sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Gurame

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Gurame  (Osphronemus gouramy). Gurame adalah jenis ikan konsumsi bergizi tinggi yang termasuk jenis ikan air tawar dengan daya tahan tubuh yang tinggi. Gurame atau Osphronemus gouramy memiliki bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuningkuningan/ keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici.

Guramme dapat tumbuh baik dengan ketinggian 20-400 m dpl. Gurame mudah dibudidayakan tetapi did dataran tinggi sekitar 800 m dpl ikan gurame cenderung lambat pertumbuhannya.

Parameter Ikan Gurame
SuhuOksigen pHJumlah Telur
25-30>46-82000-10.000

Pemilihan Induk Gurame
Induk mencapai umur > 3 - 7 tahun. Berbeda dengan induk ikan tambakan, Jumlah telur induk ikan gurame tergantung dari berat indukan betina semakin besar indukan betina semakin banyak jumlah telur yang tersimpan, perut akan membulat dan relatif penjang dengan warna badan terang. Sisik-sisiknya usahakan tidak cacat/hilang dan masih dalam keadaan tersusun rapi.

Induk betina yang cukup umur dan matang kelamin ditandai dengan perutnya akan membesar ke belakang atau di dekat lubang dubur. Pada lubang anus akan nampak putih kemerah-merahan. Dan apabila kita coba untuk meraba perutnya akan teras lembek.
Ciri-Ciri indukan Gurame
1) Induk betina
Ikan betina mempunyai dasar sirip dada yang gelap atau berwarna kehitaman, warna dagu ikan betina keputih-putihan atau sedikit coklat, jika diletakkan di lantai maka ikan betina tidak menunjukan reaksi apa-apa.

2) Induk jantan
Ikan jantan mempunyai dasar sirip berwarna terang atau keputih-putihan, mempunyai dagu yang berwarna kuning, lebih tebal daripada betina dan menjulur. Induk jantan apabila diletakkan pada lantai atau tanah akan menunjukan reaksinya dengan cara mengangkat pangkal sirip ekornya ke atas.
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
Klas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)


Syarat Lokasi Budidaya Ikan Gurame
  • Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  • Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  • Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 50-400 m dpl.
  • Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
  • Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
  • Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
  • Suhu air yang baik berkisar antara 25-28 derajat C.



Penyiapan Sarana dan Peralatan Ikan Gurame
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:
a) Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
b) Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk atau ranting-ranting.
c) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
d) Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
e) Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan

Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
  • Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2).
  • Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.
  • Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air. Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan air.
  • Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi. Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat miring ke arah pintu keluar air.
  • Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
  • Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.



Peralatan Ikan Gurame
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame diantaranya adalah: 
  • jala, 
  • waring (anco),
  • hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), 
  • seser, 
  • ember-ember, 
  • baskom berbagai ukuran, 
  • timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg), 
  • cangkul, 
  • arit, 
  • pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan gurame antara lain adalah 
  • warring/scoopnet yang halus, 
  • ayakan panglembangan diameter 100 cm, 
  • ayakan penandean diameter 5 cm, 
  • tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, 
  • keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), 
  • kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), 
  • hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih,
  •  ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, 
  • oblok/delok (untuk pengangkut benih), 
  • sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), 
  • anco/hanco (untuk menangkap ikan), 
  • lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), 
  • scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
  • seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar),
  • jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).



Pemeliharaan Induk Ikan Gurame
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m2) disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan. Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.

Pembenihan Ikan Gurame
  • Induk yang sudah matang gonad siap untuk ditebarkan di kolam pemijahan. 
  • Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukurannya tergantung jumlah induk yang dimiliki, ukuran minimumya 20 m2 dan maksimum dapat mencapai 1000 m2 dengan kedalaman ideal 0,8 m - 1,5 m. 
  • Kolam induk sebaiknya dekat dengan kolam pemijahan sehingga memudahkan proses pemindahan induk ikan. 
  • Padat tebar induk ikan gurami diusahakan 1 ekor induk ikan yang bobotnya 3-5 kg per ekor sebaiknya memiliki areal untuk bergerak bebas seluas 5 m2. 
  • Penebaran induk dilakukan dengan perbandingan 1 ekor jantan yang bobotnya mencapai 3-5 kg dan 3 ekor betina yang bobotnya minimal 3 kg.
  • Proses pemijahan biasanya akan berlangsung yang diawali 1 minggu pertama induk jantan telah memulai membuat sarang, lamanya membuat sarang lebih kurang 6 hari kemudian induk betina yang sudah siap pijah memiliki naluri akan segera berpijah setelah sarangya siap, terjadinya proses pemijahan selama 2-3 hari, induk betina segera mengeluarkan telur-telurnya dan secara bersamaan pula induk jantan menyemprotkan sperma dan terjadi proses pembuahan telur oleh sperma jantan. 
  • Proses perkawinan akan diakhiri apabila jantan telah menutup sarang, dengan ijuk atau sejenisnya. Keberhasilan proses pemijahan dapat diamati pula dengan melihat pemukaan kolam yang ada sarang guraminya terlihat keluar banyak minyak dipermukaan air dan tecium bau amis.
Penetasan Telur Ikan Gurame
  • Pengambilan sarang yang berisi telur dilakukan secara berhati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang dan sebaiknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa ember atau baskom yang berisi air dan diberi Metheline Blue dengan perbandingan 5 cc obat untuk 5 liter air.
  • Penetasan dapat dilakukan di dalam paso atau baskom maupun di dalam akuarium. Air di dalam baskom atau akuarium diberi aerasi atau supplay oksigen dan setiap hari dilakukan pengambilan telur-telur yang tidak menetas atau berjamur supaya tidak menular ke telur yang sehat. Biasanya telur gurami akan menetas setelah 36-41 jam.
Pemeliharaan Larva Ikan Gurame
  • Setelah telur menetas, larva dapat dipelihara dalam paso atau baskom selama 8-10 hari sampai kuning telur habis. 
  • Bila penetasan dilakukan di dalam akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan di akuarium, penggantian air perlu dilakukan untuk membersihkan air dari minyak yang dihasilkan saat penetasan. Suhu dipertahankan pada kisaran 29-30 derajat celcius.
  • Pemindahan larva dari lokasi penetasan ke lokasi pembesaran / pendederan dapat dilakukan dengan menggunakan baskom atau ember. 
  • Larva dimasukkan ke dalam ember bersama air dari tempat penetasan sehingga larva tidak stres. Sebaiknya pemindahan ke kolam atau tempat pendederan dilakukan pada pagi atau sore hari dimana pebedaan suhu antara air media penetasan dan air media pendederan atau kolam tidak begitu mencolok.
Pemberian Pakan Ikan Gurame
  • Pakan mulai diberikan setelah larva berumur 8-10 hari atau setelah kuning telur habis. Pakan yang diberikan adalah pakan alami yang bisa berupa artemia, kutu air berupa daphina atau moina, cacing sutera. 
  • Jenis pakan yang diberikan ini disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Frekuensi pemberian sebanyak 4-5 kali sehari.
  • Untuk larva yang dipelihara di akuarium, pemberian pakan dapat diberikan sebanyak 2 sendok makan untuk 1000 ekor larva setiap pemberian. Ketika sudah semakin besar, kepadatan larva dalam satu akuarium dapat dikurangi.
  •  Larva yang dipelihara dalam akuarium selanjutnya dipelihara hingga menjadi benih yang siap ditebarkan ke kolam pemeliharaan benih.



Permasalahan Pembenihan Ikan Gurame
Berikut ini beberapa permasalahan yang sering ditemui dalam usaha pembenihan ikan gurami :

1. Induk Malas Memijah
Induk gurami yang telah matang gonad kadang-kadang tidak mau memijah. Hal ini sebagian besar diakibatkan karena kondisi lingkungan kolan yang tidak nyaman bagi indukan atau indukan belum benar-benar matang gonad. Cara mengatasinya adalah dengan memijahkan induk yang benar-benar telah matang gonad dan kolam pemijahan jangan terlalu padat, cukup 40 ekor/1000 m2 atau bisa juga dengan perbandingan 3 betina : 1 jantan untuk kolam dengan ukuran 4m x 3m.

2. Jumlah Telur Sedikit
Hal ini bisa disebabkan oleh umur induk yang terlalu muda. Untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan induk jantan yang  telah berumur 4 tahun dan induk betina yang berumur 3 tahun.

3. Telur Tidak Menetas
Telur yang tidak menetas bisa disebabkan oleh kualitas induk yang kurang bagus dan penanganan sarang yang salah sehingga telur mati. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan induk yang kualitasnya benar-benar memenuhi syarat sehingga telur yang dihasilkan bagus mutunya dan tidak mengangkat baskom atau ember begitu saja akan tetapi sarang diangkat bersama dengan air kolam pemijahan agar telur tidak terkontaminasi dengan udara luar.

4. Tubuh Benih Berwarna Hitam
Kondisi ini disebabkan oleh gangguan velvet yang menyebabkan kulit benih menjadi berwarna gelap dan berlendir. Pemicunya adalah karena suhu air penetasan terlalu rendah. Hal ini dapat diatasi dengan pemasangan pemanas atau heater untuk menjaga suhu air media penetasan tetap pada kisaran yang sesuai.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Baronang

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Baronang (Siganus sp). Baronang adalah ikan yang termasuk spesies siganus sp. jenis ikan laut ini banyak diminati karena rasanya yang lezat. Di indonesia ikan baronang (siganus sp.) terdapat 7 spesies diantaranya : Siganus javus, S. argentinzaculatus, S. vermiculatus, S. guttatus, S. spinus, S. Rivulatus, dan S. canaliculatus.

Ikan baronang yang digemari dengan kondisis ikan cepat tumbuh dan daya tahan toleran terhadap kondisi strest serta perubahan  lingkungan antara lain adalah ikan baronang spesies. S. guttatus dan S. canaliculutus. 

Ikan baronang (siganus sp) masih terkendala dalam budidaya, karena sebagian besar ikan baronang di dapatkan dari hasil tangkapan nelayan di laut.
Budidaya baronang menggunakan air laut, harus berdekatan dengan laut. Menurut Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian disosialisasikanlah mengenai teknik pembenihan ikan baronang, dengan harapan agar para nelayan dapat membudidayakan ikan baronang dengan pengadaan benih dari budidaya sendiri juga. Istilahnya usaha budidaya dengan mengambil keuntungan dari hulu sampai hilir. 


Parameter Ikan Baronang
SuhuSalinitasOksigenpHjumlah telur
28-3227-32> 57-8,5200.000-1.300.000

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Baronang
Ikan baronang merupakan ikan air laut, ikan air laut biasanya memiliki jumlah telur yang terlampau banyak karena di lihat dari kondisi dilaut dengan banyaknya rantai pemangsa ikan-ikan kecil membuat berbagai jenis ikan dilaut memiliki jumlah telur yang banyak.

Pemilihan tempat pembenihan Ikan Baronang
Pemilihan tempat dapat mencontoh cara pembenihan ikan kakap putih,


Pemilihan Induk Ikan Baronang

Induk ikan baronang yang di gunakan dapat berupa induk di pelihara dari keramba jaring apung dan tambak atau hasil penangkapan dari alam.

Induk yang memenuhi kriteria standar yaitu warna cerah, organ tubuh lengkap ( tidak cacat ), tubuh kenyal dan gerakan aktif. Sebelum induk di pelihara dalam bak pemeliharaan induk terlebih dahulu diadaptasikan lingkungan terutama suhu dan salinitas.


Ciri-ciri Indukan Ikan Baronang
Ciri Ikan Baronang Betina

  • Ikan Betina lebih besar dari jantan
  • Perut bagian bawah ikan betina lebih besar 
  • Lubang genital ikan baronang betina lebih besar
  • Ukuran baronang betina terutama matang telur adalah panjang baku 130 - 210 mm
  • Berat Betina > 300-450
  • Jika bagian perut beronang diurut, cairan keluar berwarna jingga dari lubang genital 


Ciri Ikan Baronang Jantan

  • Ukuran baronang jantan terutama matang telur adalah panjang baku 110 - 140 mm
  • Berat Jantan > 250

Pemeliharaan Induk 
Pemeliharaan induk dilakukan dengan menggunakan

  • Bak dari beton yang berukuran 3 m3 dengan perbandingan antara jantan dan betina adalah 1 : 1. 
  • Pakan yang diberikan berupa pakan pelet sebanyak 3 - 5 % bobot ikan yang mengandung protein > 35 %. 
  • Pemberian pakan ini dilakukan 2 – 3 kali sehari pada jam 07.00, 10.00, dan 15.00. 

Metode Pemijahan
Metode yang digunakan dalam pemijahan ada tiga macam, yakni pemijahan alami, pemijahan dengan stripping, dan pemijahan dengan rangsangan hormon.

1. Pemijahan alami Ikan Baronang
Induk ikan baronang umumnya memijah pada bulan gelap, waktu memijah sekitar petang menjelang malam atau dinihari menjelang subuh. Ikan baronang memijah umumnya pada bulan Februari s/d September.

2. Pemijahan  Ikan Baronang dengan stripping
Stripping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara basah.

a. Cara basah
Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah disterilisasi dan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan dipindahkan ke dalam bak penetasan.

b. Cara kering
Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/bulu bebek, kemudian dibiarkan selama + 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air laut yang telah disaring dan disterilisasi, baru telur dipindahkan ke bak penetasan.

Keterangan Gambar
A. Pengambilan Sperma
B. Pengambilan telur dengan cara stripping
C. Pencampuran sperma dan telur
D. Diaduk dengan bulu ayam/bebek
E. Pencucian telur
F. Pencucian dengan air mengalir dalam plankton net.



3. Pemijahan  Ikan Baronang dengan hormon
Induk ikan yang sudah matang telur dirangsang untuk memijah dengan suntikan hormon gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU dan induk jantan disuntik dengan 250 MU (mouse unit). Biasanya setelah 6 -8 jam ikan akan memijah.

Penetasan Telur
a. Persiapan
Bak penetasan disiapkan dengan dibersihkan menggunakan bahan kimia chlorin dengan dosis 200 ppm. Kualitas air seperti oksigen, pH, salintas, suhu, kecerahan, kandungan gas dan logam berat harus dijaga agar tidak melebihi batas ambangnya.

b. Penetasan
Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 22 – 24 jam pada suhu air 26 – 28 0 C. Telur yang tidak dibuahi akan tenggelam ke dasar bak.

Pemeliharaan Larva
Larva yang dirawat dengan seksama terutama sesudah kuning telurnya habis. Pada tahap ini larva diberi pakan hidup alami berupa chlorella sp, rotifera dan daging ikan yang dicincang.

Dari beberapa macam jenis jasad pakan tersebut tidak diberikan secara bersamaan melainkan disusun menurut jadwal yang tertentu sesuai dengan perkembangan larva.
o Hari ke- 0 sd 10 , jenis pakan adalah Larva bivalvia
o Hari ke- 0 sd 30 , jenis pakan adalah Rotifera
o Hari ke- 5 sd 35 , jenis pakan adalah Nauplii artemia
o Hari ke-30 , jenis pakan adalah Copepoda (Tigriopus sp)
o Hari ke-30 , jenis pakan adalah Daging cincang
o Hari ke-40 , jenis pakan adalah Daging/udang/ikan

Pengelolaan Kualitas Air
Air laut untuk pemeliharaan larva adalah air laut yang sudah mengalami beberapa saringan, pertama melalui saringan pasir kemudian saringan millipore yang berdiameter 10 dan 15 mikron. Pembersihan tangki harus dilakukan secara periodik dengan menggunakan siphon (pipa plastik), larva telah berumur antara 7 – 20 hari, dasar tangki harus dibersihkan setiap 2 hari sekali, bila larva berumur di atas 21 hari pembersihan dasar tangki dilakukan setiap hari.


Pengendalian Hama dan Penyakit
Ikan baronang (S. guttatus) dapat terserang parasit sejenis dinoflagelata, yaitu
Amyloodinium ocellatum. 
  • Organ yang diserang adalah insang dan kulit. Ikan yang terinfeksi oleh parasit ini menunjukkan gejala berenang megap-megap di permukaan, muncul warna merah di sekeliling mulut, dan gejala anemia. Bahkan, jika terinfeksi berat, dapat berakibat kematian pada ikan.
  • Pencegahan dan pengobatan, yaitu dilakukan perendaman dengan formalin 200 ppm selama satu jam disertai aerasi kuat. 
  • Hal ini disebabkan penggunaan formalin dengan dosis tinggi dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air, selain ikan sangat sensitif terhadap formalin.
Ichthyophonus sp
  • Jamur yang sering menyerang ikan laut adalah Ichthyophonus sp. Tanda adanya infeksi jamur, yaitu pada setiap ikan berbeda. Beberapa ikan terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, ada juga yang ditandai dengan pembengkakan organ dalam, seperti limpa, hati, dan ginjal disertai benjolan putill berdiameter hingga lebih dari 2 mm, kadang disertai pembengkakan perut dan bergerak tak menentu.
  • Efek lain yang timbul adalah ikan kehilangan nafsu makan sehingga menjadi kurus dan menderita anemia. Pengobatannya belum diketahui. Untuk menghindari serangan penyakit ini, sebaiknya sejauh mungkin dihindari pemberian pakan yang terkontaminasi jamur.
Vibrio spp
  • Penyakit bakterial penting pada ikan baronang, yaitu penyakit yang disebabkan bakteri Vibrio spp. dan Streptococcus sp. Gejala yang timbul, antara lain nafsu makan menurun, warna tubuh menjadi lebih gelap, perdarahan (hemoragi) multifokal pada sirip, dan mata buram/keruh serta sering kali menonjol. Infeksi kronis umumnya menyebabkan insang pucat.
  • Pencegahannya dengan mempertahankan kualitas perairan, melakukan penanganan sesuai prosedur, padat penebaran yang lebih rendah, dan vaksinasi. Pengobatannya dengan perendaman ikan sakit ke dalam larutan nitrafurazone 15 mg/l selama 2 jam atau Chloramphenicol 5o mg/l selama 4 jam. perendaman dapat juga dengan Supphonamide 5o mg/l selama 4 jam.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Belut dalam Drum

Cara Pembesaran Budidaya Belut (Monopterus albus) dalam Drum  adalah cara budidaya belut menggunakan bekas tong atau drum yang dibuat lubang pada samping tong atau drum. lubang tersebut berbentuk persegi panjang. Syarat lubang 40% dari total tinggi lebar, dengan tinggi lebar merupakan tinggi dari samping drum ke samping drum lainnya.

Lubang yang tidak sampai lebih dari 50% berfungsi agar belut tidak mudah keluar dari drum, model drum yang membuat pintu dari drum berbentuk setengah lingkaran membuat belut tidak dapat keluar sehingga aman untuk tempat budidaya dan hemat tempat. Usaha budidaya belut dilahan sempit menggunakan media drum atau tong plastik merupakan alternatif yang baik bagi pemilik yang tidak mempunyai lahan cukup luas. 



Persiapan makanan sebelum Budidaya Belut
Makanan merupakan hal pokok dalam kelangsungan hidup belut. karena belut adalah hewan pemakan daging dalam hal makanan cukup sulit didapatkan, sehingga perlu persiapan pakan sebelum melakukan budidaya belut. agar terhindar dari kekurangan Makanan

Pakan utama belut dapat berupa cacing tanah, keong mas, bekicot, ikan runcah dan berbagai daging lainnya. Perlu diperhatikan pakan harus murah untuk meminimalkan biaya budidaya.

Perlengkapan
  • Tong/drum, disarankan dari bahan plastik, supaya tidak berkarat.
  • Paralon.
  • Kawat kasa.
  • Tandon penampungan air.
  • Ember, serok, cangkul, baskom, jerigen dll.
Parameter Belut

SuhuSuhuOksigenpHjumlah telur
26-2826-28>26-7500-1000



Persiapan dan Teknik Budidaya
Budidaya belum dalam drum, yang perlu dilakukan dalam pembesaran belut ini, dibutuhkan tempat untuk budidaya belut tersebut, tekniknya sebagai berikut :

1. Drum
Bahan Drum dapat dari plastik atau besi. Sebelum dipakai khusus drum besi bersihkan dari karat dan di cak ulang dan diamkan sampai kering tak berbau, isi drum besi dengan air diamkan 2 hari. setelah itu buang airnya.

Drum yang digunakan harus dalam keadaan bersih, tidak bocor, tidak berbau, sebelum pemakaian bersihkan telebih dahulu, isi air diamkan 12 jam, keringkan 3 jam siap pakai.

Berikut Cara merakit Drum/tong untuk budidaya belut :
  • Letakkan tong pada posisi mendatar, agar media menjadi lebih luas.
  • Buka bagian tengah drum/tong, sisakan 5 cm pada sisi kanan dan kiri.
  • Pasanglah tumpuan/ganjal supaya drum/tong tidak menggelinding, atau bergerak.
  • Buat saluran pembuangan dibawah drum, letaknya dapat disesuaikan dengan penampungan limbah pembuangan.
  • Buat peneduh, sehingga intensitas panas matahari tidak terlalu tinggi dan terkena langsung ke permukaan drum/tong, bahan bisa dibuat dengan memasang shading net/waring atau bisa juga dengan bahan yang murah dan mudah didapat lainnya.
Tanah untuk pemebesaran budidaya belut sebaiknya tanah yang tidak berpasir, tidak terlalu liat serta masih memiliki kandungan hara, disarankan untuk menggunakan media tanah dari sawah, atau dapat pula menggunakan media tanah bekas pemeliharaan ikan lele.

Berikut cara penanganan tanah untuk media budidaya belut :
  • Masukkan tanah kedalam drum/tong hingga ketinggian 30–40 cm.
  • Masukkan air hingga tanah becek namun tidak menggenang.
  • Masukkan EM 4 sebanyak 4 botol kedalam tong.
  • Aduk tanah sebanyak 2 kali sehari hingga tanah lembut dan gembur.
Media instan ini dibuat diluar drum/tong yang merupakan campuran bahan utama dan bahan campuran. Penggunaan 100 kg bahan akan menghasilkan 90 kg media instan bokashi. Setiap drum/tong ukuran 200 liter dibutuhkan 45 kg bokashi.
Bahan utama terdiri atas :
  • Jerami Padi (40%).
  • Pupuk Kandang (30%).
  • Bekatul/dedak (20%).
  • Potongan batang pisang (10%).
Bahan campuran terdiri atas :
  • EM4
  • Air sumur.
  • Larutan 250 gram gula pasir untuk menghasilkan 1 liter larutan (molases.
Cara membuat Media Instan Bokashi untuk budidaya belut :
  • Cacah jerami dan potongan batang pisang kemudian keringkan. Tanda bahan sudah kering adalah hancur ketika digenggam.
  • Campuran cacahan bahan diatas dengan bahan pokok lain dan aduk hingga merata.
  • Campurkan bahan campuran sedikit demi sedikit tapi tidak terlalu basah.
  • Tutup media dengan karung goni atau terpal selama 4–7 hari. Bolak balik campuran agar tidak membusuk.
4. Mencampur Media point 1 dan 2
  • Masukkan media instan kedalam tong dan aduk hingga merata.
  • Massukkan air kedalam drum/tong hingga ketinngian 5 cm dan diamkan hingga terdapat plankton dan cacing (sekitar 1 minggu) selama proses ini berlangsung drum/tong tidak perlu ditutup.
  • Keluarkan air dari drum/ tong dan ganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama.
  • Massukkan tumbuhan air yang tidak terlalu besar sebanyak ¾ bagian dan ikan ikan kecil.
  • Masukkan vetsin secukupnya sebagai perangsang nafsu makan belut dan diamkan selama 2 hari.
Yang perlu diperhatikan ketinggian seluruh media , kecuali tumbuhan air tidak lebih dari 50 cm.

Rantai pembuatan Media budidaya belut
Rantai pembuatan adalah urutan pembuatan dari pembuatan drum (1), media tanah no (2), media bokashi (3) , dicampur (4) sampai menebar benih belut

  1. Pembuatan drum Hari 1-3
  2. Memasukkan media tanah hari 3-10, setiap 2 hari diaduk
  3. Membuat media bokashi hari ke 1-10, ditutup dan bolak balik, 
  4. Mencampur media tanah dengan bokashi hari 11
  5. Campuran media diamkan dari hari 11-18, isi air sampai ketinggian 5 cm
  6. Ceks ketinggian air kemudian media masukkan ikan kecil dan vetsin hari 19-21
  7. Masukkan bibit belut hari 21
  8. Siap dipakai, pemberian pakan mulai Hari 24



5. Memasukkan bibit belut
Setelah semua media budidaya tersebut siap tahapan selanjutnya menebarkan bibit belut. Bibit yang ditebar sebaiknya sebanyak 2 kg dengan jumlah bibit sebesar 80–100 ekor per kg.

Pemeliharaan dan perawatan belut dalam drum atau tong
1. Pemberian Pakan belut
Pemberian pakan mulai hari ke 3, dengan jumlah pakan max adalah 5% dari jumlah total berat belut. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut dialam yang makan disore/malam hari.

2. Pengaturan Air dalam media budidaya belut.
Lubang pengeluaran air 8 cm dari genangan air di media. Air yang mengalir menggunakan pipa paralon berupa percikan air tidak terlalu besar, karena dapat menyebabkan media terbawa arus air keluar.

3. Perawatan Tanaman Air dalam media budidaya belut.
Tanaman air ini digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat budidaya dan juga menjaga belut dari kepanasan.

4. Pemberian EM4 dalam media budidaya belut.
EM4 berfungsi sebagai penetralisir sisa sisa pakan, selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau. EM4 diberikan2-3 kali sehari dengan dosis ½ sendok makan dilarutkan dalam 1 liter air.

5. Perawatan Sekitar Lokasi media budidaya belut.
Perawatan sekitar lokasi ini untuk menjaga tong dari tanaman liar, lumut, dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.
Pemanenan budidaya belut dalam drum atau tong
Pemanenan dilakukan setelah 3–4 bulan budidaya dilakukan atau sesuai dengan keinginan kita dan keinginan (permintaan) pasar . Pemanenan untuk media drum/tong tentunya lebih mudah, dan belut hasil budidaya siap dipasarkan.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Belut di Air Bersih

Cara Pembesaran Budidaya Belut (Monopterus albus) di Air Bersih. Belut merupakan hewan yang mirip dengan ulat, dengan tubuh yang licin, belut hidup di lumpur, dihabitat aslinya belut dapat mengubur badannya di dalam lumput. Alternatif budidaya belut selain di air bersih adalah cara budidaya belut dalam drum.  Belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di air Bersih (air bening) tanpa lumpur ini adalah hal yang sangat luar biasa, ini adalah teknik terbaru yang pertama kali dikembangkan oleh peneliti di Jepang. Ini bener-bener ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita khususnya para pembudidaya belut, sehingga kita bisa lebih effisien dalam melakukan usaha ini.

Teknik budidaya belut di air bersih mengeser pembudidaya belut mencari "pelepah pisang, jerami, lumpur, kotoran sapi dan lain-lain, kita sudah tidak repot lagi untuk melakukan bokasi dan menfermentasikan-nya.
Kesimpulan: belut bisa hidup dan dibesarkan pada air bersih tapi tetap harus menggunakan lumpur untuk reproduksi alami.

Secara teknis: sejauh kebiasaan makan bisa diadaptasikan dan kebutuhan pakan bisa disuplay secara terkontrol, seharusnya pembesaran belut di air bersih dapat dilakukan. hanya saja, kontrol terhadap kemungkinan serangan penyakit akibat proses adaptasi harus benar-benar diamati dan dijaga.

Keuntungan: dengan pembesaran belut pada air bersih, jumlah (yang berkaitan dengan kelangsungan hidup) dan pertumbuhan (yang berhubungan dengan penambahan bobot) dapat selalu terkontrol sehingga target produksi bisa lebih ter-realistis dan untuk jumlah penebaran bibit belut di air bersih bisa lebih besar (bisa 10 bahkan sampai 30 kali lipat dibanding dengan penebaran benih di media lumpur).
Parameter Belut

SuhuSuhuOksigenpHjumlah telur
26-2826-28>26-7500-1000

Keunggulan dan Kelebihan Bidudaya Belut Di Air Bersih
• Belut Mudah Dikontrol
Kemudahan dalam melakukan pengontrolan terhadap belut yang dibesarkan, selain itu jika ada belut yang terlihat sakit atau mati, akan mudah terlihat sehingga bisa segera diambil dari kolam budidaya.
• Penebaran Benih Belut Lebih Banyak
  • Budidaya Belut dengan media air bersih memungkinkan pembudidaya untuk meningkatkan jumlah belut yang di besarkan dikolam hingga bisa mencapai 30 kali lipat per m2 di banding budidaya belut di media lumpur. Dalam Budidaya belut di air bersih berdasarkan uji coba, untuk ukuran 1m2 bisa ditebar benih belut 30kg, sedangkan di media lumpur penebaran benih untuk ukuran 1 m2 hanya bisa kita tebar 1kg maksimal 1,5kg, 
• Meminimalkan Angka Kanibalisme
  • Seperti binatang-binatang lainnya, belut yang dibesarkan di dalam air yang berlumpur terutama belut jantan atau belut yang sudah mencapai umur 6-8 bulan, akan memperlakukan habitat tempatnya bernaung sebagai daerah kekuasaannya. bila merasa terusik oleh belut yang lain dan daerah kekuasaannya terancam, belut tersebut akan saling serang menyerang. 
  • Belut yang dipelihara di media air bersih tanpa lumpur, karena antara belut satu dengan yang lainya justru saling membutuhkan, dalam metode budidaya belut di air bersih, badan belut adalah sebagai tempat untuk saling melindungi dan sebagai tempat persembunyian.

• Lebih Effisien Dan Effektif
Belut yang sudah kita kenal dengan gaya hidupnya yang selalu bersembunyi didalam lumpur yang berair. Namun hal yang sebenarnya dimana ada lobang belut yang masih ada belutnya disitu pasti akan terdapat air yang jernih. Dengan adanya hal tersebut berarti syarat hidup belut adalah di air jernih (air bersih), dan tanpa lumpurpun masih bisa hidup dan bisa dibesarkan. Budidaya belut di air bersih (air jernih) tanpa lumpur memungkinkan para pembudidaya tidak akan kerepotan karena harus mencari jerami, debog pisang ataupun lumpur sebagai medianya namun dengan budidaya belut di air bersih cukup dengan air yang jernih saja dan dalam budidaya belut di air bersih juga akan menghemat lahan karena dalam pembikinan kolam dengan media air bersih, bisa disusun menjadi 3 tingkat atau lebih. dalam pemberian pakan di media air bersih juga tidak cuma-cuma(mubadzir) karena setiap kita tebar pakannya, belut akan melihat sehingga belut akan langsung memangsanya.

Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
antara lain :
Air 
  • Air yang digunakan harus selalu dikontrol dengan suhu optimal 25-28 derajat C
  • air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya
  • kolam harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar)
  • Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali
Jika pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme pada belut kita dan kita juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut masih mau makan dengan pakan tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali belut mau makan dengan pakan yang kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang kita berikan, kembalilah kepakan yang sebelumnya.
Jenis-jenis pakan belut antara lain: 
cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang lainnya.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas.
1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka
Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.

2. Bibit terlihat lincah dan agresif
Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati. belut yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas dengan cepat kamudian kembali kebawah lagi.

3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang
pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan.

4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu
Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan dikarantina. Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat. Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih biarkan belut tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan madu 1 jam kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang diamkan kurang lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan.

Mempersiapkan Pembesaran
Langkah Awal
Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan dan kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3 atau 4 bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. 

Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga lama kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat diterima oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi ambang batas toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan airnya. Dengan demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang memungkinkan untuk penggantian atau sirkulasi air.

Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum).
Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5 meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri, karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat budiaya kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Teripang atau Timun Laut

Cara Pembesaran Budidaya Teripang atau Timun Laut (Holothuria Scabra). Dalam Artikel sebelumnya membahas tentang pembenihan budidaya teripang . Teripang adalah organisme laut yang hidup di dasar perairan dan pergerakannya relatif lambat. Meskipun gerakan teripang tergolong lambat, desain dan konstruksi kurungan pagar harus dapat menjamin teripang tidak lolos dari dasar kurungan pagar. rinsip dasar metode budidaya pembesaran teripang ialah memberikan pagar di area perairan pesisir laut pada luasan tertentu agar teripang yang dibudidayakan terkurung di dalamnya, tidak dapat meloloskan diri dan tidak mendapat serangan hama. 

Budidaya teripang seperti ini dikenal dengan metode pen culture kurungan tancap atau kurungan pagar. Karena pergerakan teripang relatif lambat, maka binatang laut ini dapat dibudidayakan dengan tingkat kepadatan penebaran yang cukup tinggi. 

Desain dan konstruksi kurungan pagar umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan bahan kurungan pagar yang dipergunakan yaitu kurungan pagar dari bambu dan kurungan pagar dari jaring. Menurut pengalaman para pembudidaya teripang, jenis bahan yang paling efektif untuk membuat kurungan tancap adalah jaring.

Cara Pembenihan Budidaya Teripang atau Timun Laut
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya teripang adalah:
  • Dasar perairan terdiri dari pasir, pasir berlumpur, berkarang, dan ditunbuhi tanaman lamun (rumput lindung)
  • Terlindung dari angin kencang dan arus/gelombang yang kuat
  • Tidak tercemar dan bukan daerah konflik serta mudah dijangkau
  • Kedalaman perairanlokasi antara 50-150 cm pada saat surut terendah dan sirkulasi air terjadi secara sempurna
  • Mutu air: salinitas 24-33 ppt, kecerahan 50-150 cm, suhu 25-30°C

Konstruksi Kurung Tancap budidaya teripang
Bahan budidaya teripang:
Balok berukuran (5x7x200)cm, sebaiknya digunakan kayu ulin
  • Waring nilon ukuran mata 0,2 cm
  • Tali ris dari nilon
  • Tali pengikat atau paku anti karat
  • Papan yang tahan air, sebaiknya digunakan kayu ulin 
Cara Pemasangan kurung tancap budidaya teripang:
  • Tiang dipancang pada dasar perairan sedalam 0,5- 1 m
  • Bagian tiang yang berada di atas permukaan sebagai tempat melekatkan waring 
  • Waring yang telah dilengkapi dengan tali ris disambung dengan papan
  • Papan yang telah disambung dengan waring dibalut lalu ditanam ke dalam lumpur (30 cm)
  • Bila tidak ada papan bagian ujung waring ditanam ke dalam lumpur sedalam 30 cm kemudian bagian ujungnya dibelokkan ke dalam sepanjang 15 cm
  • Ukuran kurung tancap disesuaikan dengan kebutuhan luas area budidaya.


Pemilihan Benih budidaya teripang
Pilih benih yang seragam baik jenis maupun ukuran. Benih yang baik adalah tubuhnya padat berisi dan tidak cacat. Hindari benih yang diangkut dalam waktu lama (lebih 1 jam) dan dalam keadaan bertumpuk (padat). Hindari benih yang telah mengeluarkan cairan berwarna kuning. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau malam hari atau pada saat suhu tidak panas dan menggunakan wadah yang berisi substrat pasir khususnya pada sistem pengangutan terbuka

Teknik budidaya teripang
  • Benih teripang dengan berat awal 40-60 g ditebar ke dalam kurung tancap dengan kepadatan 5-6 ekor/m2.
  • Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada suhu rendah.
  • Sebelum benih ditebar ke dalam kurung tancap, adaptasikan terlebih dahulu agar dapat diketahui ketahanan tubuhnya maupun jumlah benih.
  • Selama pemeliharaan diberikan kotoran ayam atau kotoran ayam yang dicampur dedak halus sebanyak 0,1 kg/m2 setiap minggu sekali. Kotoran ayam atau dedak halus sebelum ditebar dicampur dengan air bersih dan diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung dan lakukan pada saat air surut.
  • Pada sistem ini teripang yang dipelihara tidak tergantung dari pakan buatan karena teripang tersebut berada pada habitat aslinya. Pemberian kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuan diatom yang merupakan makanan utama bagi teripang.
  • Lama pemeliharaan selama 4-5 bulan. 
Cara Panen budidaya teripang
  • Setelah dipelihara selama 40-5 bulan, teripang telah mencapai ukuran konsumsi (300-500 g), teripang siap dipanen. 
  • Panen dilakukan pada saat air surut terendah, dan dilakukan beberapa kali karena banyak yang membenamkan diri dalam pasir atau lumpur. 
  • Untuk mengetahui apakah teripang sudah terpanen semuanya, dilakukan pengecekan pada air pasang, karena teripang senang keluar dari persembunyiannya setelah air pasang. 


Pengolahan budidaya teripang
  1. Mula-mula teripang segar dibersihkan isi perutnya dengan cara menusuk-nusukan lidi pada bagian anusnya, kemudian bagian perutnya dibelah sepanjang ± 5-10 cm untuk mengeluarkan isi perut yang masihn tersisa (sesuaikan dengan ukuran) kemudian dibilas dengan air bersih. 
  2. Setelah itu teripang direbus selama 30 menit sampai matang. 
  3. Untuk membersihkan kulit dapat direndam dengan NaOH, KOH, CaCO3, atau dengan bahan alami seperti parutan pepaya muda selama 1 jam. Selanjutnya dilakukan pengeringan atau pengasapan untuk mengurangi kandungan airnya. 
  4. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau oven dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu keras, serbuk gergaji terutama dari kayu ulin dan sabut kelapa. Namun yang terbaik adalah dengan menggunakan serbuk gergaji kayu ulin karena mempunyai warna dan aroma yang baik, sehingga mutu dan harganya lebih tinggi. 
  5. Hasil pengeringan dengan sinar matahari mempunyai mutu yang lebih rendah, karena biasanya berbau amis. Mutu teripang yang baik adalah mempunyai berat 40% dari berat segar. 
  6. Harga teripang olahan di pasaran sangat dipengaruhi ukuran dan mutu pengeringannya. Teripang dalam bentuk asapan dengan aroma yang baik harganya lebih mahal dibandingkan dengan teripan kering. 
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Pembenihan Budidaya Teripang atau Timun Laut

Alam Ikan; Cara Pemijahan Budidaya Teripang atau Timun Laut (Holothuria Scabra). Teripang adalah salah satu komoditi bernilai ekonomis tinggi yang memiliki bentuk lonjong, biasa disebut mentimun laut. karena teripang adalah organisme air laut sangat cocok dibudidayakan masyarakat pantai karena teknik budidayanya cukup sederhana dan permodalan yang diperlukan relatif kecil. Masyarakat di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara (Kolaka), Lampung dan Riau telah lama melakukan budidaya teripang, hanya saja benih yang dibudidayakan masih berasal dari alam. 

Dengan banyaknya pencari benih teripang membuat pembenihan budidaya teripang menjadi usaha yang sangat menjanjikan. Pada tahun 1992 Balai Budidaya Laut Lampung telah berhasil melaksanakan pemijahan teripang pasir atau teripang putih (Holothuria scabra). Terdapat beberapa jenis teripang yang ada di Indonesia, sebagian besar jenis-jenis teripang tersebut bernilai komersial tinggi.


Cara Budidaya Teripang atau Timun Laut
Teknik Pembenihan Teripang 
1) Sarana Pembenihan Teripang
Sarana yang diperlukan untuk pembenihan teripang antara lain :

  • Bak penampungan induk
  • Bak Pemeliharaan larva
  • Bak kultur larva
  • Bak kultur larva
  • Bahan Terbuat dari beton atau kayu yang dilapisi plastik
  • Bak penampungan air, dibangun lebih tinggi dari bak pemeliharaan. Agar air mengalir dari atas ke bawah, dan lebih efisien
  • Bak penampungan induk dengan kapasitas 1,5 ton air berjumlah 2 atau 3 buah dengan kedalaman sekitar 50 cm.
  • Bak pemliharaan larva berjumlah 10 - 15 buah dengan ukuran (1 x 2 x 0,5)m3.
  • Bak pemeliharaan juvenil berjumlah 8 - 10 buah dengan ukuran (2 x 4 x 0,6)m3.
  • Bak plankton berjumlah 3 - 5 buah dengan ukuran ( 2 x 4 x 0,75)m3. 

Alat yang digunakan dalam budidaya teripang
  • Saringan pasir untuk menyaring air laut agar diperoleh air laut yang benar-benar bersih.
  • Bak penampungan air yang dilengakapi dengan saringan pasir. Ukuran bak disesuaikan dengan kebutuhan air laut untuk penggantian air pada seluruh unit pembenihan. Penempatan bak diatur supaya gravitasi bisa menyalurkan air dari satu bak ke bak lainnya.
  • Pipa penyalur air yang dilengkapi dengan beberapa saringan berbagai ukuran 1,5 - 2 mikron.


Gambar 1. Skema bak budidaya pembenihan teripang

Keterangan Gambar 1:
A. Saringan pasir
B. Bak penampungan air (volume 1 ton).
C. Pipa penyuplai air.
D. Saringan bertingkat.
E. Bak induk (volume 3 ton).
F. Bak pemijahan (volume 1,5 ton).
G. Bak pemeliharaan larva.
H. Bak pemeliharaan juvenil.
I. Bak plankton.

2) Pemeliharaan dan Seleksi Induk
  • Induk teripang yang akan digunakan biasanya diperoleh dari tangkapan alam. 
  • Penyediaan calon induk teripang dari laut dapat dilakukan dengan penyelaman pada siang hari. Apabila dilakukan pada malam hari harus dibantu dengan lampu penerang. 
  • Dengan cara ini, induk teripang dapat diambil langsung dengan tangan. 
  • Pada perairan yang agak dalam, induk teripang dapat diambil dari atas perahu dengan bantuan alat semacam tombak bermata dua yang tumpul 
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih induk teripang yang baik adalah:
  • Tubuh tidak cacat.
  • Ukuran besar dengan berat 400 gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.
  • Berkulit tebal.
Untuk pengumpulan/pengangkutan calon induk pada siang hari sebaiknya wadah penampungan atau palka erahu ditutup rumput laut atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sengatan sinar matahari secara langsung. 

Pengangkutan induk 
  • Pengangkutan menggunakan ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu. 
  • Induk yang telah di seleksi dipelihara dalam kurungan tancap di laut, atau langsung dipelihara di dalam bak induk dengan kepadatan 5 - 10 ekor/m2. 
  • Khusus untuk pemeliharaan di kolam air laut, kedalaman diusahakan antara 75 - 100 cm, selain itu diusahakan selalu ada penggantian air agar stabilitas suhu dan salinitas tetap terjaga. 
Pakan alami budidaya teripang
  • Teripang dapat berupa plankton, detritus, sisa-sisa bahan organik atau sisa-sisa endapan di dasar laut.
  • Pakan tambahan berupa campuran kotoran hewan dan dedak halus dengan perbandingan 1 : 1. 
  • Pakan diberikan sebanyak 0,2 - 0,5 kg/m2/2 minggu 
  • dengan cara ditempatkan dalam karung goni yang berlubang-lubang sehingga keluar sedikit demi sedikit. 
  • Setiap satu kantong goni biasanya dapat diisi 10 - 15 kg pakan tambahan yang dapat mencukupi luasan 30 - 50 kg pakan tambahan yang dapat mencukupi luasan 30 - 50 m2. 

3) Teknik Pemijahan
Pemijahan teripang dapat dilakukan dengan beberapa cara; secara alami dengan pembedahan, perangsangan dengan temperatur dan perangsangan dengan penyemprotan air. 
a. Pemijahan alami budidaya teripang
  • Setelah mengalami matang gonad penuh, induk teripang yang dipelihara di bak pemijahan biasanya akan memijah secara alami tanpa adanya rangsangan buatan. 
  • Pemijahan akan terjadi pada malam hari antara pukul 22.00 - 23.00. 
  • Induk jantan akan mengeluarkan sperma terlebih dahulu yang akan merangsang induk betina untuk mengeluarkan telur. 
  • Kurun waktu pemijahan biasanya berlangsung antara 20 - 60 menit. Setelah induk betina selesai bertelur, segera induk dipindahkan ke tempat lain. 
b. Pemijahan dengan Pembedahan budidaya teripang
  • Metode pembedahan dapat dilakukan dengan cara menggunting bagian bawah teripang mulai dari anus hingga kedepan. 
  • Dalam pembelahan gonad ini apabila didapatkan kantong telur, berarti teripang tersebut jantan. 
  • Gonad jantan (tesis) juga dipotong menjadi beberapa bagian sehingga sperma keluar dan ditampung di dalam wadah lain yang berisi air laut. 
  • Kemudian secara pelan-pelan wadah yang berisi sperma dituangkan kedalam wadah yang berisi telur sambil diaduk secara perlahan, lalu didiamkan. Sehingga terjadi pembuahan. 
  • Telur yang terbuahi akan mengendap didasar bak selanjutnya dipanen dengan saringan dan dipindahkan ketempat pemeliharaan larva. 
c. Perangsangan dengan Temperatur budidaya teripang
  • Prinsip pemijahan dengan perangsangan temperatur ini adalah mengupayakan agar temperatur air naik 3 - 5 0C dari temperatur air asal, dalam waktu selama + 30 - 60 menit suhu air dinaikkan dengan cara penambahan air panas atau menggunakan alat pemanas (heater) atau dijemur terik matahari. 
  • Induk teripang ditempatkan didalam keranjang plastik yang diletakkan beberapa sentimeter di bawah permukaan air. 
  • Perlakuan ini dilakukan pada siang hari. Pada sore harinya induk dimasukkan ke bak pemijahan dan selanjutnya induk teripang akan memperlihatkan perilaku pemijahan yang ditandai dengan tubuh menggeliat dan muncul dipermukaan sambil bertumpu di dinding bak. 
  • Induk jantan akan mengeluarkan sperma yang berwarna putih dan terlihat seperti asap di dalam air, selanga waktu setengah hingga dua jam berikutnya induk betina akan mengeluarkan telurnya. 
  • Cara ini memberikan hasil lebih baik yakni denga tingkat penetasan mencapai 90 - 95%. 
d. Perangsangan dengan Penyemprotan Air budidaya teripang
  • Setelah induk dipelihara selama 2 - 4 hari pada bak pemeliharaan, maka induk diberikan perlakuan pada sore hari biasanya dimulai pada pukul 1700. 
  • Pertama-tama induk teripang yang akan dipijahkan dikeluarkan dari bak dan diletakkan ditempat yang kering selama 0,5 - 1 jam. 
  • Semprotan air laut yang bertekanan tinggi selama 5 - 10 menit, lalu induk dimasukkan kembali kedalam bak pemijahan. Sekitar 1,5 - 2 jam kemudian induk akan mulai menggerakkan badannya ke dinding. 
  • Biasanya induk jantan akan memijah yang kemudian disusul induk-induk betina 30 menit kemudian. Prosentase keberhasilan cara ini mencapai 95 - 100%. 
e. Pemeliharaan Larva budidaya teripang
Telur-telur teripang berbentuk bulat berwarna putih bening berukuran 177 mikron, setelah fertilisasi telur-telur ini mengalami pembelahan sel menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel hingga multi sel. 


Gambar 3. Perkembangan Embrio dan Larva Teripang
Keterangan gambar 3:
1. Pembelahan.
2. Pembelahan dari 8 sel dan 16 sel.
3. Banyak sel.
4. Tingkat blastula.
5. Tingkat grastula.
6. Auricularia.
7. Doliolaria.
8. Pentacula.

Perkembangan Embrio dan Larva Teripang
  • Ukuran rata-rata sel tersebut sekitar 194 mikron, selang 10 - 12 jam kemudian akan membentuk stadium gastrula yang berukuran antara 390,50 - 402, 35 mikron. 
  • Setelah lebih dari 32 jam, telur akan menetas menjadi larva dan membentuk stadium auricularia yang terbagi menjadi stadium awal, tengah dan akhir. 
  • Ukuran larva teripang pada stadium ini rata-rata antara 812,50 - 987,10 mikron. Pada stadium ini larva mulai diberi plankton jenis Dunaliella sp, Phaeodactylum sp, dan Chaeoceros sp sebanyak 40 - 60 x 103. Selama stadium auricularia awal sampai menjelang stadium akhir, larva lebih banyak hidup dipermukaan air. Kepadatan larva yang dikehendaki selama stadium ini kira-kira 300 - 700 ekor per liter. 
  • Jika kepadatan terlalu tinggi, larva akan bergerombol menjadi satu, berbentuk bola, dan berada di dasar bak. 
  • Bila dibiarkan, larva ini akan mati. Sepuluh hari kemudian, larva berkembang membentuk stadium doliolaria. Pada stadium ini larva berbentuk lup, mempunyai sabuk dan dua tantakel yang menjulur ke luar. Larva dengan ukuran antara 614,78 - 645,70 mikron ini dapat bergerak cepat ke depan. 
  • Badan bagian belakang berbentuk cincin datar. Pada setiap sudut terdapat lima kelompok cilia (bulu getar). Stadium auricularlia dan doliolaria bersifat planktonis. 
  • Selang tiga belas hari kemudian doliolaria berubah ke stadium pentaculata. Larva berwarna coklat kekuningan dengan panjang antara 1000 - 1200 mikron. 
  • Badan berbentuk tubuler dengan lima buah tentakel pada pangkal bagian depan dan sebuah kaki tabung pendek pada pangkal belakang, kurang lebih delapan belas hari, kaki tabung dan tentakel terlihat lebih jelas dan dapat bintil-bintil dipermukaan kulitnya. 
  • Larva pada stadium pentacula mempunyai kebiasaan berada di pinggiran bak bagian bawah dan sedikit menyukai di bawah permukaan air. 
  • Selintas selama pemeliharaan diusahakan antara 32 - 34 per mil dan suhu antara 27 - 290C. Segera setelah larva berada di dasar laut, diberi makanan berupa suspensi rumput laut jenis Sargassum dn Ulva. 
4) Pemeliharaan Tingkat Juvenil
  • Saat mencapai tingkat doliolaria atau umur 10 - 12 hari dengan ukuran panjang tubuh 4 - 5 mm, maka tempatkan kolektor (tempat untuk menempel) yang berbentuk kisi-kisi miring terbuat dari screen net 250 mikron atau plastik berukuran 60 x 60 x 70 cm, berfungsi sebagai tempat perlekatan. 
  • Sebaiknya kolektor yang dipasang telah ditempeli diatome (lumut) sehingga pada saat juvenil menempel, pakan yang dibutuhkan telah tersedia.
  • Lima belas hari setelah menempel pada kolektor, juvenil dapat dilihat dengan mata dan dihitung. Kepadatan yang baik antara 5 - 10 ekor tiap kolektro, atau kepadatan optimum dalam satu bak pemeliharaan adalah 200 - 500 ekor/m2. 
  • Cara ini dilakukan terus menerus sampai benih tersebut berusia 1,5 - 2 bulan. Pada saat tersebut ukuran benih teripang telah mencapai ukuran antara 1,5 - 2 cm. 
Explanation:
Alam Ikan ; literatur: Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1996

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Kakap Putih di Jaring Apung

Alam Ikan; Artikel Sebelumnya membahas tentang Pembenihan kakap putih dan sekarang akan membahas tentang Cara Pembesaran Budidaya Kakap Putih di Jaring Apung, Ikan Kakap putih adalah ikan yang tergolong ikan dasar yang hidup di air laut ini mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). 

Sifat-sifat kakap putih tersebut yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar. Kakap putih di indonesi dikenal dengan nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).


Cara Pemijahan Budidaya Ikan Kakap Putih

Berikut cara budidaya pembesaran kakap putih :
Parameter Ikan Kakap Putih
SuhuSalinitasOksigenpHJumlah telur
29-3230-345-7 mg/liter7-8,5500.000-3.500.000

Klasifikasi Ikan Kakap Putih :
  • Phillum : Chordata 
  • Sub phillum : Vertebrata
  • Klas : Pisces
  • Subclas : Teleostei
  • Ordo : Percomorphi
  • Famili : Centroponidae
  • Genus : Lates
  • Species : Lates calcarifer (Block)
1. Ciri Kakap Putih 
Ciri-ciri morfologis kakap putih antara lain adalah:
  • Kakap putih memiliki Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
  • Pada waktu masih burayak (umur 1 ~ 3 bulan) warnanya gelap dan setelah menjadi gelondongan (umur 3 ~ 5 bulan) warnanya terang dengan bagian punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
  • Mata berwarna merah cemerlang.
  • Mulut lebar, sedikit serong dengan geligi halus.
  • Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
  • Sirip punggung berjari-jari keras 3 dan lemah 7 ~ 8. Sedangkan bentuk sirip ekor bulat.
2. Pemilihan Lokasi Budidaya Kakap Putih
Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk lokasi budidaya ikan kakap putih di laut adalah:
  • Perairan pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
  • Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan kakap putih berkisar antara 5 ~ 7 meter.
  • Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40 cm/detik.
  • Kadar garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0 C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
  • Benih mudah diperoleh.
  • Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
  • Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.



3. Sarana dan Alat Budidaya
1. Sarana dan Alat
Budidaya mengguna keramba jaring apung (floating net cage) dengan metode operasional secara mono kultur. Dengan bagian jaring apung sebagai berikut :
a. Jaring Apung Budidaya Kakap Putih
  • Jaring terbuat dari bahan:
  • Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25”, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
  • Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m
  • 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan)
b. Kerangka/Rakit Budidaya Kakap Putih
  • Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan.
  • Bahan: Bambu atau kayu
  • Ukuran: 8 m x 8 m
c. Pelampung Budidaya Kakap Putih
  • Pelampung berpungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan
  • Jenis: Drum (Volume 120 liter)
  • Jumlah: 9 buah.
d. Jangkar Budidaya Kakap Putih
  • Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.
  • Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).
  • Jumlah : 4 buah
  • Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke dalam air
e. Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor
f. Pakan yang digunakan: ikan rucah
g. Perahu : Jukung
h. Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll
i. Konstruksi wadah pemeliharaan

Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Kerangka ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah.Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka.



4. Operasional
1. Metode Pemeliharaan
  • Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil pendederan , selanjutnya dipelihara dalam kurungan yang telah disiapkan. 
  • Penebaran benih ke dalam karamba/jaring apung dilakukan pada kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu. Padat penebaran yang ditetapkan adalah 50 ekor/m 3 volume air. 
Pemberian Pakan Budidaya Kakap Putih
  • Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari dengan takaran pakan 8-10% botol total badan perhari. 
  • Jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah (trash fish). Konversi pakan yang digunakan adalah 6:1 dalam arti untuk menghasilkan 1 kg daging diperlukan pakan 6 kg. Selama periode pemeliharan yaitu 5-6 bulan, dilakukan pembersihan kotoran yang menempel pada jaring, yang disebabkan oleh teritif, algae, kerang-kerangan dll. 
Pembersihan Jaring apung Budidaya Kakap Putih
  • Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat. Pembersihan kotoran dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali dilakukan secara berkala atau bisa juga tergantung kepada banyak sedikitnya organisme yang menempel. 
  • Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut. 
  • Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi. 
Pengontrolan ikan Budidaya Kakap Putih
  • Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan. 
  • Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan. 
  • Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan. 
  • Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.

5. Panen
Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ± 500 gram/ekor diperlukan waktu 5-6 bulan.

Dengan tingkat kelulusan hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.250 kg/unit/periode budidaya.

Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit, kemudian dilakukan penyerokan.

6. Penyakit
Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur.

Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll. Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
  • menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain
  • memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan
  • memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat