sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Makanan Alami Ikan - Jenis Media Kultur Budidaya

Makanan Alami Ikan Jenis Media Budidaya

Jenis media yang dapat digunakan untuk membuat beternak berbagai pakan alami ikan, sebut saja PANONI (pakan alami ikan dari oraganisme mini)
PANONI adalah sumber makanan alami ikan khusunya anak ikan berupa organisme mini atau kecil,
PANONI adalah sumber makanan alami ikan khusunya anak ikan berupa organisme mini atau kecil,
Berikut jenis pakan alami ikan seperti :
1. Cacing sutra
2. Kutu air 
3. cacing tanah
4. ulat hongkong
5. microworm
6. infusoria
7. Rotifera
8. Chollera
9. Artemia
10. Tetraselmis
11. Dunaliella
12. Spirulina
13. Keong Mas


Jenis Pakan Buatan
1. Pelet Buatan
2. Sisa ampas tahu
3. Sisa pasar
4. Kotoran kultur intensif

1. Sayuran
Sayuran yang dapat digunakan untuk media awal untuk ternak hewan sebagai sumber pakan ikan
- sayuran hijau seperti daun kol, daun bayam, timun, Jerami, rumput kering, sawi.
- Jenis tanaman hidrilla, eceng gondok
walaupun tidak ada syarat khusus, tanaman yang digunakan mudah busuk dan mengandung banyak air, sehingga mudah untuk pertumbuhan bakteri, yang merupakan sumber makanan dari PANONI. Jenis PANONI khususnya dari jenis organisme seperti infusoria, ulat hongkong, cacing tanah

2. Buah
Buah yang digunakan memiliki kadar air yang cukup tinggi, murah dan mudah didapatkan
- buah pepaya, pisang, timun buah, semangka,  ampas kepala, Daun Pepaya

3. Kotoran Hewan
Kotoran hewan dapat berupa kotoran kering dan kotoran basah, lebih baik menggunakan kotoran kering yang sudah berumur sehingga lebih cepat dalam pertumbuhan bakteri
misal kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran bebek, kotoran kambing dll.

4. Karbonhidrat
Jenis ini merupakan bahan makanan yang mengandung karbonhidrat tinggi
misal sisa roti, tepung terigu, nasi sisa, ragi roti

5. Batang pohon
Batang pohon yang mudah busuk di dalam air,
Misal batang pohon pepaya, batang pohon pisang,

6. Bahan Makanan
Jenis ini dapat berupa makanan yang diproduksi oleh pabrik seperti dedak, ampas tahu, tetes tebu, tepung ikan, probiotik, ragi tempe, Tepung kasar, remah, pellet, waver, tepung terigu

7. Protein sisa
Jenis ini merupakan sumber bakteri dari sisa hewan, seperti ikan runcah, jeroan ayam, hewan, ikan asin, keong, limbah pasar ikan

8. Pengayaan Media Pakan Panoni

Menggunakan HUFA, Minyak Emulsi, Ragi roti , vitamin c, protein dapat dilakukan untuk rotifera branchionus

9. Kultur Kimia
Media agar-agar campuran air laut, dengan pemupukan KNO3, FeCL, NaH2PO4, H20 digunakan untuk kultur Phytoplankton jenis chlorella

10 Penggunaan Garam
Penggunaan garam dalam budidaya pakan alami yang hidup di laut seperti artemia

11. Kimia
Bahan berupa zat dari TSP, Urea, ammonium,

Untuk jenis seperti tetraselmis dapat berupa bahan kimia sebagai berikut

  • Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
  • Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
  • Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
  • Biotin = 1 mikrogram/l
  • Vitamin B12 = 1mikrogram/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l

Bahan diatas digunakan untuk sumber bakteri yang akan menjadi sumber makanan, bagi hewan atau organisme yang biasa digunakan untuk PANONI, Tujuan sebagai sumber makanan ikan khususnya burayak ikan atau benih atau anak ikan.

Sumber makanan PANONI seharusnya memiliki kadar protein yang tinggi, karena pada dasarnya PANONI ini kadar protein pada tubuhnya di pengaruhi oleh sumber makanan. Dalam sebuah penelitian sebuah PANONI pasti memiliki kisaran protein yang cukup tinggi, seperti 20%-40% hal ini memang benar, karena sumber protein dalam tubuh PANONI sangat dipengaruhi makanan dan media tempat pertumbuhannya. Semakin baik media budidaya PANONI akan membuat kualitas makin baik yang akan langsung berefek pada pertumbuhan ikan.

Jadi bagaimana kalau medianya kekurangan protein, kemungkinan besar kadar protein PANONI hanya di kisaran paling bawah,kita ambil contoh kutu air memiliki protein 30-40% kemungkinan besar protein kutu air hanya di kisaran 30% saja.

Tags : Jenis media budidaya cacing sutera, jenis media kutu air, jenis media caing tanah, jenis media pelet buatan, bahan pembuatan media budidaya, cacing sutera,Cacing sutra, Kutu air , cacing tanah, ulat hongkong, microworm, infusoria, Jenis bahan pakan alami ikan.

Kandungan Gizi Chlorella sebagai Pakan Alami

Pytoplankton adalah sumber pakan alami untuk berbagai organisme, terutama pada budidaya merupakan pakan alami yang sangat cocok untuk larva ikan. Chlorella dan jenis Rotifera maupun jenis phytoplankton lainnya dikenal sebagai produser primer dan berada pada tropik level pertama. Peranan phytoplankton tersebut sebagai pakan alami bagi biota – biota laut yang lain, khususnya biota laut herbivora. Kelimpahan phytoplankton di suatu perairan tidak lepas dari proses deposit sejumlah zat – zat organik melalui proses fotosintesis, yang terjadi pada tumbuhan yang mengandung klorofil (Alam Ikan 1).

Kelimpahan jumlah phytoplankton dapat berhasil apabila proses fotosintesa tersebut akan mendukung proses reproduksi dan menghasilkan kelimpahan phytoplankton yang cukup tinggi. kelimpahan phytoplankton pada suatu perairan pada dasarnya merupakan konversi dari berbagai nutrisi yang dapat dipergunakan oleh phytoplankton untuk menunjang kehidupan dan reproduksi. Potensi phytoplankton sebagai pakan alami telah dikenali pada upaya kultivasi benih udang dan ikan di hatchery. Jenis – jenis phytoplankton pakan alami seperti Skeletonema costatum, Dunaliella sp.,Tetraselmis chuii, Chlorella sp.(Alam Ikan 2)


ProteinLemak Karbohidrat
>37%-55%>10%>17%
KisaranOmega 3Omega 6Omega 9
Asam lemak0,9-3,7%15-38%0,2-15%
Chlorella seperti jenis Artemia, Rotifera dan Moina Sp dapat bereproduksi dalam waktu yang singkat 1-2 hari. 

Klasifikasi chlorella
Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Famili : Chlorellaceae
Genus : Chlorella
Spesies : Chlorella sp.

Morfologi dan habitat chorella
Sel Chlorella berbentuk bulat, hidup soliter, berukuran 2-8 ┬Ám. Dalam sel Chlorella mengandung 50% protein, lemak serta vitamin A, B, D, E dan K, disamping banyak terdapat pigmen hijau (klorofil) yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Alam Ikan 3).

Sel Chlorella umumnya dijumpai sendiri, kadang-kadang bergerombol. Protoplast sel dikelilingi oleh membrane yang selektif, sedangkan di luar membran sel terdapat dinding yang tebal terdiri dari sellulosa dan pektin. Di dalam sel terdapat suatu protoplast yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan posisi menghadap ke atas. Pineroid-pineroid stigma dan vacuola kontraktil tidak ada (Alam Ikan 4).

Warna hijau pada alga ini disebabkan selnya mengandung klorofil a dan b dalam jumlah yang besar, di samping karotin dan xantofil (Alam Ikan 5).

Chlorella tumbuh pada salinitas 25 ppt. Alga tumbuh lambat pada salinitas 15 ppm, dan hampir tidak tumbuh pada salinitas 0 ppm dan 60 ppm. Chlorella tumbuh baik pada suhu 200 C, tetapi tumbuh lambat pada suhu 32 o C. Tumbuh sangat baik sekitar 20 o -23 o C(Alam Ikan 6).

Reproduksi
Menurut (Alam Ikan 7) Chlorella sp. berkembang biak dengan membelah diri membentuk autospora. Sedangkan pada waktu membelah diri membentuk autospora, Chlorella sp. melalui empat fase siklus hidup (Alam Ikan 8).

Reproduksi Siklus Hidup Chlorella Keempat fase tersebut adalah :
  1. Fase pertumbuhan (growth), periode perkembangan aktif sel massa yaitu autospora tumbuh menjadi besar.
  2. Fase pematangan awal (early revening), autospora yang telah tumbuh menjadi besar mengadakan persiapan untuk membagi selnya menjadi sel-sel baru.
  3. Fase pematangan akhir (late revening), sel-sel yang baru tersebut mengadakan pembelahan menjadi dua.
  4. Fase autospora (autospora liberation), pada fase ini sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru.
 CARA STERILISASI
a.        Sterilisasi Peralatan yang digunakan untuk isolasi Phytoplankton
Sterilisasi peralatan yang akan digunakan untuk isolasi dapat menggunakan autoclave dengan suhu 1210C dan tekanan 1 kg/cm3 atau menggunakan oven pada suhu sekitar 1050C.
Mula-mula peralatan isolasi yang terdiri atas tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur, dan lain-lain dicuci dengan air tawar dan detergen yang kemudian diletakkan di rak dan ditunggu hingga kering. Setelah kering, cawan petri dan pipet ukr dibungkus dengan kertas krap, sedangkan tabung reaksi ditutp dengan karet penutup, terutama apabila sterilisasinya menggunakan autoclave. Tetapi apabila menggunakan oven, peralatan tidak perlu dibungkus kertas, cukup dimasukkan kedalam tabung stainless, kemudian ditutup rapat dan dislotip dengan slotip tahan panas. Peralatan tersebut disusun dalam autoclave kemudian ditutup rapat. Sterilisasi dengan autoclave berjalan 15 menit pada suhu 1210C dengan tekanan 1 kg/cm3. Sedangkan menggunakan oven berjalan 5 jam pada suhu 1050C.

b.        Sterilisasi Media Kultur
Sterilisasi media kultur dapat dilakukan dengan autoclave. Media yang akan disterilisasi mula-mula dimasukkan kedalam botol atau erlenmayer bersih. Selanjutnya botol atau erlenmayer tersebut ditutup dengan kapas atau gabus, dan diatasnya ditutup kembali dengan aluminium foil dan diikat dengan slotip. Selanjutnya botol atau erlenmayer yang telah berisi media tersebut disusun rapi dalam autoclave dan siap untuk disterilisasi.

c.         Sterilisasi Alat
Alat-alat yang cukup besar sehingga tidak dapat masuk kedalam autoclave atau oven, dapat disterilkan dengan cara kimia, misalnya dengan HCl atau chlorine. Peralatan kultur yang sudah dicuci bersih direndam dengan HCl 10% selama 2 hari, kemudian dibilas dengan air tawar. Selain itu dapat dengan merendam peralatan pada larutan chlorine 150 mg/l selama 12-24 jam, kemudian dinetralisir dengan 40-50 mg/l Na-Thiosulfat dan dibilas dengan air tawar hingga bau chlorine hilang.

d.        Sterilisasi Media tidak Tahan Panas
Media pengkaya yang tidak tahan panas, misalnya vitamin, disterilisasi dengan penyaringan. Saringan yang digunakan 2,5-3 mikron. Media tersebut selanjutnya ditempatkan dalam wadah yang steril dan ditutup rapat dengan aluminium foil.

e.         Sterilisasi pada Kultur semi Out-door dan Out-door/missal
Untuk kultur missal sterilisasi alat dan bahan dilakukan dengan cara chlorinisasi karena cara ini lebih cepat, ekonomis, dan secara tekhnis mudah dilaksanakan. Cara chlorinisasi tersebut adalah sebagai berikut: bak dicuci bersih dengan menggunakan sabun/detergen lalu disterilkan dengan larutan Na-Thiosulfat 40-50 mg/l. Terakhir bak dibilas dengan air tawar sampai bersih dan bau chlorine hilang.
Air sebagai media kultur juga dapat disterilkan dengan menggunakan chlorine. Air laut yang akan digunakan sebelumnya disaring, lalu disterilkan dengan chlorine 60 mg/l selama minimal 1 jam dan dinetralisir dengan larutan Na-Thiosulfat 20 mg/l untuk menghilangkan sisa-sisa chlorine dalam air laut hingga bau chlorine hilang. Air yang telah steril disimpan dalam bak yang tidak tembus sinar dan ditutup dengan penutup tidak tembus sinar untuk mencegah pertumbuhan lumut atau phytoplankton lain yang tidak dikehendaki.

TEKHNIK BUDIDAYA Chlorella sp
Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kultur Chlorella sp, yaitu koleksi dan isolasi.
1.         Koleksi
Koleksi bertujuan untuk mendapatkan species Chlorella sp dari alam untuk dikultur secara murni. Pengambilannya dialam dapat menggunakan plankton net. Chlorella sp yang diperoleh dapat dikembangkan dengan menggunakan pupuk
2.         Isolasi
Ada beberapa metode untuk mengisolasi phytoplankton, khusus untk fitoplankton jenis Chlorella sp menggunakan metode isolasi goresan. Metode ini sangat baik digunakan untuk mengisolasi phytoplankton sel tunggal seperti Chlorella sp.

Metode ini menggunakan media agar-agar. Agar-agar sebanyak 1,5% dicampur dengan air laut pada salinitas tertentu, kemudian dipanaskan hingga mendidih dan larut sempurna berwarna kuning jernih.
Selama proses pemanasan harus diaduk terus menerus untuk mencegah terjadinya kerak atau penggumpalan. Setelah pemanasan selesai, larutan agar-agar tersebut kemudia diangkat dan ditunggu sampai agak dingin baru dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk Allen Miquel (untuk sekala laboratorium) dengan komposisi KNO3 20,2 gr, Akuades 100 gr, sedangkan untuk skala massal ukuran 1-4 ton digunakan pupuk teknis yang terdiri dari: KNO3 100 gr/ton, FeCl3 3 gr/ton, dan NaH2PO4. 10 H2O 10 gr/ton dan sesuai dosis yang diinginkan.

Larutan agar-agar yang telah dipupuk disterilisasi dengan autoclave (121 0C, 15 menit) atau pengukusan sekitar 30 menit. Bahan-bahan pengkaya yang tidak tahan panas harus disterilkan secara terpisah. Angkat dan biarkan agak dingin, sekitar 50 0C. Selanjutnya dituangkan kedalam cawan petri yang sudah steril dengan tebal kurang lebih 3 mm atau kedalam tabung reaksi yang sudah steril dalam posisi miring. Agar miring pada tabung reaksi tersebut biasa digunakan untuk penyimpanan isolat. Selanjutnya dituang hingga membeku.

Setelah media agar membeku, kemudian ditulari bibit Chlorella sp yang berasal dari air sampel dengan cara goresan menggunakan ose yang telah dibakar dengan pembakar spritus. Bibit digoreskan dalam media agar-agar pada cawan petri dengan pola zig-zag. Untuk mencegah kontaminasi oleh mikroorganisme lain maka cawan petri ditutup atau disegel dengan isolasi.

Untuk penumbuhan, cawan petri atau tabung reaksi tersbeut diletakkan pada rak kultur serta disinari dengan dua buah lampu TL 40 watt secara terus menerus. Cawan petri diletakkan dalam posisi terbalik. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya proses pengeringan akibat penyinaran dengan lampu TL secara terus menerus atau terjadinya penetesan embun dari bagian tutup cawan petri ke media agar-agar.

Setelah beberapa hari inokulum akan tampak tumbuh pada goresan media agar-agar, tetapi masih dicampur dengan phytoplankton jenis lain, kemudia dilakukan penggoresan berulang-ulang pada media agar-agar yang sama sampai diperoleh bibit yang benar-benar murni. Isolate yang diinkubasi dalam ruangan ber AC untuk menjaga kestabilan suhu 25-27 0C. isolate juga dapat dipindah kecawan petri yang lain atau pada agar miring dalam tabung reaksi apabila diperlukan.

Hasil kultur murni dari media agar-agar dikembangkan pada media cair dalam tabung reaksi dengan volume media kultur 10 ml. bibit diambil dengan jarum ose yang steril kemudia dipindah ke tabung rekasi decara aseptis. Sebelumnya Chlorella sp yang tumbuh pada permukaan agar-agar diperiksa lebih dahulu dengan cara memindahkan phytoplankton pada gelas objek yang telah diberi media kultur 1 tetes. Selanjutnya dilakukan pengamatan dibawah mikroskop. Apabila phytoplankton yang diamati sesuai dengan keinginan kemudian dilakukan inokulasi pada tabung reaksi yang berisi air laut yang telah diperkaya oleh unsure hara dan ditumbuhkan. Larutan diaduk dengan cara dikocok sesering mungkin selama masa kultur. Apabila bibit pada tabung reaksi tersebut telah tumbuh dengan baik, maka phytoplankton tersebut (Chlorella sp) dapat dikembangkan kedalam botol-botol kultur yang lebih besar.

 PERTUMBUHAN PLANKTON (Chlorella sp)
Pertumbuhan phytoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Hingga saat ini kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan phytoplankton dalam kultur pakan alami. Ada empat fase pertumbuhan, yaitu:
1.         Fase Istirahat
Sesaat setelah penambahan inokulum kedalam media kultur, populasi tidak mengalami perubahan. Ukuran sel pada saat ini pada umumnya meningkat. Secara fisiologis phytoplankton sangat aktif dan terjadi proses sintesis protein baru. Organism mengalami metabolism, tetapi belum terjadi pembelahan sel sehingga kepadatan sel belum meningkat.
2.         Fase Logaritmik/Eksponsial
Fase ini diawali oleh pembelahan sel dengan laju pertumbuhan tetap. Pada kondisi kultur yang optimum, laju pertumbuhan pada fase ini mencapai maksimal.
3.         Fase Stasioner
Pada fase ini, pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandingkan dengan fase logaritmik. Pada fase ini laju reproduksi sama dengan laju kematian. Dengan demikian penambahan dan pengurangan jumlah phytoplankton relative sama ata seimbang sehingga kepadatan phytoplankton tetap.
4.         Fase Kematian
Pada fase ini laju kematian lebih cepat daripada laju reproduksi. Jumlah sel menurun secara geometric. Penurunan kepadatan phytoplankton ditandai dengan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi temperature, cahaya, pH air, jumlah hara yang ada, dan beberapa kondisi lingkungan yang lain.

PENGHITUNGAN KEPADATAN PHYTOLANKTON (Chlorella sp)
Penghitungan kepadatan plankton digunakan sebagai salah atu ukuran mengetahui pertumbuhan phytoplankton, mengetahui kepadatan bibit, kepadatan pada awal kultur, dan kepadatan pada saat panen. Kepadatan phytoplankton dapat dihitung dengan menggunakan Hemacytometer.

Hemacytometer banyak digunakan untuk menghitung sel-sel darah. Untuk dapat mempergunakan alat-alat ini perlu alat yang lain yaitu mikroskop dan pipet tetes. Untuk memudahkan penghitungan phytoplankton yang diamati biasanya menggunakan alat bantu hand counter.

Hemacytometer merupakan suatu alat yang terbuat dari gelas yang dibagi menjadi kotak-kotak pada dua tempat bidang pandang. Kotak tersebut berbentuk bujur sangkar dengan sisi 1 mm, sehingga apabila ditutup dengan gelas penutup volume ruangan yang terdapat diatas bidang bergaris adalah 0,1 mm atau 10-4 ml. Kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm tersebut dibagi lagi menjadi 25 buah kotak bujur sangkar, yang masing-masing dibagi lagi menjadi 16 kotak bujur sangkar kecil.

Cara penghitungan kepadatan phytoplankton dengan Hemacytometer adalah sebagai berikut: Hemacytometer dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu dengan tissue. Kemudian gelas penutupnya dipasang. Phytoplankton yang akan dihitung kepadatannya diteteskan dengan menggunakan pipet tetes pada bagian parit yang melintang hingga penuh. Penetesan harus hati-hati agar tidak terjadi gelembung udara dibawah gelas penutup. Selanjutnya Hemacytometer tersebut diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100 atau 400 kali dan dicari bidang yang berkotak-kotak. Untuk mengetahui kepadatan phytoplankton dengan cara menghitung phytoplankton yang terdapat pada kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm. apabila jumlah phytoplankton yang didapat adalah N, maka kepadatan phytoplankton adalah N x 104 sel/ml.

PEMANENAN
Berdasarkan pola pertumbuhan phytoplankton, maka pemanenan phytoplankton harus dilakukan pada saat yang tepay yaitu pada saat phytoplankton tersebut mencapai puncak populasi. Apabila pemanenan phytoplankton terlal cepat atau belum mencapai puncak populasi, sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organism pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak larva kebanyakan dengan cara memindahkan massa air kultur phytoplankton. Sedangkan apabila pemanenan terlambat maka sudah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya turun. Khusus untuk phytoplankton jenis Chlorella sp pemanenan dilakukan pada saat 4 hari karena phytoplankton tersebut mencapai puncak populasi pada saat hari ke 4 setelah pembibitan maka sebaiknya segera dipanen.

Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan dengan berbagai macam alat sesuai dengan kebutuhan dan jumlah phytoplankton. Adapun peralatannya antara lain : centrifuge, plate separator, dan berbagai macam filter. Pemanenan dapat dilakukan secara total atau sebagian. Apabila panen dilakukan sebagian, phytoplankton yang telah siap dipanen diambil sebanyak 2/3 bagian. Kemudian kedalam sisa phytoplankton yang 1/3 bagian tersebut ditambahkan air laut dengan salinitas tertentu (10-20 ppt). selanjutnya dilakukan pemupukan sekitar ½ dosis. Panen sebagian ini sebaiknya dilakukan tidak lebih dari tiga kali pada bak budidaya yang sama, setelah itu harus dilakukan panen total.

PASCA PANEN
Chlorella sp yang telah dipanen memiliki banyak peranan yang sangat penting, baik sebagai pakan alami larva terutama larva ikan kakap putih, ikan kakap merah, dan ikan kerapu, juga sebagai green water pada pemeliharaan berbagai jenis larva. Bahkan kini banyak digunakan dalam system pengolahan dan penanggulangan air limbah. Chlorella sp ternyata sudah dikonsumsi manusia dan sangat mudah didapatkan dipasaran dalam berbagai bentk, seperti tablet, sirup, permen, shampoo, sabun, handbody lotion, dan lain-lain.

Hasil pemanenan dapat disimpan dalam bentuk kering didapat dari hasil penjemuran phytoplankton konsentrat dibawah sinar matahari.penjemuran dilakukan dalam kotak penjemuran bertenaga surya yang dapat menghasilkan udara panas dengan suhu sekitar 70 0C. Dengan suhu ini komposisi gizi phytoplankton terutama protein tidak rusak. Chlorella sp yang kering yang didapat disimpan dalam botol-botol yang tertutup rapat. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan menggunakan oven. Phytoplankton freeze (beku) didapat dari hasil penyimpanan phytoplankton yang telah dipadatkan didalam freezer.

PEMELIHARAAN STOK MURNI
Untuk memelihara kesinambungan kultur phytoplankton perlu dilakukan pemeliharaan stok murni. Stok murni dapat disimpan dalam media agar-agar dan media cair serta disimpan dalam lemari pendingin. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi, tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari. Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kultur dengan pencahayaa lampu TL. Biakan stok murni ini harus diganti seminggu sekali. Penyimpanan stok murni dalam lemari pendingin dapat bertahan sampai satu bulan, dan sebaiknya segera digunakan dan diganti dengan stok murni yang baru.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Hutagalung & Sutomo, 1983
Alam Ikan 2 : Boney ( 1989 
Alam Ikan 3 : Sachlan, 1982
Alam Ikan 4 : Vashista, 1979
Alam Ikan 5 : Volesky, 1970
Alam Ikan 6 : Hirata, 1981
Alam Ikan 7 : Presscott (1978
Alam Ikan 8 : hase, 1962; Kumar and Singh, 1981

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat




Cara Budidaya Kutu Air

Cara Ternak Kutu Air adalah  membudidayakan kutu air guna untuk mendapatkan jumlah masal sesuai dengan kehendak pemilik, untuk memenuhi kebutuhan gizi larva ikan. Kutu air pada dasarnya merupakan pemakan zat renik di air. Kutu air sendiri tidak bertelur melainkan melahirkan embrio kecil calon kutu air. Anda dapat memperoleh kutu air dengan membelinya di pedagang ikan hias. ubdate september 2016

kutu air menggunakan kol, ragi, kotoran ayam, green water
Kutu air merupakan jenis makanan yang hampir sama dengan budidaya artemia, walaupun berbeda cara budidayanya tetapi bentuk nya hampir sama, tetapi Kutu air lebih cenderung untuk ikan air tawar, sedangkan artemia untuk ikan laut atau payau, walaupun sebenarnya sama saja untuk pemberian pakan. Tergantung tempat anda dalam menemukan organisme tersebut apakah mudah atau sulit.


Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengkultur kutu air. Jika diperhatikan semua metode hampir sama. Hanya saja media dan pengaplikasikannya yang berbeda.

Baca Juga : Habitat dan Nilai Gizi Kutu air
Kandungan Gizi Kutu Air sebagai Pakan Alami

Kutu air jenis Moina mulai menghasilkan anak setelah berumur empat hari dengan jumlah anak selama hidup sekitar 211 ekor. Setiap kali beranak rata-rata berselang 1,25 hari, dengan rata-rata jumlah anak sekali keluar 32 ekor/hari, sedangkan umur hidup Moina adalah sekitar 13 hari.


Jenis HewanProteinLemak
Moina37,38%13,29%
Daphnia 42,65%8%

Jenis kutu air cocok untuk pakan larva ikan umur 2-6 hari,Moina dikenal dengan nama "kutu air". Jenis kutu ini mempunyai bentuk tubuh agak bulat, bergaris tengah antara 0,9 - 1,8 mm. Moina biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran hewan, Moina akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 - 9.

Kutu air  Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Daphnia mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi. Jumlah setiap kali beranak rata-rata sebanyak 39 ekor. Umur hidup Daphnia 34 hari, sehingga selama hidupnya mampu menghasilkan anak kurang lebih 558 ekor.

Perkembangbiakan kutu air jenis Daphnia membutuhkan oksigen, kekurangan oksigen akan membentuk hemoglobin, kondisi ini daphnia akan berwarna merah yang akan menyebabkan kematian

Perbedaan moina dengan daphnia, Moina ukuran lebih kecil cocok untuk ikan hias seperti ikan tetra neon, cardina, zebra, amandae, cupang dan ikan ikan hias kecil. Moina umurnya lebih  pendek lebih kuat terhadap oksigen
sedangkan daphnia umur lebih lama, ukuran lebih besar cocok untuk anakan ikan konsumsi, ikan lele, nila, gabus, dan sebagainya.
Efektif untuk umur anakan ikan 2-10 hari. lebih lama bisa tapi kebutuhan makan lebih banyak. 

Cara budidaya kutu air adalah sebagai berikut :
Cara pertama (kotoran dan ampas kelapa)
Bahan yang diperlukan untuk pengkulturan. kita harus menyiapkan bahan serta alat yang akan kita gunakan dalam pengkulturan budidaya kutu air, meliputi:
  • Bak atau ember plastik yang berukuran lebar
  • Pupuk sebagai pakan kutu air (kotoran ayam/kambing dan ampas parutan kelapa)
  • Aerator untuk menjaga kandungan oksigen terlarut dalam air
  • Bibit kutu air sebanyak dua gelas

Cara Melakukan pengkulturan. 
kita siapkan:
  • Isi bak atau ember dengan air secukupnya. Patut diketahui bahwa agar diperoleh kutu air diperlukan media dengan penampang yang lebar bukan tinggi.
  • Lakukan pemupukan dasar dengan cara menebarkan kotoran ayam. Biarkan selama beberapa hari sampai warna air mulai menghijau pertanda alga mulai tumbuh.
  • Letakkan media di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung atau gunakan penutup seperti triplek atau seng.
  • Masukkan starter kutu air dan berikan aerasi dengan kekuatan udara yang kecil. Tunggu sampai satu pekan maka anda akan puas dengan hasilkerja keras anda.
Untuk menjaga kuantitas kutu air maka dilakukan pemupukan rutin setiap dua pekan dengan mencampurkan kotoran dengan ampas kelapa. Peras dengan kain hingga mengeluarkan air sebagai pakan kutu air.

Cara Budidaya Kutu air yang tipe kedua (susu)
Sebenarnya cara hampir mirip hanya menggunakan media yang berbeda.
Bahan serta alat yang akan kita gunakan dalam pengkulturan kutu air, meliputi:
  • Bak atau ember plastik yang berukuran lebar
  • Aerator untuk menjaga kandungan oksigen terlarut dalam air
  • Bibit kutu air sebanyak dua gelas
  • Susu bubuk dan teh sebagai pakan kutuair
Setelah bahan lengkap mulai dilakukan pengkulturan:
  • Isi bak atau ember dengan air secukupnya. Patut diketahui bahwa agar diperoleh kutu air diperlukan media dengan penampang yang lebar bukan tinggi.
  • Lakukan pemupukan dasar dengan cara menebarkan susu bubuk sebanyak satu sendok dan segelas seduahan teh untuk satu ember besar. Biarkan selama beberapa hari sampai warna air mulai berubah kecoklatan pertanda alga mulai tumbuh.
  • Letakkan media di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung atau gunakan penutup seperti triplek atau seng.
  • Masukkan starter kutu air dan berikan aerasi dengan kekuatan udara yang kecil. Tunggu sampai satu pekan maka anda akan puas dengan hasilkerja keras anda.
Untuk menjaga kuantitas kutu air maka dilakukan pemberian pakan secara rutin tiap minggu dengan menaburkan sesendok susu bubuk.
Cara Budidaya Kutu Air tipe ketiga (air comberan)
  • Cara yang terakhir yang saya tawarkan cukup mudah. Ambil air selokan alias comberan semau anda. Usahakan angkat bersama lumpurnya. Masukkan ke dalam bak dan tuang starter kutu air ke dalamnya. Diamkan beberapa hari dan lihat hasilnya.

Ubdate Cara Budidaya kutu Air ke empat menggunakan Air bekas kolam Ikan
  • Air bekas kotoran ikan mengandung banyak sekali senyawa yang dapat dijadikan makanan kutu air, seperti bakteri apalagi jika air berwarna hijau. Akan mempercepat pertumbuhan kutu air. 
 Cara Budidaya Kutu Air ke lima menggunakan Green water
  • cara ini sedikit sulit karena kita harus menyediakan green water sebagai pakan kutu air, green water tersebut dapat dilakukan dengan melakukan produksi masal menggunakan bahan tertentu.  Green water ini berisi Alga biru hijau sejatinya adalah bakteri (Cyanobacteria).
Cara Budidayaka Kutu air Ke enam  Menggunakan Ragi
  • masukan ragi roti (fermip*n) seperempat sendok teh ke dalam air,lalu aduk sampai larut
  • campurkan daun kol/kentang yang sudah di hancurkan (Jangan terlalu banyak)
  • biarkan selama 3 hari,agar mikroba/protozoa berkembang biak,gunakan aerator agar kadar oksigen dalam air tetap terjaga
  • setelah 3 hari dapat di masukan bibit kutu air
Keuntungan menggunakan ragi sebagai pakan yaitu mudah diperoleh dan tidak merepotkan saat mempersiapkannya untuk kultur. Terdapat sedikit kerugian karena daphnia harus mengkonsumsi lebih banyak (berat) ragi dibandingkan dengan alga untuk mendapatkan nilai makanan yang sama

Cara Budidaya Kutu air Ke tuju menggunakan soy flour
Syarat ini adalah jika makanan dalam kolam budidaya kutu air sudah menipis, ini hanya penambahan makanan pada kolam
  • pertama kolam sudah ada kutu air dimana air sudah berwarna hijau. 
  • tambahkan soy flour. Menggunakan soy flour adalah sejenis tepung kedelai, 
  • Soy flour lalu di blender dengan air. masukkan ke dalam kolam budidaya
  • Guna soy flour untuk pakan bakteri agar berkembang lebih cepat
  • Jadi soy flour -> dimakan bakteri, bakteri bertambah -> dimakan kutu air
  • Begitulah prosesnya.
Cara budidaya Super masal kutu air
cara ini cukup mudah jika anda mau ternak kutu air secara masal sediakan :
  • Kolam besar bisa semen atau terpal
  • Kondisi terkena cahaya matahari
  • Siapkan kotoran ayam yang sudah kering
  • Masukkan dalam jaring, (sebaiknya jangan karung mudah hancur)
  • Kotoran yang sudah dimasukkan dalam jaring tutup rapat
  • masukkan dalam kolam
  • Masukkan kutu air. biarkan berkembang biak
  • Pemupukan dapat dilakukan tiap bulan

Catatan : kotoran sebaiknya menggunakan kotoran yang kering, kotoran ayam lebih baik biasanya kalau pakai kotoran ayam bekas budidaya masal, tercampur dedak jadi lebih bagus. Fungsi kotoran di masukkan dalam wadah seperti jaring atau kain agar, kotoran tiap mencemari kolam, sehingga mudah dibersihkan. Air kolam dalam waktu seminggu biasanya berubah menjadi hijau.

Kupas tuntas Waktu Pemberian Makanan Lele dan Analisis Pakan

Kupas tuntas Waktu Pemberian Makanan Lele dan Analisisnya
Ayo kita kupas tuntas waktu pemberian pakan lele yang baik. Dibawah ini sudah saya rangkum beberapa pendapat dari berbagai peternak ikan dan sumber yang ada di google. Kita lihat waktu kisaran untuk pemberian pakan lele yang baik.

Pemberian PakanWaktu 1Waktu 2Waktu 3Waktu 4
Pendapat 109.0015.0021.00
Pendapat 208.0015.0020.00
Pendapat 309.0013.0017.0021.00
Pendapat 409.0012.0015.0017.00
Pendapat 508.0013.0020.00
Pendapat 607.0012.0017.0022.00
Pendapat 707.0015.0019.00
Pendapat 808.0014.0018.0022.00
Pendapat 907.0013.0016.00

Nah sudah baca kan, berarti rata-ratanya berapa? Jika anda berpikir begitu siap-siap gagal.
Semua pendapat diatas adalah benar. Anda mau memberi makan lele jam 7, 8, sampai jam 22. semua adalah benar. Tapi benar juga ada alasannya. Ayo kita lihat penjelasan dibawah ini.


Point penting yang harus anda lihat sebelum membuat jadwal memberi makan ikan lele adalah sebagai berikut :
1. Tempat anda budidaya (dataran rendah atau tinggi)
2. Suhu saat siang
3. Kelengkapan kolam
4. Sistem budidaya (sistem tradisional, sistem intensif, dan super intensif)
5. Cuaca
6. Kondisi Air kolam lele

Aturan pemberian pakan yang baik adalah membuat ikan lele lahap dalam memakan, tidak terkena racun (memakan racun) dan ikan tidak stres.


Akan saya jelaskan masing-masing dari point diatas
1. Cuaca dan kondisi air
  • Sumber masalah dari pemberian makanan untuk lele adalah cuaca, dan kondisi air. Kenapa ?
  • Coba kita bandingkan tingkat stres ikan. Saat cuaca panas suhu sampai 36 derajat celcius apakah baik memberi pakan jam 1 siang?
  • Jawaban Tentu tidak baik dikarenakan panas sinar matahari dapat membuat stres dan ikan tidak terlalu nafsu makan seperti malam hari.
  • Coba bayangkan kalau kolam anda punya penutup. Pasti tidak masalah.

2. Letak budidaya dan tempat budidaya lele
  • Lagi kita bandingan dari letak budidaya, dataran rendah cenderung memiliki suhu panas, sedangkan daratan tinggi lebih dingin. Tentu ada perbedaan waktu pemberian pakan. Solusinya agar waktu pemberian pakan sama apa yang akan anda lakukan?
  • Dari kelengkapan kolam, Pertanyaan sederhana, kolam anda di daratan rendah suhu 34 derajat celcius saat siang apakah yang anda lakukan? silakan dipikirkan. Jika suhunya 30 derajat celcius pasti tidak pusing. 

3. Sistem Budidaya
  • Perbedaan kelengkapan kolam, dilihat dari penutup, letak kolam, daerah budidaya (dataran tinggi atau rendah)
  • Cukup dilihat dari kondisi cuaca dan suhu, sekarang kita lihat dari aksesoris kolam dan cara budidayanya. Terdapat perbedaan nyata pemberian pakan dari sistem tradisional, sistem intensif , dan sistem super intensif (terutama bioflok)
  • Perbedaan sistem mempengaruhi kualitas air budidaya, semakin baik sistem yang digunakan rentan waktu pemberian pakan semakin lebar, semakin jelek rentan waktu pemberian pakan semakin sedikit.

Lihat tabel dibawah 4 macam tipe kolam budidaya lele. Mungkin anda tidak termasuk dari kolam ini tapi anda bisa membayangkan apa yang harus dilakukan.


NoSistem Tradisional (A)Sistem Low Intensif (B)Sistem Intensif (C)Sistem Super Intensif (D)
1Kolam tanahKolam Semen / TerpalKolam Semen / TerpalKolam Bundar / Bioflok
2.Tidak ada penutup KolamTidak ada penutup KolamMenggunakan PenutupMenggunakan Penutup atau dalam Ruangan
3. Zat racun mengendap saat malam hariZat racun mengendap saat malam hariZat racun sebagian mengendapZat racun menjadi makanan
4.Probiotik seadanyaProbiotik berkalaProbiotik berkalaProbiotik Rutin
5. Mudah terkena sinar matahariMudah terkena sinar matahariMudah terkena sinar matahariMudah terkena sinar matahari
6. Padat tebar (75-150)m2Padat tebar (100-200)m2Padat tebar (200-300)m2Padat tebar (500-1700)m3
7.Tidak ada aeratorTidak ada aeratorMenggunakan aeratorMenggunakan aerator
8.Pemupukan di awal pembudidayaanPemupukan seadanyaPemupukan seadanyaPemupukan rutin
Dari 4 jenis kolam diatas anda pasti bisa membayangkan bagaimana kondisi perairan.

Jika dilihat dari pada tebar jumlah lele dan tanpa pergantian air. kolam yang paling kotor akan terlihat, kita beri ranking dari yang paling kotor
1. Sistem Intensif (B)
Jumlah tebar tinggi, air mudah kotor, zat racun mudah mengendap. Akhirnya ujungnya rentan waktu pemberian pakan lebih sedikit
2. Sistem Tradional dan Sistem Intensif (C)
Menjadi ranking kedua dari kekotorannya. Walaupun karena dari 2 jenis kolam tersebut terlihat dari keunggulan kolam, sistem tradisonal yaitu jumlah tebar sedikit, kolamnya tanah, zat racun mengendap pada tanah, Rentan pemberian pakan sedang.
Pada sistem intensif (C) sudah hampir sempurna dalam perawatan kondisi air terbilang bagus
Rentan waktu pemberian pakan lebih lama dari sistem pertama (B)
3. Sistem Super intensif
Menjadi ranking ketiga dengan kebersihan air paling terjaga dan terbaik. Zat racun terurai oleh bakteri menjadi flok dan dapat dimakan ikan sebagai pakan alternatif. Rentan paling banyak

Nah udah agak jelas kan. TAPI itu jika anda tidak menganti air. Karena dianjurkan pergantian air rutin tergantung kondisi perairan. Untuk membuang kotoran yang mengendap didasar air kolam lele.

Jadi menurut alam ikan pemberian waktu pakan yang baik adalah
1. Sistem Intensif (B)
Rentan Pemberian pakan jam 07.00 sampai 19.00
2. Sistem Tradisonal(A) dan Sistem Intensif (C)
Rentan pemberian pakan jam 07.00 sampai jam 20.00
3. Sistem Super Intensif
Rentan pemberian pakan jam 07.00 sampai jam 22.00

Sekali anda membuat jadwal pemberian pakan, janganlah anda mengantinya. Rutin dilakukan pada jam yang sama.

ALASAN UTAMA kenapa rentan pemberian pakan pada waktu malam semakin sedikit, padahal ikan lele itu noctural (aktif pada malam hari), iya itu memang benar kalau ikan lelenya di sungai. Ini kan budidaya, jumlah tebarnya banyak. Penyakit juga bakal numpuk. Kondisi perairan saat malam hari , zat-zat beracun akan mengendap.
Tanpa adanya sinar matahari yang cukup zat racun dalam air tidak terurai secara sempurna. Makannya tidak baik memberi makan di atas jam 08.00 KECUALI sistem budidaya yang anda gunakan istimewa. 
Tidak baik juga memberi makan terlalu pagi, dianjurkan kolam sudah terkena sinar matahari. Untuk sistem tradisonal, sistem intensif (B) dan sistem intensif (C)

Tambahan analis jumlah pemberian pakan lele,
Pemberian pakan lele adalah 3-6 % per HARI dari jumlah berat lele. Misal saya gunakan 3000 ekor lele dengan jumlah pakan 4% sehari, dibagi 3 kali pemberian pakan.
Analisis pemberian makanan lele jumlah 3000 ekor, dengan ukuran awal 6-8. Dengan jumlah 4% per Hari dari bobot ikan.

JamUmur 20 Hari Umur 40Umur 60 Hari
Bobot Ikan (gram)305070
3000 ekor (gram)90000150000210000
Pakan 4% (gram)360060008400
3,6 kg6 kg8,4 kg
Pakan 1 (1,5%)1,35 kg2,25kg3,15kg
Pakan 2 (1%)0,9 kg1,5kg2,1kg
Pakan 3 (1,5%)1,35 kg2,25kg3,15kg
Tag : Analisis perhitungan pakan ikan lele, Perhitungan Waktu pakan lele, Analisis ketepatan jumlah pakan lele, Analisis makanan lele, Analisis jumlah pelet lele

Keterangan :
  • Silakan anda ganti jumlah dari : Bobot ikan, jumlah ekor, Besar kisaran % jumlah pakan.
  • Jumlah pakan kreasikan sendiri. Karena dapat dicampur dengan pakan alami dan pakan alternatif.
  • Waktu pemberian pakan 3-6 kali sehari tergantung kebijakan masing-masing anda sebagai petani budidaya lele.
Tambahan Cara pemberian pakan yang baik
Menurut google,Cara pemberian pelet adalah sebagai berikut:
  1. Pelet dibasahi terlebih dahulu agar tidak melukai mulut lele. Pelet dapat di bibis menggunakan air hangat, jika sudah tunggu beberapa menit. Jika pelet sudah mengembang bisa langsung sebar ke kolam lele.
  2. Ukuran pelet disesuaikan ukuran mulut lele.
  3. Untuk pelet terapung, pelet ditebar ke berbagai titik.
  4. Untuk pelet tenggelam, pelet ditebar ke satu titik.
  5. Pemberian pelet dihentikan saat terlihat tidak terlalu banyak lele yang makan. Hentikan pemberian pelet ketika lele sudah terlihat malas-malasan makan.
  6. Jangan sampai ada pelet yang tidak termakan lele karena akan menjadi amoniak sehingga merusak kualitas air.
  7. Pola jam / waktu pemberian pakan harus seragam sejak penaburan benih sampai dengan panen.
  8. Jangan mengganggu (mengobak-obak air kolam) lele sesaat setelah makan. Bisa menimbulkan stres, dan pakan bisa dimuntahkan kembali.
  9. Jangan berikan pakan saat akan turun hujan.
  10. Jangan berikan pakan terlalu pagi, karena dapat menimbulkan radang insang.
Demikian kupas tuntas waktu pemberian pakan yang baik untuk budidaya lele. Semoga bermanfaat bagi anda yang mengalami permasalahan dan bingung memberi makanan untuk ikan lele.
Bagi anda yang bingung dan ingin share pengalaman silakan komentar di bawah terima kasih.

Dibawah ini video cara pemberian pakan lele

Explanation :
Alam Ikan Desember 2015
Thanks To Youtube

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Bingung Panen Spirulina, ini cara pengolahannya


Produksi spirulina di dapatkan pada hasil budidaya yang sebelumnya saya bahas, cara budidaya spirulina menggunakan akuarium 60 cm. Setelah 1-2 bulan hasil spirulina mulai dapat dipanen.

Proses - Proses Pengolahan Spirulina adalah sebagai berikut :
1. Budidaya (penumbuhan ganggang spirulina)
2. Pemanenan spirulina
3. Pencucian spirulina
4. Pengeringan
5. Penyimpanan Produk

Untuk menyaring atau mengambil spirulina ada beberapa teknik. Teknik yang diambil dari beberapa negara dan perusahaan. Berikut teknik cara pengolahan spirulina :

A. Pengolahan Cara pertama

  • Di negara chad Amerika Ukuran spirulina cukup besar dipisahkan dari medium filtrasi budidaya. Pemisahan spirulina dilakukan menggunakan penyaring sederhana (Alam Ikan 1)
  • Pengeringan dapat dilakukan dibawah sinar matahari atau menggunakan "spray" atau menggunakan Roller (Alamikan 1)
  • Penyimpanan spirulina cukup mudah karena tidak mudah terfermentasi


B. Pengolahan Cara Kedua
Spirulina pada saat proses pengeringan dan tableting menggunakan teknologi tingkat tinggi yaitu dengan alat "ocean chill Drying & Cold Tableting


C. Pengolahan Cara Ketiga
Menurut (Alam Ikan 2) Pengolahan ini bertujuan untuk membuat dalam bentuk bubuk dengan metode estraksi minyak, sehingga antara metode osmotic dan perkolasi, sehingga dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan baku pembuatan biodisel. Proses osmotic dilakukan untuk memecah sel dan mendapatkan minya yang terkandung didalamnya.
Proses pengolahan menggunakan :

  • variabel pelarut asam (HCL) ,
  • variabel konsentrasi masing-masing (0,5;1,5;3;5 M)
  • variabel waktu perendaman 60, 90, 120,150, 180 menit, 360 menit
  • variabel volume pelarut yaitu 75 ml, 150 ml, dan 200 ml dilakukan pada suhu 30oC,


Penyaringan pertama dicuci dengan pelarut dan molaritas yang ditambah filtrat dan dilanjutkan dengan proses pemisahan menggunakan aquadest dan n-hexane. Kemudia dua fase tersebut dilanjutkan dengan distilasi pada suhu 69 derajat celcius.

Proses Perkolasi ekstraksi dilakukan menggunakan :

  • satu unit alat ekstraksi (labu leher tiga dilengkapi dengan kondensor dan termometer) dengan pelarut etanol 95% pada suhu operasi 30oC
  • Variabel waktu perendaman 3 jam dan 6 jam,
  • variabel volume pelarut etanol 95% sebanyak 75 ml, 150 ml, 200 ml,
  • residu dari filtrat pertama dicuci dengan pelarut etanol 2x25 ml kemudian ditambahkan pada filtrat pertama dan dilanjutkan dengan proses pemisahan dengan menambahkan aquadest dan n-hexane sehingga terbentuk dua fasa kemudian dipisahkan dengan distilasi pada suhu 69oC.
  • Pada hasil penelitian didapatkan yield minyak yang paling optimal didapat adalah dengan pelarut etanol 95% dengan kadar air pada fase hidroalkoholik 40,91% yield minyak yang didapatkan sebesar 77,24%


D. Pengolahan cara keempat
Pengolahan ini di lakukan oleh perusahaan Ultra Trend Biotech dan Cyanotech Company, yang melakukan budidaya jenis Spirulina Platensis.

  • Budidaya dilakukan di dalam kolam, kolam tersebut membutuhkan 10 galon bibit spirulina bervolume 19 liter.
  • Cara budidaya ini menggunakan 2 tahap tahap pertama budidaya di dalam galon volume 19 liter, kemudian budidaya didalam kolam ukuran tinggi 60 cm, lebar 6 cm, dan panjang 100 meter. Dengan suhu 20 derajat celcius.
  • Karena menggunakan jenis spirulina platensis, makan menggunakan air laut dikedalaman 6000 meter.
  • Cara panen, air kolam di pompa dan dimasukkan ke penyaring.
  • Kemudian di keringkan sisa air dikembalikan ke kolam budidaya
  • Pemanasan menggunakan "Spray drier"
  • Panas yang disemprotkan mesin mengubah bentuk spirulina, dari cairan menjadi bubuk kering.
  • Teknologi lain diaplikasikan menggunakan "ocean chill drying" Proses pengeringan beku itu menjamin tidak terjadinya oksidasi terhadap karoten dan asam lemak spirulina. Produk bisa bertahan lebih dari 5 tahun.

D. Cara pengolahan keempat

  • Spirulina yang sudah melalui proses sampai menjadi bubuk kering.
  • Dimasukkan kedalam ruang penyimpanan berpendingin.
  • Pengolahan bubuk spirulina, dijadikan dan dimasukkan ke dalam kapsul.
  • Ada juga yang di buat menjadi tablet.
  • Dikemas dalam botol dan kardus.

E. Cara pengolahan kelima

  • Spirulina yang dibudidayakan dengan tujuan untuk menambah gizi keluarga
  • Pemanenan spirulina disaring dengan cara sederhana menggunakan kain dsb. Lakukan proses pencucian menggunakan aquades, kemudian dilanjutkan air panas.
  • Kemudian bisa dimakan bersama buah-buahan, roti dan sebagainya.


F. Cara pengolahan yang lainnya
a. Bubuk spirulina dengan cara menggiling kepingan spirulina (spirulina yang telah dikeringkan dengan cara dijemur atau menggunakan oven).
b. Menambahkan spirulina pada yoghurt, (kapsul spirulina di campur pada proses akhir pembuatan yoghurt)
c. Spirulina Masker, (Kapsul spirulina 1-2 kapsul, masukkan air hangat sedikit sampai kental)
d. Silakan berkreasi

Demikian cara pengolahan hasil panen spirulina, jika masih bingung silakan lihat video dibawah ini tentang cara pemanenan spirulina dan dapat langsung dimakan.



Explanation :
Alam Ikan 1 : Suhartono 2000
Alam Ikan 2 : Riza, Elfera Y., dan Danang Harimurti W.  2009

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Budidaya Spirulina Sukses menggunakan Akuarium 60 cm


Budidaya Spirulina Sukses menggunakan Akuarium 60 cm
Pada budidaya spirulina kali ini menggunakan akuarium dengan panjang 60 cm, bisa juga menggunakan panjang 40 cm. Spirulina (Artrosphira) adalah ganggang hijau biru sumber nutrisi yang kaya akan asam amino esensial, vitamin, mineral, dan karotenoid. Spirulina dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kebugaran bermanfaat bagi kesehatan. Hebatnya lagi spirulina menjadi makanan untuk para astronot untuk menempuh perjalanan luar angkasa. 

Hal penting dapal budidaya spirulina adalah ketersedian sinar matahari, kegunaan mengocok air didalam akuarium (agar semua bibit spirulina terkena sinar matahari)

Bahan - Bahan untuk pempuatan Spirulina
- Digital termometer Farenheit
- Water pump dengan model dua lubang (menggunakan paralon)
- Akuarium
- Pipet tetes
- Starter Spirulina (4 botol)
- Nutrisi air / makanan spirulina

 Cara Budidaya Spirulina Tahap Pertama


  • Pertama masukkan Paralon yang sudah disambung dengan Water pump (gelembung udara)
  • Posisikan paralon dengan posisi 30 derajat kemiringan. 
  • Setelah itu Pasang Digital termometer farenheit
  • Aktikan water pump (gelembung udara) Kegunaan water pump (buat posisi keluaran udara menjadi 2) Selang dengan 2 lubang Saat udara keluar akan mendorong air bergerak keatas sehingga air akan terus berputar. Berputar dari bawah keluar dari posisi atas (keluaran Udara bersama air) Sehingga akan mengocok air di dalam akuarium




Teknik Budidaya Spirulina

  • Sebelum memasukan Starter Spirulina
  • Pertama-tama buat air dalam akuarium berisi nutrisi, nutrisi yang di perlukan adalah 
a. Nutrisi (baking soda, potassium nitrate, ammonium phosphate, sea salt) campur jadi satu kemudian jadikan 0,5 kg (perbandingan 1:1)
b. Chelated iron (masukkan 2 mililiter, pakailah pipet tetes) 
  • Siapkan 4 botol starter Spirulina 1 liter/botol, Kemudia di masukkan ke dalam akuarium
  • Setelah Spirulina dimasukkan kedalam akuarium (Tutup akuarium dengan rapat) agar tidak ada hewan yang masuk (seperti nyamuk)
  • Selesai sudah tahap pertama



Cara Budidaya Spirulina Tahap Kedua

  • Budidaya spirulina sudah dianggap berhasil setelah berumur 1 minggu dan spirulina akan berubah warna menjadi Hijau kehitaman. 
  • Usahakan air di dalam akuarium bersuhu 75 derajat Farenheit
Dikarenakan pada tahap pertama posisi air pada akuarium baru setengah
  • Tahap kedua Mulai lagi dari awal, mengisi air dengan nutrisi dan chelated iron sampai akuarium hampir penuh. 
  • Tutup dan selesai. Hasil akan terlihat setelah 1-2 bulan



Selesai demikian cara budidaya spirulina untuk mengetahui parameter budidaya spirulina 
Untuk lebih jelasnya silakan lihat video dibawah ini, bagaimana mudahnya budidaya spirulina menggunakan akuarium.


Kandungan Protein spirulina di bandingan dengan jenis makanan pada umumnya

Jenis MakananKandungan protein
Sprirulina60-70%
Dading dan Ikan15-25%
Ayam24%
Kacang kedelai35%
Susu bubuk35%
Kacang-kacangan25%
Telur12%
Biji-bijian14-18%


Kegunaan dan Manfaat Spirulina
Dalam bidang Pengobatan
1. Mengobati Alergi
2. Menurunkan kadar Kolesterol Darah
3. Diabetes
4. Mencegah Kanker
5. Menyembuhkan Depresi
6. Kesehatan Mata
7. Mengobati Ulcer
8. Mengobati Heoatitis dan Sirosis
9. Kesehatan Gigi
10. HIV dan AIDS

Spirulina Dalam Menjaga Kesehatan Tubuh
1. Membantu menurunkan Berat badan
2. Meningkatkan fungsi Otak
3. Meningkatkan Vitalitas
4. Antibakteri
5. Beguna untuk ibu Hamil
6. Meningkatkan sistem imun (kekebalan Tubuh)
7. Mengencangkan Kulit
8. Menghilangkan lingkar hitam
9. Mencegah Penuan Dini
10. Detoksifikasi Kulit
11. Kesehatan Kuku
12. Membersihkan muka dan memutihkan
13. Membantu Pertumbuhan Rambut
14. Mencegah Rambut Rontok
15. Mencegah Ketombe

Explanation :
Alam Ikan Desember 2015

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Budidaya Cacing Tanah Rak Bertingkat Hemat Lahan


Budidaya Cacing Tanah Rak Bertingkat Hemat Lahan
Membudidayakan cacing bertujuan untuk memperbanyak jumlah cacing untuk dijadikan makanan ikan, industri kosmetik dan industri obat serta dapat dijual dalam bentuk hidup.

Tempat untuk budidaya cacing menggunakan kayu dengan dasar ditutup menggunakan terpal, karung plastik dan sebagainya. Rak kayu, masing-masing dapat menampung 3 sampai 5 kg bibit. Cacing tanah jenis rubellus yang biasa dijadikan obat memiliki kadar protein sekitar 76%. Kadar tersebut lebih tinggi daripada kadar protein pada daging mamalia seperi sapi yang sekitar 65%, dan dibanding protein ikan sebanyak 50%.


Mempersiapkan Mediatempat hidup dan lingkungan cacing
Syarat Media yang baik, diantaranya :
  • Gembur
  • Organik
  • Lunak 

Media cacing tergantung dari pemakaian cacing. Cacing tanah digunakan untuk pakan ikan atau untuk bahan obat-obatan. Media cacing tanah yang umum digunakan sebagai berikut :


Media Cacing khusus Pakan IKanMedia Cacing Khusus Obat
Tanah, namun bukan sembarang tanah, usahakan tanah yang mengandung banyak unsure hara.Log Jamur, adalah limbah hasil budidaya jamur.
Kotoran ternak (ayam)Gergajian Kayu, limbah hasil gergajian, Campur dengan Air
Kotoran ternak (Sapi)Cacahan Batang Pisang campur tanah humus
Lumpur selokanDedak padi
Daun-daun/rumput kering

Bisa juga menggunakan cara kombinasi
Kombinasi media untuk cacing tanah sebagai pakan dan tempat hidup adalah sebagai berikut :
1. Media menggunakan (sebuk gergaji, Dedak padi, Kotoran ternak, Daun-daun/rumput kering) dengan perbandingan 6:1:1:2
2. Media menggunakan (serbuk gergaji, daun-daun kering, dedak padi, kotoran ternak, lumpur selokan) dengan perbandingan 6:1:1:1:1
3. Silakan kombinasi sendiri media utama adalah 60% menggunakan media yang paling mudah dicari, dan mudah dibongkar, Kenapa mudah dibongkar? untuk memudahkan saat pemanenan, seperti Cacahan batang pisang campur tanah,  serbuk gergaji dan lain lain.

Persiapan makanan tambahan :
  • Makanan tambahan dilakukan jika media telah terlihat Habis, Pemberian pakan menggunakan perbandingan 1:1,
  • Berat makanan perbandingan antara berat cacing : makanan adalah 1:1
Contoh Makanan untuk cacing
a. Limbah Organik Rumah Tangga
Limbah rumah tangga contohnya adalah nasi yang sudah basi, kulit buah, sayuran yang tidak termakan, kupasan kulit kentang, wortel, bawang, batang kangkung dll.
b. Limbah Organik Home Industri
Limbah Home industry contohnya log jamur , limbah di pasar tradisional, limbah kulit buah, limbah hasil dapur rumah makan dll
c. Limbah Organik Peternakan
Limbah peternakan seperti kotoran Sapi, Kambing, Ayam dengan catatan diberi air terlebih dahulu agar tidak panas, atau bias diberikan prebiotik agar tidak bau.
d. Limbah Organik Lingkungan
Limbah dari dedaunan yang gugur bias langsung diberikan dan juga bias dikompos terlebih dahulu

Cara pemberian pakan  ada tiga cara antara lain diberikan secara langsung, dibusukkan terlebih dahulu dan difermentasi terlebih dahulu, fermentasi berarti memberikan “tetes tebu” untuk meningkatkan jumlah bakteri dalam makanan.

Indukan cacing tanah sebaiknya beli pada petani cacing. Untuk memaksimalkan hasil budidaya. (kualitas sudah terjamin dan tidak perlu adaptasi media)

Perawatan dan pengecekan Media
1. Pemberian pakan seminggu sekali sampai sehari sekali.
2. Membersihkan hama seperti semut, kutu tanah, orong-orong, rayap,  tikus, kadal, katak, tokek, dll.
3. Antisipasi semut : dengan kapur semut, cairan odol, baygon
4. Antisipasi tikus/kadal : jedingan ditutup dengan kasa/jaring
5. Antisipasi Kutu tanah : fermentasi media
6. Sesuai jenis hama

Pemanenan Cacing Tanah
Pemanenan dilakukan 4 bulan penanaman bibit sekitar 25% dari jumlah cacing yang ada
Media dapat dijual untuk pupuk

Fase Pemeliharaan Cacing
Fase pertama  : perkembangan , dimulai sejak kokon (telur) menetas menjadi anak cacing hingga usia 2,5 bulan atau 3,5 bulan. Pada usia ini cacing bisa dijual untuk indukan atau bibit.
Fase kedua: usia 4 sampai 7 bulan, yang merupakan masa produktif cacing menghasilkan kokon.
Fase ketiga : usia 7 bulan ke atas, yang sudah tidak produktif lagi.

Cacing-cacing dalam ketiga fase itu semuanya laku dijual dan tentu saja harganya berbeda-beda. Cacing pada fase pertama, biasanya dikonsumsi oleh para peternak cacing untuk  dijadikan indukan. Sedangkan cacing usia fase kedua, lebih banyak dikonsumsi untuk pabrik obat. Dan cacing usia fase ketiga dipakai untuk makanan (pellet) ikan lele. Kalau untuk campuran bahan kosmetik, biasanya diambil dari usia 4 bulan ke atas, karena kadar crude oil-nya cukup baik.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada video dibawah ini, cara membuat media budidaya cacing.

Manfaat hasil panen cacing tanah dengan media khusus obat  sebagai berikut :
  • Penyakit tifus, cara konsumsi rebus dibuat bubuk minum bersama madu. Kegunaan cacing dapat menghambat bakteri salmonella dalam pencernaan kita. 
  • Penyakit Obat Diare dapat menjadi anti bagi bakteri E.Coli dan shigella yang  menjadi penyebab diare.
  • Melancarkan Sirkulasi darah. Cacing tanah memiliki enzim yang mampu untuk menghancurkan lemak jahat di system sirkulasi darah kita.
  • Melancarkan Pencernaan. Kandungan enzim, seluosa, dan katalisator yang di butuhkan tubuh untuk proses metabolism banyak terdapat di dalam tubuh cacing tanah. 
  • Antipiretik. Ekstrak cacing tanah mengandung nitrogen dengan sifat basa. Kandungan tersebut dapat membantu mengurangi demam tinggi pada penyakit seperti tifus. 
  • Menenangkan syaraf. Pheretima yang terdapat dalam cacing tanah mempengaruhi system saraf manusia. Efeknya, kita akan merasa tenang, rasa sakit  berkurang, dan kejang-kejang bisa dihentikan. Sehingga, konsumsi cacing tanah cukup tepat saat dalam kondisi sakit gigi, pusing, atau kondisi rematik yang mana kita merasa sakit luar biasa di bagian tubuh tertentu.
  • Meningkatkan energy. Cacing tanah mengandung taurin yang mampu meningkatkan proses metabolism lemak yang kemudian di ubah menjadi ATP atau energy. 
  • Menyembuhkan luka. Cacing tanah mengandung asam arakidonat yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan sel-sel baru. 
  • Meningkatkan nafsu makan. membuat system pencernaan kita berjalan dengan baik dan dikondisikan tetap merasa nyaman. Kondisi organ pencernaan yang terjaga fungsinya akan menstimulus dorongan pola makan yang proporsional yang dibutuhkan tubuh.
Keterangan :
Alam Ikan November 2015

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 

Semoga Bermanfaat


Manfaat kegunaan Azolla teknik pembuatan kolam


Menurut Alam Ikan; Tanaman Azolla sebagai jenis tumbuhan yang dapat dijadikan makanan penganti untuk berbagai hewan terutama unggas, ikan dan ternak. Azolla merupakan jenis pakan alami yang dapat digunakan untuk pakan ikan, dan pakan ternak. Dinegara  lain seperti china dan negara asia. azolla dapat digunakan untuk menyuburkan sawah dan meningkatkan produksi. dengan menjadikannya pupuk hijau. Hebatnya pupuk azolla dapat meningkatkan hasil panen sampai 158% per tahun menurut beberapa laporan.

Azolla dapat diberikan langsung untuk pakan, untuk azolla basah dapat langsung dimakan ikan, ternak, dan unggas.
Sedangkan untuk azolla kering dapat dicampur dengan pakan buatan atau pelet. untuk menambah nilai gizi. 
Pertumbuhan Azolla paku-pakuan untuk pakan ternak ikan dan unggas


Nilai Gizi azolla sebagai pupuk dan pakan
1. Untuk pemanfaatan azolla untuk pupuk dalam berat kering nilai gizinya sebagai berikut :
  • Nitrogen (N) 3-5%
  • Phosphor (P) 0,5-0,9 %
  • Kalium (K) 2 - 4,5 %
  • Sedangkan hara mikronya berupa 
  • Calsium (Ca) 0,4 - 1 %, 
  • Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 %, 
  • Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 % dan 
  • Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 %.


2. Untuk pemanfaatan azolla sebagai pakan sebagai pakan ternak dan ikan dengan memberikan azolla segar yang masih muda. Dengan kandungan nilai gizi sebagai berikut :
  • Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 %, 
  • lemak 7,5 %, 
  • karbohidrat 6,5 %, 
  • gula terlarut 3,5 % dan 
  • serat kasar 13 %. 


Untuk Itik Azolla dapat dicampur kedalam pakan buatan denga  komposisi 15% dari total pakan itik. Hal ini dapat menghemat biaya pakan sebesar 15% otomatis anda mendapatkan keuntungan lebih besar. 


Kegunaan Tanaman Azolla 
  • penghijau dan penjernih air kolam ikan, sawah, kolam terpal, kolam semen, taman air
  • pakan alternatif alami ikan gurame, nila, mas, koi, lele, hias, lele, belut, patin 
  • pakan alternatif ayam, bebek, entog, angsa, broiler, pelung, bangkok, buras
  • pakan alternatif / pengganti rumput utk sapi, kambing, kerbau, domba tanpa ngarit /kemarau
  • bahan baku pupuk hijau dan kompos alami utk tanaman pekarangan, sawah, kebun, lahan gambut
  • sebagai pengurai air limbah dan lahan kritis berair misal : bekas galian c, air TPA sampah, kolam pemancingan
  • penstabil keasaman air / PH terutama kolam terpal, bak semen, toren cor tebar padat
Pakan alami ikan azolla dapat berupa basah dan azolla kering

Cara memperbanyak azolla
  • Siapkan kolam makin lebar makin baik. Misal kolam ukuran 3x2. dengan ketinggian 20 cm
  • siapakan kotoran ayam atau kotoran sapi atau kerbau. campurkan kotoran dengan tanah dengan komposisi kotoran : tanah sebesar 5 : 5
  • Masukkan tanah yang sudah dicampur kotoran. kedalam kolam dengan kedalaman sekitar 5-10 cm.
  • Kemudian masukkan air. 
  • Setelah selesai masukkan starter azolla atau bibit azolla yang sudah anda beli.

Untuk Lebih jelasnya



Produk Jual dari Alam Ikan
Keterangan :
Alam Ikan November 2015

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 


Semoga Bermanfaat