sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pengoperasian Jaring Gill Net Permukaan dan Dasar

Cara Pengoperasian Jaring Gill Net Permukaan dan Dasar
Istilah gill net berdasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gill net terjerat di sekitar operculumnya pada mata jaring. Gill net sering juga disebut sebagai “jaring insang”. Dalam bahasa jepang, gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berarti tertangkapnya ikan-ikan pada gill net, ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”.  Di indonesia, penanaman gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutnya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring karo, jaring udang, dan sebagainya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang bayeman), dan sebagainya


Jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah satu jenis alat penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana mata jaring dari bagian utama ukurannya sama, jumlah mata jaring ke arah panjang atau ke arah horisontal (Mesh Length (ML)) jauh lebih banyak dari pada jumlah mata jaring ke arah vertikal atau ke arah dalam (Mesh Dept (MD)), pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung (floats) dan di bagian bawah dilengkapi dengan beberapa pemberat (sinkers) sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan memungkinkan jaring insang dapat dipasang di daerah penangkapan dalam keadaan tegak

Warna jaring pada gill net harus disesuaikan dengan warna perairan tempat gill net dioperasikan, kadang dipergunakan bahan yang transparan seperti monofilament agar jaring tersebut tidak dapat dilihat oleh ikan bila dipasang diperairan 

Klasifikasi Gill Net
jaring insang dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu berdasarkan jumlah lembar jaring utama dan cara pemasangan tali ris. Klasifikasi berdasarkan jumlah lembar jaring utama ialah sebagai berikut:
1.  Jaring insang satu lembar (Single Gill Net)
  • Jaring insang satu lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari hanya satu jaaring, tinggi jaring ke arah dalam atau mesh depth dan ke arah panjang atau mesh length disesuaikan dengan target tangkapan, daerah penangkapan, dan metode pengoperasian.

2.  Jaring insang double lembar (Double Gill Net atau Semi Trammel Net)
  • Jaring insang dua lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari dua lembar jaring, ukuran mata jaring dan tinggi jaring dari masing-masing lembar jaring, bisa sama atau berbeda antara satu dengan yang lainnya.

3.  Jaring insang tiga lembar (Trammel Net)
  •  Jaring insang tiga lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari tiga lembar jaring, yaitu dua lembar jaring bagian luar (outter net) dan satu lembar jaring bagian dalam (inner net).

kontruksi dari cara pemasangan tali ris, jaring insang dibagi ke dalam 4 (empat) jenis yaitu:
  1. Pemasangan jaring utama bagian atas dengan tali ris atas dan jaring utama bagian bawah dengan tali ris bawah disambungkan secara langsung.
  2. Jaring utama bagian atas disambungkan secara langsung dengan tali ris atas dan bagian jaring utama bagian bawah disambungkan melalui tali penggantung (hanging twine) dengan tali ris bawah.
  3. Pemasangan jaring utama bagian atas dengan tali ris atas disambungkan melalui tali penggantung dan bagian bawah dari jaring utama disambungkan secara langsung dengan tali ris bawah.
  4. Jaring utama bagian atas dengan tali ris atas dan bagian jaring utama bagian bawah dengan tali ris bawah disambungkan melalui tali penggantung.

Penamaan gill net berdasarkan cara operasi ataupun kedudukan jaring dalam perairan maka (Alam Ikan 1)  membedakan antara:
a. Surface Gill Net
  • Pada salah satu ujung jaring ataupun pada kedua ujungnya diikatkan tali jangkar, sehingga letak (posisi) jaring jadi tertentu oleh letak jangkar. Beberapa piece digabungkan menjadi satu, dan jumlah piece harus disesuaikan dengan keadaan fishing ground. Float line (tali pelampung, tali ris atas) akan berada di permukaan air (sea surface). Dengan begitu arah rentangan dengan arah arus, angin dan sebagainya akan dapat terlihat.
  • Gerakan turun naik dari gelombang akan menyebabkan pula gerakan turun naik dari pelampung, kemudian gerakan ini akan ditularkan ke tubuh jaring. Jika irama gerakan ini tidak seimbang, juga tension yang disebabkan float line juga besar, ditambah oleh pengaruh-pengaruh lainnya. Kemungkinan akan terjadi peristiwa the rolling up of gill net yaitu peristiwa dimana tubuh jaring tidak lagi terentang lebar, jaring tidak berfungsi lagi sebagai penghalang/penjerat ikan.

b. Bottom Gill Net
  • Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, sehingga letak jaring akan tertentu. Hal ini sering disebut set bottom gill net. Jaring ini direntangkan dekat dengan dasar laut, sehingga dinamakan bottom gill net, berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan demersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera/bertanda yang diletakkan pada kedua belah pihak ujung jaring.
  • Pada umumnya yang menjadi fishing ground adalah daerah pantai, teluk, muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap dapat berbagai jenis, misalnya hering, cod, flat fish, halbut, mackerel, yellow tail, sea bream, udang, lobster dan sebagainya.

c. Drift Gill Net
  • Sering juga disebut dengan drift net saja, atau ada juga yang memberi nama lebih jelas misalnya ”salmon drift gill net”, atau ”salmon drift trammel net”, dan ada pula yang menerjemahkannya ”jaring hanyut”
  • Drift gill net juga dapat digunakan untuk mengejar gerombolan ikan, dan merupakan alat penangkap yang penting untuk perikanan laut bebas. Karena posisinya tidak ditentukan oleh jangkar, maka pengaruh dari kekuatan arus terhadap tubuh jaring dapat diabaikan. Gerakan jaring bersamaan dengan gerakan arus sehingga besarnya tahanan dari jaring terhadap arus dapat diabaikan.
  • Ikan-ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain saury, mackarel, flying fish, skip jack, tuna, salmon, hering, dan lain-lain.

d. Encircling Gill Net atau Surrounding Gill Net
  • Gerombolan ikan dilingkari dengan jaring, antara lain digunakan untuk menghadang arah lari ikan. Supaya gerombolan ikan dapat dilingkari/ditangkap dengan sempurna, maka bentuk jaring sewaktu operasi ada yang berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, bentuk huruf V atau U, bengkok-bengkok seperti alun gerombolan dan masih banyak jenisnya lagi.
Berikut metode dan cara pengoperasian jaring Gill Net.
 metode yang digunakan dalam pengoperasian gill net adalah sebagai berikut:
Langkah awal yakni mencari daerah fishing ground dan menuju daerah fishing  ground yang telah ditentukan.
Setting atau penurunan jaring gill net yang dimulai dari penurunan pelampung tanda dan jangkar, selanjutnya dilakukan penerunan jaring yang direntangkan.
Immersing atau rentan waktu tunggu kira-kira 2-3 jam.
Hauling atau penarikan jaring dari laut. Penataan jaring untuk mempermudah penggunaan jaring kembali dilakukan sekaligus pada saat hauling.

Konstruksi Gill Net
menyatakan bahwa pada konstruksi umum, yang disebutkan dengan gill net ialah jaring yang berbentuk persegi panjang yang mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan kata lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah diletakkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju ke atas dan sinking force dari sinker diditambah dengan berat jaring di dalam air yang bergerak menuju ke bawah, maka jaring akan terlentang. Detail konstruksi, kedua ujung jaring diikatkan pemberat. 

Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada keduabelah pihak ujung jaring. Karakteristik, gill net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah. Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan.
Semoga Bermanfaat

Zona Laut Berdasarkan Kedalamannya

Tekanan air laut bertambah terhadap kedalaman air laut. Kedalaman air laut biasanya diukur dengan menggunakan CTD (Conductivity, Temperature, Depth) atau echo sounder . Kedalaman yang diukur dengan menggunakan CTD didasarkan pada harga tekanan


Berdasarkan kedalamannya wilayah perairan laut dibagi atas empat zona, yaitu:
1. Zona Litoral
Zona Litoral merupakan wilayah antara garis pasang dan garis surut air laut. Wilayah ini terkadang kering pada saat air laut surut dan tergenang pada saat air laut mengalami pasang. Zona litoral biasanya terdapat di daerah yang memiliki pantai landai.

2. Zona Neritik
Zona Neritik adalah Daerah dasar laut yang mempunyai kedalaman rata-rata kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Contohnya wilayah perairan laut dangkal di Paparan Sahul dan Paparan Sunda di wilayah perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Arafuru, dan Selat Sunda.

3. Zona Batial
Zona Batial adalah Wilayah perairan laut yang memiliki kedalaman berkisar 200 meter – 1.800 meter. Karena sinar matahari sudah tidak dapat menembus zona ini, maka tumbuhan mulai berkurang namun binatang masih banyak terdapat di wilayah laut dengan zona batial.

4. Zona Abisal
Zona Abisal adalah Wilayah perairan laut yang memiliki kedalaman berkisar lebih dari 1.800 meter. Contoh zona abisal adalah Palung Laut Banda (7.440meter) dan Palung Laut Mindanao (10.830 meter).


Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Pakaja (Trap and Guiding Barriers)

Cara Pengoperasian Pakaja

Pakaja adalah alat penangkap ikan yang berbentuk silinder, dioperasikan dengan cara dihanyutkan dan dikhususkan untuk menangkap ikan terbang. Pakaja diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang . Dari pengertian tersebut, dapat dijelaskan lebih lanjut mengenai cara pengoperasian pakaja, sebagai berikut.


Cara Pengoperasian Alat Pakaja
Adapun tahapan dalam pengoperasian pakaja ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut 

  • Pada sekeliling mulut pakaja diikatkan rumput laut atau “gusung/gosek”. 
  • Pakaja disususun dalam 3 kelompok yang satu dengan yang lainnya berhubungan melalui tali penonda (drift line) dan penyusunan kelompok (contoh: misalnya ada ±20 buah bubu): 
  • 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung dihubungkan (diikat) dengan perahu penangkap dan diulur sampai antara 60-150 m. 
  • Kemudian pakaja dibiarkan selama beberapa jam dan untuk proses haulingnya dilakukan dengan menarik tali pada pakaja lalu mengangkat pakaja ke atas perahu.


Hasil Tangkapan Pakaja dan Daerah Pengoperasian Pakaja
Hasil tangkapan alat tangkap pakaja adalah ikan terbang (flying fish) 

Daerah pengoperasian pakaja adalah di perairan yang tidak terlalu dalam. Daerah distribusi pakaja yaitu Makassar

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu Gurita

Bubu gurita adalah alat penangkap gurita yang terbuat dari karet ban . Bubu gurita diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps)  . Berikut cara pengoperasian bubu gurita.

Cara Pengoperasian Bubu Gurita
Cara pengoperasian dari bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan pengoperasian bubu lainnya. Hanya saja dalam pengoperasian bubu gurita tidak memakai umpan. Cara pengoperasiannya adalah dengan memasang bubu gurita di perairan yang diperkirakan banyak terdapat target tangkapan. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikannya sesuai dengan pengalaman, tapi umumnya antara 2-3 hari.  


Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan Bubu Gurita

  • Kapal : Perahu motor digunakan sebagai alat transportasi nelayan  .
  • Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu gurita dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas memasang bubu gurita dan mengambil hasil tangkapan dari bubu gurita (Alam Ikan 7).
  • Alat Bantu : Alat bantu pada pengoperasian bubu gurita yaitu gardan yang bisa dibuat dari bambu, kayu atau besi yang berfungsi untuk membantu dalam proses setting dan hauling bubu gurita .

Daerah Pengoperasian Bubu Gurita dan Hasil Tangkapan Bubu Gurita
Daerah pengoperasian bubu gurita yaitu dasar perairan yang berlumpur atau berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 m  .

Hasil tangkapan bubu gurita adalah gurita jenis Ocellated actopus, yaitu: Octopus oceltus, Octopus vulgaris dan Octopus dofleins  .
Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu Lipat (Trap and Guideing Barriers)

Cara Pengoperasian Bubu Lipat

Bubu lipat adalah alat tangkap yang dikhususkan untuk menangkap kepiting bakau (Scylla serrata), terbuat dari jaring berbentuk persegi atau kotak dengan besi sebagai rangka dan memiliki dua buah pintu sebagai tempat masuk kepiting, dapat dilipat apabila tidak sedang dioperasikan . Bubu lipat diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang  . Bubu lipat sangat bermanfaat dalam mendapatkan hasil tangkapan yang banyak, sehingga perlu dikerahui cara pengoperasiannya. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai cara pengoperasian bubu lipat.

Bubu lipat

Berikut cara pengoperasian Bubu Lipat
Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu lipat ada empat tahap, yaitu sebagai berikut  .


  • Pemasangan umpan. Posisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya. Umpan dipasang di bagian tengah bubu lipat;
  • Pemasangan bubu (setting). Bubu yang telah siap diturunkan ke perairan. Sebagai penanda posisi pemasangan bubu udang dilengkapi dengan pelampung. Hal ini akan memudahkan nelayan menemukan kembali bubunya;
  • Perendaman bubu (soaking). Lama perendaman bubu lipat adalah 2-3 hari, kadang bahkan sampai beberapa hari; dan
  • Pengangkatan bubu (hauling). Proses hauling pada bubu dapat dilakukan dengan setelah perendaman selesai.


Hasil Tangkapan Bubu Lipat dan Daerah Pengoperasian Bubu Lipat
Hasil tangkapan alat tangkap bubu ini, antara lain kepiting bakau (Scylla serrata), udang galah (Macrobracium spp.), ikan kerapu (Epinephelus spp.), ikan sidat (Anguilla mauritiana), mumi bulan (Tachyleus spp.)  .

Daerah pengoperasian bubu lipat yaitu perairan bakau serta perairan karang. Distribusi bubu lipat yaitu di Perairan Sungai Radak, Kecamatan Kubu, Kabupaten Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat  dan jawa.

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu Udang (Shrimp Traps)

Cara Pengoperasian Bubu Udang

Bubu udang adalah alat penangkap ikan yang didesain untuk menangkap udang dan kepiting atau rajungan, berbentuk silinder dengan diameter lingkaran atas lebih kecil daripada diameter lingkaran bawah dan dioperasikan di dasar perairan. Bubu udang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang. Dari pengertiannya, Bubu Udang tentunya sangat bermanfaat. Berikut artikel mengenai cara pengoperasian Bubu Udang.

Bubu udang

Cara Pengoperasian Alat Bubu Udang (Shrimp Traps)
Beirkut cara  pengoperasian bubu udang dalam empat tahap, yaitu sebagai berikut :
  1. Pemasangan umpan. Posisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya. Biasanya umpan dipasang di dalam tempat umpan dan diletakkan di atas mulut bubu udang bagian atas.
  2. Pemasangan bubu (setting). Bubu yang telah siap diturunkan ke perairan baik dengan tangan maupun alat bantu mechanical line hauler. Sebagai penanda posisi pemasangan bubu udang dilengkapi dengan pelampung. Hal ini akan memudahkan nelayan menemukan kembali bubunya.
  3. Perendaman bubu (soaking). Lama perendaman bubu udang adalah 2-3 hari.
  4. Pengangkatan bubu (hauling). Proses hauling pada bubu dapat dilakukan dengan alat bantu. Penggunaan alat bantu akan mempercepat dan mengefisienkan tenaga nelayan selama proses hauling. Setelah bubu sampai di atas kapal, ikan dikeluarkan dan dilakukan penanganan.


Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan Bubu Udang (Shrimp Traps)
  • Kapal : Kapal kecil atau perahu hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan
  • Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu udang dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat bubu, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam bubu udang.
  • Alat Bantu : Alat bantu pada pengoperasian bubu udang yaitu mechanical line hauler, berfungsi untuk membantu menurunkan bubu udang ke dasar perairan tempat bubu akan dioperasikan
  • Umpan : Bubu udang bersifat pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang akan dijadikan target tangkapan mau masuk ke dalam bubu udang. Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam, ada yang memakai umpan hidup atau ikan rucah 


Hasil Tangkapan Bubu Udang (Shrimp Traps) dan daerah pengoperasian 
Hasil tangkapan bubu udang adalah udang penaeid, kepiting (Scylla serrata) dan rajungan (Portunus spp.) 
Daerah pengoperasian bubu udang biasanya di perairan karang atau di antara karang-karang atau bebatuan

Semoga Bermanfaat

Ciri Ikan Segar

Ciri-Ciri Ikan Segar

Ikan merupakan makanan pokok yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini didukung dengan kondisi wilayah Indonesia yang berupa kepulauan. Maka dari itu, ikan banyak dijual di pasar secara bebas. Namun, terkadang ikan yang dijual sudah tidak segar lagi. Maka dari itu, simak artikel berikut ini agar mengetahui ciri-ciri ikan segar.

Ciri- Ciri Ikan Segar
  1. Daging Putih, padat/kenyal, bila ditekan tidak meninggalkan bekas
  2. Sisik Menempel kuat pada kulit
  3. Dinding perut Utuh, elastic
  4. Keadaan Tenggelam di air
  5.  Mata Cerah, bening, cembung, menonjol
  6.  Insang Merah, berbau segar, tertutup lender bening
  7.  Warna Terang , tertutup lender bening
  8. Bau Segar, seperti bau laut (bau khas ikan)


Teknik Pengolahan ikan
  • Pengawetan ikan secara tradisional dapat dilakukan dengan cara pengeringan, pengasapan, penggaraman dan fermentasi.
  • Pengawetan ikan secara modern meliputi pendinginan, pembekuan, pengalengan.
  • Pada umumnya pengolahan ikan di Indonesia masih relatif tradisional, artinya pengolahan yang dilakukan belum banyak menerapkan informasi dari luar yang lebih modern, masih mengikuti generasi yang mewarisinya.
Tujuan pengolahan Ikan
  • Mempertahankan mutu dan kesegaran dari ikan 
  • Menghambat atau menghentikan penyebab terjadinya proses kemunduran mutu, agar ikan tetap segar sampai pada konsumen. 

Pengolahan ikan, dilakukan dengan tujuan untuk menghambat atau menghentikan zat-zat (reaksi enzim) dan pertumbuhan mikroorganisme (mahluk hidup ) yang dapat menimbulkan proses pembusukan pada ikan.
Dasar pengawetan secara umum adalah : Untuk menghambat perkembangan organisme pembusuk dan Menghancurkan organisme pembusuk

Pengolahan tradisional memanfaatkan hasil tangkapan nelayan + 50 % , tetapi jarang menghasilkan produk dengan kualitas baik. sehingga perlu dilakukan evaluasi atau pemberian informasi tentang teknik pengolahan ikan yang lebih baik. berikut ciri - ciri usaha pengolahan tradisional di masyarakat pesisir :
a. Usahanya bersifat rumah tangga
b. Lokasi umumnya dekat dengan sumber bahan baku (daerah pesisir )
c. Skala usaha rata-rata kecil
d. Pengetahuan pengolahan rendah
e. Ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun
f. Modal usaha kecil
g. Peralatan yang digunakan sederhana
h. Sanitasi dan higienis kurang diperhatikan.

\
Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu belut

Cara Pengoperasian Bubu belut

Bubu belut atau bubu paralon adalah alat penangkap belut yang berbentuk silinder dan terbuat dari paralon . Bubu belut diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps). Berikut artikel mengenai cara pengoperasia bubu belut.



Metode Pengoperasian Alat Bubu belut
Pemasangan bubu di perairan bisa dipasang satu demi satu kemudian diuntai atau dipasang dua atau tiga bubu dalam satu ikatan, kemudian dipasang dengan cara diuntai dengan jarak satu dengan yang lainnya antara 5-6 cm. Metode pengoperasiannya adalah dengan memasang bubu baik secara tunggal maupun dipasang secara beruntai di perairan yang diperkirakan banyak terdapat target tangkapan. Pemasangan bubu di perairan bisa dilakukan sebelum matahari terbenam dan diangkat keesokan harinya. Jumlah bubu yang akan dipasang sebaiknya disesuaikan dengan besar kecilnya perahu dan kemampuan orang yang akan mengoperasikannya.

Kelengkapan Penangkapan Ikan Bubu belut
1. Kapal : Perahu tanpa motor atau perahu motor tempel hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan .
2. Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu belut dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat bubu, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam bubu belut.
3. Umpan : Umpan yang dipakai selain berupa umpan hidup yaitu cacing, juga dapat berupa irisan daging ikan atau rucah.

Daerah Pengoperasian Bubu belut dqan Hasil Tangkapan Bubu belut

Daerah pengoperasian bubu belut yaitu perairan yang dasarnya berlumpur, bercampur pasir atau di muara sungai dan danau.

Hasil tangkapan bubu belut adalah belut (Monopterus albus) dan ikan-ikan yang ada di sungai yaitu ikan gabus (Channa striata), ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila (Oreochromis niloticus).

Berikut macam - macam Alat penangkap ikan

1. Alat Penangkap Bubu Udang (Shrimp Traps)
2. Alat Penangkap Bubu Belut
3. Alat Penangkap Bubu Gurita
4. Perangkap dan Penghadang Bubu lipat (Trap and Guideing Barriers)
5. Perangkap dan Penghadang Pakaja (Trap and Guiding Barriers)
6. Alat Tangkap Krendet Menggunakan Jaring Insang

Semoga Bermanfaat