sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

4 Jenis Penyakit pada Ikan

Alam Ikan ; Berikut adalah 4 jenis phylum penyebab penyakit ikan yang dapat menyebabkan kematian
ikan, berikut penjelasan singkat, penjelasan lebih lanjut dapat dilihat masing - masing , phylum.
A. PHYLUM SARCOMASTIGOPHORA Penyebab kematian massal pada ikan liar maupun ikan budidaya. 
Beberapa jenis parasit yang termasuk ke dalam phylum sarcomastogophora ordo dinoflagellida terlah menimbulkan masalah pada budidaya ikan, yaitu Amyloodinium ocellatum, Piscinoodinium, Crepidoodinium, Ichthyodinium dan Oodinioides. Umumnya parasit dinoflagellida ditemukan pada ekosistem akuatik dan banyak diantaranya merupakan endosymbiont pada pada invertebrata. Banyak dinoflagellata menghasilkan ichthyotoksin, yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan liar maupun ikan budidaya.

1. Amyloodinium ocellatum 
Parasit ini adalah golongan dinoflagellata yang paling umum dan paling penting sebagai parasit pada ikan. Dapat menyebabkan morbid atau mortality pada ikan air laut maupun ikan air payau yang dibudidayakan di seluruh dunia. Parasit ini telah dilaporkan menyebabkan kematian sekitar 70 – 80% stok juvenil ikan striped bass di Missisipi, USA, dalam waktu kurang dari satu minggu. Parasit ini juga dikenal sebagai momok pada ikan-ikan akuarium air laut. Parasit ini dapat menginfeksi ikan elasmobranch dan teleost. Saat ini telah dilaporkan lebih dari 100 spesies ikan telah terinfeksi. Ikan euryhaline seperti tilapia juga rentan terhadap parasit ini ketika dipelihara pada lingkungan payau. Parasit ini menyebabkan penyakit yang disebut Amyloodiniasis atau penyakit velvet. Agen penyebab penyakit adalah Amyloodinium ocellatum. Parasit ini melekat pada jaringan inang dengan menggunakan stalk atau peduncle yang pendek dan pada bagian ujungnya terdapat rhizoid dan stomopode mirip tentakel yang dapat bergerak. Tropon dewasa dapat mencapai ukuran diameter 120 um.

2. Piscinoodinium sp 
Parasit ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Amyloodinium sp. Menimbulkan masalah pada ikan air tawar. Banyak ikan-ikan tropis sangat rentan terhadap parasit ini, dimana ikan anabantin, cyprinid dan cyprinodontid seringkali terinfeksi. Bentuk tropohont parasit ini mirip dengan trophont pada Amyloodinium, berwarna kuning kehijauan, pyriform dan berukuran 12 X 96 ┬Ám. Berbentuk bulat saat dewasa.  Siklus hidup parasit ini mirip dengan Amyloodinium, kecuali waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya lebih lama yaitu berkisar 10 – 14 hari pada kondisi optimal.

3. Ichthyobodoosis pada ikan air tawar 
Agen penyebab adalah ektoparasit Ichthyobodo necator (synonim Costia necatrix). Penyakit ini dulu dikenal dengan nama costiasis. Parasit ini menginfeksi sirip punggung dan ujung lamella sekunder insang.

4. Ichthyobodoosis pada ikan laut 
Ichthyobodo sp ditemukan pada smolt ikan salmon di laut dan pada ikan sebelah dari skotlandia, winter flounder dari Nefoundland dan Japanese flounder di Jepang. Ichthyobodo yang ditemukan pada ikan air tawar berukuran lebih besar dibanding dengan Ichthyobodo yang hidup di laut.

5. Cryptobiosis pada ikan air laut 
C. bullocki menyebabkan penyakit dan kematian pada ikan air laut. Parasit menyebar melalui lintah. Prosedur diagnosa untuk deteksi yang digunakan pada C. salmositica dapat digunakan untuk C. bullocki.

6. TRYPANOSOMOSIS 
Trypanosoma adalah haemoflagellata dan biasanya memiliki flagellum bebas pada ujung bagian anterior. Parasit ini selalu menyebar lewat perantaraan lintah. Parasit tidak bersifat inang spesifik.

B. Phylum Myxosoa Penyebab Penyakit Ikan Luka serius dan Kematian 
Klasifikasi berdasarkan struktur dari spora. Myxosporea dibagi dalam 2 ordo, Bivalvulida dan Multivalvulida. Ordo Bivalvulida memiliki spora dengan 2 shell valve dan satu sampai 4 polar kapsul, sedangkan multivalvulida memiliki spora dengan 3 sampai 7 shell valve dan satu sampai 7 polar kapsul. Bivalvulida dapat ditemukan pada bermacam organ seperti insang (Myxobolus, Sphaerospora, Thelohanellus, Henneguya), gall bladder (Sphaeromyxa, Chloromyxum), urinary bladder (Myxidium), cartilage kepala (Myxosoma), dan otot (Myxobolus, Henneguya, Unicapsula, Kudoa), pada kulit dan
jaringan subcutaneous (Myxobolus, Henneguya, Thelohanellus), pada cartilage (Myxobolus cerebralis), system syaraf pusat (Myxobolus), pada usus (Ceratomyxa, Kudoa), pada ginjal dan urinary tract (Myxidium, Sphaerospora), gall bladder dan hati (Myxidium), swimbladder (Sphaerospora, Myxobolus), gonad (Sphaerospora). Multivalvulida yang umum adalah Kudoa (4 polar kapsul) dan Hexacapsula (6 polar kapsul).

Pathogenisitas
 Tingkat kerusakan pada jaringan dan organ yang diakibatkan akibat infeksi oleh myxosporea tergantung pada banyak faktor termasuk jenis myxosporea dan siklus hidupnya, intensitas infeksi dan reaksi inang. Palsmodia histozoic tidak hanya menyebabkan atrophy pada jaringan terinfeksi tetapi juga perubahan pada jaringan sekelilingnya.

C. Phylum Microspora Penyakit Ikan Infeksi Organ Dalam
Microsporidia adalah parasit protozoa intracellular yang dicirikan oleh adanya produksi spora. Umumnya menginfeksi invertebrata, tetapi juga menginfeksi secara luas golongan teleost pada air tawar, estuari dan laut. Banyak jenis microsporidia menyebabkan penyakit pada ikan budidaya di laut (contoh Glugea stephani atau Pleistophora priacanthusis), dan air tawar (contoh Glugea plecoglossi, Microsporidium takedai atau Pleistophora anguillarum).


D. Phylum Ciliophora Penyakit Ikan dan Parasit Insang dan Kulit
Beberapa ciliata bersifat commensal pada insang dan kulit ikan dan lainnya hidup sebagai parasit opportunis. Mereka memiliki cilia berukuran pendek sebagai alat pergerakan. Parasit dapat melekat atau bergerak dan umumnya hidup sebagai ektoparasit. Ada dua jenis parasit yang telah menimbulkan masalah pada ikan yaitu Ichthyopthirius multifilis pada ikan air tawar dan Cryptocaryon iritans pada ikan air laut.

Cryptocaryon irritans (Cryptocaryonosis)
 Menyebabkan penyakit pada ikan-ikan air laut. Pertama kali ditemukan di Jepang dan saat ini penyakit dapat ditemukan di seluruh dunia.

Ektoparasit Ciliata
Protozoa ektoparasit merupakan parasit penting pada ikan budidaya dan ikan akuarium. Umumnya parasit ini berkembang bila kondisi inang menjadi stres. Pada ikan yang hidup di perairan alami mungkin terinfeksi dalam jumlah kecil oleh parasit ciliata. Ikan tersebut bila ditransfer pada tanki dan mengalami stress, parasit akan berkembang dengan sangat cepat. Dapat menginfeksi berbagai jenis ikan dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang berfluktuasi.

Brooklynella sp
 Brooklynella hostilis menyebabkan brooklynellosis, penyakit serius pada ikan air laut baik pada ikan yang dibudidayakan di laut maupun ikan laut akuarium. Parasit ini dapat menyebakan kematian massal dan epizootic. Memiliki penyebaran yang kosmopolit dan umumnya menyerang ikan-ikan tropis. Tidak sama halnya dengan Chilodonella sp., Brooklynella sp., belum pernah ditemukan pada ikan yang hidup di perairan bebas.

Trichodinid
 Parasit yang termasuk dalam kelompok parasit ini adalah ektoparasit yang paling umum ditemukan pada ikan air tawar dan ikan air laut, dan dapat menyebabkan kerusakan pada organ yang terinfeksi sehingga menyebabkan kematian.  Parasit berbentuk seperti flat disc atau bulat, dan saat berenang nampak seperti piring terbang. Pada bagian disk terdapat organel yang dsebut dentikel ring. Parasit yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Trichodina, Trichodinella, dan Tripartiella. Trichodina ditemukan pada bagian insang dan permukaan tubuh, Trichodinella dan Tripartiella hanya ditemukan pada bagian insang, meskipun pada larva ikan yang baru menetas kedua parasit ini juga dapat ditemukan pada bagian kulit.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaa

Kematian Lele disebabkan Kesalahan Budidaya

Menurut (Alam Ikan 1 )Berikut kesalahan dalam budidaya yang menjadi penyebab kematian lele dan cara pencegahannya yang dapat dilakukan oleh pembudidaya.

1. Penanganan yang kurang tepat
  • Penanganan yang salah / kurang tepat, seperti penerapan kaidah budidaya yang tidak sesuai (padat tebar terlalu tinggi,
  • konstruksi kolam yang kurang baik/buruk atau 
  • penggunaan benih yang kualitasnya kurang baik) dapat mengakibatkan kondisi benih lemah, pertumbuhan lambat, bahkan tingkat kelangsungan hidup rendah yang menyebabkan banyak lele mati (mortalitas tinggi). 
  • Penanggulangannya, lakukan penanganan lele secara baik sesuai kaidah budidaya.
2. Terlambat Sortasi/Grading
  • Pertumbuhan benih lele pada setiap tahapan kegiatan dari kegiatan pembenihan, 
  • pendederan hingga pembesaran ternyata tidaklah sama. 
  • Kecepatan pertumbuhan masing-masing lele juga berbeda, 
  • pertumbuhan juga meliputi pertambahan bobot atau panjang lele. 
  • Pada umunya ada 3 kategori ukuran, yaitu besar, sedang dan kecil.
Keseragaman ukuran lele perlu diperhatikan berkaitan dengan sifat kanibalismenya yang cukup tinggi. Kanibalisme bisa terjadi jika ikan lele kurang pakan. Untuk menghindari hal tersebut, setiap 2 minggu sekali harus dilakukan sortasi atau pemisahan lele berdasarkan ukurannya. Sortasi dapat dilakukan menggunakan alat sortasi khusus berupa baskom sortasi. Baskom sortasi dipasaran tersedia dalam beberapa ukuran. Lele yang sudah disortasi sesuai ukuran dipelihara di satu wadah atau bak pemeliharaan.

3. Tidak menggunakan probiotik
  • Kegiatan pembenihan lele di bak tembok atau terpal dilakukan dengan intensif dengan kepadatan tinggi. 
  • Efek yang ditimbulkan berupa penumpukan bahan-bahan organik didasar bak atau kolam, baik berupa sisa pakan ataupun kotoran ikan itu sendiri. 
  • Jika dibiarkan menumpuk, akan menjadi racun bagi ikan lele dan dapat menimbulkan kematian. 
  • Bahan organik tersebut sifatnnya sulit terurai. 
  • Upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian probiotik pada masa pemeliharaan. 
  • Probiotk berfungsi sebagai pengurai atau mengikat bahan-bahan yang tidak berguna atau yang dapat menimbulkan racun bagi ikan yang dipelihara. Bahan ini sudah banyak tersedia dipasaran.
4. Belum melakukan Vaksinasi
  • Selain probiotik ada juga vaksin yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh lele sehingga tidak mudah diserang penyakit. 
  • Contoh vaksin yang tersedia dipasaran adalah aeromonas. 
  • Masih banyak petani lele yang belum menggunakan probiotik dan vaksin bagi ternak lelenya disebabkab belum banyak yang mengenal manfaat dan cara penggunaanya.
5. Alat tangkap yang tidak sesuai
  • Kualitas lele salah satunya ditentukan oleh alat tangkap yang digunakan. 
  • Benih lele yang berukuran kecil tentunya memerlukan perlakuan khusus pada saat penagkapan dengan menggunakan alat khusus pula. 
  • Masih banyak pembudidaya menggunakan alat tangkap seadanya yang kasar sehingga benih mengalami gesekan dan menyebabkan luka pada saat pemanenan. 
  • Jika mengalami luka, benih ikan mudah terserang penyakit dan mengalami kematian. Solusinya gunakan alat tangkap yang sesuai dan halus sehingga tidak menggores tubuh benih lele.
Explanation :
Alam Ikan 1 : http://binaukm.com/2011/05/faktor-pemicu-kematian-ikan-lele/

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Cacing Tanah


Jenis cacing Lumbricus Rubellus. Cacing yang satu ini berciri fisik panjang tubuh berkisar  4- 5 cm, berwarna merah kecoklatan. Umur cacing lumbricus dari telur hingga siap jual sekitar 3 bulan. Cacing jenis ini biasa digunakan untuk pakan ternak. Seperti burung, ikan, dan udang.

Tujuan pemasaran budidaya cacing antara lain:
1. Tujuan market untuk pakan ternak
2. Tujuan market untuk bahan baku obat.

Jika tujuan marketnya untuk pakan ternak kedepannya, maka pakan cacing yang digunakan bisa apa saja, yaitu seluruh bahan organik. Tapi jika tujuan marketnya untuk bahan baku obat maka pemberian pakan harus bahan organik yang homogen, bersih dan halal.
Bahan-bahan organik untuk pakan ternak :
1. Kotoran sapi
2. Kotoran kerbau
3. Kotoran Kambing.
4. Sampah pasar,
5. Sampah rumah tangga,
6. Limbah perkebunan ( sabut kelapa, ampas aren, ampas tebu)
7. Limbah organik pabrik ( Ampas singkong , ampas tahu)

Syarat-syarat bahan organik digunakan untuk pakan ternak cacing :

  • Bahan organik sudah mengalami pembusukan,
  • Ukurannya kecil-kecil, hancur seperti bubur lebih baik,
  • Mengandung air yang cukup banyak, seperti bubur, agar memberi pakan sekaligus memberi minum dan melembabkan media ternak cacing.


Manfaat 
1. Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.

2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.

3. Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.

4. Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.

Persyaratan Lokasi Media Hidup Cacing
- Tanah yang mengandung bahan prganik dalam jumlah besar (Daun gugur, Kotoran ternak, tanaman atau hewan mati) Bahan-bahan yg mudah busuk
- Tanah sedikit asam sampai netral ph 6-7,2
- Kelembaban pertumbuhan dan perkembangbiakan 15-30%
- Suhu 25 derajar Celcius
- Tempat tidak terkena sinar matahari
- Lokasi pemeliharaan cacing tanah atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

Penyiapan Sarana dan Peralatan
- Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka).
- Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..

Pemilihan Bibit Calon Induk
- Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar.
- Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
- Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil.

Sistem Pemuliabiakan
- Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan.
- Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit.
- Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak.
- Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah).
- Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru.
-Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).

Pemeliharaan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam.
Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :
  1. pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
  2. bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
  3. pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
  4. pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  5. bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.

Penggantian Media
  1. Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. 
  2. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.

Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.

Perawatan 
Perawatan yang dimaksud dengan, pemberian pakan secara rutin minimal seminggu sekali tetapi akan lebih baik jika dilakukan setiap hari. Selain itu banyak beberapa hama yang mengganggu proses budidaya, diantaranya adalah semut, kutu tanah, orong-orong, rayap,  tikus, kadal, katak, tokek, dll.
   
Langkah membasmi hama antara lain :
  • Jaga kebersihan lingkungan
  • Antisipasi semut : dengan kapur semut, cairan odol, baygon
  • Antisipasi tikus/kadal : jedingan ditutup dengan kasa/jaring
  • Antisipasi Kutu tanah : fermentasi media

Masa Panen
  • Umumnya panen dilakukan setelah 4 bulan penanaman bibit
  • ada saat panen, cacing yang diambil adalah sekitar 25% dari jumlah cacing yang ada
  • ukuran biomass cacing yang dipanen bebas
  • media bekas panen cacing (kascing) bisa dikembalikan ke jedingan, atau langsung dikemas untuk dijual
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Artemia Mengunakan Botol

Cara Ternak Artemia Mengunakan Botol adalah membudidayakan makanan alami ikan, pakan tersebut guna untuk memenuhi gizi larva ikan. contohnya pada budidaya ikan bandeng. adapun pakan alami lain yang sejenis artemia yaitu pakan alami kutu air. Artemia masih tetap merupakan bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang diunit pembenihan. Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga memerlukaan ketersediaan Artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta dengan adanya kenyataan bahwa kebutuhan Artemia untuk larva ikan kakap dan kerapu 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka kebutuhan cyste Artemia pada tahun-tahun mendatang akan semakin meningkat (Alam Ikan 1)

Habitat Dan Sumber Protein
Baca Juga :  Kandungan Gizi Artemia sebagai Pakan Alami

Dalam Melakukan budidaya artemia cukup mudah, dimana budidaya yang ada disini dimasudkan untuk menetaskan telur artemia yang sudah dijual ditoko-toko, tetapi dalam pembahasan kali ini, menggunakan bibit artemia. Bibit dapat dibeli di toko-toko ikan tertentu. Bibit artemia berbentuk kista, kista tersebut akan ditetaskan dalam sebuah wadah, dimana wadah budidaya artemia yang akan dibahas menggunakan botol. Berikut cara budidaya artemia dalam botol :


Siapkan Peralatan Yang digunakan
  • Selang Oxygen
  • Botol Minuman
  • Pompa Udara
  • Sendok
  • Garam
  • Sera Artemix(kista/telur)
  • Wadah Panen
Berikut tata-cara membudidayakan Artemia.

Cara pertama budidaya artemia. siapkan botol air mineral ukuran 1 liter dan potong bagian bawah botol. Kemudian gunakan tali untuk gantungan botol. Lubangi tutup botol untuk penempatan selang udara Oxygen. 


Cara kedua budidaya artemia. Siapkan Garam Ikan 1 sendok makan. Garam merupakan sumber makanan dari artemia dan menjadikan kondisi air dalam botol sesuai habitat asli artemia yaitu di laut.

Cara kempat budidaya artemia. Masukkan Garam 1 Sendok makan ke dalam botol.

Cara kelima budidaya artemia. Siapkan 1 sendok SERA Artemia Mix atau Supreme Plus. 

Cara keenam budidaya artemia. Masukkan SERA Artemia Mix atau Supreme Plus ke dalam botol . SERA merupakan bibit dari artemia yang berwujud kista.

Cara ketujuh budidaya artemia. Masukan Air Mineral Bersih pada botol hingga hampir penuh.

Cara kedelapan budidaya artemia. Hidupkan mesin pompa udara untuk mensuplai Oxygen pada botol

Cara kesembilan budidaya artemia. Biarkan proses itu bekerja selama 24 jam

Cara kesepuluh budidaya artemia. Setelah 24 jam. matikan mesin pompa udara, dan biarkan air dalam botol diam sekitar 20 menit. Bayi Artemia akan mengendap atau berada di bagian bawah botol.

Selanjutnya saring Artemia yang berwarna orange itu dengan saringan kain yang paling halus (boleh pakai saringan teh), Bilas Artemia dengan air mineral bersih pada saat masih di dalam saringan yang sama sebanyak 2 kali. Selanjutnya Artemia siap diberikan kepada Larva Lele atau Larva Ikan Hias sebagai pengganti Cacing Sutra yang sulit diperoleh dan sedikit repot dalam pembudidayaannya.

Explanation
Alam Ikan 1Raymakers dalam Yunus, dkk., 1994
Alam Ikan : komunitas-lelesangkuriang.blogspot.com

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Cacing Tubifex

Cara Ternak  Cacing Tubifex adalah cara memelihara cacing sutra untuk menghasilkan jumlah yang lebih banyak guna untuk menjadikannya sumber makanan alami larva ikan. dengan nilai gizi yang tinggi cacing sutra sangat digemari pembudidaya sebagai salah satu pilihan utama pakan larva ikan. Cacing sutera (Tubifex)sering juga disebut cacing rambut atau cacing darah merupakan cacing kecil seukuran rambut berwarna kemerahan dengan panjang sekitar 1-3 cm,  Cacing rambut merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk memberi makan ikan  fase larva hingga benih ataupun untuk ikan hias.

Cacing sutera biasanya diperoleh dengan cara menambang/mengambilnya dari sungai.Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul.  Selama proses budidaya, media dialiri air dengan debit sekitar 3 liter per detik. Panen cacing sutera dapat dilakukan seminggu sampai dua minggu setelah ditanam. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.Hasil produksi dari budidaya cacing sutera mencapai dua kali lebih banyak dibandingkan di habitat aslinya. Apabila budidaya dilakukan di pinggir sungai, maka produksi akan lebih banyak lagi. 

Cacing Sutera untuk Budidaya
Budidaya cacing sutera sangat bermanfaat untuk ikan hias, salah satunya ikan cupang dan sangat dicari untuk pakan larva ikan seperti larva lele dan ikan lainnya.
  
Habitat (Tempat Hidup)

Berikut ini teknik budidaya cacing sutra:
Persiapan Bibit cacing sutra
  • Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam, Catatan : Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan membawa bakteri patogen. 
Persiapan Media cacing sutra
  • Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm. 
Pemupukan cacing sutra
  • Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2. 
Cara pembuatan pupuknya :
  • Siapkan kotoran ayam, jemur 6 jam.
  • Siapkan bakteri EM4 untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Cari di toko pertanian atau toko peternakan atau balai peternakan.
  • Aktifkan/Kembangkan dulu bakterinya. Caranya ¼ sendok makan gula pasir + 4ml EM4 + dalam 300ml air terus diamkan kuranglebih 2 jam.
  • Campur cairan itu ke 10kg kotoran ayam yang sudah dijemur tadi aduk hingga rata.
  • Selanjutnya masukkan ke wadah yang tertutup rapat selama 5 hari.
  • Mengapa harusdifermentasi?   
  • Karena dengan fermetasi maka kandungan N-organik dan C-organik bakal naek sampai 2 kalilipat
Fermentasi Kolam cacing sutra
  • Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
Penebaran Bibit cacing sutra
  • Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik
Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra:
  • Lahan uji coba berupa kolam tanah ber ukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Dasar kolam uji coba  diisi dengan sedikit lumpur.Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain, seperti keong mas atau kijing.
  • Pipa Air Keluar (Pipa Pengeluaran /Outlet) dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. terbuat dari paralon berdia- meter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.
  • Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
  • Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan mencapai 10 cm.
  • Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya diaduk-aduk dengan kaki.
  • Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.
  • Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
  • Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar kandungan gas hilang.
  • Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.
  • Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.
  • Wadah budidaya dapat berupa parit beton atau wadah yang dilapisi plastik, lebar 0,5 meter.
  • Pakan cacing sutra berupa campuran kotoran ayam segar 50% dan lumpur kolam 50%. Tinggi media 5 cm.
  • Pemupukan ulang dengan menambahkan kotoran ayam sebanyak 9% dari volume awal, dilakukan setiap minggu.
  • Media dialiri air irigasi, dengan debit air 900 ml/menit.
  • Benih cacing rambut ditebar sehari sesudah media kultur dialiri air, yaitu sebanyak 2 gram/ m2.
Makanan Cacing Sutra
  • Karena cacing sutra termasuk makhluk hidup, tentunya cacing sutra tersebut juga butuh makan. Makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan.
Panen cacing sutra
  • Panen cacing sutera dilakukan setelah beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggusekali.
  • Cara pemanenan dengan menggunakan serok halus/lembut. Cacing sutera masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama enam jam. cacing menggerombol diatas media diambil dengan tangan.
  • Dengan cara ini didapat cacing sutera sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu.
  • Untuk mendapatkan cacing rambut yang cukup dan berkesinambungan, panjang parit perlu dirancang sesuai dengan keperluan setiap harinya.
Pakan alami juga dapat menjadi hama, berikut adala penanganan jenis-jenis pakan alami yang tepat :
Chlorella
  • Untuk mencegah berkembangnya hama dan pengganggu, medium dibubuhi dengan larutan tembaga sulfat atau trusi (CuSO4) sebanyak 1,5 mg/l. Selain itu air baru yang akan ditambahkan harus disaring dengan kain saringan 15 mikron.
  • Hama yang sering mengganggu adalah Brachionus, Copepoda, dll. Untuk memberantas hama tersebut dalam wadah 60 liter atau 1 ton dapat dilepas ikan mujair 4-5 ekor.
Kutu Air
  • Moina yang bergerombol di permukaan menunjukkan mutu medium menurun.
  • Cendawan yang meningkat pada hari ke-3. Bila cendawan sudah banyak, budidaya dihentikan dan bak dikeringkan.
  • Bila muncul Brachionus dan Ciliata, budidaya dihentikan dan kolam dicuci dengan larutan klorin 100 ml/m3 dan dikeringkan.
  • Hama yang mengganggu, antara lain : semut, cecak, dan tikus. Pencegahan dilakukan dengan mengolesi wadah dengan minyak mesin (Oli).

Panen Pakan Alami
  • Chlorella dipanen dari perairan masal 60 l/ 1 ton dan dapat langsung diumpankan pada ikan.
  • Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1 ton.
  • Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1 ton.
  • Pemanenan menggunakan alat penyaring pasir yang terbuat dari ember plastik 60 l, yang bagian bawahnya dipasang pipa PVC (d = 5 cm) yang berlubang-lubang kecil sebagai saluran pembuangan air.
  • Ember diisi kerikil yang berukuran 2-5 mm dan pasir (d = 0,2 mm, koefisien keseragaman 1,80). Tinggi lapisan pasir ± 4/5 bagian dari jumlah seluruh isi pasir dan kerikil, dan ± 8 cm diatas permukaan pasir dibuat lubang perluapan.
  • Diatomae dari bak pemeliharaan dimasukkan ke dalam bak penyaring pasir dengan pompa air dan akan tersaring oleh lapisan pasir.
  • Dari lubang pengurasan dipompakan air yang akan menembus lapisan kerikil dan pasir dan meluapkan air beserta Diatomae melalui lubang peluapan kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
  • Panen Brachionus dilakukan pada waktu kepadatannya mencapai 100 ekor/ml dalam jangka waktu 5-7 hari atau 2 minggu kemudian dengan kepadatan 500-700 ekor / ml.
  • Panen sebagian dapat dilakukan selama 45 hari, dimana 1-2 jam sebelum penangkapan, air diaduk , kemudian didiamkan. Brachionus yang berkumpul di permukaan diseser dengan kain nilon no 200 / kain plankton 60 mikron.
  • Panen total dilakukan dengan menyedot air dengan selang plastik dan disisakan 1/3 bagian kemudian disaring dengan kain nilon 200 atau kain plankton 60 mikron.
  • Hasil tangkapan dicuci bersih dan sudah dapat dimanfaatkan.
  • Usaha Pembesaran
  • Panen dilakukan pada umur 2 minggu dan ukuran Artemia mencapai 8 mm. Sebelum penangkapan, aerasi dihentikan selama 30 menit, lalu Artemia yang naik ke permukaan diserok dengan seser kain halus.
  • Artemia dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam freezer.
Produksi Nauplius
  • Penangkapan dilakukan dengan memanfaatkan kotak keping penyaring yang dilengkapi saringan 200 mikron pada ujung pipa peluapannya. Nauplius diambil setelah yang terkumpul dalam jumlah banyak.
Produksi Telur Nauplius
  • Cara penangkapan sama dengan produksi nauplius
  • Telur dicuci bersih dan direndam 1 jam dalam larutan garam 115 permil, dikeringkan selama 24 jam, 35-40 derajat C.
  • Penyimpanan dilakukan di kantong plastik yang diisi gas N2/kaleng hampa udara.
  • Infusoria dipanen dalam waktu 1 minggu, ditandai dengan perubahan warna medium menjadi keputih-putihan.
  • Pemanenan dilakukan dengan menghentikan aerasi, penyedotan dan penyaringan medium dengan saringan ukuran 200-250 mikron dan 800-1500 mikron untuk memisahkan dari jentik-jentik nyamuk.
  • Panen dilakukan setelah 10 hari dengan cara memungutnya dengan tangan beserta lumpurnya, kemudian dicuci.
  • Panen total dilakukan apabila kondisi tanah dan medium tidak dapat menyediakan makanan lagi.
  • Pemanenan dilakukan jika larva ulat berumur 2 bulan dan berukuran 1,5-2 cm. Caranya dengan menggunakan alat penyaring/ayakan dengan agak besar.
Pasca Panen Pakan Alami
  • Hasil panen phytoplankton dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam bentuk basah/kering, setelah dikonsentratkan dengan plankton net, plate separate, atau centrifuge.
  • Penyimpanan stok murni phytoplankton dilakukan dalam media cair/agar dan disimpan dalam lemari pendingin dengan masa simpan 1 bulan.
Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Diatomae Sebagai Pakan Alami Ikan

Cara Budidaya Diatomae Sebagai Pakan Alami Ikan. Diatomae adalah sejenis alga.Alga keemasan atau Chrysophyceae adalah salah satu kelas dari kelompok alga Heterokontophyta. Warnanya yang kuning keemasan berasal dari kandungan pigmen karotena dan xantofil yang banyak sehingga mendominasi warna kloroplasnya dan membuat klorofil tidak terlalu tampak. Kloroplas alga ini berbentuk cakram, pita, atau oval. Nama "Chrysophyceae" diambil dari bahasa Yunani, yaitu chrysos yang berarti emas.


Sel-sel alga keemasan memiliki inti sejati, dinding sel umumnya mengandung silika (SiO2) atau zat kersik. Alga ini ada yang hanya satu sel (uniseluler) dan ada yang terdiri atas banyak sel (multiseluler). Alga uniseluler dapat hidup sebagai komponen fitoplankton yang dominan. Alga yang multiseluler membentuk koloni atau berbentuk berkas pita (filamen).


Parameter Diatomae
Diatomae: suhu optimal 21-28 derajat C dan intensitas cahaya 1000 luks.


Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong


Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.
Manfaat Pakan Alami
Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.

Persiapan Tempat Diatomae
Dalam wadah 1liter
Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.

Wadah diisi air medium yang telah disaring dengan saringan 15 mikron sampai 300-500 ml, dan berkadar garam 28-35 untuk Diatomae laut dan air tawar untuk Diatomae tawar. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin, atau disinari lampu ultraviolet.

Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:
  • Larutan A= KNO3 20,2 gram + Air suling 100 ml
  • Larutan B= Na2HPO4 2,0 gram + Air suling 100 ml
  • Larutan C= Na2SiO3 1,0 gram + Air suling 100
  • Larutan D= FeCl3) 1,0 gram + Air suling 20 ml

Setiap 1 liter medium diberi larutan A, B, C, sebanyak 1 ml dan larutan D 4 tetes. Kemudian diaerasi dengan batu aerasi dan sumber udara dapat berasal dari mesin blower, kompressor atau aerator.

Pupuk lain yang dapat ditambahkan:
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid)=10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 0,2 mg/l
  • Biotin = 1,0 mg/l
  • Vitamin B12 = 1,0 mg/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
Dalam wadah 1 galon (3 liter):
Wadah dicuci dan diisi air medium.
Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:
  • Urea = 100 mg/l
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
  • Na2SiO3 = 2 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
  • Vitamin B1 = 0,005 mg/l
  • Vitamin B12 = 0,005 mg/l
Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
Wadah dicuci dan diisi air medium.
Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/l
  • K2HPO4 atau KH2PO4 = 5 mg/l
  • Na2SiO3 = 2 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • 16-20-0 = 5 mg/l
Pemeliharaan Pakan Alami
Diatomae
Dalam wadah 1liter :
  • Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 70.000 sel/ml. Airnya diudarai terus-menerus dan wadah diletakkan dalam ruang ber-AC, dan di bawah sinar lampu neon.
  • Setelah 3-4 hari telah berkembang dengan kepadatan 6-7 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.
Dalam wadah 1 galon (3 liter):
  • Bibit ditebar sebanyak 100 ml. Wadah ditaruh di dalam ruangan ber- AC, di bawah lampu neon, dan airnya diudarai terus-menerus.
  • MSetelah 2 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-6 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.
Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
  • Wadah 200 liter membutuhkan 3 galon bibit, sedangkan wadah 1 ton 100 liter.
  • Dalam wadah 200 ml, waktu 2 hari mencapai puncak perkembangan dengan kepadatan 2-4 juta sel/ml, sedangkan wadah 1 liter, dalam 3 hari mencapai 2-3 juta sel/ml.
  • Hasil penumbuhan di wadah 200 ton digunakan sebagai bibit untuk penumbuhan di wadah 1 ton, sedangkan dari wadah 1 ton dapat digunakan sebagai pakan.
  • Pemanenan menggunakan alat penyaring pasir yang terbuat dari ember plastik 60 l, yang bagian bawahnya dipasang pipa PVC (d = 5 cm) yang berlubang-lubang kecil sebagai saluran pembuangan air.
  • Ember diisi kerikil yang berukuran 2-5 mm dan pasir (d = 0,2 mm, koefisien keseragaman 1,80). Tinggi lapisan pasir ± 4/5 bagian dari jumlah seluruh isi pasir dan kerikil, dan ± 8 cm diatas permukaan pasir dibuat lubang perluapan.
  • Diatomae dari bak pemeliharaan dimasukkan ke dalam bak penyaring pasir dengan pompa air dan akan tersaring oleh lapisan pasir.
  • Dari lubang pengurasan dipompakan air yang akan menembus lapisan kerikil dan pasir dan meluapkan air beserta Diatomae melalui lubang peluapan kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Spirulina Sebagai Pakan Alami Ikan

Cara Budidaya Spirulina Sebagai Pakan Alami Ikan
Spirulina merupakan salah satu mikroalga yang termasuk ke dalam kelompok Cyanobacteria. Spirulina berbentuk filamen, biasanya hidup di danau atau di perairan dengan kandungan garam yang tinggi. Saat ini spirulina banyak dimanfaatkan dalam bioteknologi nutrisional, industri, lingkungan, serta banyak dimanfaatkan juga sebagai bahan tambahan makanan pada pakan ikan (Alam Ikan 1) .


Hal ini dikarenakan kandungan  beberapa zat seperti protein, mineral, vitam B12, karatenoida, asam lemak esensial seperti asam linolenat (Alam Ikan 2). Spirulina dimanfaatkan sebagai bahan makanan pada manusia dikarenakan hasil ekstraksinya menunjukkan beberapa keuntungan fisiologis seperti antioksidan, antimicrobial, anti-inflamantory, antiviral, dan antitumoral (Alam Ikan 3)

Parameter Spirulina
Spirulina: pH optimal 7,2-9,5 dan maksimal 11; suhu optimal 25-35 derajat C; tahan kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram /liter.


Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong




Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.
Manfaat Pakan Alami
Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
Persiapan Tempat Spirulina
Dalam wadah 1liter
Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.

Wadah diisi air medium yang telah disaring dengan saringan 15 mikron sampai 300-500 ml, dan berkadar garam 28-35 untuk Diatomae laut dan air tawar untuk Diatomae tawar. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin, atau disinari lampu ultraviolet.

Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:
  • Larutan A= KNO3 20,2 gram + Air suling 100 ml
  • Larutan B= Na2HPO4 2,0 gram + Air suling 100 ml
  • Larutan C= Na2SiO3 1,0 gram + Air suling 100
  • Larutan D= FeCl3) 1,0 gram + Air suling 20 ml

Setiap 1 liter medium diberi larutan A, B, C, sebanyak 1 ml dan larutan D 4 tetes. Kemudian diaerasi dengan batu aerasi dan sumber udara dapat berasal dari mesin blower, kompressor atau aerator.

Pupuk lain yang dapat ditambahkan:
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid)=10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 0,2 mg/l
  • Biotin = 1,0 mg/l
  • Vitamin B12 = 1,0 mg/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
Dalam wadah 1 galon (3 liter):
Wadah dicuci dan diisi air medium.
Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:
  • Urea = 100 mg/l
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
  • Na2SiO3 = 2 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
  • Vitamin B1 = 0,005 mg/l
  • Vitamin B12 = 0,005 mg/l
Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
Wadah dicuci dan diisi air medium.
Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/l
  • K2HPO4 atau KH2PO4 = 5 mg/l
  • Na2SiO3 = 2 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • 16-20-0 = 5 mg/l
Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar garam 15-20 permil. Selanjutnya diberi pupuk cair 1 ml/l, kemudian diaerasi dan dibiarkan sebentar.

Pemeliharaan Pakan Alami
  • Dalam pemeliharaan harus diperhatikan penempatan wadah agar cukup mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat berjalan lancar.
  • Setelah tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/5-1/10 bagian. Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar.
Explanation :
Alam Ikan 1 : Ahsan et al 2008
Alam Ikan 2 : Henrikson 2009
Alam Ikan 3 : Spolaore et al 2006

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Brachionus Sebagai Pakan Alami Ikan

Cara Budidaya Brachionus Sebagai Pakan Alami Ikan
Menurut  (Alam Ikan 1), ciri-ciri rotifera mempunyai kisaran ukuran tubuh antara 50-250 mikron, dengan struktur yang sangat sederhana, ciri khas yang merupakan dasar pemberian nama rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut korona. Korona ini berbentuk bulat dan berbulu getar, yang memberikan gambaran seperti roda, sehingga dinamakan rotifera.

Brachionus termasuk salah satu genus yang sangat populer diantara sekian banyak jenis Rotifera. Genus ini terdiri dari 34 spesies (Alam Ikan 2). Menurut (Alam Ikan 3) bahwa selain Brachionus plicatilis dikenal juga beberapa spesies dari genus Brachionus, antara lain: Brachionus pala, Brachionus punctatus, Brachionus abgularis, dan Brachionus moliis.

Menurut  (Alam Ikan 4), Brachionus plicatilis memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Phylum        : Avertebrata
Klas             : Aschelmintes
Sub klas       : Rotaria
Ordo             : Eurotaria
Family          : Brachionidae
Sub family    : Brachioninae
Genus           : Brachionus
Species         :  Brachionus plicatilis

Parameter Brachionus
Brachionus: suhu optimal untuk pertumbuhan dan reproduksi adalah 22-30 derajat C; salinitas optimal 10-35 ppt, yang betina dapat tahan sampai 98 ppt; kisaran pH antara 5-10 dengan pH optimal 7,5-8.

Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong




Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.
Manfaat Pakan Alami
Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.

Persiapan Tempat Brachionus
  • Bibit diambil dari alam.
  • Air medium yang digunakan adalah air rebusan kotoran kuda/pupuk kandang lainnya, yaitu 800 ml kotoran kering dalam 1 liter air selama 1 jam. Setelah dingin, disaring dan diencerkan dengan air hujan yang telah direbus dengan perbandingan 1 : 2.
  • Air medium dimasukkan dalam botol 1 galon dan ditulari bibit Protozoa dan ganggang renik sebagai makanan Brachionus selama 7 hari. 1-2 minggu kemudian Brachionus akan tumbuh.
  • Cara lain adalah menularkan bibit ke dalam medium air hijau yang berisi phytoplankton.
Cara Budidaya Brachionus
Brachionus Dengan Pemupukan
  • Wadah yang digunakan berukuran 1-10 ton atau 10-100 ton yang telah dicuci dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton. Wadah diisi air melalui kain saringan halus.
  • Pemupukan menggunakan kotoran sapi kering 20 mg/l, pupuk urea dan TSP masing–masing 2 mg/l, kemudian didiamkan 4-5 hari, sampai tumbuh jasad-jasad renik makanan Brachionus, yaitu jenis Diatomae, seperti Cyclotella, Melosira, Asterionella, Nitzschia, dan Amphora. Tumbuhnya Diatomae ditandai dengan warna coklat
  • perang.
Brachionus Dengan Pemberian Makanan
  • Wadah yang digunakan berukuran 1 ton, yang terbuat dari papan kayu yang dilapisi lembaran plastik, bahan semen, atau fiberglass, yang dicuci biasa. Wadah diisi air medium, tergantung jenis Brachionus. Wadah diletakkan di luar ruangan, di bawah atap bening.
  • Pemupukan menggunakan 100 mg/l urea, 20 mg/l TSP, dan 2 mg/l FeCl3, untuk menumbuhkan algae planktonik (Chlorella dan Tetraselmis). Medium diudarai untuk meratakan pupuk dan algae.
Pemeliharaan Pakan Alami Brachionus 

Dengan Pemupukan: Bibit Brachionus ditebar 4-5 hari setelah pemupukan, sebanyak 10 ekor/ml. 5-7 hari kemudian, Brachionus berkembang dengan kepadatan sekitar 100 ekor/l dan dapat digunakan sebagai pakan ikan.
  • Dengan Pemberian Pakan:
  • Bibit Brachionus ditebar 4-5 hari setelah pemupukan, sebanyak 10 ekor/ml. Wadah setiap hari pagi diaduk sebagai ganti pengudaraan.
  • Pemberian makanan berupa algae dapat diganti dengan ragi roti sebanyak 1-2 gram berat basah per 1 juta ekor per hari pada suhu 25 derajat C atau 2-3 gram pada suhu lebih dari 25 derajat C. Takaran untuk ragi kering adalah 1/3-1/2 takaran berat basah
  • Apabila campuran algae tidak bisa diberikan terus-menerus, maka 1-2 jam sebelum panen harus diberi makanan algae secukupnya.
  1. Ragi laut (Rhodotorula) dapat juga diberikan sebagai makanan Brachionus. Ragi laut dapat diperoleh dari saluran pembuangan pembenihan ikan dan udang laut.
  2. Ragi laut dapat ditumbuhkan dengan memupuknya dengan 10 g gula, 1 g (NH4)2SO4, dan 0,1 g KH2PO4 atau K2HPO4 untuk setiap 1 liter air laut, dan ditambah HCl untuk mencapai pH 4. Dalam wadah 500-1000 liter, kepadatannya 100 juta sel/ml.
  3. Brachionus yang diberi makan ragi laut mencapai kepadatan 80-120 ekor/ml dalam masa pemeliharaan 25 hari.
  • Panen Brachionus dilakukan pada waktu kepadatannya mencapai 100 ekor/ml dalam jangka waktu 5-7 hari atau 2 minggu kemudian dengan kepadatan 500-700 ekor / ml.
  • Panen sebagian dapat dilakukan selama 45 hari, dimana 1-2 jam sebelum penangkapan, air diaduk , kemudian didiamkan. Brachionus yang berkumpul di permukaan diseser dengan kain nilon no 200 / kain plankton 60 mikron.
  • Panen total dilakukan dengan menyedot air dengan selang plastik dan disisakan 1/3 bagian kemudian disaring dengan kain nilon 200 atau kain plankton 60 mikron.
  • Hasil tangkapan dicuci bersih dan sudah dapat dimanfaatkan.
Explanation :
Alam Ikan 1 : Mujiman (1978) dalam Julianty (1999
Alam Ikan 2 : Dahril, (1996) dalam Wahyuni (2009
Alam Ikan 3 : Mudjiman (2002
Alam Ikan 4 : Hyman (1951) dan  Suzuki (1983) dalam Julianty (1999

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Dunaliella Sebagai Pakan Alami Ikan

Cara Budidaya Dunaliella Sebagai Pakan Alami Ikan adalah memperbanyak mikroalga atau dunaliella guna untuk mendapatkan secara masal untuk menjadi sumber pakan alami budidaya ikanDunaliella merupakan mikroalga uniselular dengan dua flagela dan termasuk kedalam alga hijau (Chlorophyta, Chloropyceae). Dunaliella memiliki morfologi tubuh seperti Chlamydomonas dengan dua perbedaan utama yang terdapat pada dinding sel Dunaliella. Dunaliella memiliki dua flagella yang sama panjang dan tunggal, bentuk kloroplas seperti cangkir. Bentuk sel yang bervariasi, menjadi oval, bulat, silindris, ellips. Sel dalam setiap spesies tertentu dapat berubah bentuk dengan perubahan kondisi, akan menjadi bulat jika kondisi tidak mendukung. Ukuran sel juga bervariasi dengan kondisi pertumbuhan dan intensitas cahaya yang mempengaruhi. Sel – sel akan membelah dengna memanjang menjadi bagian – bagian lain dengan memanjang pada kondisi motil. Dlam kondisi tertentu, sel Dunaliella dapat berkembang ke tahap palmelladan tertanam di dalam lapisan tebal lendir, atau membentuk aplanospore dengan dinding tebal dan kasar.  (Alam Ikan 1)

Dunaliella merupakan jenis fitoplankton laut yang hidupnya di pesisir pantai dan air danau yang memiliki salinitas garam yang tinggi atau bersifat halofilik. Dunaliella juga memiliki pH toleransi dari pH 1-11 (Alam Ikan 2). Dunaliella juga merupakan salah satu organisme eukariotik yang paling ramah lingkungan dan dapat mengatasi berbagai salinitas air laut dengna kisaran 3% NaCl sampai kejenuhannya 31% NaCl, dan temperatur kisarannya dari 0°C-38°C (Alam Ikan 1)

Dunaliella salina yang berwarna merah- oranye disebabkan oleh kandungan beta karotenoid dan campuran karotenoidnya yang tinggi. Dunaliella dalam pemanfaatannya dapat sebagai bahan makanan pada manusia, seperti menstimulasi sistem imunitas, detoksifikasi alami, anti kanker, antioksidan, dan penambah energi dan vitalitas (Alam Ikan 3)

Parameter Dunaliella
Dunaliella: salinitas optimum 18-22 % NaCl, untuk produksi carotenoid > 27% NaCl, dan masih bertahan pada 31% NaCl; suhu optimal 20-40 derajat C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH 11.

Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong


Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
  • Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
  • Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
  • Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
  • Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
  • Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
  • Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.
Manfaat Pakan Alami
  • Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
  • Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
  • Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
  • Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
  • Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
Persiapan Tempat Dunaliella
Dunaliella Dalam wadah 1liter
1. Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.

2. Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm 3. Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet.

3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
  • Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
  • Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
  • Biotin = 1 mikrogram/l
  • Vitamin B12 = 1mikrogram/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
Dunaliella Dalam wadah 1 galon (3 liter):
- Dapat menggunakan botol “carboys” atau stoples.
- Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.
- Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/l
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
  • Vitamin B1 = 0,005 mg/l
  • Vitamin B12 = 0,005 mg/l
Dunaliella Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
1. Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.

2. Persiapan lain sama.

3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/liter
  • Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter atau Kalium dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter
  • Agrimin = 1 mg/liter
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
4. Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea 60-100 mg/liter dan TSP 20-50 mg/liter.

5. Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar garam 18-22 permil. Selanjutnya diberi pupuk cair 1 ml/liter, kemudian diaerasi dan dibiarkan sebentar.

Pemeliharaan Pakan Alami Dunaliella 
  • Dalam pemeliharaan harus diperhatikan penempatan wadah agar cukup mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat berjalan lancar.
  • Setelah pupuk tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/3 bagian. Wadah ditutup kapas atau stirofoam yang telah diberi slang untuk mencegah kontaminasi.
  • Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar.
Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong

Explanation :
Alam Ikan 1 : Borowitzka 2000
Alam Ikan 2 : Massyuk 2000
Alam Ikan 3 : Lee et al 2000

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat