sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pembenihan Ikan Graskap / Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)

Cara Pemijahan Ikan Graskap / Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)
Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR. Ikan ini didatangkan ke Indonesia (Sumatera) pada tahun 1915. Pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.
Ikan Grass Carp atau ikan Koan atau ikan karper rumput merupakan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini memakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp., Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga ikan jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun diperairan umum. Ikan grass carp bisa memakan tanaman dengan jumlah hingga tiga kali total berat badannya. Ketika dewasa, panjang tubuh grass carpbisa mencapai 1,2 meter dengan berat 20 kilogram (kg).
panen budidaya ikan grass carp / graskap
Di alam aslinya, karper hanya mau berpijah di sungai dengan aliran air yang sangat deras. Di Sungai Amur, induk betina karper 60 – 90 cm. bobot antara 5 – 16 kg, dengan umur sekitar 7 – 15 tahun, akan menghasilkan telur antara 200 – 1.600.000 butir. Di kawasan tropis seperti Indonesia, tiap kg. bobot induk betina, akan menghasilkan telur antara 2.000 – 37.000 butir. Hingga semakin besar bobot ikan, akan semakin tinggi pula jumlah telur yang dihasilkan. Dengan diketemukannya teknologi pemijahan buatan menggunakan hormon dari kelenjar hipofisa ikan donor, serta hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin).

Parameter Ikan Grass Carp

SuhupHOksigenJumlah TelurUmur Indukan
26-29 C6-8>22000-37.000 / kg> 3 tahun

Biologi
  • Secara sistematis ikan grass carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cyprinipormes, famili Cyprinidae.
  • Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulat pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir. Ikan grass carp dapat mencapai ukuran panjang maksimal 120cm dan bobot tubuh 20 kg.
  • Induk ikan grass carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg. Pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.
Pemeliharaan Induk
  • Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2. Selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 1% dari berat total populasi dengan berat frekuensi pemberian sebanyak 2 kali per hari.
  • Induk ikan grass carp dapat dipijahkan setelah berumur 1 tahun dengan berat 2 – 2,5 kg.
  • Tanda-tanda Induk matang gonad :
  • Betina : Perut mulai bagian dada sampai ke arah pengeluaran menbesar, bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin agak kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
  • Jantan : Dibandingkan dengan betina bentuk badan relatif lebih langsing, sirip dada bagian atas kasar dan bila perut diurut kearah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma).
Pemijahan
Cara pemijahan ikan grass garp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Induced breeding
  • Pemijahan secara ”Induced breeding” yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan hormon LHRH-a atau ovaprim™.
  • Induk betina disuntik 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi apabila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.
  • Induk jantan disuntik cukup sekali, menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 ml/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.
  • Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, setelah 6 jam dari penyuntikan pertama induki betina diperiksa kesiapan ovulasinya setiap 1 jam sekali, dengan cara diurut secara perlahan.
  • Ikan yang akan memijah biasanya ditandai dengan saling kejar, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin.
  • Setelah tanda-tanda tersebut, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan stripping (pengurutan) yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan di-stripping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9 %) atau cairan Sodium Klorida.
  • Sperma yang telah diencerkan dituangkan kedalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan diaduk secara merata sehingga pembuahan berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang, lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan kedalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang secara maksimal.
Induced spawning
  • Pemijahan secara Induced spawning perlakuannya sama seperti pemijahan Induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
  • Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.
Penetasan Telur
  • Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah untuk memutar air yang berisi telur agar tidak menumpuk. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam pada suhu 26 s/d 29°C.
  • Selain di dalam hapa corong penetasan dapat juga dilakukan di dalam akuarium (40 x 60 x 40) cm yang dilengkapi dengan aerasi. Padat tebar telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 26 s/d 29°C, telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam.
Pemeliharaan Larva
  • Setelah menetas larva di pelihara dalam corong yang sama , namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas di buang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong 4 hari. Apabila telur ditetaskan dalam akuarium , setelah menetas larva bisa dipelihara di akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan ¾ bagian air di buang dahulu dan diisi air yang baru. Larva yang sudah berumur 4 hari bisa langsung di tebar di kolam pendederan, atau di beri pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva dalam akuarium selama 10 hari, air harus di ganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.
Pendederan Pertama
  • Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kelamir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.
  • Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata keseluruh dasar kolam.
  • Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 gr/m2, kemudian diisi air setinggi 40 cm.Setelah 4 hari benih grass carp sudah dapat ditebarkan, sebaik waktu penebaran pada pagi hari atau sore hari. Padat penebaran 100 s/d 200 ekor/m2.
  • Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan di berikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.
Pendederan Kedua
  • Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pendederan pertama. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10 % dari biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari. Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.
Penyakit
  • Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Ikan Sidat

Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu : Anguilla celebensis dan Anguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris dan Anguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguillabicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmorata merupakan jenis yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis.

Ikan Sidat bentuknya mirip belut hanya saja berukuran lebih besar dan memiliki semacam telinga atau sirip di bagian kepalanya, ditambah sirip tipis diatas punggungnya. Sidat termasuk kedalam jenis ikan yang hidup di air tawar dan air laut. Siklus hidupnya yang luar biasa dimulai ketika telur-telur sidat yang terbawa arus ke sungai menetas menjadi larva dan tumbuh menjadi sidat dewasa dan tetap hidup di sungai sampai mencapai usia matang untuk melakukan pemijahan. Saat inilah sidat dewasa akan kembali ke laut dan melakukan pemijahan, dan luar biasanya pemijahan tersebut dilakukan di kedalaman laut hingga mencapai lebih dari 6000 m. Setelah memijah dan bertelur, sidat akan mati. Telur-telur yang jumlahnya bisa mencapai jutaan dalam sekali proses pemijahan itu akan naik ke permukaan laut dan terbawa arus ke sungai lalu menetas disana dan berulanglah siklus hidup ikan sidat tersebut.

Parameter Ikan Sidat

SuhupHSalinitasJumlah TelurUmur Indukan
Perkawinan18 -20 C7-86-7> 4 tahun
Telur23-25 C7-86-73jt-5jt/ kg
Pembesaran25-29 C7-86-7

Perbedaan Jantan dan Betina Ikan Sidat
  • Ikan ini toleran terhadap salinitas, temperatur dan tekanan yang berbeda-beda.”Jenis kelamin bayinya atau dinamakan impun semua berjenis laki-laki. Jadi kita tidak bisa mengetahui kapan ikan sidat berubah berjenis betina,” 
  • Perbedaan fisik antara jantan dan betina dapat terlihat setelah ikan sidat sudah mencapai ukuran dewasa dimana pejantan mempunyai mata lebih lebar dari betina pada ukuran panjang, berat dan usia yang sama.
  • Setelah matang gonad Jantan berumur 3-4 tahun dan betina berumur 4-5 tahun
    Cara Pembesaran Budidaya Ikan Sidat di Kolam
      Secara Umum, pembudidayaan ikan sidat ada 3 tahapan, yaitu :
        1. Tahap Pendederan I,
        2. Tahap Pendederan II
        3. Tahap Pembesaran.
        Adanya tahap budidaya ini dimaksudkan untuk mempercepat laju pertumbuhan ikan sidat. Sampai saat ini belum ada rekayasa teknologi pembenihan ikan sidat. Sehingga stok benih ikan sidat  masih harus mengandalkan hasil tangkapan dari alam.  Benih Ikan sidat ini warnanya masih transparan sehingga disebut glass eel.  Bentuknya sudah panjang mirip ikan sidat tapi dalam ukuran mini.

        Tahap Pendederan I. 
        • Tahap pendederan merupakan tahap pengenalan dan sekaligus adaptasi awal benih ikan sidat dari alam supaya dapat dipelihara dalam ekosistem buatan dan pakan yang homogen atau pakan buatan. Pemeliharan pada tahap ini bertujuan untuk memelihara glass ell sampai menjadi benih ikan sidat berukuran elver. 
        • Setelah tahap pendederan I dilakukan maka elver sudah bisa masuk ke tahap pendederan selanjunya yaitu tahap pendederan II.
        • Glass ell yang dipelihara umumny dari jenis A. bicolor dan A. marmorata. Glass ell untuk jenis A. bicolor berasal dari pantai selatan Jawa sedangkan A. marmorata berasal dari Poso Sulawesi Tengah dan Tatelu. Berat glass ell yang ditebar berukuran 0,17 gr/ekor dengan kepadatan untuk setiap tempat pemeliharaan 6 ekor / liter air. 
        • Penebaran glass ell dilakukan sesegera mungkin setelah glass ell diterima di tempat pemeliharaan. Dirsarankan untuk melakukan transportasi pada malam hari untuk mengurangi stress oleh tingginya suhu lingkungan selama transportasi apabila dilakukan pada siang hari. Sebelum ditebar ke dalam tempat pemeliharaan glass ell harus diaklimatisasi terlebih dahulu.. Perlakuan tersebut bisa dilakukan dengan cara menempatkan plastik packing sehingga mengapung di atas air media pemeliharaan. 
        Tahap Pendederan II 
        • merupakan tahap persiapan untuk menghasilkan sidat ukuran fingerling (10 gr/ekor) dan selanjutnya siap di pelihara pada tahapan pembesaran.
        Tahap Pembesaran
        • Tahapan terakhir dari kegiatan budidaya ini adalah pembesaran. Tahapan pembesaran bertujuan untuk memperoleh ikan sidat ukuran konsumsi (> 200 gr/ekor).
        • Tempat pemeliharaan yang digunakan adalah bak beton dengan dimensi 2 x 5 x 1,8 m3 dengan air media yang digunakan hanya 5 m3. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan sistem aerasi sedang, sistem air mengalir. Air media pemeliharaan berasal dari tandon air sumur artesis yang dialirkan memalui paralon ke dalam bak pemeliharaan. Volume pergantiian air sebanyak 300 % per hari. Pada bagian atas bak ditutupi oleh terpal untuk menjaga suhu air pada kisaran 29 - 31 derajat Celcius .
        • Waktu yang diperlukan di dalam budidaya ikan sidat tergantung ukuran benih yang ditabur. Untuk benih ukuran 200 gram untuk menghasilkan panen ukuran > 500 gram memerlukan waktu maksimal lima bulan.
        • Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan sidat. Sekarang, semakin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan sidat, sebab, budidaya ikan sidat dipastikan menguntungkan.
        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pembenihan Ikan Patin

        Cara Pemijahan Ikan Patin (Pangasius  hypopthalmus)
        Ikan patin (Pangasius  hypopthalmus) merupakan salah satu dari 14 spesies pangasiid yang sudah cukup lama di Indonesia. Pangasius hypopthalmus merupakan introduksi dari Thailand dan menjadi salah satu ikan populer yang dibudidayakan di Indonesia (Slembrouck, J. et all., 2003).

        Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan. Secara garis besar kegiatan ini dibagi menjadi dua, yaitu : kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran. Kegiatan pembenihan umumnya masih dilakukan di Balai benih ikan milik pemerintah dan jarang dilakukan oleh masyarakat.Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu, sedangkan kegiatan pembesaran merupakan kegiatan untuk menghasillkan ikan yang siap dikonsumsi. Media pembesaran ikan patin berbeda-beda sehingga kegiatan persiapan media pembesaran sangat tergantung pada jenis media yang hendak dimanfaatkan.

        Parameter Ikan Patin

        SuhupHOksigenUmur IndukanJumlah Telur
        26-31 C6-8>4>3 Tahun300.000-1.600.000

        Penanganan dan Pemilihan Indukan Ikan Patin

        Pemilihan Ikan Patin Sebaiknya berumur 3 tahun untuk betina dan 2 tahun untuk jantan dengan berat 1,2-2 kg.  Pemilihan induk betina yag telah siap kawin (telurnya sudah matang) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara visual (tanpa alat bantu) dan dengan alat bantu
        Memilih induk dengan cara visual .
        • Induk ikan ditangkap pada bagian pangkal ekor kemudian diangkat dari dalam air.
        • Badan ikan dibalik, lalu perhatikan besar kecilnya perut. Perut yang buncit kearah dubur merupakan salah
        • satu ciri induk yang telah matang gonad.
        • Perhatikan pula warna kulit di sekitar genitalnya. Apabila warnanya kemerahan, berarti telur sudah     matang.
        • Yang terakhir, rabalah bagian perutnya. Apabila lembek, itu juga merupakan salah satu ciri telur sudah  matang gonad

        Memilih induk menggunakan alat bantu
        Alat bantu yang digunakan biasanya berupa selang kanulasi (kateter), cawan kaca bening, larutan transparan, kertas milimeter, blok, lampu senter dan lain-lain.
        • Induk ditangkap pada bagian pangkal ekor, kemudian diangkat dari dalam air.
        • Badan ikan dibalikkan, lalu masukkan selang kateter ke saluran telur dengan hati-hati sampai menyentuh telur.
        • Sedotlah selang tersebut untuk mendapatkan contoh telur. Contoh telur tersebut diukur diameternya, bila memungkan gunakan mikroskop. Jika tidak ada dapat menggunakan kertas milimeter. Induk yang dianjurkan dipilih adalah induk dengan diameter telurnya rata-rata 0,9 mm.
        • Cara lain adalah letakkan contoh telur tersebut di atas cawan kaca bening kemudian diberi larutan transparan. Setelah itu, letakkan cawa di atas lampu pijar atau senter 10 watt. Amati posisi inti telur. Induk yang dipilih bila telurnya sebagian besar (80%) mempunyai inti telur yang sudah berada atau mendekati dinding telur.
        • Adapun pemilihan induk jantan yang siap kawin lebih mudah dilakukan. Caranya dengan melakukan pengurutan dari arah perut kebagian anusnya secara perlahan. Apabila keluar cairan berwarna putih (sperma) berarti ikan tersebut telah siap dikawinkan.
        Perbedaan Indukan Jantan dan Betina Ikan Patin 

        Induk Betina :
        • Umur 3 tahun.
        • Ukuran 1,2 – 2 Kg.
        • Perut mmbesar kearah anus.
        • Perut terasa empuk han halus bila diraba.
        • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
        • Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
        • Kalau disekitar kloaka ditekan, akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya  seragam.
        Induk Jantan :
        • Umur 2 tahun.
        • Ukuran 1,5 – 2 Kg.
        • Kulit perut lembek dan tipis.
        • Bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih.
        • Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.
        1. 6 hari pertama pemeliharaan indukan dengan pemberian makanan protein tinggi
        2. hari ke 7 induk diambil dan dilakukan penyuntikan (suntikan ekstrak kelenjar hipofise)
        3. Dalam pemijahan ikan patin. ikan patin yang sudah disuntik dilepaskan di kolam pembenihan
        4. Setelah 8-12 jam dari penyuntikan kedua induk ditangkap dengan menggunakan kain hapa
        5. Siapkan baskom / Wadah yang bersih untuk tempat telur
        6. Pemijahan denga suntik ini masih harus dibantu lagi dengan penguruta (stripping), yaitu perut diurut pelan-pelan dari bagian depan (dada) ke arah belakang denga menggunakan jari tengah atau jempol.
        7. Perut Induk betina diurut pelan-pelan ke arah belakang dan telur yang keluar ditampung dalam piring beremail tersebut. 
        8. Kemudian telur dan sperma diaduk sampai rata dengan menggunakan bulu ayam selama sekitar 0,5 menit. 
        9. Selanjutnya, ke dalam campuran telur dan sperma tersebut dituangkan air bersih sedikit demi sedikit sambil terus diaduk selama sekitar 2 menit. 
        10. Kemudian air dibuang dan diganti dengan air yang baru dan dibilas. 
        11. Pembilasan dilakukan 2 samapi 3 kali hingga sisa sperma dan sebagian gelembung minyak pada telur berkurang.
        Penetasan Telur Ikan Patin
        • Bak pemijahan dicuci bersih dan dikeringkan.
        • Hapa dipasang untuk menetaskan telur.
        • Kolam diisi dengan air bersih.
        • Untuk menghindari timbulnya jamur maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur,  antara lain dengan emolin atau Blitz-ich dengan dosis 0,05 cc/l. Setelah itu, aerator ditempatkan pada bak penetasan agar keperluan oksigen larva dapat terpenuhi.
        • Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
        • Dalam proses penetasan, telur disebarkan merata kedalam hapa yang telah disiapkan sebelumnya. Telur ini dijaga agar jangan sampai menumpuk karena akan mengakibatkan telur menjadi busuk.Untuk itu telur disebar dengan menggunakan bulu ayam. Di bak penetasan ini telur yang telah dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit menjadi larva.
        Pemeliharaan Larva
        • Benih yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam aquarium berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. 
        • Setiap aquarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. 
        • Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per aquarium. 
        • Sampai benih berumur satu hari belum diberi makanan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sack atau kuning telur. 
        • Pada hari kedua dan ketiga baru benih itu diberi makanan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. 
        • Selanjutnya benih ikan diberi makanan moina (Moina cyprinacea) atau yang populer dikenal sebagai kutu air dan jentik-jenti nyamuk.
        • Larva dipelihara di aquarium hingga berumur 15 hari. Setelah berumur sekitar 17 – 18 hari, benih dijarangkan di kolam pendederan yang lebih luas dengan menjaga kondisi lingkungan, makanan yang cukup, serta kualitas airnya.
        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pemijahan Ikan Patin Methode dry stripping atau methode kering

        Cara Pemijahan Ikan Patin <<< Klik sini
        Di habitat aslinya ikan patin dapat memijah secara alami namun kondisi ini belum bisa terjadi pada ikan patin yang dibudidayakan. Kondisi yang demikian menjadi kendala tersendiri dalam pembudidayaan ikan patin. Salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan pembuahan di luar. Berikut ini merupakan proses pembuahan di luar pada ikan patin dengan fokus pembahasan pada Teknik Stripping.

        Stripping dilaksanakan setelah penyuntikan induk. Jumlah induk yang digunakan disesuaikan dengan keperluan target produksi namun sebaiknya dengan perbandingan 1:2 atau 1:3. Penyuntikan pertama dilakukan pada induk betina dengan memberikan HCG dosis 500 IU/Kg untuk mematangkan dan meratakan telur. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 24 jam penyuntikan pertama berupa penyuntikan induk betina dengan ovaprim 0,6 ml/Kg dan induk jantan dengan ovaprim 0,3 ml/Kg yang dicampur aquabides. Kemudian lakukan pemerikasaan kondisi induk setelah 8-12 jam penyuntikan untuk mengetahui kematangan telur dan sperma induk. Jika perut ikan dipijit ke arah anus kemudian keluar telur atau sperma maka induk telah siap untuk distripping.

        Alat dan bahan
        • Baskom, untuk menampung telur
        • Bulu ayam, untuk mengaduk pembuahan
        • Kain, untuk memegang ikan
        • Tissu, untuk mengeringkan bagian anus ikan
        • Botol minuman air mineral, untuk menampung sperma
        • Skop net, untuk menyaring
        • NaCl, untuk mengencerkan dan mengawetkan sperma selama 8-12jam
        • Air mineral dan air sumur
        • Tanah liat, untuk menghilangkan lendir
        • Corong penetasan
        Langkah Kerja
        • Siapkan botol minuman air mineral yang telah diisi NaCl dengan perbandingan 1:4
        • Ambil induk jantan kemudian lakukan pijitan pada perut ke arah anus. Tampung sperma yang keluar kedalam botol air mineral
        • Siapkan baskom dan lakukan pijitan induk betina pada perut ke arah anus kemudian tampung telur yang keluar. Pada telur-telur tersebut kemudian dicampurkan sperma secukupnya

         Telur Hasil Stripping di Tampung Pada Baskom
         Pengadukan Telur dengan Sperma Menggunakan Bulu Ayam
         Pembasuhan dengan Air Mineral
        • Aduk secara perlahan dengan menggunakan bulu ayam selama 5-15 menit
        • Basuh dengan air mineral secukupnya kemudian aduk lagi selama 5-15 menit
        • Basuh dengan air sumur untuk membuang sperma yang lebih lalu endapkan selama 5 menit
         Pembasuhan dengan Air Sumur
         Sterilisasi Tanah Liat Dengan Air Panas
         Pengadukan Telur Dengan Larutan Tanah Liat
        • Telur yang telah dibuahi akan tenggelam ke dasar baskom
        • Buang air beserta sperma yang tidak digunakan untuk pembuahan
        • Sterilkan tanah liat dengan membasuhnya menggunakan air panas. Kemudian tanah liat tersebut dilarutkan dengan menggunakan air sumur yang dingin.
         Penyaringan Telur Menggunakan Skop Net
        Telur Siap Ditetaskan Didalam Corong Penetasan
        • Saring larutan tersebut dengan skop net lalu masukkan kedalam baskom yang berisi telur yang telah dibuahi. Aduk secara merata selama 5-15 menit sampai telur-telur tersebut saling terpisah satu sama lain
        • Masukkan telur ke dalam skop net kemudian cuci sampai bersih dengan menggunakan air sumur
        • Telur-telur yang telah bersih tersebut telah siap untuk ditetaskan pada corong penetasan. Jumlah telur untuk tiap corong penetasan adalah 300 gram butir telur.
        Explanation :
        Alam Ikan : supm-bone.net/

        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pembenihan Budidaya Lobster Air Tawar

        Cara Pemijahan Budidaya Lobster Air Tawar

        Lobster Air Tawar memiliki banyak jenis spesies, tetapi jenis yang banyak dikembangkan adalah dari jenis Cherax quadricarinatus atau lebih dikenal dengan sebutan redclaw atau crayfish yang habitat aslinya berasal dari Australia.

        Lobster jenis ini dapat hidup diperairan darat dengan suhu air berkisar antara 20-31 derajat celcius, pH air 7 dan kesadahan air 10-20 derajat dH. Pada umur 6-7 bulan, lobster ini sudah mulai kawin dan bertelur. Jumlah telur yang dihasilkan dapat mencapai 600-1000 butir/ekor dalam sekali kawin dan dalam jangka 1 tahun, induk betina mampu bertelur hingga 5 kali.

        Klasifikasi Lobster Air Tawar
        • Kingdom    : Animalia
        • Filum          : Arthropoda/Crustacea
        • Subfilum     : Crustaceae
        • Kelas         : Malacostraca
        • Ordo          : Decapoda
        • Subordo     : Pleocyemata
        • Infraordo    : Astacidea
        • Superfamili : Parastacoidea
        • Famili         : Parastacidae
        • Genus        : Cherax, Procambarus dan Astacopis
        • Spesies      : Cherax quadricarinatus.
        Keunggulan Lobster Air Tawar
        • Lobster Air Tawar dapat dibudidayakan dibandingkan dengan Lobster Laut.
        • Pertumbuhan Lobster Air Tawar relatif lebih cepat.
        • Kandungan lemak Lobster Air Tawar sangat rendah (<2%). Selain itu, Lobster Air Tawar juga mengandung selenium yang merupakan antioksidan untuk menghindari penyakit jantung dan koroner ; sumber yodium, zink, asam lemak omega 3, magnesium, kalsium dan fosfor.
        • Tekstur daging yang halus dengan cita rasa yang menggugah selera.
        Parameter Lobster Air Tawar

        SuhupHOksigenJumlah TelurUmur IndukanBerat
        25-29 C7-9>4200 - 300> 8 bulan> 50 gr
        25-29 C7-9>4600 - 900> 16 bulan> 100 gr
        Dengan nilai DH 50 ppm, Amoniak 0,05 ppm atau kurang, Nitrit 0,03 atau kurang dan Turbiditas (kekeruhan air) 30 – 70 cm
        Waktu pengujian kualitas air
        • Temperatur                     3 kali seminggu
        • pH (derajat keasaman)     3 kali seminggu
        • DO (kadar oksigen terlarut)  3 kali sehari
        • DH (kesadahan air)             1 kali seminggu
        • Amoniak                              1 kali seminggu
        • Nitrit                                     1 kali seminggu
        • Turbiditas (kekeruhan air)     1 kali seminggu
        Pemilihan Indukan Lobster Air Tawar
        • Indukan yang dipilih memiliki umur minimal 6 bulan dengan panjang 10 cm
        • Dengan Perbandingan Jantan dan betina 3:2
        • Lobster Betina Selektif dalam memilih pejantan sehingga jumlah jantan lebih banyak
        • Ciri-ciri induk betina yang baik adalah ukuran kepala yang lebih kecil daripada ukuran badannya. Sebaliknya pejantan lebih bagus yang kepalanya lebih besar daripada badannya.
        Perbedaan Jantan Dan Betina Lobster Air Tawar
        • Lobster jantan  dapat  di  lihat jika pada capik sebelah  luarnya terdapat bercak  berwarna merah. Namun, tanda merah itu baru muncul ketika lobster berumur 3-4 bulan atau setelah lobster berukuran 3 inc (7 cm). 
        • Tanda merah ini juga  merupakan  tanda lobster jantan telah siap kawin (matang gonad). 
        • Sedangkan pada lobster betina di bagian yang sama tidak tampak tonjolan (penis). 
        • Ciri lobster betina adalah terdapat lubang pada pangkal kaki ketiga dari bawah (ekor). Lubang tersebut adalah kelamin lobster betina dan tempat mengeluarkan telurnya.
        Pemijahan Lobster Air Tawar
        Menggunakan Aquarium
        • Pembenihan bisa dilakukan di dalam akuarium (ukuran 100x50x25cm) Untuk 6 jantan 4 betina
        • Tinggi air 25 cm
        Menggunakan Kolam
        • Kolam semen (ukuran 2x1m) Untuk 30 Jantan 20 betina
        • Tinggi air 50 cm
        Proses Perkawinan
        • Dalam wadah perkawinan tersebut diberi tempat persembunyian berupa pipa paralon yang berdiameter 3 inci dengan panjang sesuai tubuhnya dan jumlah paralon sesuai jumlah betina
        • Selama 2-3 minggu akan terjadi proses perkawinan indukan. 
        • Setelah terlihat tanda-tanda bertelur, pindahkan induk betina tersebut ke akuarium lainnya. 
        • Saat sedang mengerami telur, induk betina sangat malas dan berdiam diri di lubang persembunyian. Induk betina mengerami telurnya dengan cara melipat kakinya ke arah dalam. 
        • Usahakan 1 akuarium (ukuran 100x50x25cm) berisi 1 induk betina dengan ukuran air 20-25cm.
        Pemindahan Induk Lobster Gendong Telur
        • Ciri – ciri induk yang sedang gendong telur adalah banyak berdiam diri dan ekornya yang terlipat erat dan rapat karena melindungi telur. Induk yang sedang dalam kondisi seperti ini harus segera dipindahkan ke dalam wadah pemeliharaan khusus pengeraman. 
        • Pemindahan harus dilakukan dengan sangat hati – hati untuk menghindari rontoknya telur yang diakibatkan oleh berontaknya induk. 
        • Pengecekan terhadap ada atau tidaknya induk yang sedang gendong telur dilakukan 2 minggu setelah proses pemijahan terjadi.
        Pemeliharaan Telur Lobster
        • Proses pengeraman telur lobster membutuhkan waktu 30-35 hari. 
        • Pada minggu pertama, telur berbentuk bulat dan masih berwarna kuning. 
        • Selanjutnya telur akan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan mulai tampak bagian-bagian tubuhnya seperti mata dan kaki. 
        • Setelah satu bulan, semua bagian tubuh sudah terbentuk sempurna atau menetas. 
        • Dalam waktu 3-4 hari, seluruh benih akan terlepas dari tubuh induknya. 
        • Setelah Selesai menetas, induk dipindahkan ke dalam kolam perawatan induk.Perawatan dilakukan selama minimum 2 minggu untuk memberi waktu pada induk melakukan molting sebelum dikawinkan kembali.Untuk menjaga kualitas benih yang dihasilkan, selama hidupnya induk betina hanya bisa dikawinkan 6 kali.
        Pemeliharaan Larva Lobster
        • Benih yang baru menetas dipelihara dalam kolam penetasan selama 10 hari.
        • Pemberian pakan berupa cacing,sayuran (misalnya tauge dan wortel) dan pelet khusus lobster bisa dilakukan secara bergantian. 
        • cacing sutera atau beku, biasanya 1 liter cacing bisa dihabiskan dalam waktu 1 minggu untuk 1000 benih lobster.
        • Selanjutnya benih dipindahkan ke kolam pembesaran benih untuk dipelihara selama 2 bulan.
        • Setelah berumur 8-15 hari, benih sudah mulai berbentuk seperti lobster dewasa yang memiliki cangkang kepala dan cangkang tubuh.
        • Selama pemeliharan benih, kualitas dan pasokan oksigen dalam wadah harus selalu diperhatikan dengan baik.
        • Benih tidak boleh terkena langsung panas matahari karena benih sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
        • Untuk menjaga kebersihan wadah pemeliharaan 2 minggu sekali harus dikuras dan dibersihkan total untuk mengantisipasi munculnya bibit penyakit. Saat pengurasan dan pembersihan benih dipindahkan ke wadah lain.
        Tempat Persembunyian Lobster
        • Pada Umur kurang dari 2 bulan tempat tempat persembunyian untuk lobster dapat dibuat dari batako berlubang, paralon, dan kayu-kayu tua yang berlubang, Batako berlubang lebih cocok digunakan untuk lobster yang masih kecil.  
        • Setelah berumur 3-4 bulan, lobster tersebut tidak dapat lagi masuk ke dalam lubang batako karena ukuran tubuhnya telah membesar. Pada umur tersebut, tempat persembunyian yang cocok adalah pipa paralon. paralon berdiameter 4 inci dipotong dengan panjang 15-20 cm dan paralon berukuran 2 inci dipotong menjadi 10-15 cm. Sementara itu, paralon-paralon berukuran kecil dipotong dengan panjang sekitar 5 cm. Saat pembersihan kolam, tempat –tempat persembunyian lobster tersebut juga harus dibersihkan dengan cara disikat.
        • Saat molting, kondisi lobster sangat lemah, selama 2-3 hari lobster hanya berdiam diri di tempat persembunyian hingga kulit yang baru tumbuh mengeras.
        Pencegahan Penyakit Benih
        • Penyakit yang biasa menyerang benih lobster adalah parasit yang hidup di kepala dan badan lobster. Parasit tersebut berwarna putih susu dan bias berkembang biak di dalam tubuh dan kepala lobster.
        • Ciri lobster yang terkena parasit adalah nafsu makannya berkurang dan tidak lincah sehingga bias mengakibatkan kematian.
        • Untuk mengatasi penyakit ini rendam benih lobster pada air garam dengan kadar garam 30 ppt. Rendam benih lobster dalam air tersebut selama 10-14 hari dan setiap 3-4 hari sekali ganti air dengan air garam baru.

        Proses akhir dari setiap siklus produksi budidaya lobster air tawar adalah tahap pasca panen.
        Sorting
        • Adalah kegiatan pemilahan yang dilakukan terhadap lobster air tawar berdasarkan kepada parameter tertentu, seperti : kelengkapan organ tubuh, kebersihan tubuh, kesehatan, jenis kelamindan yang terakhir adalah ukuran (panjang dan berat). Alat bantu kerja yang umum digunakan pada tahap ini adalah grading bar, penggaris dan timbangan.
        Salt dipping
        • Adalah kegiatan pembersihan lobster air tawar dari berbagai macam bakteri eksternal yang menempel di tubuh luar lobster air tawar. Yang dilakukan adalah mencelupkan lobster air tawar ke dalam air (liter) garam tanpa yodium dengan dosis tertentu (ppm) dan dalam jangka waktu tertentu (detik). Alat bantu kerja yang umum digunakan pada tahap ini adalah ember, jaring ikan, sendok teh,penghitung waktu (jam atau stopwatch) dan timbangan.
        Purging
        • Adalah kegiatan pembersihan lobster air tawar dari berbagai macam kotoran eksternal (lumpur) maupun internal. Dalam waktu bersamaan, lobster dipuasakan selama beberapa (1 – 2) hari. Tindakan ini harus dilakukan terutama apabila wadah pemeliharaan yang digunakan berupa kolam tanah.
        Pada umumnya, lobster air tawar yang diperjualbelikan di Indonesia adalah lobster air tawar yang masih dalam keadaan hidup (minimal ketika lobster air tawar diterima oleh pihak pembeli).

        Nah, salah satu resiko dari tidak dilakukannya ketiga proses tersebut diatas adalah angka kematian yang tinggi dimana peristiwa itu terjadi selama dalam masa pengiriman dari pihak penjual ke pihak pembeli.

        Akibatnya, pihak pembeli tidak akan mau membayar lobster yang sudah mati dan dengan demikian pihak penjual akan mengalami kerugian material sekaligus menanggung resiko ditinggalkan oleh pihak pembeli.

        Produk Jual dari Alam Ikan
        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Budidaya Kepiting Lunak / Soka

        Cara Pembesaran Kepiting Lunak / Soka
        Kepiting bakau (Scylla serrata) mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Dalam budidaya kepiting bakau, diperlukan ketersediaan lahan bebas polusi, pengelolaan yang baik, serta benih yang unggul.

        Untuk lahan pemeliharaan, tambak tradisional yang biasanya digunakan untuk memelihara bandeng atau udang bisa dimanfaatkan. Ada beberapa macam kepiting bakau yang bisa kita ketahui: Scylla oceanica: kepiting jenis ini warnanya agak kehijauan serta memiliki garis coklat di hampir semua bagian tubuhnya, terkecuali di bagian perutnya, Scylla serrata: kepiting jenis ini memiliki ciri khas warna keabu-abuan hingga hijau kemerah-merahan, Scylla transquebarica: jenis yang terakhir ini warnanya kehijauan hingga kehitaman dan terdapat sedikit garis coklat pada bagian kaki renangnya. Dibandingkan dua jenis kepiting lainnya, Scylla serrata memiliki ukuran lebih kecil di usia yang sama. Namun dibandingkan yang lain, jenis ini lebih bersaing dan diminati pembeli.

        Parameter Kepiting

        SuhuSalinitaspHJumlah TelurUmur Indukan
        22-36 C15-33 ppt6-8100-1000> 1 tahun



        Sifat Kepiting Bakau (Scylla serrata)
        • Secara umum, kepiting bakau memiliki sifat dan kebiasaan sebagai berikut:
        • Saling menyerang dan kanibalisme. Pada kepiting, kedua sifat ini adalah ciri khas yang paling menonjol, sehingga hal ini pula yang menjadi tantangan dalam usaha pembudidayaan kepiting.
        • Kesukaannya berendam di dalam lumpur serta membuat lubang di pematang atau dinding tambak pemeliharaan.
        • Kepekaan pada tingkat pencemaran atau polutan.
        • Ganti kulit atau molting.    
        Siklus Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata)
        Siklus hidup Kepiting Bakau sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu:
        • Sekali perkawinan bisa 3 kali memijah.
        • Pelepasan telur bisa terjadi setengah jam dan proses penetasan dapat berlangsung selama 3 hari.
        • Proses perkembangan telur hingga penuh berlangsung selama 30 hari.
        Ciri-ciri masing-masing siklus Kepiting Bakau (Scylla serrata) :
        Larva Zoea
        • Pada tahap Zoea, berlangsung proses pergantian kulit (molting) selama 3-4 hari. Pada stadium ini larva akan sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. 
        Fase Megalops
        • Pada fase ini larva masih mengalami proses molting namun relatif lebih lama yaiu sekitar 15 hari. Setiap molting tubuh kepiting akan mengalami pertambahan besar sekitar 1/3 kali ukuran semula.
        Kepiting muda
        • Pada fase ini tubuh krpiting masih dapat terus membesar. 
        Kepiting dewasa
        • Pada stadium ini selain masih mengalami perbesaran tubuh, karapaks juga bertambah lebar sekitar 5-10 mm. Kepiting dewasa berumur 15 bulan dapat memiliki lebar karapaks sebesar 17 cm dan berat 200 gr.
        Beberapa prinsip yang perlu diketahui dan dikerjakan yaitu antara lain:
        Biologi Kepiting Bakau
        • Reproduksi dilakukan di perairan laut, telur setelah dibuahi ditempelkan di bagian perut, di balik karapag yang berumbai-umbai, dierami selama 10-12 hari, larva kepiting bakau berkembang dari stadia zoea 1-5 selama 18-20 hari, megalopa selama 5-7 hari dan mencapi stadia crablet yang mengalami moulting pada setiap 4-7 hari hingga menjadi bibit berukuran rata-rata 30-50 g/ekor  (panjang 2-5 cm) yang dicapai selama 50-70 hari.
        • Kualitas air yang dibutuhkan untuk hidup dan dapat tumbuh secara baik yaitu: kadar garam 10-25 ppt, suhu 28-330C, pH 7,5-8,5 dan DO lebih dari 5 ppm.
        • Perilaku kepiting bakau bersifat kanibal, kepiting yang tidak sedang moulting sering dijumpai memakan kepiting yang sedang moulting.
        • Pakan untuk kepiting bakau yaitu dari berbagai jenis binatang seperti ikan rucah, amphibia, reptilia, jeroan dari limbah pemotongan ayam, juga suka diberi pakan udang yang berupa pelet kering, kelas grower. Pakan larva berupa phytoplankton (Chaetoceros sp, dan Tetraselmis sp) dan zooplankton (Brachionus sp dan Artemia sp)
        Cara Budidaya Kepiting Bakau
        Ada 4 cara dilakukan berdasarkan tujuan produksi yaitu:
        • Pembesaran dari bibit ukuran 30-50 g/ekor menjadi ukuran konsumsi 200-300 g/ekor
        • Penggemukan dari kepiting bakau dari ukuran 100-150 g/ekor menjadi ukuran konsumsi 200-300 g/ekor
        • Produksi kepiting bakau-soka, bercangkang lunak. Masa pemeliharaan biasanya 3-4 minggu.
        • Produksi kepiting bakau-bertelur, kepiting bakau betina ukuran 200 g/ekor  atau lebih yang penuh telur diperoleh dengan cara ablasi mata. Masa pemeliharaan 1 bulan dan 1-2 minggu setelah ablasi mata dilakukan.
        Teknik Budidaya Kepiting Bakau
        • Pembesaran dari bibit ukuran 30-50 g/ekor menjadi ukuran konsumsi 200-300 g/ekor. Dilakukan  dengan berbagai macam cara sesuai situasi dan potensi lokasi budidaya kepiting bakau. Prinsip yang harus dilakukan yaitu kepiting bakau tidak boleh lepas, maka perlu kurungan atau sekeliling tanggul tempat pemeliharaan pagar dari bambu yang cukup rapat. Dihindari dari kemungkinan besar terjadi kanibalisme. Disarankan memakai sistem baterei, dengan padat tebar 40 ekor/m2. Jika dilakukan sistem tambak disarankan padat tebar 2 ekor/m2. Lama pemeliharaan 3 bulan.
        • Penggemukan dari kepiting bakau dari ukuran 100-150 g/ekor menjadi ukuran konsumsi 200-300 g/ekor. Disarankan dipelihara dengan sistem baterei, padat tebar40 ekor/m2. Lama pemeliharaan 3-4 minggu.
        • Produksi kepiting bakau-soka, bercangkang lunak. Masa pemeliharaan biasanya 3-4 minggu. Kepiting bakau yang dipelihara berukuran 150-200 g/ekor dan lama pemeliharaan 2-3 minggu. Pergantian kulit ini secara alami dirangsang oleh alam yaitu saat air pasang tertinggi, kemelimpahan pakan. Disarankan memakai sistem baterei, dengan padat tebar 40 ekor/m2. Cara ini dilakukan untuk mencapai kelulus hidupan sampai 100%.
        • Produksi kepiting bakau-bertelur, kepiting bakau betina ukuran 200 g/ekor  atau lebih yang penuh telur diperoleh dengan cara ablasi mata. Masa pemeliharaan 1 bulan dan 1-2 minggu setelah ablasi mata dilakukan. Disarankan memakai sistem baterei, dengan padat tebar 40 ekor/m2. Jenis pakan harus kaya akan protein dengan jumlah yang cukup, dari bebrbagai jenis ikan rucah, cumi-cumi dan kerang.
        Pemberian Pakan
        • Kepiting bakau diberi pakan berbagai jenis pakan dari cumi-cumi, kerang, ikan rucah, amphibia, reptilia, jeroan ayam, atau pelet kering, pakan udang untuk kelas grower. Pakan diberikan 2 kali sehari, dosis 2-3 % dari biomas kepiting bakau.
        Penanggulangan Penyakit
        • Penyakit kepiting bakau dapat dicegah dengan cara menjaga agar kualitas air tetap pada kondisi baik, hindarkan  lingkungan menjadi kotor dan pemakaian antibiotik yang cenderung mengendap di dasar tambak.
        Cara Pemanenan
        • Pada sistem pemeliharaan di tambah dengan pagar bambu, pemanenan dilakukan dengan cara membuang air tambah sampai kedalaman 30 cm lalu kepiting ditangkap dengan alat tongkat bambu yang dibuat seperti ajir. 
        • Cara ini kurang dianjurkan karena sering menyebabkan capitnya lepas dan harga kepiting bakau akan anjlok. 
        • Cara yang dianjurkan yaitu membuang air tambak sampai habis, dan kepiting akan lebih mudah ditangkap dengan seser dari bahan bambu. Mengikat kaki kepinting bakau secara benar, hal ini dapat menghindarkan capit kepiting bakau lepas dan cara ini dilakukan untuk memudahkan mengangkutnya.
        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pembenihan Budidaya Ikan Mujair

        Cara Pemijahan Budidaya Ikan Mujair (Tilapia mossambica)
        Mujair adalah sejenis ikan konsumsi air tawar  dengan bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. ikan ini bentuknya hampir sama dengan ikan nila yang masih memiliki garis kekerabatan. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.

        Dalam kondisi pasar yang cukup prospektif tidak banyak orang yang menekuni usaha perikanan mujair secara profesional dan berorientasi komersial. Maka walaupun permintaannya cukup tinggi, penawaran ikan mujair masih dirasakan lamban. Akibatnya, sekalipun untuk memenuhi permintaan lokal dan regional, pasar ikan mujair masih terbuka lebar.

        Parameter Ikan Mujair

        SuhupHOksigenJumlah TelurUmur Indukan
        20-306-8>4500-2000>3 Bulan



        Pemilihan Induk Ikan Mujair (Tilapia mossambica)
        • Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas yang tinggi.
        • Pertumbuhannya sangat cepat.
        • Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
        • Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
        • Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
        • Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 100 gram lebih per ekornya.
        • Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
        Betina
        • Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.
        • Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
        • Warna perut lebih putih.
        • Warna dagu putih.
        • Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
        Jantan
        • Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang urine.
        • Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
        • Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
        Pemijahan Ikan Mujair (Tilapia mossambica)
        • Perbandingan induk jantan dan betina yaitu 3:2 , 3 induk betina dan 2 induk jantan, untuk kolam ukuran 3x4 m. Dengan kedalaman kolam 0,5 meter.
        • Bagian Kolam Yang dangkal sebaiknya berlumpur halus agar induk ikan dapat membuat sarang.
        • Pemijahan akan terjadi setelah induk jantan membuat lubang sarang yang berupa cekungan di dasar kolam dengan garis tengah sekitar 10-35 cm. 
        • Begitu pembuatan sarang pemijahan selesai, segera berlangsung proses pemijahan. Setelah proses pembuahan selesai, maka telur-telur hasil pemijahan segera dikumpulkan oleh induk betina ke dalam mulutnya untuk dierami hingga menetas. 
        • Pada saat tersebut induk betina tidak aktif makan sehingga terlihat tubuhnya kurus. 
        • Telur akan menetas setelah 3-5 hari pada suhu air sekitar 25-27 derajat C. Setelah sekitar 2 minggu sejak penetasan, induk betina baru melepaskan anak-anaknya, karena telah mampu mencari makanan sendiri.

        Cara Pengambilan Benih Ikan Mujair
        Cara 2 Kolam
        • Pembuatan Kolam 1 dan 2 berdampingan dengan posisi kolam 1 lebih tinggi dari kolam kedua.
        • Sehingga dapat dibuat saluran pembuangan air dari kolam 1 ke kolam 2
        • Saat pengambilan benih, saluran pembuangan di beri tutup berupa saringan kasar, agar induk tidak masuk ke kolam ke 2
        • Kolam kedua menjadi tempat pembesaran benih sampai siap jual
        Cara 1 Kolam
        • Saat pengambilan benih berumur 2 minggu, kolam diberi anco, kemudian beri pakan diatasnya, 
        • kemudian tunggu benih ikan berkumpul
        • Ambil anco, kemudian di pindah ke kolam pembesaran
        Pakan benih ikan berupa dedak halus, atau pakan ikan halus, bisa juga menggunakan pakan alami

        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pembenihan Budidaya Ikan Nila

        Cara Pemijahan Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
        Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

         Ikan Nila dapat berkembang biak secara optimal pada suhu 20 – 30 0 C. Ikan nila bersifat mengerami telurnya di dalam mulut sampai menetas kurang lebih 4 hari dan mengasuh larvanya ± 14 hari sampai larva dapat berenang bebas diperairan, mengerami telur dan mengasuh larva dilakukan oleh induk betina. Nila dapat dipijahkan setelah mencapai berat 100 gr/ekor. Secara alami nila memijah pada sarang yang dibuat oleh ikan jantan di dasar kolam, sehingga diperlukan dasar kolam yang berlumpur.


        Parameter Ikan Nila

        SuhupHOksigenJumlah TelurUmur Indukan
        20-30 C6-8,5>4250-1100>4bulan

        Perbedaan Jantan dan Betina Ikan Nila:
        Jantan :
        • Warna tubuh cerah dan memiliki satu buah lubang kelamin, yang bentuknya memanjang dan berfungsi sebagai tempat keluarnya sperma dan air seni;
        • Warna sirip memerah terutama pada saat matang kelamin.
        Betina :
        • Warna tubuh agak pucat dan memiliki 2 (dua) buah lubang kelamin, lubang pertama. berada dekat anus, bentuknya seperti bulan sabit berfungsi sebagai tempat keluarnya telur.
        • Lubang ke dua berada dibelakangnya, bentuknya bulat yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air seni.

        PEMELIHARAAN INDUK
        • Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2 – 2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. 
        • Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein (28 – 30 %).
        • Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar dan 5 hari kedua lebih kecil. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. 
        • Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke kolam. Hal ini untuk menghindari hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.

         Pemijahan ikan nila berdasarkan pengelolaannya dibedakan beberapa sistim antara lain:
        Pemijahan Secara Tradisional/Alami
        Pemijahan secara alami dapat dilakukan di kolam. Ikan nila membutuhkan sarang (Ijuk) dalam proses pemijahan. Sarang di buat di dasar kolam oleh induk jantan untuk memikat induk betina tempat bercumbu dan memijah, sekaligus merupakan wilayah teritorialnya yang tidak boleh diganggu oleh pasangan lain.
        Kegiatan pemijahan alami meliputi antara lain;
        1) Persiapan Kolam
        • Kolam pemijahan luasnya harus disesuaikan dengan jumlah induk yang akan dipijahkan. Perbandingan jantan dan betina adalah 1 : 3 ukuran 250 - 500 gr perekor. Dengan padat penebaran 1 ekor/m2. Hal ini berdasarkan sifat ikan jantan yang membuat sarang berbentuk kobakan didasar kolam dengan diameter kira-kira 50 cm dan akan mempertahankan kobakan tersebut dari ikan jantan lainnya.
        • Kobakan tersebut akan digunakan ikan jantan untuk memikat ikan betina dalam pemijahan. Oleh karena itu jumlah ikan jantan setiap luasan kolam tergantung pada berapa banyak kemungkinan kobakan yang dapat dibuat oleh ikan jantan pada dasar kolam tersebut. Dinding kolam diupayakan kokoh dan tidak ada yang bocor agar
        2) Pemberian pakan
        • Meskipun kolam telah di pupuk dan tumbuh subur pakan alami, pemberian pakan tambahan mutlak di perlukan. Pemberian pakan tambahan dimaksudkan untuk menjaga stabilitas produktifitas induk karena selama masa inkubasi telur 3-4 hari induk berpuasa sehingga pada proses pemijahan harus cukup cadangan energi dari pakan ikan. 
        • Pakan tambahan dapat berbentuk dedak, bungkil kedelai, bungkil kacang atau pellet. Pellet dapat diberikan 3 - 6 % per hari dari bobot induk. Selama proses pemijahan ± 7 hari dan pasca inkubasi telur yaitu setelah hari ke 8 - 12.
        Pemijahan Secara Intensif
        Metode ini dilakukan pada kolam yang didesain sedemikian rupa sehingga setelah pemijahan selesai dapat dipisahkan antara induk jantan, induk betina dan larva ikan dalam kolam yang berbeda, dengan demikian pemanenan larva relatif mudah dilakukan dan induk akan lebih produktif karena tidak sering terganggu yang dapat menimbulkan stres dan kematian pada induk.
        1) Persiapan kolam
        • Kolam pemijahan dibuat dari pagar bambu yang bersekat-sekat antara kolam jantan, kolam betina dan kolam larva. 
        • Kolam induk jantan (lingkaran I) hanya dapat dimasuki ikan betina yang berukuran lebih kecil dari ikan jantan, kolam induk betina (lingkaran II) hanya dapat dilalui larva sedang induk betina tidak dapat keluar dari sekat, dan kolam larva (III) untuk menangkap larva yang dihasilkan. 
        • Pengolahan dasar kolam dilakukan seperti pada persiapan kolam pemijahan alami.
        2) Proses pemijahan
        • Apabila konstruksi kolam berbentuk lingkaran dengan diameter kolam I adalah 4 meter dan kolam II adalah 10 meter, serta luas kolam III adalah 44 meter persegi, maka padat penebaran induk adalah antara induk betina bobot ± 250 gr/ekor  dan 40 ekor jantan 250 - 300 ekor bobot > 500 gr/ekor.
        • Induk ikan pada saat pemijahan menempati kolam I. Setelah proses pemijahan berlangsung dan telur telah menetas, induk betina akan keluar dari kolam I ke kolam II untuk mengasuh anaknya.
        • Di kolam II ini larva tumbuh sampai ukuran ± 1 cm, selanjutnya larva akan masuk ke kolam III,sedangkan induk betina tetap pada kolam II karena ada sekat. Kolam III hanya dapat dimasuki oleh larva dari kolam II ke kolam III, larva akan terusir dari kolam II, karena tergangguoleh induk betina yang ada.
        3) Pemeliharaan
        Pemeliharaan induk dilakukan dengan pemberian pakan tambahan 3 - 6 %perhari dari bobot ikan. Pemberian pakan dilakukan sesuai yang dibutuhkan oleh induk dan larva



        Penetasan Telur

        • Pada ikan nila yang telurnya akan ditetaskan pada corong penetasan harus dilakukan pemanenan telur. Pemanenan telur ikan nila ini dilakukan pada hari ke 9. 
        • Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil telur dari mulut induk betina ikan nila. 
        • Sebelum pemanenan terlebih dahulu permukaan air kolam diturunkan sampai ketinggian 10 - 20 cm. 
        • Jika pemijahan dilakukan di hapa (waring), maka caranya adalah dengan menarik salah satu ujung hapa ke salah satu sudut hapa. dengan hati-hati untuk menghindari induk mengeluarkan telur. 
        • Karena induk ikan nila jika merasa dalam bahaya atau terdesak akan mengeluarkan telur di sembarang tempat. Hal ini akan menyulitkan dalam mengumpulkan telur ikan nila. 
        • Pengambilan telur ikan nila dilakukan dengan menangkap induk satu persatu. 
        • Penangkapan induk dilakukan menggunakan seser kasar dan seser halus. Kedua seser ini digunakan pada saat bersamaan. 
        • Seser kasar berfungsi untuk menangkap induk sedangkan seser halus berfungsi untuk menampung telur ikan. Seser kasar terletak terletak dibagian bawah. 
        • Pada saat menangkap induk dilakukan dengan hati- hati agar telur tidak dikeluarkan. 
        • Cara mengambil telur dari induk betina yaitu dengan memegang bagian kepala ikan. Pada saat bersamaan salah satu jari tangan membuka mulut dan tutup insang. 
        • Selanjutnya tutup insang di siram air sehingga telur keluar melalui rongga mulut. Selanjutnya telur-telur tersebut ditampung dalam wadah. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari gerakan induk sekecil mungkin agar telur yang telah keluar tidak berserakan. 
        • Telur pada wadah penampungan jangan terkena sinar matahari langsung dan diupayakan telur selalu bergerak. Telur yang terlalu lama diam serta kena sinar matahari langsung dapat menimbulkan kematian.
        • Telur yang telah bersih dari kotoran dapat dimasukkan ke dalam corong penetasan Pelepasan telur terjadi dalam beberapa kali dalam waktu beberapa menit. 
        • Waktu yang diperlukan untuk pemijahan tidak lebih dari 10 - 15 menit. 
        •  Sebaiknya induk ikan nila dipijahkan hanya selama 2 tahun saja, 
        • Selama mengerami telurnya, induk betina tidak pernah makan sehingga badannya kurus. 
        • Pengeraman terjadi selama 2-3 hari, dan setelah menetas larva masih dijaga oleh induknya selama 6-7 hari. 
        • Ukuran burayak/larva yang baru menetas antara 0,9 - 10 mm. Burayak yang masih ada dalam mulut induknya mengisap telur kuning yang ada pada tubuhnya selama 4 - 5 hari.

        Pemanenan Benih
        Kegiatan pemanenan benih meliputi persiapan penampungan benih, pengeringan kolam, penangkapan benih dan pengangkutan.
        • Pemanenan benih ikan sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari. 
        • Hasil panen benih ikan terdiri dari berbagai ukuran sesuai dengan tahapan pembenihan. 
        • Hasil dari pendederan berupa benih ikan yang panjangnya 2-3 cm. Pembenihan tahap I menghasilakn benih berukuran 6-8 cm dengan berat 8-10 g/ekor. 
        • Pembenihan tahap II menghasilkan benih yang berukuran 10-12 cm dengan berat 30-50 g/ekor dan tahap III menghasilkan benih yang berukuran 16-18 cm dengan berat ± 100 g/ekor (Suyanto, 2010). 
        • Penangkapan benih dilakukan dengan cara ditangkap dengan sekup net besar atau waring. Setelah ditangkap larva dinilaukan kedalam ember dan ditampung dalam hapa halus yang dipasang dikolam tersebut. Saat itu juga larva harus ditebar dikolam pendederan (Arie, 2000).
        Menurut Fatimah (2010), pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan dua cara, antar lain :
        1) Panen total
        • Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam hingga ketinggian air tinggal 10 cm. Petak pemanenan (penangkapan) dibuat seluas 1 m² di depan pintu pengeluaran sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. 
        • Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan secepatnya dan hati – hati agar ikan tidak terluka.
        2) Panen sebagian atau panen selektif
        • Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan di panen dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). 
        • Ikan nila yang tidak terpilih sebaiknya dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5 – 1,0 ppm selama 1 jam sebelum dikembalikan ke kolam (karena biasanya terluka akibat jaring).
        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat

        Cara Pembenihan Ikan Tawes

        Cara Pemijahan Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) Ikan tawes adalah jenis ikan air tawar yang berwarna putih abu-abu, albino, berwarna abu-abu dengan bercak perak, dan ikan tawes dengan sirip perut relatif panjang. Ikan tawes merupakan salah ssatu jenis ikan herbivora. Pemijahan ikan tawes dapat dilakukan secara alami dan buatan. Induk yang digunakan dalam pemijahan mempunyai berat sekitar 300--500 g/ekor dan umur kematangan gonadnya 8--12 bulan. Jumlah telur yang dapat dihasikan sekitar 1000 butir/gram berat badan. Umumnya induk betina dapat menghasilkan telur hingga 20.000 butir/ekor/ Induk, pada umur produksi 2-3 tahun dengan berat 1 kg bisa menjapai jumlah telur 700.000 butir / induk.

        Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai dan rawa – rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen. Jika ditempatkan dalam air yang miskin oksigen ia dengan mudahnya mati.


        Parameter Ikan Tawes

        SuhupHOksigenJumlah TelurUmur Indukan
        22-28 C6-7>4200.000-700.0001-3 tahun



        Cara Pemilihan Induk Ikan Tawes
        Ikan tawes dapat dipijahkan setelah berumur lebih dari 1 tahun, Jantan > 1 tahun, betina > 1,5 tahun .Pemilihan induk yang berkualitas menentukan bibit larva yang unggul, tahan penyakit dan cepat pertumbuhannya. Berikut cara memilih induk ikan tawes
        1. Ciri-ciri Indukan Betina ikan Tawes :
        • Letak lubang dubur terletak relatif lebih dekat ke pangkal ekor
        • Kepala relatif lebih kecil dan meruncing
        • Sisik-sisiknya besar dan teratur
        • Pangkal ekor lebar dan kokoh
        • Perutnya mengembang kearah genetal (pelepasan) bila diraba lebih lembek
        • Lubang dubur berwarna agak kemerah-merahan
        • Tutup insang bila diraba lebih licin
        • Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan kehitam- hitaman.
        2. Ciri-ciri Indukan jantan ikan Tawes :
        • Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna keputih-putihan (sperma)
        • Tutup insang bila diraba terasa kasar

        Persiapan Kolam Ikan Tawes
        Tahapan Persiapan kolam untuk budidaya pembenihan ikan tawes
        • Kolam pemijahan ikan tawes sekaligus merupakan kolam penetasan dan kolam pendederan. Sebelum dipergunakan untuk pemijahan, kolam dikeringkan.
        • Perbaikan pematang dan dasar kolam, dengan cara membuat saluran memanjang (caren/kamalir) dari pemasukan air kearah pengeluaran air dengan lebar 40 cm dan dalamnya 20-30 cm.
        Pelepasan Induk Ikan Tawes
        Setelah diperoleh indukan yang baik dan persiapan kolam selesai dilakukan, berikutnya dilakukan tahapan pelepasan Indukan,sebagai berikut :
        • Induk ikan tawes yang telah terpilih untuk dipijahkan kemudian diberok, pemberokan dengan penempatan induk jantan dan betina secara terpisah selama 4-5 hari
        • Setelah diberok kemudian induk ikan dimasukkan ke kolam pemijahan yang telah dipersiapkan
        • Tahapan pemasukan induk ke kolam dilakukan pada saat air mencapai kurang lebih 20 cm
        • Perbandingan jumlah induk yang dilepas induk betina 25 ekor dan induk jantan 50 ekor
        • Pada sore hari kurang lebih pukul 16.00 air yang masuk ke kolam diperbesar sehingga aliran air lebih deras.
        • Biasanya induk ikan tawes memijah pada pukul 19.00-22.00
        • Induk yang akan memijah biasanya pada siang hari sudah mulai berkejar- kejaran di sekitar tempat pemasukan air.
        Penetasan Telur Ikan Tawes
        Berikut cara penetasan telur budidaya pembenihan ikan tawes
        • Setelah induk ikan tawes bertelur, air yang masuk ke kolam diperkecil agar telur-telur tidak terbawa arus, penetasan dilakukan di kolam pemijahan juga
        • Pagi hari diperiksa bila ada telur-telur yang rnenumpuk di sekitar kolam atau bagian lahan yang dangkal disebarkan dengan mengayun-ayunkan sapu lidi di dasar kolam
        • Pada umumnya, telur ikan tawes menetas semua setelah 2-3 hari
        • Dari ikan hasil penetasan dipelihara di kolam tersebut selama kurang lebih 21 hari

        Pemungutan Hasil Benih Ikan Ikan Tawes
        Setelah menetas semua, tunggu sampai umur 21 hari benih siap dipindahkan :
        • Sebaikknya proses pemanenan dilakukan pada pagi hari
        • Pemanenan dilakuakan dengan cara menyurutkan/mengeringkan kolam
        • Setelah benih berada dikamalir/dicaren, benih ditangkap dengan menggunakan waring atau seser
        • Selanjutnya benih ditampung di hapa yang telah ditempatkan di saluran air mengalir dengan aliran air tidak deras
        • Benih lersebut selanjutnya dipelihara lagi di kolam pendederan atau dijual.

        Pendederan Ikan Tawes atau cara budidaya pembesaran ikan tawes
        Bibit yang diperoleh selanjutnya dipelihara kembali atau dikenal dengan istilah pendederan.
        Mula-mula kolam dikeringkan selama 2-3 hari
        • Dilakukan perbaikan pematang, pembuatan caren/saluran
        • Kemudian, dasar kolam diolah dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 sejumlah 10gr/m2 dan pupuk kandang 1 – 1,5 kg/m2 tergantung kesuburannya.
        • Setelah kolam dipupuk kemudian diairi setinggi 2-3 cm dan dibiarkan 2-3 hari kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm
        • Kemudian benih ditebar di kolam pendederan dengan padat tebar 10-20 ekor/m2
        • Pemeliharaan dilakukan kurang lebih 3 minggu – 1 bulan.
        • Selanjutnya dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di kolam pendederan II.
        Pakan Benih Ikan Tawes
        Larva ikan tawes dapat di beri  pakan alami berupa kutu air, cacing tubifex

        Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
        Semoga Bermanfaat