yang memberi syaraf ke hidung yaitu nevus olfaktorious, medula oblongata, cerebellum (otak kecil), mesecephalon ( lobus opticus) sebagai tonjolan yang bulat.

    Semoga Bermanfaat

    Jenis dan Bentuk Mulut Ikan

    Jenis dan Bentuk Mulut Ikan

    Ada berbagai macam bentuk mulut ikan. Bentuk mulut ikan antara jenis ikan satu dengan lainnya berbeda-beda tergantung pada jenis makanan yang dimakannya (Djuanda, T. 1981). Secara umum terdapat empat jenis mulut ikan, yaitu:
    1. Bentuk seperti tabung (tube like)
    2. Bentuk seperti paruh (beak like)
    3. Bentuk seperti gergaji (saw like)
    4. Bentuk seperti terompet


    Pada umumnya ikan memiliki tipe mulut yang berbeda. Letak dan ukuran mulut sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Tipe mulut ikan yang dimaksud antara lain:
    1. Tipe Terminal (mulut  terletak di ujung depan kepala ikan).
    2. Tipe Subterminal (mulut  terletak di dekat ujung depan kepala ikan).
    3. Tipe Superior (mulut  terletak di ujung bagian atas ikan).
    4. Tipe Inferior (mulut  terletak di bawah kepala ikan).     


    Bentuk dan tipe mulut merupakan penyesuaian terhadap makanan yang menjadi kesukaannya. Ukuran dari mulut ikan juga memberikan petunjuk terhadap kebiasaan makanannya. Bibir yang kecil tanpa adanya modifikasi biasanya makanannya bentuknya kecil sedangkan mulut dengan tipe inferior dan bibir yang berdaging tebal memperoleh makanan dengan cara menghisap (Alam Ikan 2).

    Sungut ikan berfungsi sebagai alat peraba dalam mencari makanan yang umumnya terdapat pada ikan-ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal) atau n yang aktif mencari makan di dasar perairan.

    Ikan-ikan yang memiliki sungut di antaranya adalah ikan sembilang (Plotosus canius Hamilton, 1822), ikan lele (Clarias batrachus (Linnaeus, 1758)), dan ikan mas (Cyprinus carpio carpio Linnaeus, 1758).

    Letak dan jumlah sungut pada ikan berguna untuk identifikasi. Bentuk letak, dan jumlah sungut berbeda-beda. Ada yang terletak pada bibir,hidung,sudut mulut, dagu,  dan sebagainya. Bentuk sungut dapat berupa  pecut/cambuk, rambut, sembulan kulit, bulu, dan sebagainya. Ada ikan yang memiliki satu lembar sungut, satu pasang, dua pasang, bahkan beberapa pasang.

    Semoga Bermanfaat

    Kegunaan Alat Fish Finder

    Kegunaan Alat Fish Finder
    Menurut SOLAS 1974, walaupun sebuah kapal telah dilengkapi dengan peralatan navigasi yang canggih / modern, tetapi peralatan navigasi konvensional masih harus ada di kapal. Peralatan navigasi konvensional adalah peralatan navigasi yang tidak memerlukan kelistrikan kapal, sehingga apabila generator kapal padam alat masih dapat digunakan secara normal. Yang termasuk alat navigasi konvensional adalah:

    alat navigasi konvensional adalah:
    1. Perum (Klasik);
    2. Topdal;
    3. Sextant;
    4. Chronometer pegas;
    5. Pedoman magnet; dan
    6. Pesawat baring.

    Fish finder adalah alat elektronik yang terdapat di kapal yang digunakan untuk mengukur kedalaman air laut. Prinsip kerja “Fish finder” sama dengan “echo sounder” yaitu mengukur kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa tersebut dipancarkan “transducer” kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa tersebut, kemudian diterima oleh “transducer” kapal

    selang waktu pulsa saat dipancarkan sampai kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan suara di air dapat dikatakan tetap, maka setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung kedalaman air.

    “Fish finder” merupakan alat akustik pendeteksi benda-benda di perairan seperti kelompok ikan, dimana beam yang dihasilkan mendeteksi secara vertikal. Prinsip menggunakan “fish finder” untuk mendeteksi kelompok ikan dan bentuk dari dasar perairan adalah pendeteksian yang dilakukan oleh “transducer”, hasilnya ditampilkan oleh display (layar)  (Alam Ikan 3).

    “fish finder” adalah alat bantu penangkapan yang menggunakan prinsip pantulan gelombang suara yang dipancarkan oleh kapal, kemdian setelah menyentuh dasar laut, pulsa gelombang itu dipantulkan kembali ke kapal, sehingga nelayan dapat membaca kedalaman laut di layar “fish finder”. Frekuensi yang digunakan lebih tinggi sehingga dapat mendeteksi keberadaan ikan di perairan, sehingga penggunaan alat bantu penangkapan ini akan mempercepat  nelayan untuk menangkap ikan.

    Cara interpretasi fish finder
    Beberapa cara interpretasi pada “fish finder” adalah sebagai berikut:

    • Frekuensi rendah (“Low frequency”)

    Digunakan untuk area yang lebih luas dan dalam, karena gelombang suara yang dipancarkan rendah maka sinyal yang diterima oleh “receiver” akan lebih baik daripada menggunakan frekuensi tinggi. Frekuensi ini sangat baik untuk pencarian ikan dan memilih kondisi dasar perairan (Alam Ikan 3).

    • Frekuensi tinggi (“High frequency”)

    Frekuensi ini digunakan pada kondisi perairan yang dangkal. Sangat baik untuk mendeteksi ikan yang berada dipermukaan perairan. Gelombang suara yang dihasilkan oleh transducer pada kedalaman yang dangkal akan lebih cepat dipantulkan kembali di dasar perairan. Sehingga frekuensi yang cocok untuk dasar perairan yang dangkal adalah frekuensi tinggi


    •  Pilihan Warna (“Color bar”)

    “Color bar” berfungsi sebagai pilihan warna pada “fish finder” serta menerangkan adanya hubungan antara intensitas yang digunakan pada “fish finder” dan warna gambar pada layar monitor. Warna gambar pada layar monitor terdiri atas warna merah, orange, kuning, hijau, biru, dan biru gelap. Sedangkan untuk intensitas warna, warna yang paling atas adalah warna merah tua, kemudian semakin ke bawah intensitas semakin redup dan dasar perairan berwarna biru tua. Untuk pemilihan warna latar belakang pada layar monitor, dapat dipilih dengan memilih pada tampilan menu utama


    • Kumpulan Ikan ( “Fish schools”)

    Jumlah ikan pada suatu kumpulan ikan dapat diduga dengan melihat pantulan atau gema ikan pada layar monitor, tetapi faktor pengalaman lebih berperan untuk menentukan jumlah ikan. Untuk menentukan jumlah ikan pada layar monitor biasanya sebanding dengan ukuran ikan yang sebenarnya. Tetapi bila ada ikan dengan ukuran yang sama namun berada pada kedalaman yang berbeda, ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dangkal akan lebih kecil ukurannya dibanding dengan ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dalam, karena pantulan gelombang ultrasonik yang dihasilkan akan melebar, hal ini menyebabkan ikan yang berada lebih dalam akan terlihat lebih besar


    • Plankton

    Lapisan plankton yang berada di permukaan perairan air mirip dengan kumpulan ikan, dengan tampilan warna pada layar monitor berwarna hijau atau biru. Plankton biasanya turun kebawah permukaan dasar perairan pada siang hari dan muncul ke permukaan pada malam hari. Untuk membedakan plankton dengan kumpulan ikan maka dibutuhkan kecermatan untuk mengamati tampilan pada monitor, dalam hal ini pengalaman sangat berperan untuk membedakannya


    •  Pertemuan arus laut (“Current rip”)

    Apabila ada dua arus laut yang bertemu dengan kecepatan yang berbeda arah dan temperatur air, akan menghasilkan arus pertemuan. Pada layar monitor akan terlihat seperti adanya garis kurva di antara permukaan dan dasar perairan


    • Gangguan permukaan (“Surface Noise”)

    Ketika kapal melewati gelombang, maka akan menimbulkan suara bising. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pada layar monitor terutama pada bagian atas layar monitor yang menyebabkan adanya warna gelap. Hal ini dapat dihilangkan dengan memfungsikan clutter function


    • Aerated water

    Apabila kapal melewati perairan atau melakukan putaran maka akan menyebabkan perbedaan pada gema dasar laut di layar monitor. Hal ini disebabkan karena adanya gelembung udara yang menghambat pancaran gelombang suara yang dipancarkan oleh “transducer”. Untuk meminimalkan hal ini maka harus menggunakan gelombang yang berfrekuensi rendah (“low frekuensi”)

    •  Kepadatan Ikan ( “Fish schools density”)

    Jika ada dua ikan yang terlihat dengan warna yang sama namun pada kedalaman yang berbeda, maka ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dalam akan terlihat lebih tebal, karena gelombang ultrasonik yang dipancarkan melemah dan menyebar. Tampilan pada layar monitor juga menampakan warna yang lebih lemah

    •  Pantulan Dasar Perairan (“Bottom echoes”)

    Pantulan dasar perairan biasanya lebih cerah, pada layar monitor berwarna merah kecoklatan atau merah, tetapi warna dan intensitas akan berubah-ubah sesuai dengan bahan dasar perairan, kedalaman, kondisi laut, frekuensi, panjang gelombang yang digunakan dan sensivitas perairan

    • Bottom lock

    NPada perairan yang menampilkan daerah diantara “zoom marker” dan dasar laut, “bottom lock” digunakan untuk memperjelas gambar ikan yang berada didekat dasar perairan. Pada layar monitor, gambar akan dibagi menjadi dua bagian, yang disebelah kanan adalah gambar normal, sedangkan gambar disebelah kiri adalah gambar yang telah diperjelas dimana kumpulan ikan akan tampak lebih jelas dan dasar laut akan terlihat seperti garis lurus

    • Zero line

    “Zero line” berfungsi untuk menerangkan posisi “transducer” pada saat terakhir. Apabila terjadi perubahan jarak (pergerakan kapal) maka tampilan pada layar juga akan berubah sesuai dengan kontur dasar perairan

    Semoga Bermanfaat

    Alat Navigasi Suar dan Pelampungan

    Alat Navigasi Suar dan Pelampungan
    Mercusuar merupakan sebuah bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut. Sumber cahaya yang digunakan beragam mulai dari lampu sampai lensa dan (pada jaman dahulu) api. Karena saat ini navigasi kapal laut telah berkembang pesat dengan bantuan GPS, jumlah mercusuar di dunia telah merosot menjadi kurang dari 1.500 buah. Mercusuar biasanya digunakan untuk menandai daerah-daerah yang berbahaya, misalnya karang dan daerah laut yang dangkal

    Pembangunan mercusuar pada umumnya  memiliki dua fungsi yaitu:
    1. Mengingatkan bahwa daerah itu dangkal dan mengamankan jalur laut.
    2.  Mengklaim bahwa suatu daerah termasuk kedauatan Indonesia. Negara Indonesia memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan tergabung dalam  “International Maritim Organiztion“ (IMO).

    Pembangunan mercusuar merupakan salah satu kewajiban Indonesia sebagai Negara kepulauan.Kewajiban kita sebagai Negara kepulauan untuk memberikan jaminan keamanan navigasi di alur laut kepulauan 

    Suar atau lampu suar atau penerangan suar adalah benda pembantu navigasi yang digunakan oleh para navigator untuk petunjuk di mana kapal berada dan kapal harus berlayar ke mana. Pada siang hari suar dapat dikenal dengan melihat bentukbangunan fisiknya, sedangkan pada malam hari dapat dikenal dari karakter pancaran suarnya. Suar terdiri dari berbagai macam, antara lain:
    1. Mercu Suar / Menara Suar (Light House)
    Alat bantu navigasi yang dibangun di dekat pantai atau di puncak bukit, sehingga jelas kelihatan dari arah laut saat kapal-kapal melintas berlayar. Pada umumnya terbuat dari beton yang dicat putih, atau hitam-putih, maupun merah-putih. Atau dari rangka baja yang dicat dengan warna mencolok, agar terlihat dari kejauhan.
    2. Kapal Suar (Light Vessel)
    Suar yang dibangun pada sebuah kapal khusus, ditempatkan di suatu perairan yang ramai dan di tambatkan menggunakan jangkar. Untuk masalah perawatan, tiap kapal suar dijaga oleh petugas dari distrik navigasi seperti pada mercu suar.
    3. Rambu-Rambu Berpenerangan (Light Beacon)
    Suar yang  pada umumnya di bangun di pantai sehingga sebagian bangunannya berada di bawah permukaan air (terendam air). Sebuah rambu terbuat dari rangka baja dengan cat warna merah-putih atau warna mencolok lainnya. Rambu berpenerangan baik untuk patokan penentuan posisi kapal karena posisinya tetap dan kemungkinan bergeser sangat kecil (fix).
    4. Pelampung Suar (Light Buoy)
    Alat bantu navigasi yang dipasang pada perairan-perairan tertentu, misalnya di perairan sempit, ramai dan memasuki wilayah pelabuhan atau sungai. Pelampung suar dipancangkan di laut dengan menggunakan rantai jangkar dan  jangkar, sehingga dapat membantu para navigator dalam memilih alur pelayaran yang aman.  Adanya bahaya navigasi seperti karang, gosong dan sejenisnya serta memandu kapal pada waktu memasuki dan keluar dari suatu wilayah  pelabuhan.

    Berikut penjelasan mengenai sifat penerangan suar.
    Menurut (Alam Ikan 1), sifat penerangan dan warna suar secara rinci dapat dilihat pada Daftar Suar, tetapi informasi singkat dapat diketahui pada peta laut. Sifat penerangan suar antara lain:
    1. Tetap (Fix = F)
    Suar yang memancarkan cahaya tidak terputus.
    2. Cerlang (Flashing = Fl.)
    Suar yang memancarkan sinarnya secara berkedip dengan selang waktu tetap, dimana nyalanya lebih pendek dari waktu padamnya.
    3. Okluting (Occulting = Occ.)
    Suar yang memancarkan sinarnya secara berkedip dengan selang waktu tetap, dimana waktu nyalanya lebih lama dari waktu padamnya.
    4. Iso-phase (Iso)
    Suar yang memancarkan sinarnya berkedip dengan selang waktu tetap, dengan waktu nyala sama dengan waktu padamnya.
    5. Huruf kode Morse (Morse Code = Mo)
    Suar yang nyalanya mengandung arti kode morse satu huruf dari huruf A sampai Z.
    6. Kelompok Cerlang (Group Flashing = Gp. Fl.)
    Suar yang nyalanya merupakan kelompok beberapa kali cerlang.
    7. Cerlang Cepat (Quick Flashing = Qk. Fl.) atau Cerlang Sangat Cepat (Very Quick Flashing = V.Qk.Fl.)
    Suar yang nyalanya merupakan cerlang dengan selang waktu cepat atau sangat cepat.

    Warna penerangan daru suatu suar dapat dilihat pada Daftar Suar dan pada peta laut yang digunakan. Warna penerangan yang digunakan adalah hijau, merah, putih dan kuning. Sedangkan warna fisik bangunannya adalah hijau, merah, merah-putih, hitam-putih dan kuning (Alam Ikan 1).

    Pelampung suar dan sistem pelampungan
    Pelampung suar adalah alat pembantu navigasi yang sangat penting bagi para navigator untuk memasuki wilayah perairan suatu pelabuhan. Selain tipe pelampung yang berbeda-beda, tiap-tiap Negara menggunakan sistem pelampungan yang berbeda pula. Sistem yang digunaklan Negara yang satu dengan Negara yang lain juga berbeda dan mungkin dalam beberapa hal berlawanan (Alam Ikan 1).

    Pelampung dikelompokkan menjadi dua yaitu:
    1. Pelampung Kardinal
    Pelampung yang menunjukkan arah pelayaran yang harus diikuti adalah sisi sesuai mata angin (Selatan, Utara, Timur dan Barat).
    2. Pelampung Lateral
    Pelampung yang menunjukkan arah sisi kanan dan kiri dari lambung kapal untuk menunjukkan sisi perairan yang aman dilayari oleh kapal-kapal.

    Dari tipe kelompok pelampung  di atas, Kardinal dan Lateral, IALA (International Association on Lighthouse Authorities) yaitu sebuah badan internasional yang berwenang mengatur tentang suar dan pelampungan, menetapkan bahwa di dalam dunia maritim tiap Negara dapat menggunakan salah satu dari dua system pelampungan yang disetujui yaitu:

    1. Sistem Pelampungan “A”
    Sistem pelampungan yang merupakan gabungan antara sistem Lateral dan sistem Kardinal. Sistem ini adalah yang digunakan kebanyakan Negara maritim, termasuk Indonesia.
    2. Sistem Pelampungan “B”
    Sistem pelampungan yang hanya menggunakan sistem Lateral saja, tidak banyak Negara yang menggunakan sistem ini. Contoh Negara yang menggunakannya adalah Jepang.

    Semoga Bermanfaat

    Klasifikasi dan Metode Bubu Dasar

    Cara Pengoperasian Bubu Dasar

    Bubu dasar merupakan Alat tangkap yang bersifat pasif, dibuat dari anyaman bambu (bamboos netting), anyaman rotan (rottan netting), anyaman kawat (wire netting), kere bambu (bamboos screen), misalnya bubu (fish pot), sero (guiding barrier). Bubu dasar merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuknya banyak sekali, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu dasar  ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lain-lainnya.
    Bubu lipat adalah alat perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan diangkat dengan mudah (dengan atau tanpa perahu) ke daerah penangkapan. Kemudian alat tersebut dipasang di permukaan atau dasar perairan selama jangka waktu tertentu. Untuk menarik perhatian ikan, kadang-kadang didalam bubu lipat ini diberi umpan, umpan dapat berupa Ikan asin. dapat pula dilipat sehingga dapat diletakkan diperahu dalam jumlah banyak dan efisien.




    Alat-alat tangkap tersebut baik secara temporer (temporarity), semi permanen (semi permanently) maupun permanen (tetap), dipasang (ditanam) di dasar laut, diapungkan atau di hanyutkan, ikan-ikan atau sumber daya perikanan laut yang tertangkap atau terperangkap disebabkan oleh adanya rangsangan dari umpan ataupun tidak.  

    Metode dan cara pengoperasian bubu dasar dan bubu lipat
    bahwa cara penggunaan bubu tergantung dari jenis bubunya. Pengoperasian bubu ini dapat digunakan secara berganda ataupun secara tunggal. Bubu biasanya diletakkan di dasar perairan dengan diberi umpan atau tanpa umpan. Selanjutnya untuk alat tangkap jenis traps yang digunakan di daerah pantai sifatnya adalah menghadang ikan atau biota laut lainnya, yang pada saat pasang mendekati pantai dan pada saat surut menjauhi pantai. Pada prinsip utama bubu dalam pengoperasiannya adalah mengarah pada biota yang menjadi sasarannya menuju ke mulut selanjutnya terperangkap didalam ruangan. Bubu merupakan perubahan atau modifikasi dari bubu yang telah ada. Perubahan tersebut berdasarkan biota yang akan ditangkapnya.


    Dalam pengoperasiannya bubu dilengkapi dengan tali untuk mengikat pelampung yang dimaksudkan agar mempermudah dalam pengambilan bubu tersebut dari dasar perairan. Bubu juga dilengkapi dengan umpan dari potongan ikan terutama ikan yang menimbulkan bau sehingga pemangsa mau mendekat. Pemberian umpan ini bertujuan untuk menarik perhatian ikan agar terperangkap didalam bubu. Setelah itu dilakukan penurunan pelampung tanda dilanjutkan penurunan bubu beserta pemberatnya. Setelah dianggap posisinya sudah baik maka pemasangan bubu dianggap sudah selesai. Bubu dimasukkan kedalam air selama kurang lebih sehari semalam, setelah sehari semalam pengangkatan bubu dilakukan.

    Klasifikasi Bubu Dasar dan Bubu Lipat
    mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
    1. Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung : 
    • Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
    • Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
    • Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots) 

    2. Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
    • Perangkap yang terdapat dinding / bendungan 
    • Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
    • Perangkap dengan jeruji (grating)
    • Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers) 

    3. Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
    • Perangkap kotak (box trap)
    • Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap) 
    • Perangkap bertegangan (torsion trap)

    4. Berdasarkan dari bahan pembuatnya
    • Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
    • Perangkap dari alam (smooth tubular)
    • Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)

    5. Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilerfgkapi dengan penghalang 
    • Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
    • Perangkap bentuk kerucut (conice) 
    • Perangkap berangka besi

    Klasifikasi Bubu Dasar
    Alat ini dapat dibuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting), dan anyaman kawat (wire netting). Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti silinder, setengah lingkaran, empat persegi panjang, segi tiga memanjang dan sebagainya. Dalam pengoperasiannya dapat memakai umpan atau tanpa umpan. 


    Konstruksi Bubu Dasar
    bahan bubu biasanya terbuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting) dan anyaman kawat (wire netting). Pada umumnya, bubu yang digunakan terdiri dari: 
    a.  Badan atau tubuh bubu
    • Badan atau tubuh bubu umumnya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm dan tinggi 40 cm. bagian ini dilengkapi pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu ke dasar perairan yang terletak pada keempat sudut bubu.

    b.  Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
    • Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada bagian bawah sisi bubu. Lubang ini berdiameter 35 cm, posisinya tepat di belakang mulut bubu. Lubang ini dilengkapi dengan penutup.

    c. Mulut bubu
    • Mulut bubu berfungsi untuk tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badan bubu. Posisi mulut bubu menjorok ke dalam badan atau tubuh bubu berbentuk silinder. Semakin ke dalam diameternya semakin mengecil. Pada bagian mulut bagian dalam melengkung ke bawah sepanjang 15 cm. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk sulit untuk meloloskan diri keluar  

    Semoga Bermanfaat

    Cara Pengoperasian Bagan Tancap

    Cara Pengoperasian Bagan Tancap
    Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang digunakan nelayan di tanah air untuk menangkap ikan pelagis kecil, pertama kali diperkenal oleh nelayan Bugis-Makassar sekitar tahun 1950-an.  Selanjutnya dalam waktu relatif singkat sudah dikenal di seluruh indonesia.  Bagan dalam perkembangannya  telah banyak mengalami perubahan baik bentuk maupun ukuran yang dimodifikasi sedekian rupa sehingga sehingga sesuai dengan daerah penangkapannya.  Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan ke dalam  jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing


    Klasifikasi Bagan Tancap
    Bagan tancap merupakan perkembangan dari alat tangkap anco atau jodang, di mana letak perbedaannya adalah pada daerah penangkapannya.
    1.   mengklasifikasikan bagan tancap ke dalam liftnet dengan prinsip dasar pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan serta menaikkan ke dalam air.
    2.  menggolongkan alat ini ke dalam “ mengajak atau menggiring “ lalu menyesatkan ke dalam alat tangkap
    3.   memasukkan bagan tancap ke dalam “ capture, then kill with trap and net “ (mengklasifikasikan alat ini berdasarkan pemakaian net sebagai jebakan)
    4.  mengelompokkan bagan tancap bersama Hanco (anco), Yotsudo ami, Bouke ami (stick held dip net) ke dalam alat “menghamparkan alat” menunggu sampai ikan berada atau berkumpul di atasnya, untuk kemudian diangkat atau ditarik ke atas.
    5.  dalam bukunya Fish Catching Methods of The World mengelompokkan bagan tancap termasuk dalam lift net. 

    Ada dua jenis tipe bagan yang ada di Indonesia. Yang pertama adalah bagan tancap yaitu bagan yang ditancapkan secara tetap di perairan dengan kedalaman 5-10 meter, yang kedua adalah bagan apung, yaitu bagan yang dapat berpindah dari satu fishing ground ke fishing ground lainnya (Mulyono, 1999). Bagan terapung dapat diklasifikasikan lagi menjadi bagan dengan satu perahu, bagan dua perahu dan bagan rakit.


    Bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk segi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh diatas perairan, dimana pada tengah bangunan tersebut dipasang jaring. Dengan kata lain alat tangkap ini sifatnya inmobile. Hal ini karena alat tersebut ditancapkan ke dasar perairan, yang berarti kedalaman laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas yaitu pada perairan dangkal yang subtrat baik untuk pemasangan adalah lumpur campur pasir (Alam Ikan 9) 

    Cara pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut :

    • Terlebih dahulu nelayan mempersiapkan perlengkapan yang akan di pergunakan dalam operasi penangkapan. Perlengkapan tersebut dapat berupa ; perbekalan pribadi nelayan, beberapa lampu pompa lengkap dengan cadangannya (kaos lampu, minyak tanah, serta korek api), kapal dan perlengkapan yang di butuhkan lainnya.
    • Sebaiknya sebelum matahari terbenam, dengan mempergunakan perahu nelayan telah meninggalkan daratan untuk menuju ke bagan. Setelah tiba di bagan, nelayan menambatkan perahunya pada salah satu tiang bagan. kemudian nelayan dapat membawa seluruh perlengkapan yang diperlukan ke atas bagan.
    • Setelah sampai diatas bagan, jaring bagan kemudian diturunkan kedalam air. Lalu menyalakan beberapa (3 – 4 buah) lampu pompa, dan menurunkan tali lampu pompa tersebut hingga mendekati permukaan air, jarak lampu dengan permukaan laut ± 0,5 - 3,5 m.
    • Kemudian dilakukan ialah setting, yaitu penurunan jaring bagan ke dalam air. Lama setting pada tiap bagan berbeda-beda, tergantung pada kedalaman air pada tiap bagan tancap serta tenaga dan jumlah orang yang melakukan penurunan jaring tersebut. 
    • Menurunkan tali lampu tekan petromak tersebut hingga mendekati permukaan air. Jarak peletakan lampu tekan petromak dengan permukaan laut tergantung pada keadaan gelombang dan angin. Peletakan lampu petromak pada bagan 2, 3, dan 4 berkisar 50 cm dari permukaan air. 
    • Langkah selanjutnya yaitu immersing, yaitu perendaman jaring beberapa waktu sampai ikan-ikan berkumpul. Setiap berkala dilakukan pengamatan terhadap ikan-ikan yang berkumpul mendekati lampu dan masuk ke dalam jaring. Akan tetapi ketentuan waktu tersebut tidak mengikat karena tergantung Bapak nelayannya. Jaring bagan dapat segera diangkat, pada saat terdapat banyak ikan yang berada didalam jaring, atau pada saat ikan telah mendekat dan 
    • lampu petromak  atau jenset dinaikkan dari permukaan air setelah banyak ikan yang berkumpul.
    • Hauling, yaitu pengangkatan jaring setelah banyak gerombolan ikan yang terkurung di jaring dengan menggunakan alat bantu penarik jaring (katrol) yang terbuat dari bambu dengan cara memutar batang penggiling atau katrol, kemudian jaring bagan secara perlahan-lahan naik ke atas sampai kerangka jaring bagannya terangkat seluruhnya. 
    • Ikan-ikan yang tertangkap dalam jaring kemudian diambil dengan menggunakan alat “serok”  atau scop net untuk di pindahkan kedalam keranjang ikan yang telah dipersiapkan.
    • Pengoperasian berikutnya dilakukan seperti tahapan di atas dengan selang waktu penangkapan berkisar 1 – 1,5 jam.

    Kontruksi Bagan Tancap
    Bagan terdiri dari komponen-komponen penting, yaitu: jaring bagan, rumah bagan (anjang-anjang, kadang tanpa anjang-anjang), serok dan lampu. Jaring bagan umumnya berukuran 9 x 9 m, # 0,5 – 1 cm, bahan dari benang katun atau nilon atau kadang menggunakan bahan dari jaring karuna. Jaring tersebut diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu, tapi kadang juga tanpa diberi bingkai (bagan perahu). Rumah bagan (anjang-anjang) terbuat dari bambu atau kayu yang berukuran bagian bawah 10 x 10 m, sedang bagian atas berukuran 9,5 x 9,5 m (itu untuk tipe bagan tancap). Pada bagian atas rumah bagan (baca, plataran bagan) terdapat alat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu penangkapan. Penangkapan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan 

    Bagian-bagian bagan menurut (Alam Ikan 8) adalah sebagai berikut:
    1. Jaring : bahan dari waring berbentuk bujur sangkar.
    2. Bingkai (rangka) : bingkai (rangka) terbuat dari bambu atau bahan lainnya berbentuk bujur sangkar yang berfungsi untuk menggantungkan jaring.
    3. Tali penarik jaring : tali yang terbuat dari Polyetheline (PE) atau bahan lainnya yang berfungsi untuk menaikturunkan jaring bagan.
    4. Pemberat : bahan yang mempunyai daya tenggelam dipasang pada bingkai dan bagian tengah jaring, berfungsi untuk menenggelamkan jaring.
    5. Lampu : alat penerangan berupa lampu tekan minyak atau lampu penerangan lainnya berfungsi sebagai alat pengumpul ikan.

    Semoga Bermanfaat

    Cara Pengoperasian Jaring Perawai dan Rawai Tuna

    Cara Pengoperasian Jaring Perawai dan Rawai Tuna
    Alat penangkapan ikan ini disebut rawai karena bentuk alat sewaktu dioperasikan adalah rawe-rawe (rawe = bahasa Jawa) yang berarti sesuatu yang ujungnya bergerak bebas. Rawai disebut juga dengan longline yang secara harfiah dapat diartikan dengan tali panjang. Hal ini karena alat ini konstruksinya berbentuk rangkaian tali-temali yang disambung-sambung sehingga merupakan tali yang panjang dengan beratus-ratus tali cabang
    Persyaratan daerah operasi bagai perawai  : 
    - pantai yang keadaannya landai
    - kedalamannya merata
    - bersih dari tonggak, bangkai kapal yang rusak         
    - terhindar dari kesibukan lalu-lintas perahu/kapal      
           

    Pengertian Rawai Tuna
    Tuna Long Line adalah salah satu bagian dari rawai yang didasarkan atas jenis ikan yang ditangkap, dalam hal ini ialah ikan Tuna. Tuna Long Line atau yang di sebut dengan Rawai Tuna merupakan jenis rawai yang paling terkenal. Meskipun dalam kenyataanya bahwa hasil tangkapannya bukan hanya ikan Tuna, tetapi juga berbagai jenis ikan lain seperti ikan Layaran, ikan Hiu dan lain-lain. 

    Rawai tuna tergolong rawai hanyut (drift longline) tetapi umumnya hanya disebut ”tuna longline” saja. Dalam perikanan, indrustri pancing ini termasuk penting dan produktivitasnya tinggi. Satu perangkat rawai tuna bisa terdiri dari ribuan mata pancing dengan panjang tali mencapai puluhan km (15-75 km). 

    Dilihat dari segi kedalaman operasi (Fishing depth) Tuna Long Line dibagi dua yaitu : 
    1. Tuna Long Line pada perairan yang bersifat dangkal (Subsurface). Pada Tuna Long Line jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing
    2. Tuna Long Line pada perairan yang bersifat dalam (Deep). Pada Tuna Long Line jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 11-13 pancing sehingga lengkungan tali utama menjadi lebih dalam.

    sifat dari kedua tipe ini adalah :
    1. Rawai tipe dalam memerlukan line hauler yang lebih kuat dibanding tipe   dekat permukan.
    2. Rawai tipe dalam menangkap jenis big eye yang lebih banyak (sehingga nilai produksinya  lebih baik) dibanding tipe permukaan. Tuna yang tertangkap dengan rawai dangkal  didominasi oleh yellowfin tuna yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan big eye. 

    Klasifikasi Perawai dan Rawai Tuna
    ada berbagai macam bentuk rawai yang  secara keseluruhan dapat dikelompokkan dalam berbagai kelompok antara lain :
    1. Berdasarkan letak pemasangannya di perairan rawai dapat dibagi menjadi :
    • Rawai permukaan (Surface longline)
    • Rawai pertengahan (Midwater longline)
    • Rawai dasar (Bottom longline)

    2. Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama :
    • Rawai tegak (Vertikal long line)
    • Pancing ladung
    • Rawai mendatar (Horizontal long line)

    3. Berdasarkan jenis-jenis ikan yang banyak tertangkap :
    • Rawai Tuna (Tuna longline)
    • Rawai Albacore (Albacore longline)
    • Rawai Cucut (Shark longline), dan sebagainya.

    Menurut (Alam Ikan 5), secara garis besar perikanan pancing ini dapat dilihat dari jenis-jenisnya sebagai berikut :
    • Pole and line : untuk ikan cakalang (skip jack), mackerel, dan lainnya.
    • Long line : untuk jenis tuna, salmon, mackerel, sea perch cod, sea bream, octopus dan lain sebagainya
    • Hand line : untuk squid dan lain-lain
    • Trolling : untuk ikan-ikan tongkol, spanish, mackerel, yellowfin tuna dan lain-lain.
    • Vertikal longline : untuk ikan-ikan mackerel, bottom fish dan lain-lain.

    Long line terdiri dari rangkaian tali utama, tali pelampung dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan lebih kecil dia meternya, dan diujung tali cabang ini diikat pancing, yang berumpan. 

    pada prinsipnya ”rawai tuna” terdiri dari komponen-komponen utama yang biasanya terdiri dari : tali utama (main line), tali cabang (tali pancing, branch line) berikut bagian-bagiannya, yaitu : tali pelampung (float line) berikut pelampungnya, batu pemberat dan tali penyambungnya.

    Metode dan Cara Pengoperasian Perawai dan Rawai Tuna
     rawai adalah merupakan salah satu alat penangkapan ikan yang terdiri dari rangkaian tali-temali yang bercabang-cabang dan pada tiap–tiap ujung cabangnya diikatkan sebuah pancing. Secara teknis operasional rawai sebenarnya termasuk jenis perangkap, karena dalam operasionalnya tiap-tiap pancing diberi umpan yang tujuannya untuk menangkap ikan agar ikan-ikan mau memakan umpan tersebut sehingga terkait oleh pancing. Akan tetapi, secara material rawai ada yang mengklasifikasikan termasuk dalam golongan penangkapan ikan dengan tali line fishing karena bahan utama untuk rawai ini terdiri dari tali-temali.

    Cara pengoperasiannya adalah sebagai berikut :

    • Mula-mula pengapung pertama diikatkan dengan talinya, begitu pula batu pemberatnya.
    • Setelah itu perahu dijalankan, sementara itu pancing demi pancing ditanggalkan dari tempat penyimpanan, kemudian mata pancing diberi umpan yaitu ikan yang sudah terpotong-potong, setelah itu dilemparkan ke dalam air.
    • Tali cabang diikatkan pada tali utama.
    • Sementara perahu masih tetap berjalan, tali cabang diulur sampai panjang yang dibutuhkan terpenuhi. Setelah itu kapal/perahu dapat dihentikan.
    • Rangkaian pancing oleh nelayan dibiarkan hanyut oleh arus dan angin bersama perahunya. Dan lamanya tidak ditentukan waktunya dan hauling (penarikan) dilakukan 2-3 kali. 
    Hauling dilakukan dengan cara :
    Tali cabang dengan perlahan-lahan ditarik ke dalam perahu, setelah penarikannya sampai pada pelampung, untuk penarikan selanjutnya dilakukan dengan cara menarik tali utamanya.

    Ikan-ikan yang tertangkap dilepaskan dari kaitannya.


    Semoga Bermanfaat

    Cara Pengoperasian Jaring Trammel Net

    Cara Pengoperasian Jaring Trammel Net
    Trammel net adalah jaring tiga lapis yang menetap di dasar atau hanyut menurut arus/kapal atau ditarik salah satu sisinya. Dua lapis jaring dindingnya mampunyai mata besar sedangkan yang didalam hermata lebih kecil dan tergantung longgar. Ikan dapat terpuntal pada jaring bagian dalam setelah menembus bagian luar


    Alat ini banyak digunakan untuk penangkapan udang. Sesuai dengan lingkungan dan cara hidup dari udang dan jenis binatang demersal lainnya. Maka alat setelah dilepas/dilabuh diharapkan dapat mendasar dengan baik. Dengan hal tersebut diharapkan bahwa selain udang dan ikan-ikan demersal yang menjadi sasaran/tujuan penangkapan yang dalam perdagangan mempunyai harga yang layak dapat tertangkap juga. Contoh : kakap, bawal hitam, bawal putih, manyung, dll (Alam Ikan 2).

    Metode dan Cara Pengoperasian Trammel Net
    metode yang digunakan dalam pengoperasian trammel net adalah sebagai berikut:
    • ·         Langkah awal yakni mencari daerah fishing ground dan menuju daerah fishing  ground yang telah ditentukan.
    • ·         Setting atau penurunan jaring trammel net yang dimulai dari penurunan pelampung tanda dan jangkar, selanjutnya dilakukan penerunan jaring yang direntangkan.
    • ·         Immersing atau rentan waktu tunggu kira-kira 2-3 jam.
    • ·         Hauling atau penarikan jaring dari laut. Penataan jaring untuk mempermudah penggunaan jaring kembali dilakukan sekaligus pada saat hauling.


    Klasifikasi  Trammel Net
    Trammel net menurut klasifikasi dapat dimasukkan kedalam jenis gill net. Menurut (Alam Ikan 3), berdasarkan kontruksinya, jaring insang dikelompokkan menjadi 3 (dua), yaitu berdasarkan jumlah lembar jaring utama dan cara pemasangan tali ris. Klasifikasi berdasarkan jumlah lembar jaring utama ialah sebagai berikut:
    1. Jaring insang satu lembar (single gill net)
    • Jaring insang satu lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari hanya satu jaaring, tinggi jaring ke arah dalam atau mesh depth dan ke arah panjang atau mesh length disesuaikan dengan target tangkapan, daerah penangkapan, dan metode pengoperasian.
    2. Jaring insang double lembar (double gill net atau semi trammel net)
    • Jaring insang dua lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari dua lembar jaring, ukuran mata jaring dan tinggi jaring dari masing-masing lembar jaring, bisa sama atau berbeda antara satu dengan yang lainnya.
    3. Jaring insang tiga lembar (trammel net)
    • Jaring insang tiga lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari tiga lembar jaring, yaitu dua lembar jaring bagian luar (outer net) dan satu lembar jaring bagian dalam (inner net). 
    • Berdasarkan FAO (International Standard Statistical Classification Fishing Gear / ISSCFG)  Trammel net termasuk dalam jaring puntal dengan singkatan GTR kode ISSCFG 07.6.0. Klasifikasi trammel net menurut (Alam Ikan 4) merupakan entangled gear.

    Daerah Penangkapan Trammel Net
    Daerah yang sering dipilih oleh nelayan ialah daerah perairan pantai yang kedalaman lautnya sekitar 15-30 meter, yang dasar perairannya berupa lumpur, lumpur campur pasir, bersih daripada kerikil tajam, batu karang dan tonggak Bagan serta landai. 

    Daerah penangkapan fishing ground yang baik untuk alat tangkap trammel net adalah daerah pantai, teluk, muara, dan perairan yang bersih dari tonggak, batu karang, dan perairan tersebut bukan merupakan alur atau lalu lintas perairan umum. Hal ini bertujuan agar jaring tidak rusak atau sobek karena tersangkut karang dan agar pengoperasian jaring tidak terhambat oleh adanya kapal yang lewat. 


    cara penangkapan alat tangkap trammel net adalah sebagai berikut:
    1. Cara Lurus.
    • Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan, Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 - 25 tinting. Perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 - 4 orang. 
    • Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 - 1 jam, kemudian dilakukan penarikan dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.
    2. Cara Setengah Lingkaran.
    • Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam (inboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring 60 – 80 tinting dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. 
    • Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring hingga membentuk setengah lingkaran Kemudian ditarik ke kapal dan ikan & udang yang tertangkap dilepaskan.
    3. Cara Lingkaran.
    • Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah lingkaran. 
    • Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan yang tertangkap diambil.


    Konstruksi Trammel Net
    Trammel net merupakan jaring tiga lapis yang terdiri dari tali ris bawah dan atas, pelampung terbuat dari karet atau spon, pemberat dari timah dan batu. Jaring lapis luar “outer nets” terbuat dari nilon benang ganda (nylon multi fillament) berdiameter benang 0,5 mm (PA 210 d/9) dan berukuran mata 254,00 mm (10 inchi). Dimensi jaring lapis luar adalah (lo) 21,30 m dan dalam (ho) 1,17 m.

    .
    konstruksi alat tangkap trammel net adalah sebagai berikut:
    1. Tubuh Jaring.
    • Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan tertangkap secara terpuntal ( tersangkut ) jaring. Tubuh jaring terdiri dari 3 lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit lapisan jaring dalam. 
    • Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada ukuran mata jaring lapisan luar. - Lapisan jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran mata jaring nya berkisar antara 1,5 - 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). 
    • Setiap lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51 mata. Lapisan jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min).
    2. Selvage ( Srampat ).
    • Untuk memperkuat kedudukan jaring pada penggantungnya, makes pada bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage (srampat). 
    • Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang rangkap sehingga lebih kuat. Selvage tersebut mempunyai mata jarring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 - 2 mata pada pinggiran jaring bagian atas dan 5 - 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah. 
    • Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran 210 d4 - 210 d6.
    3. Tali Ris.
    • Trammel net dilengkapi dengan dua buah tali ris yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris adalah untuk menggantungkan tubuh jaring dan sebagai penghubung lembar jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang). 
    • Sebagai bahan untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 - 4 mm. Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 – 30 m, sedangkan tali ris bawah antara 30 - 32 m.
    4. Pelampung.
    • Pelampung merupakan bagian dari ,Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung jaring pada saat diopera4,ikan. 
    • Jenis pelampung yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40 - 50 cm. Tali pelampung terbuat dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 - 4 mm
    5. Pemberat.
    • Pada Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring pada saat dioperasikan. Dengan adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak lurus di perairan sehingga dapat menghadang ikan atau udang yang menjadi tujuan penangkapan. 
    • Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah ( timbel ) yang berbentuk lonjong, dengan berat antara 10 - 13 gram/buah. Pemasangan pemberat dilakukan dengan jarak antara 19 - 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene dengan garis tengah 2 mm. 
    • Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan dari batu seberat kira-kira 20 kg.
    6. Tali Penghubung ke Kapal.
    • Trammel net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah 7,5 - 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung antara jaring dengan pelampung utama ( berbendera ) sebagai tanda. 
    • Selain itu juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 - 7,5 cm yang dipasang pada sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris atas dan bawah).
    • Trammel net ini biasa dikenal dengan jaring gondrong. Jaring ini mempunyai perbedaan dibanding dengan alat jenis gill net terdiri dari tiga lapis dinding rajutan. 
    • Dinding/lembar rajutan yang di bagian tengahnya disebut inner net. Ukuran mata jaringnya kecil, tetapi ukuran panjang rentangan badan jaring lebih panjang jika dibandingkan dengan lebar jaring yang sebelah luar yang disebut outter net. 
    • Pada jaring ini mempunyai ukuran mata jaring yang lebih besar daripada inner net. Ketiga lembar jaring ini dirakit pada satu hanging line. Trammel net sering digunakan nelayan, karena ikan-ikan yang besar/kecil setelah menumbuk dinding rajutan akan dapat secara mantap terbelit-belit di mata jaring  


    Hasil Tangkapan Trammel Net
    Jenis-jenis ikan yang umumnya tertangkap dengan gill net ini ialah jenis-jenis ikan yang berenang dekat permukaan laut (Cakalang, jenis-jenis tuna, Saury, flying fish dan lain-lain) dan jenis-jenis ikan demersal atau ”bottom” (flat fish, karamba, ”sea bream” dan lain-lain), juga jenis-jenis udang, lobster, kepiting, dan lain-lain Dengan mempertimbangkan sifat-sifat ikan yang akan menjadi tujuan penangkapan, lalu menyesuaikan dengan dalam atau dangkal dari renang ruaya ikan-ikan tersebut, dilakukan penghadangan terhadap arah renang dari ikan-ikan tersebut. Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan tersebut menerobos jaring, dan terjerat pada mata jaring ataupun tebilit-bilit terhadap mata jaring .

    Hasil tangkapan utama jaring trammel adalah udang penaeid yang berukuran relatif besar dan hasil tangkap sampingannya adalah ikan-ikan demersal. Udang penaeid yang tertangkap dengan jaring trammel terdiri dari udang jerbung (Penaeus merguensis), udang windu (Penaeus monodon), udang dogol (Metapenaeus ensis). Hasil tangkapan sampingan jaring trammel antara lain adalah Tigawaja (Johnius spp.), Gulamah (Pseudosciena spp.), Layur (Trichiurus spp.), Kerong-kerong (Therapan spp.), Kerot-kerot ( Pomadasys spp.), Petek (Leiognathus spp.) dan ikan Lidah (Cynoglosus spp.). Rasio hasil tangkapan udang dan ikan sampingan biasanya sekitar 0,25. Komposisi hasil tangkapan udang umumnya adalah udang jerbung 50%, udang windu 20% dan udang dogol 30% 

    Semoga Bermanfaat