sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Budidaya Cacing Tanah sebagai Pakan Alami

Cara Budidaya Cacing Tanah (Lubricus Rubellus) sebagai Pakan Alami
Cacing tanah (Lubricus Rubellus) adalah makanan alami dengan sumber protein tinggi sebagai bahan pakan ikan alternatif. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa tanah dan kompos. Sisa media dari budidaya cacing ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman (kascing), karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. 

Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:
• Protein Kasar : 60 – 72% 
• Lemak : 7 – 10% 
• Abu : 8 – 10% 
• Energi :900 – 4100 kalori/gram.


Protein KasarLemakAbuEnergi
60 – 72% 7 – 10% 8 – 10% 900 – 4100 kalori/gram. 

Melihat komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan, cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan. Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap sehingga, dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan dapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikan yang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit.

Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah: 
Tepung Cacing : 47%
Telur Ayam : 20%
Terigu : 14%
Dedak : 18%
Kanji : 1%

Alat dan Bahan: 
• Alat Penggiling Tepung 
• Alat Penggiling Daging
• Baskom
• Terigu : 14% 
• Dedak : 18 % 
• Kanji :1% 
• Tepung Cacing : 41%
• Telur ayam : 20% 

Cara Pembuatan: 
1. Cacing segar dipisahkan dari medianya.
2. Di cuci/bilas dengan air bersih, lalu ditimbang.
3. Dijemur pada panas matahari di atas seng selama 24 jam (suhu udara 32 – 35 oC).
4. Cacing yang sudah kering kemudian dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung.
5. Tepung cacing ditimbang dan siap untuk digunakan. 
Cara Pembuatan Pakan Pelet: 
Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan. Langkah-langkah pembuatannya sebagai berikut : 
  • Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
  • Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap seminim mungkin. 
  • Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
  • Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran-butiran.
  • Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
  • Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan. 
Explanation :
Alam Ikan : Dinas Perikanan Propinsi DKI Jakarta, Brosur Informasi Proyek Peningkatan Diversifikasi Usaha Perikanan 

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Membuat Infusoria Makanan Benih Ikan Hias

Infusoria adalah salah satu makanan alami budidaya ikan yang termasuk kelas dari protozoa. di kelas infusoria ini, dikenal subkelas ciliata,yang sudah tak asing lagi contohnya paramecium, didinium, colpoda, dan balantidium.infusoria umumnya hidup di air tawar.

Infusoria memiliki Ukuran bervariasi antara 25micron - 300 micron, jadi cukup kecil untuk dimakan oleh benih ikan. Biasanya Infusoria banyak ditemukan di air yang mengandung bahan organik, seperti air dari kolam ikan yang berwarna hijau, terutama di tempat-tempat yang sedang mengalami pembusukan berat.Infusoria juga makan ganggang renik, ragi, dan bahan organik yang halus. walaupun termasuk protozoa, tapi infusoria bisa dilihat dengan mata secara langsung. kalau dilihat, akan tampak seperti bintik putih yang bergerak-gerak.

Cara mengkultur infusoria makanan benih ikan
  • Cara mengkultur infusoria makanan benih ikan. Siapkan dulu wadah buat kulturnya. Bisa dipakai botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter yang dipotong bagian atasnya.
  • Bibit infusoria bisa dicari di selokan ataupun kolam ikan. Mengambilnya, langsung ciduk saja air di bagian pinggir. Bibit tersebut dihindarkan dari sinar matahari langsung. Lebih baik kita mencarinya pagi-pagi.
  • Wadah buat kultur infusoria diisi air 3/4nya. Juga diisi dengan bahan makanan untuk infusoria.bahan makanannya bebas, bisa pakai sayuran, tempe, pelet jamuran, daun bayam lebar dan jenis sayuran lainnya yang berwarna hijau.
  • Kemudian di rebus sampai jadi bubur (atau sangat matang) dan dibusukkan.
  • Bibit infusoria dimasukkan ke wadah kultur. Setelah itu, tutup dengan kain biar sirkulasi udara lancar. 
  • Simpan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung.
  • 4 atau 5 hari kemudian bisa dipanen. Bisa dilihat infusoria berkembang biak jadi banyak banget, wadah jadi penuh bintik-bintik putih (ya infusorianya itu)


Cara mengkultur infusoria secara masal untuk makanan ikan
  • Cara mengkultur infusoria secara masal untuk makanan ikan Siapkan kolam atau bak beton ukuran 1 ton atau lebih
  • Wadah  diisi air mntah (air tawar, air payau, atau air laut) tergantung jenis Infusurianya.
  • Air media dimasukkan jerami atau rumput kering ditambah pupuk kandang.
  • Setelah satu minggu maka air media akan ditumbui oleh bakteri, cendawan, plankton, dan ganggng, yang nantinya akan menjadi makanan Infusuria.
  • Air media ditulari bibit Infusuria.
  • Dalam waktu satu minggu Infusuria akan tumbuh padat yang ditandai warna air media berubah menjadi keputih-putihan.
  • Infusuria siap dipanen untuk diberikan benih-benih ikan atau ikan-ikan bertubuh kecil, seperti ikan moly, ikan Gupy, tetra dan lainnya. Cara panen dengan mengambil air media dengan timba dan airnya disaring dengan seser halus agar kotoran tidak ikut, cara memberikan untuk makanan ikan cukup disiramkan merata kedalam wadah kultur Infusuria.


Cara pemberian makanan infusoria untuk ikan
Cara pemberian makanan infusoria untuk ikan dengan cara mengambil infusuria bersama airnya dengan menggunakan baskom atau ember, lalu ditebarkan pada media pemeliharaan ikan di kolam, bak atau diakuarium. Sesuai dengan takaran atau dosis yang dikehendaki. Contoh satu bak pemeliharaan ikan ukuran 1 m3 atau 1000 liter diberikan 5 liter air infusoria.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kandungan Gizi Artemia sebagai Pakan Alami

Artemia salina adalah sejenis udang Crustacea berukuran kecil, dari famili Artemidae, ordo Anostraca. Ukuran dewasanya 10 – 12 mm, sedang larvanya yang baru menetas 0,35 – 0,45 mm. Heawn ini banyak dijumpai di danau-danau air asin di amerika dan Argentina. Daur hidupnya lebih untik daripada udang. Telurnya dapat disimpan lama sampai satu tahun, dalam bentuk embrio tak aktif. Daya simpannya tergantung pada proses pengeringan dan cara penyimpanannya. Agar tahan lama, telur artemia disimpan dalam keadaan anaerob.

Kandungan Gizi Artemia
ProteinLemakSerat KasarKadar AbuAir
55%18,9%2,04%7,2%81,9%

Jumlah telurPanen umur hidupSuhukadar garamPH
20-3024-36 jam20-4528-35 C>30 ppt7,5-8,5 ph


Artemia dapat hidup di perairan yang bersalinitas tinggi antara 60 - 300 ppt dan mempunyai toleransi tinggi terhadap oksigen dalam air. Oleh karena itu artemia ini sangat potensial untuk dibudidayakan di tambak- tambak tambak yang bersalinitas tinggi di Indonesia. Budidaya artemia mempunyai prospek yang sangat cerah untuk dikembangkan. Baik kista maupun biomasanya dapat diolah menjadi produk kering yang memiliki ekonomis tinggi guna mendukung usaha budidaya udang dan ikan. Budidaya artemia relatif sederhana serta murah, sehingga tidak menuntut ketrampilan khusus dan modal besar bagi pembudidayanya.


Cara Budidaya Artemia
Secara teknis budidaya artemia relatif mudah. Kemudahan ini lantaran didukung oleh sifat artemia yang sangat toleran pada berbagai kondisi fisik dan kimia media, kecuali zat-zat beracun. Namun untuk mendapatkan hasil yang optimal dibutuhkan pengetahun dan keterampilan yang handal dalam budidaya Artemia.

Benih berkualiatas adalah salah satu yang harus diperhatikan dalam budidaya artemia. Benih artemia banyak dijumpai di pasaran bebas dalam bentuk kista. Strain yang mudah ditemukan di pasar dalam negeri adalah San Fransisco Bay dan Great Salt Lake berasal dari Amerika Serikat. Didalam negeri benih artemia berasal dari Gondol, Bali yang dikemas dalam kaleng dengan berat 250g.

Budidaya artemia dapat dilakukan dengan beberapa sistem yaitu 
  1. sistem tumpang sari, Sistem tumpang sari dilakukan dengan cara modifikasi tambak yang dapat berfungsi ganda. Pertama, untuk memproduksi garam dengan kualitas yang lebih baik. Kedua memproduksi artemia, baik dalam bentuk kista maupun biomassa. Dengan demikian sistem ini akan memberikan keuntungan usaha tani yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani garam.
  2. monokultur 
  3. dan dalam bak. 


Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah tanggul atau pematang tambak harus bebas dari kebocoran. Hal ini dapat diatasi dengan cara menutup tanggul dengan menggunakan plastik hitam atau menggunakan dinding beton.


Pemberian Artemia pada Budidaya ikan
Sebelum benih artemia ditebar, pada tambak terlebih dahulu diadakan perlakuan menumbuhkan makanan alami yang berupa fitoplanton. Dengan cara memupuk tambak menggunakan pupuk organik seperti kotoran ayam dan pupuk buatan berupa TSP dan Urea atau ammonium. Dosis pupuk kandang, TSP, dan urea yang diperlukan berturut-turut 3.000 kg/ha/tanam, 150 kg/ha/tanam dan 150 kg/ha/tanam.

Setelah lahan siap untuk digunakan, pertama-tama air laut dialirkan ke petakan reservoir dengan kedalaman 60 -100 cm yang menggunakan pompa air berdiameter sekitar 10 inci pada saat air pasang. Salinitas airnya kira-kira 30 - 35 ppt atau sama dengan salinitas air laut. Selanjutnya dari petakan reservoir II dialirkan ke petakan pemeliharaan dengan menggunakan pompa yang berdiameter 2 inci dan kedalamannya sekitar 60 cm.

Untuk menangani predator yang kerap mengganggu, dapat diatasi dengan tetap menjadi salinitas air media pada kisaran 150 ppt yang memungkinkan jenis predator tidak mampu bertahan hidup. Atau dengan cara menggunakan saponin pada dosis 10 -12 ppm. Ada beberapa macam predator yang sering menyerang artemia diantaranya zooplankton yakni orgnisme pesaing pemakan fitoplankton, dan benih ikan atau ikan dewasa yang masuk tambak secara tidak sengaja sehingga memakan artemia.

Sebelum artemia ditebar ke tambak, ada satu lagi kegiatan penting yang harus dilakukan yaitu penetasan kista. Kista merupakan telur yang terbungkus korion akibat ketidaksesuaian lingkungan telur menetas menjadi larva. Kondisi demikian memang sengaja direkayasa. Untuk menetaskan kista yang diperlukan adalah wadah dan perangkat suplai oksigen. Bentuk wadahnya kerucut dengan ukuran sesuai kebutuhan. Supaya suplai oksigen tetap ada, maka dibuatlah sistem aerasi dalam wadah. Sedangkan kepadatan kista sekitar 5 -10 g per liter air.


Penebaran benih artemia dapat segera dilakukan setelah kondisi pertumbuhan makanan alami di tambak terlihat normal. Hal ini ditandai dengan air tambak yang berwarna hijau keruh dan tingkat kecerahannya tidak lebih dari 20 cm.

Nauplii artemia yang ditebarkan pada petakan pemeliharaan berasal dari kista yang telah ditetaskan melalui dekapsulasi. Dalam menebarkan artemia sebaiknya digunakan nauplii instar I karena instar yang lebih tinggi relatif peka terhadap perubahan salinitas. Untuk keperluan produksi biomassa, nauplii ditebarkan pada petakan reservoir dengan tingkat kepadatan sesuai dengan daya lahan yang tersedia. Tingkat kepadatannya 200 nauplii per liter air. Sebelumnya nauplius dikeringkan yang dimasuk ke dalam alat pengering pada temperature 60 C° selama 24 jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dan kemudian ditimbang.

Selama pemeliharaan, artemia harus mendapat pengawasan yang intensif agar hasilnya optimal. Adapun hal perlu diamati adalah salinitas, tingkat kecerahan air, pemberian makan tambahan, ketinggian air, kebersihan air, dan keasaman media.

Waktu pemeliharaan artemia sebaiknya dilakukan pada musim kemarau untuk memperoleh media dengan salinitas tinggi. Daerah Madura musim kemarau pada bulan Juli - November. Persiapannya dimulai pada bulan Mei. Sehingga beberapa tahapan budidaya artemia diantaranya bulan Mei persiapan non-teknis, Juni adalah persiapan tambak, dan Juli penebaran benih. Adapun masa panen dan pengolahannya jatuh pada bulan Agustus, September, Oktober dan November.

Pada umur 10 - 14 hari artemia mulai melakukan perkawinan. Pada artemia betina dewasa mempunyai kantung telur yang terletak di bawah tubuhnya yang berisi 20 - 30 butir telur. Dalam satu hektar tambak mampu menghasilkan kista sebanyak 260 kg. Apabila dalam setahun dapat dilakukan dua kali pemanenan maka produksi kista yang dapat dihasilkan mencapai 520 kg. Harga per kilogram kista artemia saat ini di tingkat petani Rp 35 ribu dan biomassanya Rp 40 ribu.


Penanganan Saat Panen
Pemanenan kista dan biomassa dilakukan dengan cara yang berbeda, baik teknik, waktu maupun penanganannya.Untuk kista dipanen setiap hari selama kurun waktu 2 bulan, sedangkan biomassa dipanen sekali selama satu periode budidaya. Pemanenan dapat dimulai pada akhir minggu ketiga terhitung sejak artemia ditebarkan ke dalam tambak. Tanda-tanda kista yang siap dipanen adalah terdapat butiran-buturian halus berwarna coklat tua yang mengapung di tambak. Waktu yang tepat memanen kista antara pukul 08.00-11.00, dimana hari cukup terang dan anginnya sepoi-sepoi sehingga kista mudah ditangkap dengan seser halus yang terbuat dari bahan nilon.

Biomassa artemia dewasa siap dipanen setelah 14 hari dalam pemeliharaan. Saat itu artemia telah mencapai ukuran 10 mm. Pada sistem budidaya tambak, biomassa artemia dipanen setelah masa pemanenan kista yang terakhir yang ditandai dengan mortalitas induk sudah mulai meningkat, sementara produksi kista mencapai jumlah terendah. Cara pemanennya dilakukan dengan membuat lubang pembuangan air keluar dari tambak dengan memasang jaring berbentuk V dengan ukuran 1 - 1,5 cm. Kemudian artemia yang sudah terkumpul disudut tambak diangkat dengan menggunakan seser halus dan langsung dimasukan ke dalam wasah berisi air laut yang bersih.


Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kandungan Gizi Cacing Tubifex sebagai Pakan Alami

Cacing sutra atau cacing rambut (Tubifex sp) adalah  pakan alami yang penting dalam kegiatan pembenihan ikan. Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan selain dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk hidup dan tumbuh, juga untuk memenuhi kebutuhan pigmen warna dalam tubuh bagi ikan hias. (Alam Ikan 10).

Secara umum cacing sutra atau cacing rambut terdiri atas dua lapisan otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya 10–30 mm dengan warna tubuh kemerahan, saluran pencernaannya berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Hal yang sama juga disampaikan oleh (Alam Ikan 11), menyatakan Spesies ini mempunyai saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Cacing sutra (Tubifex sp) ini hidup berkoloni bagian ekornya berada dipermukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.

Nilai gizi cacing tubifex (Alam Ikan 12)
ProteinLemakSerat KasarKadar AbuAir
57%13,3%2,04%3,6%87,7%

Keadaan habitat cacing tubifex
SuhuOksigen terlarutPH
28-30 C2,75-56-8 

Reproduksi cacing tubifex

Jumlah telurPanen pertamaPanen Kedua Umur Cacing
6-8>65 hari>12 hariJangka Panjang

Dari tabel diatas kandungan protein cacing sutra sangat baik untuk pakan alami ikan, walaupun mempunyai kadar nilai tinggi tetapi cacing tubifex merupakan pakan yang hanya dapat ditempatkan pada dasar perairan. Sehingga sering dijumpai ikan yang berada dipermukaan air tidak makan cacing tersebut. Sehingga menyebabkan perbedaan pertumbuhan larva ikan yang berada di dasar perairan dan permukaan air.


1. Biologi dan Morfologi Cacing Sutra (Tubifex sp)
Cacing sutra atau cacing rambut termasuk kedalam kelompok cacing–cacingan (Tubifex sp). Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing sutra digolongkan kedalam kelompok Nematoda. Embel–embel sutra diberikan karena cacing ini memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti halnya sutra. Sementara itu julukan cacing rambut diberikan lantaran bentuk tubuhnya yang panjang dan sangat halus tak bedanya seperti rambut (Alam Ikan 12).

Cacing sutra (Tubifex sp) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum : Annelida
Class : Oligochaeta
Ordo : Haplotaxida
Famili : Tubificidae
Genus : Tubifex
Spesies : Tubifex sp

Menurut (Alam Ikan 13), Cacing sutra (Tubifex sp) tidak mempunyai insang dan bentuk tubuh yang kecil dan tipis. Karena bentuk tubuhnya kecil dan tipis, pertukaran oksigen dan karbondioksida sering terjadi pada permukaan tubuhnya yang banyak mengandung pembuluh darah. Kebanyakan Tubifex membuat tabung pada lumpur di dasar perairan, di mana bagian akhir posterior tubuhnya menonjol keluar dari tabung bergerak bolak-balik sambil melambai-lambai secara aktif di dalam air, sehingga terjadi sirkulasi air dan cacing akan memperoleh oksigen melalui permukaan tubuhnya. Getaran pada bagian posterior tubuh dari Tubifex dapat membantu fungsi pernafasan (Alam Ikan 14).

Hal yang sama juga disampaikan oleh (Alam Ikan 15) bahwa hampir semua oligochaeta bernafas dengan cara difusi melalui seluruh permukaan tubuh. Hanya beberapa yang bernafas dengan insang. Cacing sutra ini bisa hidup diperairan yang berkadar oksigen rendah, bahkan beberapa jenis dapat bertahan dalam kondisi yang tanpa oksigen untuk jangka waktu yang pendek. Cacing sutra dapat mengeluarkan bagian posteriornya dari tabung, guna mendapatkan oksigen lebih banyak, apabila kandungan oksigen dalam air sangat sedikit.

Menurut (Alam Ikan 16), sekitar 90% Tubifex menempati daerah permukaan hingga kedalaman 4 cm, dengan perincian sebagai berikut : juvenile (dengan bobot kurang dari 0,1 mg) pada kedalaman 0-2 cm, immature (0,1-5,0 mg) pada kedalaman 0-4 cm, mature (lebih dari 5 mg) pada kedalaman 2-4 cm.

2. Ekologi Cacing Sutra (Tubifex sp)
(Alam Ikan 23), menjelaskan bahwa cacing sutra (Tubifex sp) umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secara berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies cacing Tubifex sp ini bisa mentolerir perairan dengan salinitas 10 ppt. Kemudian oleh Chumaidi (1986), dikatakan bahwa dua faktor yang mendukung habitat hidup cacing sutra (Tubifex sp) ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Sedangkan (Alam Ikan 18), menambahkan dari setiap tubuh cacing sutra (Tubifex sp) pada bagian punggung dan perut kekar serta ujung bercabang dua tanpa rambut. Sementara sifat hidup cacing sutra (Tubifex sp) menunjukan organisme dasar yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak berputar-putar.
3. Perkembangbiakan Cacing Sutra (Tubifex sp)
(Alam Ikan 23), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur.

Sedangkan menurut (Alam Ikan 17), telur cacing sutra (Tubifex sp) terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1-2 cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio cacing sutra (Tubifex sp) akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari (Alam Ikan 19).

4. Habitat dan Penyebaran Cacing Sutra (tubifex sp)
(Alam Ikan 12) mengemukakan bahwa habitat dan penyebaran cacing sutra (Tubifex sp) umumnya berada di daerah tropis. Umumnya berada disaluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan, misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk atau saluran pembuangan limbah peternakan. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah rumah tangga umumnya kaya akan bahan organik karena bahan organik ini merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing sutra (Tubifex sp).


5. Pakan dan kebiasaan Makan Cacing Sutra (Tubifex sp)
Menurut (Alam Ikan 13), makanan oligochaeta akuatik sebagian besar terdiri dari ganggang berfilament, diatom dan detritus berbagai tanaman dan hewan. Sebagian besar oligochaeta memperoleh makanan dengan menyaring substrat seperti kebiasaan cacing yang lain. Komponen organik pada substrat ditelan melalui saluran pencernaan. Cacing ini memperoleh makanan pada kedalaman 2-3 cm dari permukaan substrat. Cacing sutra mencari makan dengan cara masuk ke dalam sedimen, beberapa sentimeter di bawah permukaan sedimen dan memilih bahan makanan yang kecil serta lembek (Alam Ikan 20).

Jumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh cacing sutra (Tubifex sp) adalah 2-8 kali bobot tubuh (Alam Ikan 21). Menurut (Alam Ikan 21) cacing tersebut hanya makan pada lapisan tipis di bawah permukaan pada kedalaman 2cm-5cm. Dijelaskan pula bahwa pada lapisan tersebut banyak zat-zat makanan yang tertimbun akibat dekomposisi anaerobik.

Selain makanan, pertumbuhan populasi cacing sutra juga ditentukan oleh faktor–faktor lain seperti ruang (tempat) dan lingkungan. (Alam Ikan 22) menyatakan bahwa tubificidae memperoleh makanan pada kedalaman 2-3 cm dari permukaan substrat.

Explanation :
Alam Ikan 10 : Priambodo dan Wahyuningsih, 2001
Alam Ikan 11 : Wahyuningsih (2001
Alam Ikan 12 : Khairuman et al., 2008
Alam Ikan 13 : Pennak (1978
Alam Ikan 14 : Wilmoth, 1967
Alam Ikan 15 : Sugiarti et al., 2005
Alam Ikan 16 : Marian dan Pandian (1984
Alam Ikan 17 : Chumaidi (1986
Alam Ikan 18 : Departemen Pertanian (1992
Alam Ikan 19 : Gusrina, 2008
Alam Ikan 20 : Morgan, 1980 dalam Isyaturradhiyah, 1992
Alam Ikan 21 : Pondubnaya dan Sorokin (1961) dalam Monakov (1972
Alam Ikan 22 : Pennak (1978) dalam Febrianti (2004
Alam Ikan 23 : Khairuman dan Amri (2002

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kandungan Gizi Kutu Air sebagai Pakan Alami

Kutu air merupakan jenis pakan ikan yang baik untuk larva ikan, dengan ukuran sesuai bukaan mulut ikan dan tentunya memiliki nilai protein yang cukup tinggi. Terdapat dua jenis kutu air yang dapat dijadikan sebagai pakan ikan antara lain: Daphnia dan Moina Sp.

Perbedaan Daphnia dan Moina Sp
Moina Sp
Jenis kutu air Moina Sp mempunyai bentuk tubuh agak bulat, bergaris tengah antara 0,9-1,8 mm dengan berwarna kemerahan. Perkembangbiakan moina dapat dilakuan melalui dua cara yaitu secara asexual atau parthenogenesis (melakukan penetasan telur tanpa dibuahi) dan secara sexual (Perkawinan/Pembuahan terlebih dahulu).
Daphnia
Jenis kutu air Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tubuh lima pasang alat tambahan. Alat tambahan pertama disebut Antennula sedangkan yang kedua disebut antenna yang mempunyai fungsi pokok sebagai alat gerak. Tiga lainnya merupakan alat tambahan pada bagian mulut. Perkembangbiakan daphnia yaitu secara asexual atau parthenogenesis dan secara sexual atau kawin. Perkembangbiakan secara parthenogenesis sering terjadi, dengan menghasilkan individe muda betina. Telur dierami dalam kantong pengeraman hingga menetas. Anak Daphnia dikeluarkan pada saat pergantian kulit.

JenisJumlah TelurUmur HidupPanen pertamaPanen kedua
Daphnia39 ekor34 hari5 hari0,5 hari
Moina Sp32 ekor13 hari4 hari1,25 hari

JenisSuhuPh O2ProteinLemak AbuKadar air
Daphnia22-30 c 6,5-8,5     > 4 PPM     Non Selektive Filter Feeder > 42%>89%
Moina Sp14-30 c 6,5-9     > 4 PPM                     >37,38%13,29%11%90,6%

Non Selektive Filter Feeder menjadikan nilai proteinnya dapat berubah-rubah  tergantung jenis cara budidaya daphnia sesuai media pembenihan. Seperti nilai gizi Daphnia dengan pakan sebagai berikut:

Komposisi ProksimatKotoran Ayam (1)Ragi (1 g/80.000 ekor)Kotoran Ayam (2)
 Protein  67,92 69,9053,00
 Lemak13,3320,1913,90
Kadar Air 89,5089,7089,48

Kandungan asam amino esensial tidak berubah jika media kulturnya berbeda. Dapnhnia sp. Yang dikultur dengan menggunakan kotoran ayam mengandung asam lemak esensial yang cukup baik, asam lemak linoleat 0,36 % dan asam lemak linolenat 1,31 %. Namun jika dikultur dengan ragi maka sama seperti rotifer kandungan asam lemak esensialnya rendah. Untuk memenuhi kebutuhan gizi larva maka kualitas gizi dapat diperoleh sesuai kebutuhan larva dengan metode pengkayaan.

Klasifikasi Daphnia sp  dan Moina
Menurut (Alam Ikan 1), klasifikasi Daphnia magna adalah sebagai berikut :
Filum           : Arthropoda
Subfilum     : Crustacea
Kelas           : Branchiopoda
Ordo           : Cladocera
Famili          : Daphnidae
Genus         : Daphnia
Spesies       : Daphnia sp.

Morfologi Daphnia sp.
Pembagian segmen tubuh Daphnia hampir tidak terlihat. Kepala menyatu, dengan bentuk membungkuk ke arah tubuh bagian bawah terlihat dengan jelas melalui lekukan yang jelas. Pada beberapa spesies sebagian besar anggota tubuh tertutup oleh carapace, dengan enam pasang kaki semu yang berada pada rongga perut. Bagian tubuh yang paling terlihat adalah mata, antenna dan sepasang seta. Pada beberapa jenis  Daphnia, bagian carapace nya tembus cahaya dan tampak dengan jelas melalui mikroskop bagian dalam tubuhnya.

Beberapa Daphnia memakan crustacean dan rotifer kecil, tapi sebagian besar adalah filter feeder, memakan algae uniselular dan berbagai macam detritus organik termasuk protista dan bakteri. Daphnia juga memakan beberapa jenis ragi, tetapi hanya di lingkungan terkontrol seperti laboratorium. Pertumbuhannya dapat dikontrol dengan mudah dengan pemberian ragi. Partikel makanan yang tersaring kemudian dibentuk menjadi bolus yang akan turun melalui rongga pencernaan sampai penuh dan melalui anus ditempatkan di bagian ujung rongga pencernaan. Sepasang kaki pertama dan kedua digunakan untuk membentuk arus kecil saat mengeluarkan partikel makanan yang tidak mampu terserap. Organ Daphnia untuk berenang didukung oleh antenna kedua yang ukurannya lebih besar. Gerakan antenna ini sangat berpengaruh untuk gerakan melawan arus (Alam Ikan 2).



Biologi Moina sp.

Moina sp adalah golongan udang renik Cladocera.Moina sp termasuk ke dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Entamostraca, ordo Phylopoda, subordo Cladocera. Spesies dari genus moina terdiri dari Moina dubia, M. macropoda, M. weismani, M. reticulate (Alam Ikan 9).


Morfologi Moina sp
Adapun ciri khas Moina sp adalah bentuk tubuh yang pipih ke samping, dinding tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh berserta anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya.Bentuk tubuh ini tampak sepertisebuah cangkang kerang-kerangan.Cangkang di bagian belakang membentuk sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.Moina sp mempunyai ukuran bentuk tubuh 500-1.000 mikron (Alam Ikan 3) .

Moina sp merupakan organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif dengan alat geraknya yaitu kaki renang (Alam Ikan 4). Selanjutnya di jelaskan bahwa bentuk tubuh moina membulat dengan garis tengah 0.9 – 1.8 mm dan berwarna kemerah-merahan, sedangkan bagian perut terdapat 10 silia dan di bagian punggungnya ditumbuhi rambut-rambut kasar.

(Alam Ikan 5). Moina sp mempunyai perbedaan dengan jenis kutu air lainnya, namun antara Moina sp dengan Daphnia sp mempunyai sedikit perbedaan pada ukurannya,Moina sp 500-1000 mikron sedangkan Daphnia sp 1000-5000 mikron dan bentuknya pada Moina sp mempunyai ekor yang lebih panjang. Selanjutnya (Alam Ikan 6) menjelaskan bahwa bentuk Moina sp pipih bening dan tembus pandang, sehingga terlihat bentuk anggota bagian dalam termasuk telurnya.

Ekologi Moina sp
Moina sp merupakan zooplankton air tawar yang dapat hidup di sungai, parit, rawa-rawa, dan air tergenang. Plankton ini tersebar luas yang di sebabkan oleh aliran air dan terbawa oleh binatang lainnya.Hal ini di mungkinkan karena telur Moina sp tersebut mampu bertahan pada kondisi perairan yang sangat buruk, bahkan perairan yang sedikit berair. Apabila kondisi perairan telah memenuhi persyaratan untuk kehidupannya, maka telur-telur tersebut akan menetas (Alam Ikan 7). Selanjutnya dijelaskan bahwa lingkungan yang mendukung pertumbuhan Moina sp adalah pada kisaran suhu 22 – 31 oC dan pH antara 6,6 – 7,4.

(Alam Ikan 8) mengatakan bahwa, perkembangan populasi Moina sp dapat terjadi pada kolam atau bak yang terbuat dari tanah, plastic, kaca, fiber glass, dan kombinasi bahan tersebut. Bahan-bahan logam seperti seng kurang baik bila di jadikan sebagai wadah kultur, karena akan mencemari air sebagai media hidupnya.

Selain media kultur, yang perlu di perhatikan adalah bibit yang akan di gunakan. Bibit Moinasp yang akan di budidayakan sebaiknya yang tidak terlalu tua atau terlalu muda. Menurut (Alam Ikan 3)  bahwa Moina yang baik di gunakan sebagai bibit berukuran lebih dari 500 mikron, sehat, tidak lemah, dan tidak sedang bertelur.

Reproduksi Moina sp
Moina sp berkembang biak secara partenogenetik (telur berkembang tanpa dibuahi). Pada umumnya perkembangbiakan yang demikian akan menghasilkan telur sebanyakn 10-20 butir, apabila lingkungan mendukung telur akan menetas menjadi hewan betina. Selain itu Moina sp dapat juga berkembang biak secara kawin. Dengan cara ini hewan betina akan menghasilkan telur sebanyak 1 – 2 butir. Perkembangan secara demikian terjadi apabila individu  jantan terdapat dalam jumlah yang banyak bila di banding dengan individu betina, atau juga bisa terjadi apabila kondisi perairan tidak mendukung hewan betina untuk menghasilkan dan menetaskan telurnya sendiri.

(Alam Ikan 3) menyatakan bahwa telur-telur yang di hasilkan oleh induk betina ditampung di dalam kantung telur yang terletak di atas punggung.Di dalam kantong telur, embrio berkembang terus sehingga ketika dikeluarkan sudah setengah dewasa. Selanjutnya dikatakan bahwaMoina sp akan menjadi dewasa dalam waktu 5 hari dari total umurnya yaitu  30 hari. Setiap dua hari sekali, Moina sp mampu menghasilkan anak sebanyak 33 ekor.Dengan demikian, keturunan yang di hasilkan selama hidupnya sebanyak 500 ekor.

Selanjutnya dikatakan bahwa di daerah beriklim dingin perkembang biakannya akan menghasilkan individu-individu jantan, sedangkan di daerah beriklim panas juga sering terjadi pergantian sistem perkembangbiakan dan dapat terjadi lebih dari satu kali perkembangbiakan secara kawin.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Pennak (1989
Alam Ikan 2 : Waterman, 1960
Alam Ikan 3 : Mudjiman, 2008
Alam Ikan 4 : Priambodo, 2002
Alam Ikan 5 : Djarijah dalam Nurzaman, (2002
Alam Ikan 6 : Lingga dalam Nurzaman, (2002
Alam Ikan 7 : Mudjiman dalam Johan, (2002)
Alam Ikan 8 : Dahlan dalam Johan, (2002
Alam Ikan 9 : Sachlan, 1980

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Kotoran Sapi menjadi Pakan Budidaya Lele

Alternatif pakan buatan dari kotoran sapi untuk budidaya ikan lele. Dengan banyaknya jenis pakan alternatif untuk lele, karena lele merupakan ikan yang cukup rakus. Untuk pembesaran ikan lele perlu diperhatikan biaya yang akan dikeluarkan terutama dalam hal pakan. Untuk mengurangi biaya pakan antara lain adalah dengan mengolah limbah atau kotoran sapi menjadi pakan alternatif untuk lele. Seperti cara Cara Ampas Tahu menjadi Pakan Alternatif Lele, dan Cara Limbah Pasar menjadi Pakan Lele.

Alasan mengapa yang digunakan adalah kotoran sapi? Hal ini karena kotoran sapi lebih cepat diuraikan dan menghasilkan organisme dengan bantuan probiotik sehingga bisa digunakan sebagai pakan utama lele.



Waktu panen penggunaan pakan buatan kotoran sapi. Memerlukan waktu yang lebih lama dari pakan yang lain. Cara budidaya biasa dengan menggunakan pellet dengan pakan alternatif kotoran sapi memiliki perbandingan biaya pakan akan sangat jauh berbeda. Bahkan menggunakan pakan organik dari fermentasi kotoran sapi ini dapat menghemat pakan 30-60%. Budidaya lele

Dengan pakan organik dari kotoran sapi banyak sekali manfaatnya, diantaranya adalah

  • tidak perlu sering mengganti air kolam, lele organik mempunyai rasa daging yang lebih gurih, 
  • air bekas budidaya lele organik sangat baik untuk memupuk tanaman baik untuk pembibitan tanaman hortikultura (cabe, tomat dan lain-lain) 
  • ataupun untuk pembibitan tanaman keras seperti bibit jabon, sonokeling dan lain-lain serta masih banyak lagi manfaat lele dengan pakan organik ini.



Cara pembuatannya Pakan alternatif lele adalah sebagai berikut:

  1. Kumpulkan kotoran sapi yang telah dikeringkan
  2. Dalam keadaan kering kotoran sapi tersebut di masukkan ke dalam kolam
  3. Campurkan larutan probiotik dan tetes tebu/gula dengan perbandingan 1 liter probiotik Biocatfish 2 liter tetes tebu/gula dan 10 liter air sampai merata.
  4. Dalam waktu 7-10 hari akan tumbuh plankton-plakton yang akan menjadi pakan utama lele.
  5. Cara pemberian pakan untuk lele cukup diambil beberapa ember dari kolam yang berisi plankton tadi kemudian dimasukkan kedalam kolam lele dan dalam waktu kurang lebih 3- 4 bulan lele bisa di panen.
Explanation :
Alam Ikan 1 :  deptan.go.id

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Ampas Tahu menjadi Pakan Alternatif Lele

Pakan alternatif ampas tahu merupakan pakan buatan dengan bahan utama tahu dicampur berbagai bahan lain. Ada banyak cara dalam pembuatan pakan alternatif lele seperti Cara Limbah Pasar menjadi Pakan Lele dan Cara Kotoran Sapi menjadi Pakan Budidaya Lele. Cara Budidaya lele anda dapat membuat ramuan pakan organik yang berbahan dasar "Ampas Tahu" dengan tujuan agar lele dapat berkembang seperti di habitat aslinya yaitu memakan makanan yang berasal dari bahan organik dan ikan lele akan tumbuh dengan baik.

Selain itu hal tersebut juga untuk menekan atau mengurangi biaya pengeluaran serta mengurangi menumpuknya limbah dari Ampas Tahu tersebut. budidaya ikan lele organik sangatlah murah dan mudah. Sebab harga pakan lele pabrikan yang berbentuk pellet harganya terus mengalami kenaikan, saat ini sudah di atas Rp 9.000. Sedangkan harga pakan lele organik cuma berkisar Rp 2.000 - 3.000 perliter atau pun per kg fermentasi ampas tahu tergantung harga bahan mentah yang digunakan.

Bahan-bahan untuk membuat Ampas Tahu menjadi Pakan Alternatif Lele sebagai berikut:
1. Ampas Tahu 5 Kg
2. Dedak Halus 5 Kg
3. Tepung Ikan 1 Kg
4. Tetes Tebu/Molase 1 liter
5. Probiotik 200 ml
6. Ragi Tempe 2 sdm

Setelah seluruh bahan dicampur dan diaduk rata kemudian dimasukkan ke dalam drum/ember/kantong plastik yang diberi lobang udara dengan menggunakan selang untuk mengalirkan gas/udara yang ujungnya ditutup plastikatau bekas gelas air mineral tetapi jangan terlalu tertutup rapat (sebagian terbuka untuk keluar masuknya oksigen).

Kemudian disimpan dan dibiarkan selama 5 hari agar terjadi proses fermentasi secara alami.

Setelah di Fermentasi 5 hari Pakan Lele Organik sudah bisa dimanfaatkan dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Bisa diberikan langsung ke Lele dengan cara dikepalkan sehingga lele bisa mengkonsumsi secara langsung
  • Disarankan diberikan ke Lele yang umurnya diatas 1 bulan dari penebaran ukuran benih 5-7, sebelumnya bisa diberikan dari hasil fermentasi dan pakan alami pupuk kandang
  • Pemberiannya jangan bersamaan dengan pemberian pellet ikan
  • Prosentase pemberian 5% dari Biomas Ikan (1,5 – 2 kali jumlah pemberian pakan Pellet).
  • Frekuensi pemberian pakan lele organik dari ampas tahu ini bisa 2 – 3 kali sehari diberikan pada pagi/siang hari
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Limbah Pasar menjadi Pakan Lele

Limbah pasar merupakan alternatif pakan buatan untuk lele, seperti pakan buatan lain, Cara Kotoran Sapi menjadi Pakan Budidaya Lele dan Cara Ampas Tahu menjadi Pakan Alternatif Lele, Dengan adanya jenis lele jenis phyton dan masamo, serta akan hadirnya strain lele sangkuriang jilid II yang semakin menggusur kepopuleran lele Dumbo yang eksis sejak tahun 80-an. Dengan berbagai keunggulan seperti pertumbuhan yang cepat, pakan lebih hemat, ikan lebih kuat dan tahan terhadap berbagai penyakit membuat ikan lele semakin hari semakin diminati masyarakat.

Semakin tingginya permintaan pakan buatan untuk ikan lele maka semakin hari harga pakan pellet semakin tinggi saja. Harga pakan pellet dipasar dengan kadar protein 28-30% memiliki harga kisaran  Rp 240.000,-/sak(30kg) sedangkan pakan pellet dengan kandungan protein 31-33% dipatok harga Rp 270.000,-/sak(30kg). Mahalnya harga pakan ikan lele membuat para peternak lele berpikir ulang berkali-kali untuk budidaya lele. Oleh karena itu harus betul-betul pandai dalam management pakan lele. Jika 100% pakan beli dari toko pertanian. Maka perlu dilakukan manajemen pakan untuk mengurangi biaya pakan lele. Dengan pembuatan pakan alternatif dari limbah pasar.
Bahan yang dapat menjadi Pakan Lele dari Limbah pasar
1. Limbah ikan di pasar
2. Usus/jeroan ayam
3. Bekicot / keong mas
4. Kotoran sapi

Nah, pada point 1-3 di atas, semuanya dapat diberikan secara langsung tanpa melalui proses hingga menjadi pakan siap pakai. Sedangkan kotoran sapi (Tletong) harus melalui beberapa tahapan agar bisa menjadi pakan yang memiliki kadar protein yang cukup untuk lele. Berikut akan akan diuraikan cara pembuatan pakan alternatif dari kotoran sapi.

Cara Membuat Pakan Alternatif dari Kotoran Sapi (Tletong) :

  • Ambil limbah kotoran ternak/sapi kira-kira 10 kg
  • Masukkan 20 tutup botol biocatfish yang merupakan probiotik khusus lele ke limbah kotoran sapi
  • Tutup rapat dalam wadah kedap udara (untuk mempercepat proses penguraian, penyatuan semua zat/kandungan atau inilah yang disebut fermentasi)
  • Setelah minimal 24 jam beri lubang untuk udara masuk biarkan selama minimal 3 hari semakin lama semakin bagus (setelah 3 hari lebih akan keluar cacing)
  • Pakan sudah jadi dan siap diberikan ke lele 
Untuk mempercepat proses penguraian kotoran ternak, dapat juga diberi tambahan berupa ampas kelapa, air beras, air kelapa, atau kulit buah-buahan sesuai dengan ketersediaannya ditempat masing-masing.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Pelet Buatan Sendiri Pakan Budidaya Ikan

Pakan Pelet merupakan pakan utama dalam budidaya pembesaran, karena biaya yang cukup tinggi pelet biasa diganti dengan pakan alternatif lain. Seperti Pakan Alternatif Lele dari Ampas Tahu, Pakan Lele dari Limbah Pasar, Pakan Alami Lele dari Kotoran Sapi, dan Pakan Alami. Tetapi pakan alami lebih difokuskan misalnya pakan larva lele, ataupun jenis lainnya. 

Untuk Budidaya Intensif sering kali penggunaan pakan pelet menjadi makanan utama sehingga tidak heran jika sampai 100% makanannya adalah pelet. Tetapi pelet memiliki harga yang sangat tinggi, menjadikan biaya yang dikeluarkan akan sangat banyak. Biaya yang cukup tinggi akan berdampak pada keuntungan pemilik budidaya. 

Untuk Mengatasi biaya pakan pelet berikut cara membuat pelet buatan untuk budidaya ikan :
Bahan Baku Pelet buatan
Bahan Pelet Alami yang merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral. Pelet dibuat dan diramu dari berbagai bahan baku. Syarat pelet buatan adalah sebagai berikut :
  • Mengandung nilai gizi yang tingi
  • Mudah diolah tidak mengandung racun
  • Harga yang murah atau terjangkau
  • Mudah diperoleh baik dari segi waktu maupun jumlah
  • Bukan makanan pokok manusia
  • Butirannya halus atau bisa dihaluskan

Bahan Baku utama yang mempunyai kadar protein tinggi antara lain:
  • Dedak
  • Keong Mas
  • Ikan asin BS Super
  • Daun pepaya
  • Vitamin
  • Konsentrat
  • Ragi tempe


Terlebih dahulu dibuat rencana kadar protein dalam pelet yang dibuat dan kadar protein yang kami buat adalah 35 %. Kemudian kami gunakan tabel kandungan protein pada bahan-bahan yang kami digunakan. Berikut adalah kadar protein bahan-bahan tersebut :

NoBahanProtein
1Keong Sawah64,6
2T. daun Pepaya20,7
3Kosentrat9,24
4Ikan asin19,54
5Dedak12,75

Kebutuhan Bahan 100 Kg Pelet

Sumber Protein =51%Persen(%)Pembulatan
Keong Sawah51%*3/438,340
T. daun Pepaya51%*1/412,810
Sumber Protein =49%Persen(%)
Kosentrat49%*1/133,84
Ikan asin49%*6/1322,623
Dedak49%*6/1322,623
Total100

Cara dan prosedur Pembuatan Pelet :
  • Bahan-bahan berupa dedak, keong sawah, konsentrat dan vitamin dicampur hingga merata kemudian tambahkan ragi tempe sebanyak 125 gram (3 sendok makan), aduk lagi hingga merata.
  • Adonan tersebut kemudian ditutup rapat dan di diamkan selama semalam, tujuannya adalah agar proses fermentasi berlangsung dengan baik.
  • Setelah didiamkan semalam, pagi harinya adonan tersebut dicampur dengan ikan asin dan daun pepaya yang sebelumnya digiling/dilumatkan terlebih dahulu.
  • Cetak dengan menggunakan mesin pelet.
  • Setelah jadi kemudian pelet dijemur menggunakan wadah yang lebar di terik matahari.
  • Setelah kering pelet dikemas dalam kantong plastik yang kedap air dan tempatkan dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang baik.

Analisis Perhitungan Biaya Produksi
BahanKebutuhan (kg)Harga/Kg (Rp)Jumlah (Rp)
Keong Sawah401.560.000
Daun Pepaya105005.000
Ikan asin BS Super232.557.500
Dedak233.580.500
Kosentrat41248.000
Total100250.000
Biaya Produksi /kg             = Rp 251.000 : 100  = Rp 2.510



Biaya/Kg   :
T. Kerja250.000
BBM250.000
Karung100.000
Lain-lain100.000
Total biaya prod/Kg. (Rp)3210.000
Harga jual/kg4.500
Keuntungan/kg1.290
PROD/BULAN (Kg)240
PENDAPATAN BERSIH/BLN   :Rp 309.600

Explanation :
Alam Ikan 1 : penyuluhanrembang.org

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kandungan Gizi Rotifera sebagai Pakan Alami

Rotifera (Brachionus plicatilis) adalah sejenis organisme plankton yang dapat dijadikan sebagai makanan larva/ benih ikan. Rotifera atau disebut juga ”hewan beroda”, pada tahun 1696 yang waktu itu dikenal dengan nama ‘bdelloid rotifer’ yaitu hewan mirip cacing. Rotifera adalah hewan mikroskopis dengan struktur tubuh yang relatif sederhana. Brachionus plicatilis  merupakan jenis plankton hewani yang hidup di perairan litoral dan termasuk pakan larva ikan laut yang penting. Dalam percobaan pembenihan ikan laut, rotifera diberikan sebagai pakan larva selama kurang lebih satu bulan.

Brachionus plicatilis pertama kali diidentifikasi sebagai Hama pada kolam budidaya belut pada tahun 1950-an dan 1960-an. Dan penelitian pertama di Jepang, Rotifera dapat digunakan sebagai pakan hidup yang sesuai bagi larva ikan yang masih muda. Dua puluh lima tahun setelah penggunaan rotifera pertama kali sebagai pakan dalam pemeliharaan larva ikan, beberapa teknik budidaya untuk menghasilkan produksi rotifera yang intensif diterapkan di selurih dunia.

Brachionus memiliki ukuran yang kecil dengan kecepatan renang yang lambat menjadikan mereka mangsa yang cocok bagi larva ikan yang hanya menyerap cadangan makanan tetapi belum mampu mencerna naupli Artemia. Rotifera memiliki potensi yang sangat tinggi (kepadatan hingga 2000 ind/ml) karena tingkat reproduksinya yang sangat tinggi dan dapat menghasilkan keturunan yang besar dalam waktu yang sangat singkat.

SuhuJumlah telurUmur HidupPanen PertamaPanen KeduaDo/ O2PH
22-3020-2312-191-2 hari3-5 jam>27-8,5
2023101.9 hari4 jam >26,6-8,5
2520171.3 hari3 jam>26,6-8,5

Klasifikasi Rotifera Brachionus Sp
Phylum : Rotifer
Kelas : Monogona ta
Ordo : Ploima
Familia : Brachionidae
Genus : Brachionus
Spesies : Brachionus sp.

NILAI NUTRISI BRACHIONUS
Pengayaan rotifera dengan berbagai gizi dikarenakan rotifera merupakan hewan yang dapat menyerap berbagai nutrisi dari jenis makanan yang dicerna, semakin banyak nutrisi dalam pakan rotifera, semakin baik nilai gizi rotifera untuk makanan larva ikan. Berikut contoh nilai gizi pengayaan Rotifera pada jenis Brachionus :

1. Rotifera dengan Pengayaan HUFA (n-3)
a. Alga
Tingginya kandungan asam lemak essensial Asam Eicosapentaenoic (EPA) dan Asam Docosahexaaeonic (DHA) pada beberapa mikroalga menjadikan mereka makanan hidup yang baik bagi rotifera. Pengayaan dengan HUFA dilakukan dengan pemeliharaan bersama antara Brachionus bersama alga (5.106 sel alga/ ml), sehingga terjadi kerjasama dalam menghasilkan asam lemak essensial dalam waktu beberapa jam dan membuat keseimbangan dengan MA / EPA pada tingkat di atas 2 untuk Brachionus-lsochrysis.

b. Formula Makanan
Brachionus tumbuh pada penggantian diet CS yang terdapat komposisi yang baik 5,4 mg bahan kering EPA; 4,4 ing DHA; dan 15,6 mg (n-3) HUFA.

c. Minyak Emulsi
Salah satu cara yang murah untuk pengayaan Brachionus adalah dengan menggunakan minyak emulsi, karena minyak emulsi skala rumah tangga dapat disiapkan dari lichitin telur dan minyak ikan. Emulsi komersial yang dijual umumnva lebih stabil dan mengandung komposisi HUFA.

2. Rotifera dengan Pengayaan Vitamin C
Budidaya Rotifera Brachionus menggunakan media ragi roti, yang mengandung 150 mg vit C/ g berat kering dan media chlorella yang mengandung 2300 mg vit C/ g berat kering.

Penyuburan Brachionus dengan AA dapat diikuti dengan penggunaan AP (Ascorbyl palmitat) sebagai sumber tambahan vitamin C. AP diubah olel Brachionus menjadi AA aktif hingga mencapai 1700 mg/g berat kering setelah peyimpanan 24 jam pengayaan dengan menggunakan 5% emulsi AP Kandungan nutrisi Brachionus ketika dijadikan makanan bagi larva tidak berubah.

Kekurangan vitamin C pada larva ikan menyebabkan terjadinya kelainan bentuk operculum. Kandungan vitamin C berpengaruh pada makanan Brachionus yaitu pada tingkat asam askorbat (AA) antara budidaya dan pengayaan.

3. Rotifera dengan Pengayaan Protein
Protein hanya digunakan dalam diet pengayaan khususnya dirancang untuk penyuburan protein Brachionus. Tingginya kandungan protein yang digunakan dalam budidaya meningkat secara kontinyu dan berkembang selama periode pengayaan. Umumnya digunakan untuk hal yang sama sebagai minyak emulsi dan didistribusikan di tangki dengan konsentrasi 125 mg/ liter air Iaut dengan interval 2 kali yaitu antara 3 - 4 jam.

4. Penyimpanan Rotifera Brachionus tanpa pengayaan 
Pemanenan Brachionus yang tidak mengalami pengayaan seharusnya diberi filter yang diletakkan di bawah permukaan air. Pemanenan pada pengayaan Brachionus dilakukan dengan perhatian yang lebih ekstrim agar mereka tetap dalam keadaan bersama dalam 1 rumpun. Khususnya ketika pemanenan binatang yang dikayakan sebelum dicuci, aerasi dapat menghasilkan kelompok-kelompok.

Brachionus tidak dapat dimakan dengan segera karena membutuhkan penyimpanan dalam suhu yang dingin (4°C) agar dapat menjaga kualitas nutrisi mereka. Selama masa kelaparan pada suhu 25 °C, Brachionus dapat kehilangan 26 % berat tubuhnya sebagai basil dan metabolisme. Brachionus pada saat lapar (didukung dengan minyak emulsi, diet mikropartikular atau mikroalga) sebelum diberikan sebagai pakan pada larva ikan (prosedur pengayaan secara tidak langsung) menurunkan kandungan asam lemak dengan sangat cepat. Pengayaan dalam waktu yang lama (secara langsung) dapat meningkatkan kandungan asam lemak Brachionus. Cadangan asam lemak ini lebih stabil dan dapat turun dengan cepat selama lapar.

Peranan Rotifera Dalam Budidaya Perikanan
Kegunaan Rotifera Brachionus plicatilis secara tidak langsung mulai berkembang. Brachionus plicatilis merupakan pakan hidup bagi jenis-jenis tertentu golongan ikan sehingga seringkali sangat diperlukan dalam budidaya.

Penyediaan pakan alami berupa plankton nabati dan plankton hewani yang tidak cukup tersedia, seringkali menyebabkan kegagalan dalam mempertahankan kelangsungan hidup larva ikan.

Brachionus plicatilis sangat penting dalam menunjang budidaya perikanan, terutama sebagai pakan yang baik


Ketergantungan pakan alami Budidaya ikan secara komersial dari berbagai jenis species-species diantaranya bivalve, crustaceae, dan ikan bertulang belakang akan mengalami permasalahan yang serius apabila didalam proses produksinya tidak tersedia pakan alami yang kontinyu baik kuantitas maupun kualitasnya.

Sebagaian besar larva ikan umumnya memakan tumbuhan dan atau hewan yang berukuran 4-200 mikron. Jenis tumbuhan dan hewan tersebut termasuk didalamnya adalah plankton, yakni organisme yang hidup melayang  dalam air gerakannya selalu mengikuti arus. Namun Pakan Alami larva harus memenuhi kriteria tertentu.

Berikut Kriteria Pakan Alami Ikan

  1. ukuran sel sesuai dengan bukaan mulut larva, 
  2. kandungan nutrisi cukup tinggi, 
  3. mudah dicerna dan dapat diserap dalam tubuh larva, 
  4. gerakannya lambat sehingga larva ikan mudah menangkapnya, 
  5. mudah dikultur dan mampu bertahan hidup terhadap lingkungan yang fluktuatif salinitas, suhu, dan intensitas cahaya, 
  6. pertumbuhan populasi membutuhkan waktu yang relatif cepat sehingga dengan segera dapat digunakan dalam keadaan segar dan hidup,
  7. usaha pembudidayaannya memerlukan biaya yang relatif sedikit, selama daur hidupnya tidak menghasilkan bahan beracun yang dapat membahayakan kehidupan larva.
Dari kriteria tersebut Brachionus plicatilis telah memenuhi syarat untuk dapat digunakan sebagai pakan alami larva ikan karena memiliki ukuran yang relatif kecil, lambat dalam berenang, mudah dibudidayakan, mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi yang tinggi serta diperkaya dengan asam lemak dan antibiotik (Alam Ikan 9).


Morfologi
Ukuran Brachionus antara 60 - 80 mikron, sampai 300 mikron. Tubuh Brachionus terdiri dari sekitar 1000 sel yang seharusnya tidak dianggap sebagai tanda-tanda tunggal, tetapi sebuah plasma area. Pertumbuhan hewan ini diyakini sebagai peningkatan plasma dan bukan pembelahan sel.

Epidermis mengandung lapisan padat yaitu protein keratin yang disebut lorika. Bentuk lorika dan penampakan spina (tulang punggung), serta ornamen yang ada membedakan antar spesies. Tubuh Brachionus dibedakan menjadi 3 bagian yaitu kepala, tubuh, dan kaki. Bagian kepala terdapat organ untuk berputar ataukorona yang disebut cilia anular dan memiliki nama asli rotatoria. Bagian depan korona dapat ditarik masuk dan dapat memutar sesuai gerakan air untuk mengambil partikel makanan kecil (terutama alga dan detritus). Bagian tubuh terdiri dan sistem pencemaan, sistem pengeluaran, dan organ genitalia. Karakteristik organ Brachionus adalah mastax (yang dilengkapi dengan bagian yang keras karena kapur disekitar mulut), dimana sangat efektif untuk menggiling partikel yang susah dicerna. Kaki berupa struktur yang dapat ditarik masuk dengan bentuk melingkar tanpa ruas-ruas akhir pada 1 atau 4 jari.

Habitat dan Sifat
Brachionus di alam hidup di perairan telaga, sungai, rawa, maupun danau. Tetapi jumlah yang terbanyak di air pavan. Brachionus terdapat melimpah pada perairan yang kaya nannoplankton dan detritus.

Brachionus bersifat omnivor, jenis makanannya terdiri atas perifiton, nannoplankton, detritus dan semua partikel organik yang sesuai dengan lebar mulutnya. Makanan masuk ke dalam mulutnya dibantu oleh silia yang terletak di sekitar mulut sebelah atas. Makanan dipecah oleh alat disebut trophy. Makanan yang sudah dipecah masuk ke dalam lambung untuk dicerna.

Siklus Hidup
Masa hidup Brachionus antara 3,4 - 4,4 hari pada 25°C. Umumnya larva menjadi dewasa setelah 0,5 - 1,5 hari dan betina mulai menetaskan telur setiap 4 jam sekali betina mampu menghasilkan 10 generasi keturunan sebelum mereka mati. Lama hidup Brachionus betina lebih lama dibandingkan dengan Brachionus jantan. Brachionus betina hidup selama 12 - 19 hari, sedangkan yang jantan berkisar 3 - 6 hari.

Terdapat dua tipe Brachionus betina, yaitu tipe amiktik dan miktik. Satu tipe betina dapat menghasilkan satu tipe telur, yaitu telur amiktik atau miktik. Betina amiktik ialah betina yang menghasilkan telur dan melakukan pembelahan meiosis. Telur amiktik apabila tidak dibuahi menghasilkan telur yang ukurannya kecil. Apabila telur dibuahi, menghasilkan telur yang ukurannya besar yang disebut telur dorman, dengan kulit tebal dan akan berkembang menjadi betina yang bersifat amiktik. Generasi selanjutnya dapat bersifat amiktik atau miktik. Sedangkan betina miktik adalah betina yang menghasilkan telur secara parthenogenesis.
Cara Produksi Massal Rotifera Brachionus
Produksi massal Brachionus sebagai makanan larva melalui reproduksi ainiktik dapat menguntungkan ketika produksi telur istirahat digunakan sebagai bibit. Telur yang istirahat ini sering disebut sebagai kista yang relatif besar (volume mencapai 60 % dari ukuran normal betina dewasa) yang ideal untuk penyimpanan dan transport, serta dapat digunakan sebagai inokulan pada budidaya massal.

Telur yang istirahat akan tenggelam dan dapat dipanen. Pada kasus sampah yang banyak di dasar perairan, pergantian air diperlukan dengan air asin agar telur istirahat dapat mengapung dan dapat dikumpulkan pada permukaan perairan.

Telur istirahat dalam keadaan kering dapat disimpan lebih dan 1 tahun ketika ditempatkan pada air laut, pada suhu 25°C dengan kondisi sinar yang rendah. Telur yang istirahat ini dapat didisinfeksi dengan antibotik dengan dosis yang besar, sehingga Brachionus yang dihasilkan bebas dari bakteri.

Explanation
Alam Ikan 9 : Murtiningsih, 1985

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Fungsi Asam Lemak sebagai Pakan Ikan

Lemak memiliki peran dalam pakan di samping sebagai sumber energi, juga penting sebagai sumber lemak esensial untuk proses pertumbuhan dan pertahanan tubuh (Alam Ikan 1).

Lemak digunakan untuk kebutuhan energi jangka panjang, juga untuk pergerakan atau cadangan energi selama periode kekurangan makanan. Dalam tubuh, lemak menyediakan energi dua kali lebih besar dibandingkan protein (Alam Ikan 2).


Lemak Bagi manusisa merupakan zai gizi yang dapat menyimpan kelebihan energi yang berasal dari makanan. Fungsi lemat bagi tubuh manusia untuk mempertahankan tubuh tetap sehat dan kebutuhan lemak untuk orang adalah 15% dari kebutuhan energi total.

Kegunaan dan Manfaat Lemak bagi tubuh :
1. Sumber energi. Sumber energi dari lemak menghasilkan 9 kkal pada setiap gramnya dan jumlahnya lebih besar dari pada protein dan karbonhidrat yang hanya sekitar 4 kkal. Lemak yang berada di dalam tubuh disimpan pada bagian-bagian berikut ini: 50% pada jaringan bawah kulit (daerah subkutan), 45% pada ronggaperut yang menyelimuti organ dalam, dam 5% pada jaringan intramuskular.

2. Sumber Asam Lemak Esensial. Lemak tersebut merupakan lemak yang sangat penting bagi tubuh dan tidak dapat di produksi sendiri sehingga perlu mengkonsumsi lemak yang cukup untuk mendapatkan lemak Asam esensial.

Alat angkut vitamin larut lemak
vitamin larut lemak
vitamin larut lemak
beberapa vitamin seperti vitamin larut lemak, tidak dapat didapatkan manfaatnya oleh tubuh tanpa bantuan lemak, karena lemaklah yang membantu proses transportasi dan absopsi nya.selain itu, lemak juga mengandung beberapa vitamin larut lemak ini, sehingga dengan menginsumsi lemak yang cukup tubuh kita juga memperoleh manfaat vitamin larut lemak ini.
3. Menghemat Protein. Kondisi sakit memerlukan lemak yang cukup tinggi, jika tidak ada lemak maka yang digunakan adalah protein.

4. Memberi rasa kenyang. Lemak adalah salah satu zat gizi yang mempu memperlambat sekresi asam lambung dna memperlambat pengosongan lambung sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

5. Sebagai Pelumas. lemak memiliki fungsi sebagai pelumas untuk membantu pengeluarannya

6. Memelihara Suhu Tubuh. sebanyak 50% lemak terdistribusi di bawah lapisan kulit, hal inilah yang membuat tubuh tetap hangat meskipun kondisi di luar tubuh sedang dalam cuaca dingin, dengan demikian tubuh tidak kehilangan panas tubuh secara cepat.

7. Pelindung organ. dengan 45% lemak pada rongga perut, membuat organ-organ yang berada didalam rongga perut akan terselubungi oleh lemak, sehingga lemak dapat melindungi organ tersebut dari benturan dan bahaya lain dari luar tubuh.

Explanation :
Alam Ikan 1: Kompiang dan llyas, 1988 dalam Nasution 2002
Alam Ikan 2:Sargent et al., 2002 dalam Pangkey, 2011

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat