sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Jenis-Jenis Pakan Lobster Air Tawar Terbaik Untuk Usaha


Lobster air tawar adalah salah satu bahan makanan hewani yang diminati oleh konsumen. Maka, tak heran jika setiap tahunnya permintaan lobster air tawar di pasaran selalu mengalami peningkatan.

Kondisi ini pun menandakan bahwa budidaya lobster air tawar menjadi prospek usaha yang menarik.
Dalam budidaya terutama pembesaran lobster air tawar, makanan lobster air tawar menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mari pahami berbagai jenis pakan lobster air tawar di bawah ini sebelum memutuskan untuk memulai bisnisnya.

1. Morfologi Lobster Air Tawar

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) merupakan salah satu genus dari udang air tawar (Crustacea).
Tubuh lobster ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu kepala dada dan badan. Hewan air ini tidak memiliki tulang dalam, tapi memiliki cangkang yang membungkus seluruh tubuhnya.
Lobster air tawar memiliki kaki gerak pada thoraksnya yang terdiri dari mata, antena, antenula, mulut, dan lima pasang kaki jalan.

2. Jenis-Jenis Pakan Lobster Air Tawar

Perlu diketahui bahwa lobster air tawar adaah pemakan segala atau omnivora. Sehingga, tak sulit dalam menemukan pakan lobster air tawar.
Secara garis besar, jenis pakannya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu pakan buatan dan pakan alami. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak penjelasan tentag kelebihan dan kekurangan pakan buatan dan alami berikut ini:




3. Jenis, Kelebihan Dan Kekurangan Pakan Buatan/Pabrikan Lobster Air Tawar

Pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh pabrik atau biasa juga disebut dengan pellet. Sebakai pakan lobster air tawar, ada dua pellet yang bisa diberikan, yaitu pellet udang dan pellet lobster air tawar.
Berikut adalah keuntungan dan kelebihan pellet bagi lobster yang harus diketahui.

o   Pellet Udang

Kelebihan:

Pellet udang termasuk pakan lobster air tawar agar cepat besar. Bahan pakan ini mengandung protein yang baik bagi pertumbuhan lobster.  
Kekurangan:

Pemberian pellet udang untuk lobster air tawar tak boleh sembarangan. Umur lobster air tawar harus diketahui agar dapat memberikan pellet yang sesuai.

Misalnya saja untuk benih lobster yang baru menetas, sebaiknya diberi pellet DO yang lembut, setelah umur 2 minggu pellet diganti dengan yang berukuran lebih besar hingga lobster air tawar mencapai usia dewasa.

 

o   Pellet Lobster Air Tawar

Kelebihan:

Sama seperti pellet udang, pellet lobster air tawar juga menjadi makanan lobster air tawar agar cepat besar. Pellet lobster air tawar juga memiliki kandungan protein dan juga kalsium yang tinggi.

Kekurangan:

Sebaiknya pellet tidak diberikan pada benih lobster air tawar yang berukuran di bawah 1 cm, karena kandungan kalsiumnya akan meyulitkan lobster air tawar dalam melepaskan diri dari kulitnya pada saat molting.
Selain itu, takaran pakannya juga harus dikontrol agar tidak megotori kolam dan meningkatkan kadar amoniak dalam air kolam.

4. Jenis, Kelebihan Dan Kekurangan Makanan Alami Lobster Air Tawar
Pemberian pellet juga harus diimbangi dengan pemberian pakan alami. Ada berbagai jenis pakan alami untuk pembesaran lobster air tawar.
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan beberapa jenis pakan alami yang patut diketahui:

a. Tanaman Air
o   Enceng Gondok

Kelebihan:

Enceng gondok adalah salah satu tanaman air yang menjadi pakan ideal lobster air tawar. Selain mengandung mineral, kelebihan lain dari enceng gondok adalah kemudahannya untuk didapatkan.
Pemberian enceng gondok perlu diperhatikan. Yaitu dengan cara dipotong secara halus dan memanjang agar mudah dimakan.

Kekurangan:

Saat musim kemarau, banyak sungai alami yang mengalami kekeringan, sehingga keberadaan enceng gondok liar juga berkurang. Jadi, bagi yang menyukai enceng gondok sebagai pakan lobster air tawar, sebaiknya juga turut membudidayakan enceng gondok di kolam sendiri.


o   Selada Air

Kelebihan:

Sama seperti enceng gondok, selada air adalah bahan makanan yang mengandung mineral. Mudah didapatkan, selada air bisa menjadi selingan enceng gondok sebagai pakan lobster air tawar jika keberadaan enceng gondok berkurang.

 

Kekurangan:

Kekurangan dari selada air adalah beratnya yang ringan, sehingga sulit tenggelam. Untuk mengakalinya, selada dapat dilayukan terlebih dahulu dengan cara direbus air panas sebentar.

Setelah layu, baru berikan selada air ke kolam lobster air tawar Anda.


o   Hydrilla verticillata

Kelebihan:

Hydrilla verticillata atau hydrilla adalah tanaman air selanjutnya yang baik dijadikan bahan pakan lobster air tawar karena mengandung mineral dan vitamin yang mendukung pertumbuhan lobster air tawar.

Kekurangan:

Bahan yang satu ini sulit dikenali di alam, sehingga banyak yang memilih enceg gondok dibandingkan hydrilla sebagai pakan lobster air tawar.


o   Ludwigia Inclinata Green

Kelebihan:

Sama seperti tanaman air lainnya, Ludwigia Inclinata Green juga memiliki kandungan mineral dan vitamin. Tanaman ini bisa ditemukan di sungai beraliran lambat.

Kekurangan:

Tanaman ini dibanderol dengan harga yang cukup tinggi, karena Ludwigia Inclinata Green banyak dicari sebagai tanaman aquascape. Sehingga, banyak yang memilih tanaman air lain sebagai pakan lobster air tawar.

b. Daging (Protein Hewani)

o   Plankton

Kelebihan:

Plankton adalah biota air alami, sehingga pemberian plankton akan membuat lobster air tawar mendapat pakan layaknya berada di alam liar. Kandungan protein hewani dari plankton juga sangat baik bagi pertumbuhan lobster air tawar.

Kekurangan:

Plankton hidup dijual dengan harga yang cukup tiggi, sehingga memang diperlukan budget lebih ketika memilih bahan pakan lobster air tawar ini.

o   Usus Ayam

Kelebihan:

Usus ayam adalah makanan lobster air tawar yang bertujuan agar lobster cepat besar. Mengandung protein dan lemak hewani yang tinggi serta mudah didapatkan, maka tak heran jika bahan ini banyak dipilih untuk pembesaran lobster air tawar.
Selain itu, usus ayam juga seringkali menjadi limbah dalam industri pemotongan unggas. Sehingga dapat berperan pula dalam pengurangan limbah.

Kekurangan:

Kekurangan bahan ini adalah memerlukan waktu dan tenaga untuk membersihkannya dari kotoran ayam. Karena, jika tidak dibersihkan, air kolam akan mudah kotor dan bahkan tercemar penyakit yang mungkin ada dalam kotoran.

 

o   Keong Mas

Kelebihan:

Keong mas mudah didapatkan di daerah persawahan atau sungai yang mengalir. Mengandung protein dan lemak hewani tinggi, keong mas menjadi pakan lobster air tawar spesialis pembesaran yang cukup ideal.

Kekurangan:

Di musim kemarau, keong mas tergolong sulit di dapatkan karena banyak sungai dan sawah yang mengalami kekeringan. Selain itu, Anda juga membutuhkan tenaga lebih dalam mencari keong mas liar di sawah.

o   Kutu Air

Kelebihan:

Kutu air adalah jenis pakan selanjutnya yang mengandung protein hewani. Memiliki ukuran yang kecil, maka pakan ini mudah untuk dimakan lobster air tawar.
Pakan kutu air ini juga cocok diberikan sebagai pakan lobster hias. Selain itu, kutu air juga dapat diberikan kepada lobster dalam berbagai ukuran.

Kekurangan:

Kekurangan dari bahan ini adalah ketersediaannya yang tidak selalu ada di semua wilayah. Sehingga, jika ingin melakukan budidaya lobster air tawar dan menggunakan bahan ini sebagai bahan pakan, perlu untuk bermitra dengan pelaku budidaya kutu air.

o   Cacing Darah

Kelebihan:

Selanjutnya ada cacing darah yang kerap dijadikan sebagai pakan ikan. Cacing darah juga menjadi pakan ideal bagi lobster air tawar karena kandungan protein hewani yang tinggi.

Kekurangan:

Karena cacing ini banyak diminati sebagai pakan ikan, maka para pelaku budidaya lobster air tawar perlu memiliki mitra sebagai penyedia cacing darah agar tidak kekurangan stok.

o   Cacing Sutera

Kelebihan:

Tak hanya mengandung protein seperti pakan hewani lainnya, cacing sutra juga mejadi pakan lobster air tawar lainnya karena dapat diberikan dalam kondisi hidup sehingga tidak akan mengotori kolam.

Kekurangan:

Pemilihan cacing sutera sebagai pakan lobster sebaiknya juga diselingi dengan pemberian pakan lain, seperti sayuran atau pellet. Hal ini untuk menyeimbangkan nutrisi lobster air tawar.

o   Udang Kecil

Kelebihan:

Lobster air tawar adalah hewan air yang kanibal, sehingga pemberian udang kecil juga bisa dijadikan alternatif pakan. Udang kecil juga memiliki kandungan protein hewani yang baik bagi pertumbuhan lobster air tawar.

Kekurangan:

Kekurangan dari bahan pakan ini adalah harganya yang cukup tinggi. Sehingga, pemberian udang kecil sebaiknya tidak terlalu sering dan dapat diselingi dengan bahan pakan hewani lain, seperti cacing atau kutu air.

Nah, itulah jenis-jenis pakan buatan maupun pakan alami yang bisa Anda pilih jika ingin sukses budidaya lobster air tawar. Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk mencoba salah satu, atau bahkan mengkombinasikannya? Apapun yang dipilih, jangan lupa untuk mempertimbangan kandungan nutrisinya yaa... agar pertumbuhan dan perkembangan lobster air tawar Anda bisa produktif.


Cara Budidaya Azolla sebagai Pakan Alami Ikan

Azolla adalah tumbuhan paku-pakuan yang hidup diperairan, tumbuhan ini dapat hidup di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di bawah rongga daun Azolla. 
Cara Budidaya Azolla sebagai Pakan Alami Ikan

Cara Budidaya Azolla sebagai Pakan Alami Ikan

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra. Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. 

Kandungan Azolla untuk pakan. 
Kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan dan ternak. Ikan dan ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Kandungan Azolla untuk pakan.
Simbiosis Alga dengan Azolla, akanterjadi hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme), Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan dengan kandungan nutrisi yang menakjubkan.


Budidaya Azolla microphylla : 
Siapkan lahan Budidaya Azolla
  • Kolam dangkal dengan tanah, semen atau terpal, semakin luas semakin banyak jumlah azolla
  • Isi Pupuk kandang dengan tanah perbaandingan 50:50 setebal 5cm
  • Tambahkan pupuk SP 36 dengan takaran 6,5gr/m
  • Isi kolam dengan air dengan ketinggian sekitar 3 cm
Penebaran Bibit Azolla
  • Taburkan bibit azolla dengan takaran 50-70 gr/m2
  • Biarkan selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air.
  • Lakukan pemanenan saat azolla sudah kelihatan menumpuk dan menebal menutupi permukaan kolam. Azolla dapat dipanen 1-2 minggu sekali, atau sesuai kebutuhan
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Makanan Alami Ikan - Jenis Media Kultur Budidaya

Makanan Alami Ikan Jenis Media Budidaya

Jenis media yang dapat digunakan untuk membuat beternak berbagai pakan alami ikan, sebut saja PANONI (pakan alami ikan dari oraganisme mini)
PANONI adalah sumber makanan alami ikan khusunya anak ikan berupa organisme mini atau kecil,
PANONI adalah sumber makanan alami ikan khusunya anak ikan berupa organisme mini atau kecil,
Berikut jenis pakan alami ikan seperti :
1. Cacing sutra
2. Kutu air 
3. cacing tanah
4. ulat hongkong
5. microworm
6. infusoria
7. Rotifera
8. Chollera
9. Artemia
10. Tetraselmis
11. Dunaliella
12. Spirulina
13. Keong Mas


Jenis Pakan Buatan
1. Pelet Buatan
2. Sisa ampas tahu
3. Sisa pasar
4. Kotoran kultur intensif

1. Sayuran
Sayuran yang dapat digunakan untuk media awal untuk ternak hewan sebagai sumber pakan ikan
- sayuran hijau seperti daun kol, daun bayam, timun, Jerami, rumput kering, sawi.
- Jenis tanaman hidrilla, eceng gondok
walaupun tidak ada syarat khusus, tanaman yang digunakan mudah busuk dan mengandung banyak air, sehingga mudah untuk pertumbuhan bakteri, yang merupakan sumber makanan dari PANONI. Jenis PANONI khususnya dari jenis organisme seperti infusoria, ulat hongkong, cacing tanah

2. Buah
Buah yang digunakan memiliki kadar air yang cukup tinggi, murah dan mudah didapatkan
- buah pepaya, pisang, timun buah, semangka,  ampas kepala, Daun Pepaya

3. Kotoran Hewan
Kotoran hewan dapat berupa kotoran kering dan kotoran basah, lebih baik menggunakan kotoran kering yang sudah berumur sehingga lebih cepat dalam pertumbuhan bakteri
misal kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran bebek, kotoran kambing dll.

4. Karbonhidrat
Jenis ini merupakan bahan makanan yang mengandung karbonhidrat tinggi
misal sisa roti, tepung terigu, nasi sisa, ragi roti

5. Batang pohon
Batang pohon yang mudah busuk di dalam air,
Misal batang pohon pepaya, batang pohon pisang,

6. Bahan Makanan
Jenis ini dapat berupa makanan yang diproduksi oleh pabrik seperti dedak, ampas tahu, tetes tebu, tepung ikan, probiotik, ragi tempe, Tepung kasar, remah, pellet, waver, tepung terigu

7. Protein sisa
Jenis ini merupakan sumber bakteri dari sisa hewan, seperti ikan runcah, jeroan ayam, hewan, ikan asin, keong, limbah pasar ikan

8. Pengayaan Media Pakan Panoni

Menggunakan HUFA, Minyak Emulsi, Ragi roti , vitamin c, protein dapat dilakukan untuk rotifera branchionus

9. Kultur Kimia
Media agar-agar campuran air laut, dengan pemupukan KNO3, FeCL, NaH2PO4, H20 digunakan untuk kultur Phytoplankton jenis chlorella

10 Penggunaan Garam
Penggunaan garam dalam budidaya pakan alami yang hidup di laut seperti artemia

11. Kimia
Bahan berupa zat dari TSP, Urea, ammonium,

Untuk jenis seperti tetraselmis dapat berupa bahan kimia sebagai berikut

  • Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
  • Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
  • Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
  • Biotin = 1 mikrogram/l
  • Vitamin B12 = 1mikrogram/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l

Bahan diatas digunakan untuk sumber bakteri yang akan menjadi sumber makanan, bagi hewan atau organisme yang biasa digunakan untuk PANONI, Tujuan sebagai sumber makanan ikan khususnya burayak ikan atau benih atau anak ikan.

Sumber makanan PANONI seharusnya memiliki kadar protein yang tinggi, karena pada dasarnya PANONI ini kadar protein pada tubuhnya di pengaruhi oleh sumber makanan. Dalam sebuah penelitian sebuah PANONI pasti memiliki kisaran protein yang cukup tinggi, seperti 20%-40% hal ini memang benar, karena sumber protein dalam tubuh PANONI sangat dipengaruhi makanan dan media tempat pertumbuhannya. Semakin baik media budidaya PANONI akan membuat kualitas makin baik yang akan langsung berefek pada pertumbuhan ikan.

Jadi bagaimana kalau medianya kekurangan protein, kemungkinan besar kadar protein PANONI hanya di kisaran paling bawah,kita ambil contoh kutu air memiliki protein 30-40% kemungkinan besar protein kutu air hanya di kisaran 30% saja.

Tags : Jenis media budidaya cacing sutera, jenis media kutu air, jenis media caing tanah, jenis media pelet buatan, bahan pembuatan media budidaya, cacing sutera,Cacing sutra, Kutu air , cacing tanah, ulat hongkong, microworm, infusoria, Jenis bahan pakan alami ikan.

Kandungan Gizi Chlorella sebagai Pakan Alami

Pytoplankton adalah sumber pakan alami untuk berbagai organisme, terutama pada budidaya merupakan pakan alami yang sangat cocok untuk larva ikan. Chlorella dan jenis Rotifera maupun jenis phytoplankton lainnya dikenal sebagai produser primer dan berada pada tropik level pertama. Peranan phytoplankton tersebut sebagai pakan alami bagi biota – biota laut yang lain, khususnya biota laut herbivora. Kelimpahan phytoplankton di suatu perairan tidak lepas dari proses deposit sejumlah zat – zat organik melalui proses fotosintesis, yang terjadi pada tumbuhan yang mengandung klorofil (Alam Ikan 1).

Kelimpahan jumlah phytoplankton dapat berhasil apabila proses fotosintesa tersebut akan mendukung proses reproduksi dan menghasilkan kelimpahan phytoplankton yang cukup tinggi. kelimpahan phytoplankton pada suatu perairan pada dasarnya merupakan konversi dari berbagai nutrisi yang dapat dipergunakan oleh phytoplankton untuk menunjang kehidupan dan reproduksi. Potensi phytoplankton sebagai pakan alami telah dikenali pada upaya kultivasi benih udang dan ikan di hatchery. Jenis – jenis phytoplankton pakan alami seperti Skeletonema costatum, Dunaliella sp.,Tetraselmis chuii, Chlorella sp.(Alam Ikan 2)


ProteinLemak Karbohidrat
>37%-55%>10%>17%
KisaranOmega 3Omega 6Omega 9
Asam lemak0,9-3,7%15-38%0,2-15%
Chlorella seperti jenis Artemia, Rotifera dan Moina Sp dapat bereproduksi dalam waktu yang singkat 1-2 hari. 

Klasifikasi chlorella
Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Famili : Chlorellaceae
Genus : Chlorella
Spesies : Chlorella sp.

Morfologi dan habitat chorella
Sel Chlorella berbentuk bulat, hidup soliter, berukuran 2-8 ┬Ám. Dalam sel Chlorella mengandung 50% protein, lemak serta vitamin A, B, D, E dan K, disamping banyak terdapat pigmen hijau (klorofil) yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Alam Ikan 3).

Sel Chlorella umumnya dijumpai sendiri, kadang-kadang bergerombol. Protoplast sel dikelilingi oleh membrane yang selektif, sedangkan di luar membran sel terdapat dinding yang tebal terdiri dari sellulosa dan pektin. Di dalam sel terdapat suatu protoplast yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan posisi menghadap ke atas. Pineroid-pineroid stigma dan vacuola kontraktil tidak ada (Alam Ikan 4).

Warna hijau pada alga ini disebabkan selnya mengandung klorofil a dan b dalam jumlah yang besar, di samping karotin dan xantofil (Alam Ikan 5).

Chlorella tumbuh pada salinitas 25 ppt. Alga tumbuh lambat pada salinitas 15 ppm, dan hampir tidak tumbuh pada salinitas 0 ppm dan 60 ppm. Chlorella tumbuh baik pada suhu 200 C, tetapi tumbuh lambat pada suhu 32 o C. Tumbuh sangat baik sekitar 20 o -23 o C(Alam Ikan 6).

Reproduksi
Menurut (Alam Ikan 7) Chlorella sp. berkembang biak dengan membelah diri membentuk autospora. Sedangkan pada waktu membelah diri membentuk autospora, Chlorella sp. melalui empat fase siklus hidup (Alam Ikan 8).

Reproduksi Siklus Hidup Chlorella Keempat fase tersebut adalah :
  1. Fase pertumbuhan (growth), periode perkembangan aktif sel massa yaitu autospora tumbuh menjadi besar.
  2. Fase pematangan awal (early revening), autospora yang telah tumbuh menjadi besar mengadakan persiapan untuk membagi selnya menjadi sel-sel baru.
  3. Fase pematangan akhir (late revening), sel-sel yang baru tersebut mengadakan pembelahan menjadi dua.
  4. Fase autospora (autospora liberation), pada fase ini sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru.
 CARA STERILISASI
a.        Sterilisasi Peralatan yang digunakan untuk isolasi Phytoplankton
Sterilisasi peralatan yang akan digunakan untuk isolasi dapat menggunakan autoclave dengan suhu 1210C dan tekanan 1 kg/cm3 atau menggunakan oven pada suhu sekitar 1050C.
Mula-mula peralatan isolasi yang terdiri atas tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur, dan lain-lain dicuci dengan air tawar dan detergen yang kemudian diletakkan di rak dan ditunggu hingga kering. Setelah kering, cawan petri dan pipet ukr dibungkus dengan kertas krap, sedangkan tabung reaksi ditutp dengan karet penutup, terutama apabila sterilisasinya menggunakan autoclave. Tetapi apabila menggunakan oven, peralatan tidak perlu dibungkus kertas, cukup dimasukkan kedalam tabung stainless, kemudian ditutup rapat dan dislotip dengan slotip tahan panas. Peralatan tersebut disusun dalam autoclave kemudian ditutup rapat. Sterilisasi dengan autoclave berjalan 15 menit pada suhu 1210C dengan tekanan 1 kg/cm3. Sedangkan menggunakan oven berjalan 5 jam pada suhu 1050C.

b.        Sterilisasi Media Kultur
Sterilisasi media kultur dapat dilakukan dengan autoclave. Media yang akan disterilisasi mula-mula dimasukkan kedalam botol atau erlenmayer bersih. Selanjutnya botol atau erlenmayer tersebut ditutup dengan kapas atau gabus, dan diatasnya ditutup kembali dengan aluminium foil dan diikat dengan slotip. Selanjutnya botol atau erlenmayer yang telah berisi media tersebut disusun rapi dalam autoclave dan siap untuk disterilisasi.

c.         Sterilisasi Alat
Alat-alat yang cukup besar sehingga tidak dapat masuk kedalam autoclave atau oven, dapat disterilkan dengan cara kimia, misalnya dengan HCl atau chlorine. Peralatan kultur yang sudah dicuci bersih direndam dengan HCl 10% selama 2 hari, kemudian dibilas dengan air tawar. Selain itu dapat dengan merendam peralatan pada larutan chlorine 150 mg/l selama 12-24 jam, kemudian dinetralisir dengan 40-50 mg/l Na-Thiosulfat dan dibilas dengan air tawar hingga bau chlorine hilang.

d.        Sterilisasi Media tidak Tahan Panas
Media pengkaya yang tidak tahan panas, misalnya vitamin, disterilisasi dengan penyaringan. Saringan yang digunakan 2,5-3 mikron. Media tersebut selanjutnya ditempatkan dalam wadah yang steril dan ditutup rapat dengan aluminium foil.

e.         Sterilisasi pada Kultur semi Out-door dan Out-door/missal
Untuk kultur missal sterilisasi alat dan bahan dilakukan dengan cara chlorinisasi karena cara ini lebih cepat, ekonomis, dan secara tekhnis mudah dilaksanakan. Cara chlorinisasi tersebut adalah sebagai berikut: bak dicuci bersih dengan menggunakan sabun/detergen lalu disterilkan dengan larutan Na-Thiosulfat 40-50 mg/l. Terakhir bak dibilas dengan air tawar sampai bersih dan bau chlorine hilang.
Air sebagai media kultur juga dapat disterilkan dengan menggunakan chlorine. Air laut yang akan digunakan sebelumnya disaring, lalu disterilkan dengan chlorine 60 mg/l selama minimal 1 jam dan dinetralisir dengan larutan Na-Thiosulfat 20 mg/l untuk menghilangkan sisa-sisa chlorine dalam air laut hingga bau chlorine hilang. Air yang telah steril disimpan dalam bak yang tidak tembus sinar dan ditutup dengan penutup tidak tembus sinar untuk mencegah pertumbuhan lumut atau phytoplankton lain yang tidak dikehendaki.

TEKHNIK BUDIDAYA Chlorella sp
Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kultur Chlorella sp, yaitu koleksi dan isolasi.
1.         Koleksi
Koleksi bertujuan untuk mendapatkan species Chlorella sp dari alam untuk dikultur secara murni. Pengambilannya dialam dapat menggunakan plankton net. Chlorella sp yang diperoleh dapat dikembangkan dengan menggunakan pupuk
2.         Isolasi
Ada beberapa metode untuk mengisolasi phytoplankton, khusus untk fitoplankton jenis Chlorella sp menggunakan metode isolasi goresan. Metode ini sangat baik digunakan untuk mengisolasi phytoplankton sel tunggal seperti Chlorella sp.

Metode ini menggunakan media agar-agar. Agar-agar sebanyak 1,5% dicampur dengan air laut pada salinitas tertentu, kemudian dipanaskan hingga mendidih dan larut sempurna berwarna kuning jernih.
Selama proses pemanasan harus diaduk terus menerus untuk mencegah terjadinya kerak atau penggumpalan. Setelah pemanasan selesai, larutan agar-agar tersebut kemudia diangkat dan ditunggu sampai agak dingin baru dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk Allen Miquel (untuk sekala laboratorium) dengan komposisi KNO3 20,2 gr, Akuades 100 gr, sedangkan untuk skala massal ukuran 1-4 ton digunakan pupuk teknis yang terdiri dari: KNO3 100 gr/ton, FeCl3 3 gr/ton, dan NaH2PO4. 10 H2O 10 gr/ton dan sesuai dosis yang diinginkan.

Larutan agar-agar yang telah dipupuk disterilisasi dengan autoclave (121 0C, 15 menit) atau pengukusan sekitar 30 menit. Bahan-bahan pengkaya yang tidak tahan panas harus disterilkan secara terpisah. Angkat dan biarkan agak dingin, sekitar 50 0C. Selanjutnya dituangkan kedalam cawan petri yang sudah steril dengan tebal kurang lebih 3 mm atau kedalam tabung reaksi yang sudah steril dalam posisi miring. Agar miring pada tabung reaksi tersebut biasa digunakan untuk penyimpanan isolat. Selanjutnya dituang hingga membeku.

Setelah media agar membeku, kemudian ditulari bibit Chlorella sp yang berasal dari air sampel dengan cara goresan menggunakan ose yang telah dibakar dengan pembakar spritus. Bibit digoreskan dalam media agar-agar pada cawan petri dengan pola zig-zag. Untuk mencegah kontaminasi oleh mikroorganisme lain maka cawan petri ditutup atau disegel dengan isolasi.

Untuk penumbuhan, cawan petri atau tabung reaksi tersbeut diletakkan pada rak kultur serta disinari dengan dua buah lampu TL 40 watt secara terus menerus. Cawan petri diletakkan dalam posisi terbalik. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya proses pengeringan akibat penyinaran dengan lampu TL secara terus menerus atau terjadinya penetesan embun dari bagian tutup cawan petri ke media agar-agar.

Setelah beberapa hari inokulum akan tampak tumbuh pada goresan media agar-agar, tetapi masih dicampur dengan phytoplankton jenis lain, kemudia dilakukan penggoresan berulang-ulang pada media agar-agar yang sama sampai diperoleh bibit yang benar-benar murni. Isolate yang diinkubasi dalam ruangan ber AC untuk menjaga kestabilan suhu 25-27 0C. isolate juga dapat dipindah kecawan petri yang lain atau pada agar miring dalam tabung reaksi apabila diperlukan.

Hasil kultur murni dari media agar-agar dikembangkan pada media cair dalam tabung reaksi dengan volume media kultur 10 ml. bibit diambil dengan jarum ose yang steril kemudia dipindah ke tabung rekasi decara aseptis. Sebelumnya Chlorella sp yang tumbuh pada permukaan agar-agar diperiksa lebih dahulu dengan cara memindahkan phytoplankton pada gelas objek yang telah diberi media kultur 1 tetes. Selanjutnya dilakukan pengamatan dibawah mikroskop. Apabila phytoplankton yang diamati sesuai dengan keinginan kemudian dilakukan inokulasi pada tabung reaksi yang berisi air laut yang telah diperkaya oleh unsure hara dan ditumbuhkan. Larutan diaduk dengan cara dikocok sesering mungkin selama masa kultur. Apabila bibit pada tabung reaksi tersebut telah tumbuh dengan baik, maka phytoplankton tersebut (Chlorella sp) dapat dikembangkan kedalam botol-botol kultur yang lebih besar.

 PERTUMBUHAN PLANKTON (Chlorella sp)
Pertumbuhan phytoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Hingga saat ini kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan phytoplankton dalam kultur pakan alami. Ada empat fase pertumbuhan, yaitu:
1.         Fase Istirahat
Sesaat setelah penambahan inokulum kedalam media kultur, populasi tidak mengalami perubahan. Ukuran sel pada saat ini pada umumnya meningkat. Secara fisiologis phytoplankton sangat aktif dan terjadi proses sintesis protein baru. Organism mengalami metabolism, tetapi belum terjadi pembelahan sel sehingga kepadatan sel belum meningkat.
2.         Fase Logaritmik/Eksponsial
Fase ini diawali oleh pembelahan sel dengan laju pertumbuhan tetap. Pada kondisi kultur yang optimum, laju pertumbuhan pada fase ini mencapai maksimal.
3.         Fase Stasioner
Pada fase ini, pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandingkan dengan fase logaritmik. Pada fase ini laju reproduksi sama dengan laju kematian. Dengan demikian penambahan dan pengurangan jumlah phytoplankton relative sama ata seimbang sehingga kepadatan phytoplankton tetap.
4.         Fase Kematian
Pada fase ini laju kematian lebih cepat daripada laju reproduksi. Jumlah sel menurun secara geometric. Penurunan kepadatan phytoplankton ditandai dengan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi temperature, cahaya, pH air, jumlah hara yang ada, dan beberapa kondisi lingkungan yang lain.

PENGHITUNGAN KEPADATAN PHYTOLANKTON (Chlorella sp)
Penghitungan kepadatan plankton digunakan sebagai salah atu ukuran mengetahui pertumbuhan phytoplankton, mengetahui kepadatan bibit, kepadatan pada awal kultur, dan kepadatan pada saat panen. Kepadatan phytoplankton dapat dihitung dengan menggunakan Hemacytometer.

Hemacytometer banyak digunakan untuk menghitung sel-sel darah. Untuk dapat mempergunakan alat-alat ini perlu alat yang lain yaitu mikroskop dan pipet tetes. Untuk memudahkan penghitungan phytoplankton yang diamati biasanya menggunakan alat bantu hand counter.

Hemacytometer merupakan suatu alat yang terbuat dari gelas yang dibagi menjadi kotak-kotak pada dua tempat bidang pandang. Kotak tersebut berbentuk bujur sangkar dengan sisi 1 mm, sehingga apabila ditutup dengan gelas penutup volume ruangan yang terdapat diatas bidang bergaris adalah 0,1 mm atau 10-4 ml. Kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm tersebut dibagi lagi menjadi 25 buah kotak bujur sangkar, yang masing-masing dibagi lagi menjadi 16 kotak bujur sangkar kecil.

Cara penghitungan kepadatan phytoplankton dengan Hemacytometer adalah sebagai berikut: Hemacytometer dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu dengan tissue. Kemudian gelas penutupnya dipasang. Phytoplankton yang akan dihitung kepadatannya diteteskan dengan menggunakan pipet tetes pada bagian parit yang melintang hingga penuh. Penetesan harus hati-hati agar tidak terjadi gelembung udara dibawah gelas penutup. Selanjutnya Hemacytometer tersebut diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100 atau 400 kali dan dicari bidang yang berkotak-kotak. Untuk mengetahui kepadatan phytoplankton dengan cara menghitung phytoplankton yang terdapat pada kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm. apabila jumlah phytoplankton yang didapat adalah N, maka kepadatan phytoplankton adalah N x 104 sel/ml.

PEMANENAN
Berdasarkan pola pertumbuhan phytoplankton, maka pemanenan phytoplankton harus dilakukan pada saat yang tepay yaitu pada saat phytoplankton tersebut mencapai puncak populasi. Apabila pemanenan phytoplankton terlal cepat atau belum mencapai puncak populasi, sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organism pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak larva kebanyakan dengan cara memindahkan massa air kultur phytoplankton. Sedangkan apabila pemanenan terlambat maka sudah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya turun. Khusus untuk phytoplankton jenis Chlorella sp pemanenan dilakukan pada saat 4 hari karena phytoplankton tersebut mencapai puncak populasi pada saat hari ke 4 setelah pembibitan maka sebaiknya segera dipanen.

Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan dengan berbagai macam alat sesuai dengan kebutuhan dan jumlah phytoplankton. Adapun peralatannya antara lain : centrifuge, plate separator, dan berbagai macam filter. Pemanenan dapat dilakukan secara total atau sebagian. Apabila panen dilakukan sebagian, phytoplankton yang telah siap dipanen diambil sebanyak 2/3 bagian. Kemudian kedalam sisa phytoplankton yang 1/3 bagian tersebut ditambahkan air laut dengan salinitas tertentu (10-20 ppt). selanjutnya dilakukan pemupukan sekitar ½ dosis. Panen sebagian ini sebaiknya dilakukan tidak lebih dari tiga kali pada bak budidaya yang sama, setelah itu harus dilakukan panen total.

PASCA PANEN
Chlorella sp yang telah dipanen memiliki banyak peranan yang sangat penting, baik sebagai pakan alami larva terutama larva ikan kakap putih, ikan kakap merah, dan ikan kerapu, juga sebagai green water pada pemeliharaan berbagai jenis larva. Bahkan kini banyak digunakan dalam system pengolahan dan penanggulangan air limbah. Chlorella sp ternyata sudah dikonsumsi manusia dan sangat mudah didapatkan dipasaran dalam berbagai bentk, seperti tablet, sirup, permen, shampoo, sabun, handbody lotion, dan lain-lain.

Hasil pemanenan dapat disimpan dalam bentuk kering didapat dari hasil penjemuran phytoplankton konsentrat dibawah sinar matahari.penjemuran dilakukan dalam kotak penjemuran bertenaga surya yang dapat menghasilkan udara panas dengan suhu sekitar 70 0C. Dengan suhu ini komposisi gizi phytoplankton terutama protein tidak rusak. Chlorella sp yang kering yang didapat disimpan dalam botol-botol yang tertutup rapat. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan menggunakan oven. Phytoplankton freeze (beku) didapat dari hasil penyimpanan phytoplankton yang telah dipadatkan didalam freezer.

PEMELIHARAAN STOK MURNI
Untuk memelihara kesinambungan kultur phytoplankton perlu dilakukan pemeliharaan stok murni. Stok murni dapat disimpan dalam media agar-agar dan media cair serta disimpan dalam lemari pendingin. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi, tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari. Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kultur dengan pencahayaa lampu TL. Biakan stok murni ini harus diganti seminggu sekali. Penyimpanan stok murni dalam lemari pendingin dapat bertahan sampai satu bulan, dan sebaiknya segera digunakan dan diganti dengan stok murni yang baru.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Hutagalung & Sutomo, 1983
Alam Ikan 2 : Boney ( 1989 
Alam Ikan 3 : Sachlan, 1982
Alam Ikan 4 : Vashista, 1979
Alam Ikan 5 : Volesky, 1970
Alam Ikan 6 : Hirata, 1981
Alam Ikan 7 : Presscott (1978
Alam Ikan 8 : hase, 1962; Kumar and Singh, 1981

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat




Cara Budidaya Kutu Air

Cara Ternak Kutu Air adalah  membudidayakan kutu air guna untuk mendapatkan jumlah masal sesuai dengan kehendak pemilik, untuk memenuhi kebutuhan gizi larva ikan. Kutu air pada dasarnya merupakan pemakan zat renik di air. Kutu air sendiri tidak bertelur melainkan melahirkan embrio kecil calon kutu air. Anda dapat memperoleh kutu air dengan membelinya di pedagang ikan hias. ubdate september 2016

kutu air menggunakan kol, ragi, kotoran ayam, green water
Kutu air merupakan jenis makanan yang hampir sama dengan budidaya artemia, walaupun berbeda cara budidayanya tetapi bentuk nya hampir sama, tetapi Kutu air lebih cenderung untuk ikan air tawar, sedangkan artemia untuk ikan laut atau payau, walaupun sebenarnya sama saja untuk pemberian pakan. Tergantung tempat anda dalam menemukan organisme tersebut apakah mudah atau sulit.


Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengkultur kutu air. Jika diperhatikan semua metode hampir sama. Hanya saja media dan pengaplikasikannya yang berbeda.

Baca Juga : Habitat dan Nilai Gizi Kutu air
Kandungan Gizi Kutu Air sebagai Pakan Alami

Kutu air jenis Moina mulai menghasilkan anak setelah berumur empat hari dengan jumlah anak selama hidup sekitar 211 ekor. Setiap kali beranak rata-rata berselang 1,25 hari, dengan rata-rata jumlah anak sekali keluar 32 ekor/hari, sedangkan umur hidup Moina adalah sekitar 13 hari.


Jenis HewanProteinLemak
Moina37,38%13,29%
Daphnia 42,65%8%

Jenis kutu air cocok untuk pakan larva ikan umur 2-6 hari,Moina dikenal dengan nama "kutu air". Jenis kutu ini mempunyai bentuk tubuh agak bulat, bergaris tengah antara 0,9 - 1,8 mm. Moina biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran hewan, Moina akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 - 9.

Kutu air  Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Daphnia mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi. Jumlah setiap kali beranak rata-rata sebanyak 39 ekor. Umur hidup Daphnia 34 hari, sehingga selama hidupnya mampu menghasilkan anak kurang lebih 558 ekor.

Perkembangbiakan kutu air jenis Daphnia membutuhkan oksigen, kekurangan oksigen akan membentuk hemoglobin, kondisi ini daphnia akan berwarna merah yang akan menyebabkan kematian

Perbedaan moina dengan daphnia, Moina ukuran lebih kecil cocok untuk ikan hias seperti ikan tetra neon, cardina, zebra, amandae, cupang dan ikan ikan hias kecil. Moina umurnya lebih  pendek lebih kuat terhadap oksigen
sedangkan daphnia umur lebih lama, ukuran lebih besar cocok untuk anakan ikan konsumsi, ikan lele, nila, gabus, dan sebagainya.
Efektif untuk umur anakan ikan 2-10 hari. lebih lama bisa tapi kebutuhan makan lebih banyak. 

Cara budidaya kutu air adalah sebagai berikut :
Cara pertama (kotoran dan ampas kelapa)
Bahan yang diperlukan untuk pengkulturan. kita harus menyiapkan bahan serta alat yang akan kita gunakan dalam pengkulturan budidaya kutu air, meliputi:
  • Bak atau ember plastik yang berukuran lebar
  • Pupuk sebagai pakan kutu air (kotoran ayam/kambing dan ampas parutan kelapa)
  • Aerator untuk menjaga kandungan oksigen terlarut dalam air
  • Bibit kutu air sebanyak dua gelas

Cara Melakukan pengkulturan. 
kita siapkan:
  • Isi bak atau ember dengan air secukupnya. Patut diketahui bahwa agar diperoleh kutu air diperlukan media dengan penampang yang lebar bukan tinggi.
  • Lakukan pemupukan dasar dengan cara menebarkan kotoran ayam. Biarkan selama beberapa hari sampai warna air mulai menghijau pertanda alga mulai tumbuh.
  • Letakkan media di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung atau gunakan penutup seperti triplek atau seng.
  • Masukkan starter kutu air dan berikan aerasi dengan kekuatan udara yang kecil. Tunggu sampai satu pekan maka anda akan puas dengan hasilkerja keras anda.
Untuk menjaga kuantitas kutu air maka dilakukan pemupukan rutin setiap dua pekan dengan mencampurkan kotoran dengan ampas kelapa. Peras dengan kain hingga mengeluarkan air sebagai pakan kutu air.

Cara Budidaya Kutu air yang tipe kedua (susu)
Sebenarnya cara hampir mirip hanya menggunakan media yang berbeda.
Bahan serta alat yang akan kita gunakan dalam pengkulturan kutu air, meliputi:
  • Bak atau ember plastik yang berukuran lebar
  • Aerator untuk menjaga kandungan oksigen terlarut dalam air
  • Bibit kutu air sebanyak dua gelas
  • Susu bubuk dan teh sebagai pakan kutuair
Setelah bahan lengkap mulai dilakukan pengkulturan:
  • Isi bak atau ember dengan air secukupnya. Patut diketahui bahwa agar diperoleh kutu air diperlukan media dengan penampang yang lebar bukan tinggi.
  • Lakukan pemupukan dasar dengan cara menebarkan susu bubuk sebanyak satu sendok dan segelas seduahan teh untuk satu ember besar. Biarkan selama beberapa hari sampai warna air mulai berubah kecoklatan pertanda alga mulai tumbuh.
  • Letakkan media di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung atau gunakan penutup seperti triplek atau seng.
  • Masukkan starter kutu air dan berikan aerasi dengan kekuatan udara yang kecil. Tunggu sampai satu pekan maka anda akan puas dengan hasilkerja keras anda.
Untuk menjaga kuantitas kutu air maka dilakukan pemberian pakan secara rutin tiap minggu dengan menaburkan sesendok susu bubuk.
Cara Budidaya Kutu Air tipe ketiga (air comberan)
  • Cara yang terakhir yang saya tawarkan cukup mudah. Ambil air selokan alias comberan semau anda. Usahakan angkat bersama lumpurnya. Masukkan ke dalam bak dan tuang starter kutu air ke dalamnya. Diamkan beberapa hari dan lihat hasilnya.

Ubdate Cara Budidaya kutu Air ke empat menggunakan Air bekas kolam Ikan
  • Air bekas kotoran ikan mengandung banyak sekali senyawa yang dapat dijadikan makanan kutu air, seperti bakteri apalagi jika air berwarna hijau. Akan mempercepat pertumbuhan kutu air. 
 Cara Budidaya Kutu Air ke lima menggunakan Green water
  • cara ini sedikit sulit karena kita harus menyediakan green water sebagai pakan kutu air, green water tersebut dapat dilakukan dengan melakukan produksi masal menggunakan bahan tertentu.  Green water ini berisi Alga biru hijau sejatinya adalah bakteri (Cyanobacteria).
Cara Budidayaka Kutu air Ke enam  Menggunakan Ragi
  • masukan ragi roti (fermip*n) seperempat sendok teh ke dalam air,lalu aduk sampai larut
  • campurkan daun kol/kentang yang sudah di hancurkan (Jangan terlalu banyak)
  • biarkan selama 3 hari,agar mikroba/protozoa berkembang biak,gunakan aerator agar kadar oksigen dalam air tetap terjaga
  • setelah 3 hari dapat di masukan bibit kutu air
Keuntungan menggunakan ragi sebagai pakan yaitu mudah diperoleh dan tidak merepotkan saat mempersiapkannya untuk kultur. Terdapat sedikit kerugian karena daphnia harus mengkonsumsi lebih banyak (berat) ragi dibandingkan dengan alga untuk mendapatkan nilai makanan yang sama

Cara Budidaya Kutu air Ke tuju menggunakan soy flour
Syarat ini adalah jika makanan dalam kolam budidaya kutu air sudah menipis, ini hanya penambahan makanan pada kolam
  • pertama kolam sudah ada kutu air dimana air sudah berwarna hijau. 
  • tambahkan soy flour. Menggunakan soy flour adalah sejenis tepung kedelai, 
  • Soy flour lalu di blender dengan air. masukkan ke dalam kolam budidaya
  • Guna soy flour untuk pakan bakteri agar berkembang lebih cepat
  • Jadi soy flour -> dimakan bakteri, bakteri bertambah -> dimakan kutu air
  • Begitulah prosesnya.
Cara budidaya Super masal kutu air
cara ini cukup mudah jika anda mau ternak kutu air secara masal sediakan :
  • Kolam besar bisa semen atau terpal
  • Kondisi terkena cahaya matahari
  • Siapkan kotoran ayam yang sudah kering
  • Masukkan dalam jaring, (sebaiknya jangan karung mudah hancur)
  • Kotoran yang sudah dimasukkan dalam jaring tutup rapat
  • masukkan dalam kolam
  • Masukkan kutu air. biarkan berkembang biak
  • Pemupukan dapat dilakukan tiap bulan

Catatan : kotoran sebaiknya menggunakan kotoran yang kering, kotoran ayam lebih baik biasanya kalau pakai kotoran ayam bekas budidaya masal, tercampur dedak jadi lebih bagus. Fungsi kotoran di masukkan dalam wadah seperti jaring atau kain agar, kotoran tiap mencemari kolam, sehingga mudah dibersihkan. Air kolam dalam waktu seminggu biasanya berubah menjadi hijau.

Bingung Panen Spirulina, ini cara pengolahannya


Produksi spirulina di dapatkan pada hasil budidaya yang sebelumnya saya bahas, cara budidaya spirulina menggunakan akuarium 60 cm. Setelah 1-2 bulan hasil spirulina mulai dapat dipanen.

Proses - Proses Pengolahan Spirulina adalah sebagai berikut :
1. Budidaya (penumbuhan ganggang spirulina)
2. Pemanenan spirulina
3. Pencucian spirulina
4. Pengeringan
5. Penyimpanan Produk

Untuk menyaring atau mengambil spirulina ada beberapa teknik. Teknik yang diambil dari beberapa negara dan perusahaan. Berikut teknik cara pengolahan spirulina :

A. Pengolahan Cara pertama

  • Di negara chad Amerika Ukuran spirulina cukup besar dipisahkan dari medium filtrasi budidaya. Pemisahan spirulina dilakukan menggunakan penyaring sederhana (Alam Ikan 1)
  • Pengeringan dapat dilakukan dibawah sinar matahari atau menggunakan "spray" atau menggunakan Roller (Alamikan 1)
  • Penyimpanan spirulina cukup mudah karena tidak mudah terfermentasi


B. Pengolahan Cara Kedua
Spirulina pada saat proses pengeringan dan tableting menggunakan teknologi tingkat tinggi yaitu dengan alat "ocean chill Drying & Cold Tableting


C. Pengolahan Cara Ketiga
Menurut (Alam Ikan 2) Pengolahan ini bertujuan untuk membuat dalam bentuk bubuk dengan metode estraksi minyak, sehingga antara metode osmotic dan perkolasi, sehingga dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan baku pembuatan biodisel. Proses osmotic dilakukan untuk memecah sel dan mendapatkan minya yang terkandung didalamnya.
Proses pengolahan menggunakan :

  • variabel pelarut asam (HCL) ,
  • variabel konsentrasi masing-masing (0,5;1,5;3;5 M)
  • variabel waktu perendaman 60, 90, 120,150, 180 menit, 360 menit
  • variabel volume pelarut yaitu 75 ml, 150 ml, dan 200 ml dilakukan pada suhu 30oC,


Penyaringan pertama dicuci dengan pelarut dan molaritas yang ditambah filtrat dan dilanjutkan dengan proses pemisahan menggunakan aquadest dan n-hexane. Kemudia dua fase tersebut dilanjutkan dengan distilasi pada suhu 69 derajat celcius.

Proses Perkolasi ekstraksi dilakukan menggunakan :

  • satu unit alat ekstraksi (labu leher tiga dilengkapi dengan kondensor dan termometer) dengan pelarut etanol 95% pada suhu operasi 30oC
  • Variabel waktu perendaman 3 jam dan 6 jam,
  • variabel volume pelarut etanol 95% sebanyak 75 ml, 150 ml, 200 ml,
  • residu dari filtrat pertama dicuci dengan pelarut etanol 2x25 ml kemudian ditambahkan pada filtrat pertama dan dilanjutkan dengan proses pemisahan dengan menambahkan aquadest dan n-hexane sehingga terbentuk dua fasa kemudian dipisahkan dengan distilasi pada suhu 69oC.
  • Pada hasil penelitian didapatkan yield minyak yang paling optimal didapat adalah dengan pelarut etanol 95% dengan kadar air pada fase hidroalkoholik 40,91% yield minyak yang didapatkan sebesar 77,24%


D. Pengolahan cara keempat
Pengolahan ini di lakukan oleh perusahaan Ultra Trend Biotech dan Cyanotech Company, yang melakukan budidaya jenis Spirulina Platensis.

  • Budidaya dilakukan di dalam kolam, kolam tersebut membutuhkan 10 galon bibit spirulina bervolume 19 liter.
  • Cara budidaya ini menggunakan 2 tahap tahap pertama budidaya di dalam galon volume 19 liter, kemudian budidaya didalam kolam ukuran tinggi 60 cm, lebar 6 cm, dan panjang 100 meter. Dengan suhu 20 derajat celcius.
  • Karena menggunakan jenis spirulina platensis, makan menggunakan air laut dikedalaman 6000 meter.
  • Cara panen, air kolam di pompa dan dimasukkan ke penyaring.
  • Kemudian di keringkan sisa air dikembalikan ke kolam budidaya
  • Pemanasan menggunakan "Spray drier"
  • Panas yang disemprotkan mesin mengubah bentuk spirulina, dari cairan menjadi bubuk kering.
  • Teknologi lain diaplikasikan menggunakan "ocean chill drying" Proses pengeringan beku itu menjamin tidak terjadinya oksidasi terhadap karoten dan asam lemak spirulina. Produk bisa bertahan lebih dari 5 tahun.

D. Cara pengolahan keempat

  • Spirulina yang sudah melalui proses sampai menjadi bubuk kering.
  • Dimasukkan kedalam ruang penyimpanan berpendingin.
  • Pengolahan bubuk spirulina, dijadikan dan dimasukkan ke dalam kapsul.
  • Ada juga yang di buat menjadi tablet.
  • Dikemas dalam botol dan kardus.

E. Cara pengolahan kelima

  • Spirulina yang dibudidayakan dengan tujuan untuk menambah gizi keluarga
  • Pemanenan spirulina disaring dengan cara sederhana menggunakan kain dsb. Lakukan proses pencucian menggunakan aquades, kemudian dilanjutkan air panas.
  • Kemudian bisa dimakan bersama buah-buahan, roti dan sebagainya.


F. Cara pengolahan yang lainnya
a. Bubuk spirulina dengan cara menggiling kepingan spirulina (spirulina yang telah dikeringkan dengan cara dijemur atau menggunakan oven).
b. Menambahkan spirulina pada yoghurt, (kapsul spirulina di campur pada proses akhir pembuatan yoghurt)
c. Spirulina Masker, (Kapsul spirulina 1-2 kapsul, masukkan air hangat sedikit sampai kental)
d. Silakan berkreasi

Demikian cara pengolahan hasil panen spirulina, jika masih bingung silakan lihat video dibawah ini tentang cara pemanenan spirulina dan dapat langsung dimakan.



Explanation :
Alam Ikan 1 : Suhartono 2000
Alam Ikan 2 : Riza, Elfera Y., dan Danang Harimurti W.  2009

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat