sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Kakap Putih

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Kakap Putih. Ikan Kakap Putih adalah jenis ikan laut yang memiliki protein tinggi, dengan rasa yang nikmat harga ikan ini cukup tinggi. Ikan kakap putih (Lates calcarifer) jenis ikan dengan nilai ekonomis tinggi. kebutuhan konsumsi dalam negeri dan luar negeri memperikan peluang bagi pembudidaya kakap putih untuk menjadikannya peluang bisnis yang bagus. 


Pada mulanya produksi kakap putih diperoleh dari hasil sampingan dari budidaya di tambak, namun sekarang ikan ini sudah khusus dibudidayakan pada kurungan apung di laut. Permasalahan utama dalam budidaya adalah terbatasnya benih yang tersedia baik dalam jumlah dan mutu secara terus menerus dan berkesinambungan. Dalam Pembahasan kali ini akan membahas pembenihan budidaya kakap putih yang sebelumnya sudah dibahas tentang Pembesaran budidaya kakap putih. Berikut cara budidaya ikan kakap putih :

Cara Pembesaran Budidaya Kakap Putih di Jaring Apung
Parameter Ikan Kakap Putih


SuhuSalinitasOksigenpHjumlah telur
29-3328-355-7 mg/liter7-8,5500.000-3.500.000


Alam Ikan; Ikan Kakap putih yang memiliki jumlah telur yang sangat banyak dari 500 ribu sampai jutaan, Membuat perlu penanganan khusus dalam melakukan pembenihan, dengan jumlah tersebut maka perlu persiapan awal yaitu jumlah pakan harus sudah tersedia, terutama pakan alami.

Persyaratan Lokasi
Syarat lokasi pembenihan kakap putih tergantung lokasi yang baik dan tepat, Lokasi tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Sumber Air Laut
Lokasi Pembenihan kakap putih memiliki sumber air laut harus bersih sepanjang tahun, jernih, perubahan salinitas kecil. dan Lokasi biasanya di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di lingkungan pantai yang berkarang dan berpasir.

Lokasi juga harus jauh dari buangan sampah pertanian dan industri. Persyaratan teknis kimia dan fisika yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut :
Parameter Ikan Kakap Putih

Suhu   Salinitas    pH     Alkalinitas     Bahan organik     Amoniak     Nitrit
29-33 c   28-35      7-8,5     33-60 ppm     <10       <2      <1 



2. Lokasi Pembenihan Kakap
Lokasi harus terletak pada jarak kurang dari 3 jam perjalanan dari lokasi induk matang telur, 12 jam dari lokasi pemasok telur/larva D1 dan tidak lebih dari 12 jam perjalanan ke lokasi pemasaran.

3. Sumber Air Tawar
Sumber Air Tawar berguna menurunkan salinitas air, air mencuci peralatan dan kebutuhan lain.

4. Sumber Listrik
Listrik untuk berbagai peralatan seperti blower, pompa air dan sistim penunjang lainnya. Pemasangan generator mutlak diperlukan terutama untuk daerah yang sering tejadi pemadaman aliran listrik.

5. Topography
Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang laut. Serta tnah yang padat/kompak. Walaupun pembenihan skala rumah tangga secara keseluruhan berskala kecil, namun bak pemeliharaan larva tetap bertonase besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang cukup stabil, misalnya menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak terjamin.

Fasilitas dan Desain Kolam Pembenihan Budidaya Kakap Putih
1. Fasilitas Budidaya Pembenihan Kakap Putih
a. Pompa
Pompa diperlukan untuk mendapatkan air laut maupun air tawar. Jika sumber air laut relatif keruh dan banyak mengandung partikel lumpur, perlu di sedimentasikan dalam bak pengendapan, selanjutnya bagian permukaan air yang relatif jernih di pompa ke bak penyairngan, spesifikasi pompa hendaknya dipilih dengan baik karena ukuran pompa tergantung pada jumlah air yang diperlukan persatuan waktu,

Disarankan untuk HSRT dengan kapasitas 3 bak pemeliharaan larva masing-masing dengan kapasitas 10 m 3 air, ukuran pompa 1,5 inci.

b. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut Pembenihan Kakap Putih

  • Bak penampungan air buatlah lebih tinggi dari kolam agar air mengalir secara gravitasi ke bawah dan lebih efisien. 
  • Bak dari semen volume minimal sama dengan bak pemeliharaan larva
  • Atau menggunakan kolam lain sebagai penampung air

c. Bak Pemeliharaan larva Pembenihan Kakap Putih
Bak pemeliharaan larva dapat terbuat dari semen, fiber glass atau konsstruksi kayu yang dilapisi plastik, masing-masing bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Gambar 1 Bak Pemeliharaan Larva

Disarankan Ukuran bak min 10 m3 karena bak yang lebih kecil stabilitas suhu kurang terjamin.
Tinggi bak 1,2-1,5 m.
Bentuk bak bulat atau segi empat. Buatlah bak sesuai standar pembenihan
c. Bak segi empat  
Bentuk memanjang,
Sudut dari bak setengah lingkaran atau tidak 90 derajat, untuk memudahkan pembersihan, sirkulasi lancar, menghindari kotoran berkumpul disudut.
Dasar Bak miring menuju tempat pembuangan, kurang lebih 5 derajat.
Dinding bak halus, menghindari jamur dan parasit menempel di dinding bak
Gambar 2. Bak pembuangan



d. Untuk keperluan pemanenan Pembenihan Kakap Putih ,
Baik pada bak bentuk bulat maupun bentuk segi empat pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi dengan bak berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen.

Bak pemeliharaan larva memerlukan penutup di atasnya untuk mencegah masuknya kotoran dan benda asing yang tidak dikehendaki serta melindungi bak pemeliharaan dari air hujan.

Tutup bak dapat terbuat dari plastik dan sebaiknya berwarna gelap untuk melindungi air/media pemeliharaan larva dari penyinaran matahari yang berlebihan, sehingga mencegah terjadinya blooming plankton pada medium air pemeliharaan larva.

Selain itu penutup bak juga dapat mencegah terjadinya fluktuasi suhu yang terlalu tinggi serta dapat menaikkan suhu pada bak pemeliharaan larva.

e. Bak Kultur Plankton pakan Pembenihan Kakap Putih
Plankton (fito dan zooplankton) mutlak diperlukan sebagai pakan bagi pemeliharaan larva kakap putih. Bak untuk kultur plankton dapat dibuat dengan konstruksi kayu yang dilapisi plastik, karena volume yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Ukuran bak cukup 2 x 2 x 0,6 meter masing-masing 4 buah.

untuk kultur Fitoplankton dan 4 buah lagi untuk kultur zooplankton (masing-masing bak kultur plankton termasuk bak cadangan).

Jumlah dan ukuran bak kultur plankton sebesar itu cukup untuk menyediakan pakan alami satu sikles pemeliharaan (3 bak pemeliharaan larva dengan kapasitas 10 m 3 ).

Bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau plastik berbentuk kerucut yang pada bagian ujung kerucutnya dilengkapi stop kran untuk pemanenan naupli artemia.

Bentuk kerucut merupakan alternatif terbaik karena hanya dengan satu batu aerasi di dasar kerucut dapat mengaduk seluruh air di dalam bak penetasan secara merata, sehinga cyste dapat menetas dengan baik karena tidak ada yang mengendap atau melekat di dasar bak.

Volume bak penetasan sebaiknya minimal 25 - 30 liter untuk menetaskan cyste artemia sebanyak 150 - 200 gram.

g. Aerator Pembenihan Kakap Putih
Larva memerlukan oksigen terlarut dalam air untuk proses metabolisme dalam tubuhnya, selain itu gelembung udara yan dihasilkan oleh aerator dapat mempercepat proses penguapan berbagai gas beracun dari medium air pemeliharaan larva. Selain pertimbangan harga, aerator sebaiknya bentuk dan ukurannya kecil, kekuatan tekanannya cukup besar (sampai kedalaman 1 - 1,2 m) serta kebutuhan listriknya kecil. Perlengkapan lain dari aerator adalah batu aerasi, selang aerasi dan penatur aerasi untuk mengatur tekanan udara.

2. Peralatan Lapangan
Diperlukan beberapa ember plastik, antara lain untuk menampung makanan sebelum diberikan ke larva, ember panen untuk menampung dan menghitung benih serta ember untuk menyaring air saat disiphon.

Peralatan lain adalah gayung untuk menebarkan pakan, blender untuk mengaduk dan menghaluskan pakan buatan bila diperlukan, saringan pakan (plankton net) berbagai ukuran sesuai dengan lebar bukaan mulut larva serta selang air dari berbagai ukuran sesuai kebutuhan.

3. Desain Tata Letak Kolam
Tata letak semua fasilitas harus diatur sedemikian rupa secara matang dan menunjukan dimensi yang tepat sehinga lahan dan fasilitas yang tersedia dapat digunakan seefisien mungkin

Gambar 3. Desain Tata Letak Kolam
Teknik Pemeliharaan 
1. Pemeliharaan Larva
Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), 
Dilakukan Pembersihan bak Larva
  • Dengan obat atau tanpa obat, cuci air tawar dan sikat keringkan 1-2 hari. Jika pakai obat
  • Bilas dengan larutan sodium hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak, 
  • keringkan selama 2 - 3 jam untuk menghilangkan chlorine
  • suhu 26 - 28 0 C dan salinitas 29 - 32 ppt air dari bak penampungan air, pemindahan air dengan saringan untuk menghindari kotoran.
Pemindahan Larva
  • Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar merata keseluruhan air di dalam bak. 
  • Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi. 
  • Umur 30 hari larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh langsung sinar matahari (semi out door tanks). Padat penebaran awal dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter volume air. 
  • Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 - 40 larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 - 30 larva/liter, 
  • karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan ukuran dan sifat kanibalisme. 
Tingkat kepadatan larva pada masing-masing tingkatan umur dapat dilihat pada tabel 1.
Umur larva (hari)Jumlah larva/liter
1 - 770 - 80
8 - 15 30 - 40
16 - 23 20 - 30

2. Pemberian Pakan Alami
  • Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer. 
  • Padat penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000 sel/ml sedangkan untuk Chlorella adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml. 
  • Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat ini hingga hari ke 7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan padat penebaran 5-7 individu/ml. Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian Rotifera ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml. 
  • Pada umur 15 hari larva mulai diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 - 2 individu/ml. 
  • Setelah berumur 30 hari, dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah dapat memakan cacahan daging segar, adapun jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih.
Jenis Pakan Jumlah Pakan Umur (hari) Frekuensi (kali/hari)

Jenis Pakan Jumlah Pakan Umur (hari)Frekuensi (kali/hari)
Tetraselmis sp 1000 sel/ml1-141
Chlorella sp 10.000 sel/ml1-141
Rotifera :5 - 7 individu/ml3-74
Bractionus sp8 - 15 individu/ml8-144
Nauplii Artemia2 - 3 individu/ml15 - 202-3
Cacahan daging ikan sesuai kebutuhan 20 >

3. Pengelolaan Air
Pada pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada hari ke 13 sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14. Pada hari ke 15 sampai hari ke 25 penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara penyiponan.

Penggolongan Ukuran Benih Ikan Kakap Putih
  • Sifat kanibal pada larva kakap putih akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia (± 10 hari). 
  • Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang dilubangi dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
  • Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama pada hari ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25. Ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
Panen Benih Ikan Kakap Putih
Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air keluar.

Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 - 20 cm,

kemudian benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Pembenihan Tiram Mutiara

Cara Pemijahan Tiram Mutiara.  untuk mendapatkan jumlah tiram yang cukup banyak perlu dilakukan ternak mutirara, tiram yang dikenal sebagai penghasil mutiara, seperti cara Teknik Penyuntikan Tiram Mutiara. 

Pemeliharaan induk tiram mutiara dapat dilakukan di laut dengan menggunakan rakit apung, long line atau di laboratorium bersama dengan kegiatan pendederan dengan menggunakan pocket net atau pocket keranjang.

Pada umumnya pemeliharaan induk dilakukan di laut karena selain menghemat biaya, juga untuk pematangan induk kualitas akan lebih baik dilakukan di alam, karena dapat memperoleh pakan yang lebih variatif dengan nilai nutrient yang lebih lengkap. Pemeliharaan induk dilakukan dengan tujuan menunggu agar induk matang gonad dan siap dipijahkan. 

1. Penyediaan Induk
Tiram mutiara yang akan digunakan sebagai induk dapat berasal dari alam dan hasil pembenihan.  Induk yang diambil dari alam biasanya perlu diaklimatisasi, karena induk tersebut habitatnya berasal dari laut pada kedalaman 20 – 60 meter, dipindahkan ke tempat budidaya yang lebih dangkal, sehinga tiram perlu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan hidup yang baru. Sedangkan induk yang berasal dari hatchery biasanya langsung dapat dipijahkan, karena sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan budidayanya dan ukurannya seragam.

Induk tiram mutiara diaklimatisasi selama 1 – 2 bulan, dipelihara menggunakan pocket keranjang dan digantung pada rakit apung dikedalaman 4 – 6 meter.  Satu pocket keranjang di isi 8 – 10 ekor tiram. Secara priodik antara 1 – 2 bulan sekali, induk dibersihkan dari kotoran dan organisme yang menempel dengan menggunakan pisau dan sikat, kemudian dimasukkan kembali ke dalam pocket keranjang yang bersih dan digantung pada rakit dengan kedalaman 6 – 8 meter.
Apabila kita mendapatakan atau mengambil induk dari luar daerah, maka yang harus diperhatikan adalah ;Pengangkutan atau pengiriman induk dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengangkutan kering (Dry method)
  • Induk dimasukkan pada kotak styropoam
  • Lapisi dasar styropoam dengan menggunakan handuk atau busa yang dibasahi air laut.
  • Susun induk secara sejajar dan searah (bagian anterior tiram yang satu ditindih bagian dorsal tiram yang lain)
  • Setiap satu lapisan tiram diselingi dengan lapisan handuk atau busa yang dibasahi air laut, begitu seterusnya hingga wadah penuh.
  • Selipkan Es batu air laut yang dibungkus plastic, untuk menjaga suhu rendah agar tetap stabil selama perjalanan.
2. Pemeliharaan Induk di Laut
  • Pemeliharaan Induk di laut dengan mengisi pocket net atau keranjang kawat dengan induk tiram, kemudian diikat dan digantung pada rakit atau long line dengan kedalaman 5 – 8 meter, dan dalam setiap bulan tiram dibersihkan dari organisme yang menempel pada cangkang tiram.
  • Untuk menghindari adanya gangguan dari organisme pengebor (borring worn dan borring sponge), maka setiap 2 – 3 bulan sekali perlu dilakukan perendaman dengan air tawar atau larutan garam pekat.  Calon induk tiram yang direndam dalam larutan garam pekat, ternyata menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
3. Pemeliharaan Induk di Laboratorium
  • Pemeliharaan Induk di Laboratorium berbeda dengan pemeliharaan induk di laut, dimana pemeliharaan Induk di Laboratorium menggunakan bak yang terbuat dari bahan fiber glass untuk menempatkan induk tiram, dengan suhu air media antara 25 – 280C dan kondisi ruangan yang terkendali. 
  • Induk tiram diberi pakan berupa campuran beberapa jenis alga dengan ratio 4 liter per ekor/hari, sebagai pakan tambahan diberikan tepung jagung sebanyak 30 gram per ekor/hari. 
  • Tiram dengan gonad matang penuh yang diberi formulasi pakan tersebut akan menunjukkan respon memijah setelah 45 hari dari perlakuan dengan tingkat respon 30%.
4. Seleksi Induk
  • Untuk menyeleksi induk tiram dapat dilakukan di atas rakit atau di laboratorium.  
  • Induk – induk tiram yang akan di seleksi ditempatkan pada tempat yang datar dengan posisi tiram berdiri atau dorsal di bawah.   
  • Beberapa saat kemudian cangkan tiram akan terbuka dengan sendirinya, karena kekurangan olsigen.
  • Setelah cangkang tiram terbuka sebagian, segera gunakan alat pembuka cangkang (Shellopener), agar cangkang tetap bertahan terbuka, maka gunakan baji untuk mengganjal cangkang tersebut.  
  • Dan dalam proses pembukaan cangkang tiram hendaknya jangan dipaksa, karena akan mengakibatkan pecahnya cangkang. 
  • Langkah berikutnya adalah melihat posisi gonad, disini kita dapat melihat posisi gonad dengan menggunakan alat Spatula.  Dengan Spatula, insang tiram akan kita buka dan posisi gonad akan terlihat jelas, maka secara fisual dapat kita ketahui tingkat kematangan gonadnya.  
  • Kondisi gonad yang mata penuh atau stadia IV adalah seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh gonad, kecuali bagian kaki.
Klasifikasi tiram yang memenuhi syarat untuk menjadi induk adalah ;
  • Ukuran antara 17 – 20 cm (DVM)
  • Cangkang utuh/tidak cacat akibat serangan organisme pengebor (borring organism).
  • Cangkang tidak rusak karena penanganan yang kasar.
  • Warna cangkang terang.
Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad, induk yang baik kondisi gonadnya matang penuh atau stadia IV (Alam Ikan 11). Induk – induk yang telah memenuhi syarat seleksi segera dibawa ke laboratorium untuk di pijahkan.
Seleksi kematangan gonad dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali untuk memastikan bahwa induk tersebut siap dipijahkan atau tidak.  Induk siap pijah akan terlihat warna kekuningan pada kantong gonadnya bagi induk betina dan bagi induk jantan akan terlihat warna putih susu.

5. Pemijahan
  • Induk tiram mutiara yang digunakan untuk pemijahan berasal dari alam maupun dari hasil budidaya yang dipelihara di rakit apung atau long line.
  • Pemejihan secara alami sering kali terjadi pada tiram yang telah dewasa, dalam kondisi gonad matang penuh tiram akan segera memijah apabila terjadi perubahan lingkungan perairan walaupun sedikit. Kemungkinan lain adalah shok mekanik yang terjadi karena perlakuan kasar pada saat cangkang dibersihkan dan akibat mengalami perubahan perbedaan tekanan, misalnya tiram alam atau tiram yang diambil dari habitat aslinya di dasar perairan laut, lalu dibawa ke tempat budidaya yang relative dangkal, sehingga memacu tiram untuk memijah. 
  • Menurut (Alam Ikan 12), mengatakan bahwa pemijahan juga bisa terjadi pada waktu dilakukan penggantian air atau mengalirkan air ke dalam bak pemeliharaan induk.
  • Rekayasa pemijahan perlu dilakukan, apabila secara alamiah tiram tidak mau memijah di bak pemijahan, namun induk yang akan dipijahkan harus memenuhi syarat untuk dipijahkan.  Induk tiram mutiara dapat dipijahkan di laboratorium dengan mengunakan metode manipulasi lingkungan dan rangsang kimia.
6. Metode Manipulasi Lingkungan
  • Metode manipulasi lingkungan yang digunakan dan resiko keberhasilannya relatif tinggi yaitu dengan menggunakan metode kejut suhu (Thermal shock), fluktuasi suhu dan ekspose.  Beberapa teknik tersebut telah berhasil dilakukan oleh (Alam Ikan 13)
  • Kejut suhu merupakan metode yang umum digunakan, dalam teknik ini suhu air tempat pemijahan dinaikkan secara bertahap dengan bantuan alat healter, dari suhu awal 28 C menjadi 35 C.  Induk – induk biasanya akan memijah setelah 60 -90 menit dari perlakuan, mula – mula terlihat induk bereaksi cepat membuka dan menutup cangkang.  Menjelang pemijahan induk akan membuka cangkang lebar – lebar dan keluarlah sel –sel gonad yang terlihat seperti keluarnya asap berwarna putih.
  • Metode manipulasi lingkungan yang lain yaitu flutuasi suhu, jika suhu air di tempat pemijahan mulanya sekitar 280C ditingkatkan mejadi 33 - 35 C, jika tiram belum memijah setelah 60 – 90 menit, maka suhu diturunkan kembali ke suhu awal, demikian seterusnya sampai induk memijah.
  • Metode ekspose juga sering digunakan dan ada kalanya dikombinasikan dengan metode kejut suhu, induk yang akan dipijahkan dikeluarkan dari dalam air selama 15 – 30 menit, pada kondisi tertentu kadang – kadang tiram perlu diekspose sampai sekitar 30 – 60 menit atau tergantung pada kondisi induk tiram. Setelah masa ekspose, induk dimasukkan kembali ke dalam bak pemijahan, induk yang matang gonad penuh biasanya akan cepat memijah.  Pemijahan bisa tidak terjadi jika kondisi gonad belum mencapai matang penuh, pada kondisi ini dapat dikombinasikan dengan metode kejut suhu.
7. Rangsang Bahan Kimia
Pengunaan bahan kimia juga sering dilakukan untuk memijahkan tiram mutiara, tetapi hasil pembuahan (fertilisasi) biasanya kurang baik.  Seperti halnya pada manipulasi lingkungan, pengunaan bahan kimia juga bertujuan merubah lingkungan mikro tempat pemijahan.  Secara ekstrim bahan kimia dapat dengan segera merubah pH air menjadi asam atau basa, yang bertujuan memberikan shock fisiologis pada induk sehingga terpaksa mengeluarkan sel – sel gonadnya. Jenis bahan kimia yang umum digunakan antara lain ;
Hidrogen Peroksida (H2O2)
Natrium Hidroksida (NaOH)
Amonium Hidroksida (NH4OH)
Amoniak (NH4) dan
Trace buffer
  • Hidrogen peroksida dan amoniak pada konsentrasi 1,532; 3,064 dan 6,128 milimolar dilarutkan ke dalam air laut normal atau air laut dengan pH 9,1.  
  • Larutan tris (Tris buffer) atau Natrium hidrosida (NaOH) digunakan untuk merubah pH air menjadi 8,5; 9,0; 9,5 dan 10, ternyata dapat merangsang induk memijah.  
  • Pada pH 9 dengan tris buffer dapat merangsang pemijahan sampai 78,6%, sedangkan pH 9,5 dengan NaOH berhasil memijahkan tiram sekitar 68,4%.  
  • Penyuntikan larutan Amonium hidroksida (NH4OH) 0,2 ml ke dalam otot adductor berhasil merangsang pemijahan sampai 48%.
Teknik pemijahan rangsang kimia
  • Teknik pemijahan rangsang gonad/sperma, dilakukan dengan cara menyeleksi induk tiram mutiara jantan yang matang gonad penuh kemudian dimatikan.  
  • Caranya, cangkang tiram dibuka dengan menggunakan alat pembuka cangkang, kemudian otot adductornya dipotong dengan pisau, dagingnya dikeluarkan dengan hati – hati. Mantel dan insang dibuang, sehingga hanya tinggal bagian tubuh yang berisi gonad, bagian tersebut disayat – sayat dan dimasukkan ke dalam beker glass yang telah diisi air laut bersih, lalu diaduk hingga larut.  
  • Larutan gonad/sperma tersebut disaring dan dimasukkan ke dalam bak pemijahan, sehingga induk – induk akan terangsang untuk memijah.  Namun, sebaiknya kedua cara itu tidak dilakukan, karena selain tingkat fertilisasinya rendah (feconditas rendah), biasanya banyak telur yang abnormal serta akan menguras isi gonad, sehingga telur – telur yang masih prematurpun akan ikut keluar.
  • Penggunaan bahan kimia dengan konsentrasi tinggi hampir sama dengan tindakan aborsi, sehingga kurang menguntungkan bagi kesehatan induk.  
  • Tindakan pemijahan dengan rangsang gonad sebenarnya tidak dianjurkan, karena teknologi pemijahan yang ada lebih diarahkan untuk masyarakat nelayan dan pesisir, sehingga induk merupakan aset yang sangat berharga disamping harganya relative mahal.
8. Proses Pemijahan dan Pembuahan
  • induk betina (Pintada maxima) mengeluarkan sel – sel telur sekitar 25 – 30 menit setelah induk jantan memijah.  
  • Pembuahan terjadi di luar tubuh (eksternal)  di dalam media air dan pembuahan terjadi segera setelah sel telur dan sperma keluar.  
  • Telur – telur yang belum dibuahi bentuknya menyerupai biji jeruk, sedangkan yang telah dibuahi berbentuk bulat dengan diameter antara 56 – 65 mikron.
  • Setelah semua telur dibuahi sesegera mungkin dipanen, 
  • dikumpulkan dengan menggunakan saringan bertingkat (Planktonnet) berukuran dari 100  atau 80 , 40 dan 20.  
  • Selain itu berfungsi sebagai tempat penampungan telur – telur, saringan juga bermanfaat untuk memisahkan antara kotoran dengan telur. 
  • Telur – telur yang telah terkumpul kemudian dibilas dengan air laut bersih dan dipindahkan ke dalam bak penetasan atau langsung ke bak pemeliharaan larva dijadikan satu, pada kasus ini priode penggantian air harus benar – benar diperhatikan, dan padat penebaran awal berkisar antara 5 – 7 sel/cc.
9. Pemeliharaan Larva
  • Salah satu kegiatan yang paling menyita perhatian dan sangat menentukan dalam kegiatan pembenihan tiram mutiara adalah pemeliharaan larva. 
  • Priode pemeliharaan larva sebenarnya dimulai sejak larva stadia D, atau setelah berakhirnya stadia trocopore sampai stadia pediveliger atau plantigrade.
  • Kegagalan sering kali terjadi dalam produksi spat, karena penanganan pemeliharaan larva yang kurang baik, utamanya pada saat larva mengalami saat – saat kritis.  
  • Di dalam pengelolaan pemeliharaan larva sangat perlu diperhatikan kondisi kualitas air; teknik serta priode penggantian air; jenis, jumlah dan teknik pemberian pakan; jenis, jumlah dan waktu pemasangan spat kolektor. Jika beberapa factor tersebut diperhatikan, maka produksi spat akan berhasil seperti apa yang kita harapkan.
10. Proses Perkembangan Awal

Proses pembelahan sel terjadi setelah 40 menit dari pembuahan atau setelah penonjolan polar I, polar II. Lima menit kemudian sel mulai terbelah menjadi dua, 13 menit kemudian sel membelah menjadi empat, pemebelahan berikutnya menjadi 8 sel, 16 sel dan sel terus membelah menjadi multi sel atau stadia morula setelah 2,5 jam, pada setiap mikromernya berkembang silia kecil yang berfungsi untuk membantu embrio bergerak.  Stadia blastula dicapai setelah larva berumur 3,5 jam, gerakannya aktif berputar – putar.  Pada stadia gastrula (7 jam) bentuknya seperti kacang hijau, bersifat fhoto negative dan bergerak dengan mengunakan silia (Alam Ikan 14).

Beberapa menit setelah silia menghilang, maka berakhirlah fase gastrula dan mengalami metamorfose menjadi trochopore, ditandai dengan adanya flagella tunggal pada bagian anterior yang berfungsi untuk bergerak.
11. Perkembangan dan Pemeliharaan Larva
Stadia veliger atau larva bentuk D (D shape) dicapai setelah larva berumur 18 – 20 jam dan berukuran 70x80 mikron.  Pada stadia ini, larva sudah mulai diberi makanmikro alga Isochrysis galbana atau P. lutheri, jumlah pakan antara 3000 – 4000 sel/cc/hari diberikan dua kali (pagi dan sore).  

Menurut (Alam Ikan 15),  larva stadia veliger bersifat fhoto fositif, sehingga nampak berenang – renang disekitar permukaan air.

Menurut (Alam Ikan 16), pada stadia awal larva (D shape) sampai stadia umbo diberi pakan phytoplankton spesies Isochrysis galbana dengan kepadatan 5000 sel/ekor/hari.  

Sedangkan menurut (Alam Ikan 17) member pakan jenis Isochrysis galbana strain Tahiti terhadap larva dengan kepadatan 20.000 sel/ml.

Setelah 12 – 14 hari larva mengalami metamorphose menjadi stadia umbo (130 x 135 mikron), ditandai dengan adanya tonjolan (umbo) pada bagian dorsal.  Padat penebaran larva mulai dikurangi setelah mencapai stadia umbo, dengan jumlah 5 – 7 ekor/cc.  

Pakan yang diberikan ditambah menjadi 3000 – 4000 sel/cc/hari, aplikasinya dapat divariasi campuran antara Isochrysis galbana dan P. lutheri dengan perbandingan 1 : 1.  Flagelata Isochrysis galbana merupakan jenis pakan yang paling baik bagi larva bivalvia di daerah tropis (Alam Ikan 19).

Menurut (Alam Ikan 19), Larva yang sehat dicirikan oleh aktifitas gerak, distribusi dan warna bagian perutnya.  Larva yang sehat nampak bergerak aktif berputar dengan menggunakan silianya, mereka akan menyebar merata terutama pada bagian lapisan permukaan dan tengah, sedangkan yang berada dibagian bawah kondisinya kurang baik.  

Secara mikroskopis, larva yang sehat akan aktif memburu pakan sehingga bagian perutnya berwarna kuning tua, larva yang cukup akan (sedang) bagian perutnya berwarna kuning dan larva yang tidak mau makan perutnya berwarna kuning muda.

Menurut (Alam Ikan 20), bahwa warna larva dapat bervariasi tergantung dari jenis pakan yang dikonsumsi, tetapi larva yang sehat biasanya berwarna coklat keemasan, terutama dibagian saluran pencernaan (Digestive diverticulum).  

Pada stadia awal, warna larva dapat berubah nyata bila mengkonsumsi pakan dengan warna yang berbeda.  Namun, seiring dengan pertumbuhan larva dan cangkangnyapun semakin bertambah tebal, maka pengaruh warna pakan tidak terlihat lagi.

Selama pemeliharaan larva, media air yang digunakan sebaiknya diperlakukan melalui sinar ultra violet, sehingga larva dapat terhindar dari infeksi jamur dan membunuh spora atau bakteri, serta kompititor yang hidup bersama di media pemeliharaan.  Untuk menjaga kualitas air, maka perlu dilakukan penggantian air setiap 2 – 3 hari sekali sebanyak 50 – 100 %.

Setelah larva mencapai stadia pediveliger atau umbo akhir, berumur antara 18 – 20 hari dan berukuran 200 – 190 mikron, larva mulai mencari tempat untuk menetap.  

Fase transisi atau fase akhir kehidupan planktonis larva terjadi pada hari ke 20 – 22, atau disebut stadia platigrade.  Larva plantigrade ditandai dengan tumbuhnya cangkang baru disepanjang periphery, benang – benang bisus diproduksi untuk menempelkan diri pada substrat dan larva berukuran sekitar 200 x 230 mikron.

Menurut (Alam Ikan 21), menyatakan bahwa pada saat larva mengalami metamorphose dan fase menetap, merupakan masa kritis yang cukup ekstrim selama masa hidupnya.  

Sedangkan (Alam Ikan 22)  menyatakan bahwa aksi penempelan yang ditunjukkan oleh larva pediveliger merupakan gerakan menurun, dari stadia planktonis yang berada disekitar permukaan ke dasar perairan, disertai dengan gerakan berenang dan kebiasaan berputar – putar dan akhirnya mengeluarkan benang bisus untuk menempel pada substrat.  Hal inilah yang menandai dimulainya kehidupan bentik atau menetap di dasar. Jika tidak menemukan substrat yang cocok, larva biasanya akan cenderung menunda priode metamorfosenya.

Penempelan adalah proses tingkah laku yang ditunjukkan oleh larva stadia akhir.  Awalnya larva menggunakan kakinya untuk berenang dan bergerak perlahan – lahan saat akan menempel pada substrat.  Jika jenis substrat yang ditempeli cocok maka larva akan menetap, selanjutnya akan terjadi proses metamorphose dari larva berubah menjadi spat (Juvenil).  Secara keseluruhan proses ini disebut menempel (setting) atau spatfall, yang merupakan fase kritis dalam siklus hidup tiram.  Identifikasi dari factor – factor yang mempengaruhi keberhasilan fase menempel atau spatfall akan sangat bermanfaat atau dapat memberikan informasi tentang prosedur yang lebih efisien dalam pengembangan hatchery.
12. Pendederan
  • Periode spat merupakan awal dari kehidupan menetap tiram.  Pada stadia ini sangat dibutuhkan substrat yang cocok untuk menempel, kondisi awal spat merupakan masa yang sangat kritis, karena bisusnya belum permanen, titik kritis terjadi pada pada D 40 sampai dengan ukuran 3 cm dengan SR 5%.  Bila ada gerakan air yang sangat kuat, ada kemungkinan bisusnya akan putus, namun bisus akan segera disekresikan kembali.  Tetapi jika saat bisus putus dan spat jatuh ke dasar bak pemeliharaan, maka ada kemungkinan spat akan mati karena di dasar bercampur dengan kotoran maupun substansi lain yang kurang baik bagi kelangsungan hidup spat.
  • Pemeliharaan spat sebenarnya tidak sulit, bahkan boleh dikatakan jika masa pemeliharaan spat sudah melewati dua minggu pasti spat akan hidup.  Penanganan yang ekstra hati – hati pada awal pertumbuhan spat sangat diperlukan.  Setelah spat menempel dengan bisus permanen, keadaannya tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena pengelolaan air dapat dilakukan dengan system sirkulasi.
  • Pada umumnya spat yang berumur 2 – 3 bulan atau ukuran 5 – 10 mm DVM dapat dipindahkan ke tempat pembesaran di laut setelah 1 bulan dipelihara di laboratorium.  Benih yang masih menempel pada kolektor dimasukkan ke dalam pocket net dan dibungkus dengan waring (# 2 – 3 mm), untuk mencegah gangguan predator (jenis ikan Ostraciidae, Monacanthidae dan Blenidae) dan mengurangi menempelnya kotoran.  Ukuran mata waring yang lebih kecil kurang efektif untuk tingkat kelangsungan hidup, dapat menghambat pertumbuhan dan sulit membersihkan.  Setelah benih mencapai ukuran 2 – 3 cm mulai dijarangkan, dipelihara secara individu di dalam pocket net.  Pada ukuran 2 – 3 cm benih sudah dapat dijual atau dibesarkan hingga mencapai ukuran yang memenuhi syarat untuk mudidaya mutiara yaitu ukuran 15 cm DVM.
  • Pendederan tiram mutiara menggunakan dua metode yaitu metode rakit dan long line. Adapun kegiatan yang harus dilakukan selama pemeliharaan adalah pembersihan dan penjarangan serta seleksi menurut ukuran.
  • Dalam satu siklus pendederan memerlukan waktu selama 10 bulan dengan ukuran spat mencapai rata – rata 0,7 – 1 cm per bulan.
Explanation :
Alam Ikan 11 : Winanto dkk, 1991;1997;1998
Alam Ikan 12 : Winanto, 1991
Alam Ikan 13 : Loosanolp dan Davis (1963), Imai (1982), CFMRI (1991) dan Winanto dkk (1992;1995;1997;1998).
Alam Ikan 14 : Alagarswami, at al, 1983
Alam Ikan 15 :  Brusca, 1990
Alam Ikan 16 : CMFRI (1991) dan Alagaswami at al, (1983)
Alam Ikan 17 : Baker, 1994
Alam Ikan 18 : Ver, 1981
Alam Ikan 19 : Winanto dan Dhon, 1998
Alam Ikan 20 : Loosanoff dan Davis, 1963
Alam Ikan 21 : Segal, 1990
Alam Ikan 22 : Bayne, 1976

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Budidaya Tiram Mutiara

Teknik Penyuntikan Tiram Mutiara . adalah cara memperbanyak mutiara dengan cara buatan, dengan cara penyuntikan tiram diharapkan akan mendapatkan mutiara-mutiara dalam jumlah banyak dengan kualitas yang baik. Cara Pembenihan Tiram MutiaraMenurut (Alam Ikan 1),jenis-jenis tiram mutiara yang terdapat di Indonesia adalah: Pintada maxima, Pinctada margaritefera, Pinctada fucata, Pinctada chimnitzii, dan Pteria penguin. Di beberapa daerah Pinctada fucata dikenal juga sebagai Pinctada martensii. Sebagai penghasil mutiara terpenting adalah tiga spesies, yaitu,  Pinctada maxima, Pinctada margaritifera dan Pinctada martensii. Sebagai jenis yang ukuran terbesar adalah Pinctada maxima.

Dalam penyuntikan tiram mutiara perlu persiapan yang harus diperhatikan yaitu; Seleksi tiram, pemuasaan dan persiapan alat/bahan Insersi

Berikut cara membuat mutiara dengan budidaya tiram :
Seleksi Benih siap Operasi
Sebelum melaksanakan operasi atau penyuntikan, terlebih dahulu benih tiram diseleksi.  Tiram yang akan di operasi harus  memenuhi syarat yaitu, berumur 1,5 – 2 tahun dan berukuran 10 – 15 cm, serta tiram dalam kondisi sehat atau tidak cacat dan dalam keadaan bersih.


Pemuasaan (Yokusei)
Tiram yang akan dioperasi terlebih dahulu dilakukan pemuasaan (Yokusei), yang tujuannya Yokusei / pemuasaan tiram adalah untuk mengurangi jumlah plankton yang dimakan agar tubuh tiram menjadi cukup lemas, dengan cara ini pada saat operasi tiram tersebut tidak terlalu kuat mengadakan reaksi terhadap sakitnya sayatan pada gonadnya.
Benih tiram yang di Yokusei, dimasukkan ke pocket keranjang lalu dibungkus menggunakan waring ukuran 1 mm. Pemuasaan dilakukan selama 3 – 5 hari, setelah itu tiram diangkat dari perairan dan pembungkus dibuka, baru kemudian memulai penyuntikan.
Alat dan Bahan Insersi
Ada beberapa alat dan bahan yang harus dipersiapkan sebelum melakukan operasi yaitu ;
Alat Operasi
  • Hikake (Penahan)
  • Piseto
  • SONYUKI dan SHAIBO OKURI (Pemasuk Inti dan pemasuk mantel)
  • MESU (pisau operasi)
  • DONYUKI (pembuka torehan)
  • SONYUKI (pembuka mantel
  • HERA dan KAI KOKI (pembuka mantel dan Forcep)
  • SHAIBOHASAM (Gunting,pemotong mantel)
Bahan Insersi
  • Siput donor
  • Siput siap operasi
  • Nukleus
  • Kegiatan Insersi
  • Pemotongan mantel
  • Pengambialan Inti
  • Pemasukan Inti
Pemeliharaan Tiram Pasca Pemasukan Inti
Setelah pemasangan inti selesai dilakukan, segera masukkan kembali tiram yang sudah dioperasi ke dalam pocket keranjang dan digantung di rakit pemeliharaan atau harus dengan segera dimasukkan ke dalam air dengan perlakuan yang sangat hati – hati untuk diistirahatkan.

Selama ± 3 bulan setelah pemasangan inti, dalam 3 hari sekali posisi tiram dibolak balik, itu biasanya di sebut masa Tento, yaitu posisi tiram yang tadinya domersal, tiga hari kemudian dibalik ke posisi samping, tiga hari berikutnya menghadap kebawah, begitu seterusnya selama masa tento. Dan kebersihannya tetap dijaga dari gangguan organisme.

Setelah masa pemeliharaan 18-24 bulan, panen dapat dilakukan dengan terlebih dahulu pengambilan contoh untuk memperkirakan besarnya ukuran mutiara yang diinginkan. Biasanya ditemukan bentuk–bentuk mutiara yang tidak bundar sempurna, bahkan ada bentuk lonjong barouk dan bintik-bintik/spol, hal ini dapat terjadi karena kurang cermatnya penanganan dalam masa pemeliharaan.

  
Ciri - Ciri dan Morfologi Tiram Mutiara :
Tiram mutiara memiliki cangkang yang tidak simetris dan sangat keras, tetapi seluruh organ tubuhnya sama sekali tidak bertulang dan sangat lunak. Tiram mutiara (Pinctada maxima) secara taxonomis dimasukkan kedalam Kingdom Invertebrata, yang berarti hewan tak bertulang belakang dan Phyllum Mollusca yang berarti bertubuh lunak. (Alam Ikan 2)

Bentuk luar tiram mutiara tampak seperti batu karang yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tetapi di balik kekokohan tersebut terdapat organ yang dapat mengatur segala aktivitas kehidupan dari tiram itu sendiri. Dalam kelunakan tubuh tiram tersebut terdapat cangkang yang keras untuk melindungi bagian tubuh agar terhindar dari benturan maupun serangan hewan lain. Disamping itu, dalam cangkang yang jumlahnya satu pasang dan mempunyai bentuk yang berlainan itu terdapat mother of pearl atau lapisan induk mutiara serta nacre yang dapat membentuk lapisan mutiara. (Alam Ikan 2)

Kulit mutiara  (Pinctada  maxima)  ditutupi oleh sepasang kulit tiram (Shell, cangkan), yang tidak sama bentuknya, kulit sebelah kanan agak pipih, sedangkan kulit sebelah kiri  agak cembung. Specie ini mempunyai diameter dorsal-ventral dan anterior-posterior hampir sama  sehingga bentuknya agak bundar. Bagian dorsal bentuk datar dan panjang semacam engsel berwarna hitam. Yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. (Alam Ikan 3)

Cangkang tersusun dari  zat kapur yang dikeluarkan oleh epithel luar. Sel epitel luar ini juga menghasilkan kristal  kalsium karbonat (Ca CO3) dalam bentuk kristal argonit yang lebih dikenal sebagai nacre dan kristal heksagonal kalsit  yang merupakan pembentuk lapisan seperti prisma pada cangkang.

Menurut (Alam Ikan 2) bentuk cangkang bagian luar yang keras apabila dipotong atau dibelah secara melintang, maka ada tiga lapisan yang akan tampak, yaitu lapisan periostrakum yang berada paling atas atau luar, dan lapisan prismatik yang terdapat di bagian tengah. Sedangkan lapisan yang agak ke dalam yang berhubungan dengan organ dalam disebut lapisan nacre atau lapisan mutiara.

Ketiga lapisan tersebut, jika dilihat dari zat penyuusunnya masing-masing adalah sebagai berikut :
  1. Lapisan periostrakom adalah lapisan kulit terluar yang kasar yang tersusun dari zat organic yang menyerupai tanduk.
  2. Lapisan prismatik, adalah lapisan kedua yang tersusun dari Kristal-kristal kecil yang berbentuk prisma dari hexagonal caltice.
  3. Lapisan mutiara atau nacre adalah lapisan kulit sebelah dalam yang tersusun dari kalsium karbonat (CaCO3). (Alam Ikan 2)


Explanation :
Alam Ikan 1: Dwiponggo, 1976
Alam Ikan 2: Sutaman 1993
Alam Ikan 3: Winarto, 2004
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Budidaya Rumput Laut Konsumsi

Metode budidaya rumput laut di lautan ada 3 cara yaitu lepas dasar, rakit apung dan metode long line. Industri rumput laut yang semakin dicari pengelola produk rumput laut, menjadi nilai ekonomis rumput laut, cukup mengiurkan. Rumput laut seperti Ucheuma cottoni merupakan salah satu jenis rumput laut merah dan berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena keraginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Umumnya Eucheuma tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu. Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati.

Rumput laut Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak keraginan, sehingga memiliki nilai ekspor yang sangat baik. Kadar keraginan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54 - 73 % tergantung pada jenis dan lokasi tempat tumbuhnya.

Persyaratan Budidaya
Lingkungan yang cocok untuk budidaya Eucheuma adalah :
Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu karang. Kedalaman air pada surut terendah 1 - 30 cm. Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang pantai. Kecepatan arus antara 20 - 40 m/menit.Jauh dari muara sungai, tidak mengandung lumpur dan airnya jernih.Suhu air berkisar 27 - 28oC, salinitas berkisar 30 - 37 ppt dan pH 6,5 - 8,5.
Metode Budidaya
Beberapa metode budidaya rumput laut jenis ini adalah sebagai berikut:
  • Metode Lepas Dasar digunakan pada dasar perairan berpasir atau berlumpur pasir, sehingga memudahkan menancapkan patok/tiang pancang.
  • Metode Rakit Apung dilakukan pada perairan berkarang, karena pergerakan air didominasi ombak, sehingga penanamannya dengan menggunakan rakit bambu/kayu.
  • Metode Long Line menggunakan tali panjang 50 - 100 m yang dibentangkan, dan pada kedua ujungnya diberi jangkar serta pelampung besar. Setiap 25 m diberi pelampung utama terbuat dari drum plastik.

Proses Pengikatan dan Peletakkan Rumput Laut
Pilih bibit rumput laut yang baik dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • Bercabang banyak dan rimbun
  • Tidak terdapat bercak
  • Tidak terkelupas
  • Warna cerah
  • Umur 25 - 35 hari
  • Sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan.
Perawatan Tempat rumput laut
Perawatan Tempat rumput laut sebagai berikut :
  1. Pada saat pengangkutan bibit tetap terendam didalam air laut dengan menggunakan kotak styrofoam atau karton berlapis plastik.lalu Bibit disusun berlapis dan berselang-seling antara pangkal tallus dan ujung tallus dan antara lapisan dibatasi dengan kain yang sudah dibasahi air laut. 
  2. Hindari bibit agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun kekeringan.
  3. selanjutnya Bibit diikat dengan tali raffia pada tali penggantung.
  4. Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali Ris yang telah berisi ikatan tanaman. Pada tali Ris utama, posisi tanaman sekitar 30 cm didasar perairan. 
  5. Patok dari kayu berdiameter sekitar 5 cm panjang 1 m dan runcing pada ujung bawahnya. Jarak antara patok untuk merentangkan tali Ris sekitar 2,5 m. 
  6. Setiap patok yang berjajar dihubungkan dengan tali Ris Polyethylen (PE) berdiameter 8 mm. Adapun jarak ideal antara tali rentang sekitar 20 - 25 cm.
Perawatan dan Pemeliharaan
Perawatan dan Pemeliharaan rumput laut adalah sebagai berikut :
  • Bersihkan tallus dari tumbuhan liar dan lumpur yang menempel, sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari.
  • Bersihkan tali penggantung dari sampah atau tumbuhan liar.
  • Periksa keutuhan tali gantungan, perbaiki jika ada yang putus atau kencangkan jika tali agak kendor atau ganti dengan tali yang baru.
  • Periksa tanaman dari gangguan penyakit.
  • Hama lain rumput lain yang harus diwaspadai antara lain larva bulu babi, teripang, ikan-ikan herbivora seperti baronang.



Pemanenan dan Pengeringan
Pemanenan dan Pengeringan rumput laut sebagai berikut :
  • Waktu pemanenan tergantung dari tujuannya. Untuk mendapatkan bibit, pemanenan dilakukan pada umur 25 - 35 hari, dan untuk produksi dengan kualitas tinggi yang kandungan keraginannya banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari. 
  • Pemanenan dilakukan dengan mengangkat seluruh tanaman beserta tali penggantungnya. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong tali.
  • Setelah panen dilakukan, segera dikeringkan langsung dengan menjemur. 
  • Rumput laut dijemur dengan menggantungkan atau diletakkan pada para-para sehingga tidak tercampur pasir, tanah dan benda lainnya. 
  • Sambil penjemuran dilakukan pembersihan dari kotoran dengan mengambil benda-benda asing seperti batu, sampah dan lainnya. 
  • Jika cuaca cerah, penjemuran cukup 3 - 4 hari yang ditandai dengan warna ungu keputihan dilapisi kristal garam.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Gabus

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Gabus. Ikan Gabus merupakan jenis ikan karnivora yang memiliki ukuran cukup besar, habitat ikan gabus di air tawar. Ikan gabus memiliki bentuk hampir sepeti ikan lele, dengan sungut lebih kecil. Ikan gabus saat memijah memiliki sifat hampir seperti ikan arwana, yaitu melindungi anaknya dengan menyimpannya di mulut. tetapi jumlah anakan gabus sangat banyak. 

Ikan Gabus (Channa striata) Ikan ini dikenal dengan banyak nama seperti aruan, kutuk, bogo, haruan, kocolan, bayong, snake head, lincingan. Ikan Gabus banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai lauk pauk dan bahan baku olahan pangan seperti bahan baku pembuatan makanan khas Palembang yaitu empek-empek, tekwan, kerupuk-kemplang dan sebagainya.

Khasiat dari Ikan Gabus ini sebenarnya sudah diketahui sejak jaman dulu. Karena dari dulu dipercaya ekstrak ikan ini bisa menyembuhkan hepatitis, infeksi paru, stroke, luka-luka luar. Selain itu juga memperbaiki gizi buruk pada bayi, anak-anak dan ibu hamil. Tapi dianjurkan sih Ikan Gabus yang didapat langsung dari danau, rawa, atau sungai.

Benih / anakan gabus pada umur kurang lebih 1 bulan, akan dibiarkan mandiri, karena sifatnya yang kanibal ikan ini jika di biarkan berkelompok dapak menyebabkan persaingan makanan, jika tidak ada makanan dapat saling memakan, satu sama lainnya.

Parameter Kolam Ikan Gabus

Suhu   Jumlah Telur   pH   Oksigen
25-29   2000-11000   5-7   > 4


Pemilihan Indukan Ikan Gabus
Ikan Gabus yang akan di pijahkan memiliki umur > 1 tahun. Dengan berat Indukan sebesar 1-1,5 kg, Berat ikan gabus menentukan jumlah telur yang akan dikeluarkan.
  • Ikan gabus jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar cairan putih bening. 
  • Betina ditandai dengan kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar telur.
Pemijahan ikan gabus
  • Pemijahan dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. 
  • Caranya, siapkan sebuah bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; 
  • sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok (tanaman air) hingga menutupi sebagian permukaan bak; 
  • masukan masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; 
  • ambil telur dengan saringan halus; telur siap untuk ditetaskan. 
  • Lebar kolam disesuaikan dengan jumlah ikan gabus yang akan dimasukkan dengan tinggi permukaan air 50 cm

Proses Pemeliharaan Larva Ikan Gabus
  • Proses kolam penetasan dan pemeliharaan larva atau telur ikan gabus bisa anda lakukan ketika larva telah berumur 2 hari dan hingga berumur 15 hari. Siapkan aquarium / kolam dengan kepadatan yang sama dengan kepadatan 5 ekor ikan gabus per liternya. Untuk larva kelebihannya bisa anda pelihara di aquarium yang lain. Ketika sudah memasuki umur 2 hari, larva bisa anda beri pakan menggunakan naupli artemia, cacing sutera dan kutu air.
  • Proses Pengalihan Pakan ke Pelet
  • Setelah berumur 2 minggu, benih gabus diberi pakan pelet apung khusus benih secara bertahap hingga umur 1 bulan. 
  • Saat itu sekaligus sebagai ‘seleksi’ alam karena 20–30% benih tak mampu menyesuaikan dan mati. 
  • Pada umur sebulan, benih telah berukuran 5-7 cm.
  • Pembiasaan memakan pelet bagi benih gabus ini dipercepat dengan mencampur benih nila ukuran 0,8 – 1 cm sebanyak 10 – 15% dari total benih gabus. Nila akan makan dengan cepat dan meningkatkan suasana persaingan makan sehingga ikan gabus mengikutinya.
Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Cara Pembenihan Budidaya Ikan Bandeng

Cara Pemijahan Budidaya Ikan Bandeng. Ikan bandeng merupakan jenis ikan memiliki protein tinggi. ikan Bandeng adalah ikan yang mengonsumsi makanan berupa tumbuhan dengan berat kisaran 0,6 kg pada usia 5-6 bulan. Usia tersebut merupakan waktu yang tepat untuk panen budidaya ikan bandeng. Ada beberapa tahap dalam melakukan budidaya ikan bandeng. Indukan Bandeng dengan kualitas unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada anaknya.

Ciri-Ciri ikan bandeng yang berkualitas : Gerakan Lincah dan normal, Bentuk Normal, Perbandingan panjang dan berat ideal, Ukuran Kepala Relatif Kecil, Diantara satu peranakan pertumbuhanya paling cepat, Susunan Sisik Teratur, Licin, Mengkilat, tidak ada yang luka.

Ikan Bandeng digolongkan sebagai ikan Herbivora atau pemakan tumbuhan, jika dipelihara di dalam tambak, ikan ini lebih suka memakan “klekap” yaitu kehidupan komplek yang terdiri dari ganggang kersik (Bacillariopyceae), bakteri, protozoa, cacing dan udang renik yang sering juga disebut “Microbenthic Biological Complex”, yang berada di dasar perairan

Ikan bandeng termasuk dalam famili Chanidae (milk fish) yaitu jenis ikan yang mempunyai bentuk memanjang, padat, pipih (compress) dan oval.

Menurut (Alam Ikan 1) taksonomi dan klasifikasi ikan bandeng adalah sebagai berikut :
Kingdom   : Animalia
Filum         : Chordata
Subfilum    : Vertebrata
Kelas        : Osteichthyes
Subkelas   : Teleostei
Ordo        : Malacopterygii
Famili       : Chanidae
Genus       : Chanos
Spesies    : Chanos chanos Forskall
Nama dagang: Milkfish
Nama lokal : Bolu, muloh, ikan agam

Ciri-ciri bentuk ikan jantan dan betina
Suhu   Jumlah Telur    Umur ReproduksiPH    Oksigen     Kecerahan
26-31    10.000-1.000.000    3-5 tahun8-9      > 3     20-40 cm


Ciri-ciri Bandeng       SisikPerut
Jantan Cerah mengkilap keperakkan,Punya 2 lubang anus kecil
BetinaCerah mengkilap keperakkan,   Perutnya yang agak buncit, dan terdapat 3 buah lubang


Kriteria Kolam Pemijahan Pembenihan Ikan Bandeng

Persiapan Makanan untuk benih-benih ikan bandeng,  karena jumlah anakan ikan bandeng sangat banyak perlu diperhatikan jumlah makanan yang tersedia, seperti Chlorella sp dan Rotifera. Ikan bandeng yang rata-rata bertelur lebih dari 100.000 telur memberikan dampak cepatnya, jumlah makanan yang disediakan akan habis. Makan perlu budidaya tambahan, seperti budidaya Chlorella, budidaya rotifera dan budidaya artemia. Setelah persiapan makanan selesai persiapan selanjutnya sebagai berikut :

Persiapan Wadah Untuk Indukan
  1. Persiapan Kolam dan Wadah Pengangkutan: Syarat Fasilitas budidaya higienis, siap dipakai dan bebas cemaran. 
  2. Bak pengankutan dan kolam,  sebelum digunakan dibersihkan atau dicuci dengan sabun detergen dan disikat lalu dikeringkan 2-3 hari. 
  3. Pembersihan bak dapat juga dilakukan dengan cara membasuh bagian dalam bak kain yang dicelupkan ke dalam chlorine 150 ppm (150 mil larutan chlorine 10% dalam 1 m 3 air) dan didiamkan selama 1~2 jam dan dinetralisir dengan larutan Natrium thiosulfat dengan dosis 40 ppm atau desinfektan lain  formalin 50 ppm. 
  4. Menyiapkan alat-alat budidaya seperti pompa, genset dan blower untuk mengantisipasi kerusakan pada saat proses produksi. 
Persiapan Indukan ikan bandeng
Memilih Induk dengan kualitas unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, 
Ciri-cirinya :
  • bentuk ikan bandeng normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
  • ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
  • susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
  • gerakan lincah dan normal.
Pemilihan indukan ikan bandeng
  • Ikan bandeng memiliki Berat induk lebih dari 5 kg atau panjang antara 55~60 cm
  • Pemeriksaan jenis kelamin dilakukan dengan cara mem-bius ikan dengan 2 phenoxyethanol dosis 200~300 ppm. Setelah ikan melemah kanula dimasukan ke-lubang kelamin sedalam 20~40 cm tergantung dari panjang ikan dan dihisap. Pemijahan (striping) dapat juga dilakukan terutama untuk induk jantan. 
  • Diameter telur yang diperoleh melalui kanulasi dapat digunakan untuk menentukan tingkat kematangan gonad. Induk yang mengandung telur berdiameter lebih dari 750 mikron sudah siap untuk dipijahkan.
  • Induk jantan yang siap dipijahkan adalah yang mengandung sperma tingkat III yaitu pejantan yang mengeluarkan sperma cukuk banyak sewaktu dipijat dari bagian perut kearah lubang kelamin.
Perawatan Indukan  ikan bandeng
  • Perawatan Induk ikan bandeng berbobot 4~6 kg/ekor dipelihara pada kepadatan satu ekor per 2~4 m 3 dalam bak berbentuk bundar yang dilengkapi aerasi sampai kedalaman 2 meter.
  • Pergantian air 150 % per hari dan sisa makanan disiphon setiap 3 hari sekali. Ukuran bak induk lebih besar dari 30 ton.
  • Pemberian pakan dengan kandungan protein sekitar 35 % dan lemak 6~8 % diberikan 2~3 % dari bobot bio per hari diberikan 2 kali per hari yaitu pagi dan masa sore.
  • Salinitas 30~35 ppt, oksigen terlarut . 5 ppm, amoniak < 0,01 ppm, asam belerang < 0,001 ppm, nirit < 1,0 ppm, pH; 7~85 suhu 27~33 0 C.
Kematangan Gonad Ikan bandeng
Ikan bandeng akan mengalami kedewasan. Untuk mematangkan gonad ikan, memungkinkan jumlah maksimal telur yang dikeluarkan akan lebih banyak dari pada pemijahan alami, bisa melebihi 10 x lipat pemijahan alami.
  • Penyuntikan Hormon, cara penyuntikan dan implantasi menggunakan implanter khusus. Jenis hormon yang lazim digunakan untuk mengacu pematangan gonad dan pemijahan bandeng LHRH –a, 17 alpha methiltestoteron dan HCG.
  • Implantasi pelet hormon dilakukan setiap bulan pada pagi hari saat pemantauan perkembangan gonad induk jantan maupun betina dilakukan LHRH-a dan 17 alpha methiltestoteren masing-masing dengan dosis 100~200 mikron per ekor (berat induk 3,5 sampai 7 kg).
Cara Pembenihan Budidaya Ikan Bandeng
Cara Pemijahan Secara Alami
  • Ukuran bak induk 30-100 ton dengan kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat dilengkapi aerasi kuat menggunakan “diffuser” sampai dasar bak serta ditutup dengan jaring. 
  • Pergantian air minimal 150 % setiap hari.
  • Kepadatan tidak lebih dari satu induk per 2-4 m3 air.
  • Pemijahan umumnya pada malam hari. Induk jantan mengeluarkan sperma dan induk betina mengeluarkan telur sehingga fertilisasi terjadi secara eksternal.
Cara Pemijahan Buatan
  • Pemijahan buatan dilakukan melalui rangsangan hormonal. Hormon berbentuk cair diberikan pada saat induk jantan dan betina sudah matang gonad sedang hormon berbentuk padat diberikan setiap bulan (implantasi).
  • Induk bandeng akan memijah setelah 2-15 kali implantasi tergantung dari tingkat kematangan gonad. Hormon yang digunakan untuk implantasi biasanya LHRH –a dan 17 alpha methyltestoterone pada dosis masing-masing 100-200 mikron per ekor induk (> 4 Kg beratnya).
  • Pemijahan induk betina yang mengandung telur berdiameter lebih dari 750 mikron atau induk jantan yang mengandung sperma tingkat tiga dapat dipercepat dengan penyuntikan hormon LHRH- a pada dosis 5.000-10.000IU per Kg berat tubuh.
  • Volume bak 10-20 kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat terbuat dari serat kaca atau beton ditutup dengan jaring dihindarkan dari kilasan cahaya pada malam hari untuk mencegah induk meloncat keluar tangki.
Penanganan Telur Ikan Bandeng
  • Telur ikan bandeng yang dibuahi berwarna transparan, mengapung pada salinitas > 30 ppt, sedang tidak dibuahi akan tenggelam dan berwarna putih keruh. 
  • Selama inkubasi, telur harus diaerasi yang cukup hingga telur pada tingkat embrio. Sesaat sebelum telur dipindahkan aerasi dihentikan. Selanjutnya telur yang mengapung dipindahkan secara hati-hati ke dalam bak penetasan/perawatan larva. Kepadatan telur yang ideal dalam bak penetasan antara 20-30 butir per liter.
  • Masa kritis telur terjadi antara 4-8 jam setelah pembuahan. Dalam keadaan tersebut penanganan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindarkan benturan antar telur yang dapat mengakibatkan menurunnya daya tetas telur. Pengangkatan telur pada fase ini belum bisa dilakukan.
  • Setelah telur dipanen dilakukan desinfeksi telur yang menggunakan larutan formalin 40 % selama 10-15 menit untuk menghindarkan telur dari bakteri, penyakit dan parasit. 
Pemeliharaan Larva Ikan Bandeng
  • Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-31 0 C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan kedalam bak tidak kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm batu aerasi.
  • Larva umur 0-2 hari kebutuhan makananya masih dipenuhi oleh kuning telur sebagai cadangan makanannya. Setelah hari kedua setelah ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi Benih / nener.
  • Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air 10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen.
  • Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4 sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air pemeluharan perlu terus dipertahankan pada kisaran optimal.
  • Benih / Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.
Pemberian Makanan Alami
  • Menjelang umur 2-3 hari atau 60-72 jam setelah menetas, larva sudah harus diberi rotifera (Brachionus plicatilis) sebagai makanan sedang air media diperkaya chlorella sp sebagai makanan rotifera dan pengurai metabolit.
  • Kepadatan rotifera pada awal pemberian 5-10 ind/ml dan meningkat jumlahnya sampai 15-20 ind/ml mulai umur larva mencapai 10 hari. Berdasarkan kepadatan larva 40 ekor/liter, jumlah chlorella : rotifer : larva = 2.500.000: 250 : 1 pada awal pemeliharaan atau sebelum 10 hari setelah menetas, atau = 5.000.000 : 500:1 mulai hari ke 10 setelah menetas.
  • Pakan buatan (artificial feed) diberikan apabila jumlah rotifera tidak mencukupi pada saat larva berumur lebih dari 10 hari (Lampiran VIII.2). Sedangkan penambahan Naupli artemia tidak mutlak diberikan tergantung dari kesediaan makanan alami yang ada.
  • Perbandingan yang baik antara pakan alami dan pakan buatan bagi larva bandeng 1 : 1 dalam satuan jumlah partikel. Pakan buatan yang diberikan sebaiknya berukuran sesuai dengan bukaan mulut larva pada tiap tingkat umur dan mengandung protein sekitar 52%. Berupa. Pakan buatan komersial yang biasa diberikan untuk larva udang dapat digunakan sebagai pakan larva bandeng. 
Panen Benih Ikan Bandeng
Panen dan Distribusi Telur.
  • Dengan memanfaatkan arus air dalam tangki pemijahan, telur yang telah dibuahi dapat dikumpulkan dalam bak penampungan telur berukuran 1x5,5x0,5 m yang dilengkapi saringan berukuran 40x40x50 cm, biasa disebut egg collector, yang ditempatkan di bawah ujung luar saluran pembuangan. Pemanenan telur dari bak penampungan dapat dilakukan dengan menggunakan plankton net berukuran mata 200-300 mikron dengan cara diserok. 
  • Telur yang terambil dipindahkan ke dalam akuarium volume 30-100 liter, diareasi selama 15-30 menit dan didesinfeksi dengan formalin 40 % pada dosis 10 ppm selama 10-15 menit sebelum diseleksi. Sortasi telur dilakukan dengan cara meningkatkan salinitas air sampai 40 ppt dan menghentikan aerasi. Telur yang baik terapung atau melayang dan yang tidak baik mengendap. 
  • Persentasi telur yang baik untuk pemeliharaan selanjutnya harus lebih dari 50 %. Kalau persentasi yang baik kurang dari 50 %, sebaiknya telur dibuang. Telur yang baik hasil sortasi dipindahkan kedalam pemeliharaan larva atau dipersiapkan untuk didistribusikan ke konsumen yang memerlukan dan masih berada pada jarak yang dapat dijangkau sebelum telur menetas ( ± 12 jam).
Distribusi Telur.
  • Pengangkutan telur dapat dilakukan secara tertutup menggunakan kantong plastik berukuran 40x60 cm, dengan ketebalan 0,05 – 0,08 mm yang diisi air dan oksigen murni dengan perbandingan volume 1:2 dan dipak dalam kotak styrofoam. 
  • Makin lama transportasi dilakukan disarankan makin banyak oksigen yang harus ditambahkan. Kepadatan maksimal untuk lama angkut 8 – 16 jam pada suhu air antara 20 – 25 0 C berkisar 7.500-10.000 butir/liter. 
  • Suhu air dapat dipertahankan tetap rendah dengan cara menempatkan es dalam kotak di luar kantong plastik. 
  • Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mencegah telur menetas selama transportasi. Ditempat tujuan, sebelum kantong plastik pengangkut dibuka sebaiknya dilakukan penyamaan suhu air lainnya. 
  • Apabila kondisi air dalam kantong dan diluar kantong sama maka telur dapat segera dicurahkan ke luar.
Panen dan Distribusi Benih atau Nener.
  • Pemanenen sebaiknya diawali dengan pengurangan volume air, dalam tangki benih kemudian diikuti dengan menggunakan alat panen yang dapat disesuaikan dengan ukuran Benih / nener, memenuhi persyaratan hygienis dan ekonomis. 
  • Serok yang digunakan untuk memanen benih harus dibuat dari bahan yang halus dan lunak berukuran mata jaring 0,05 mm (gambar XI.3) supaya tidak melukai Benih / nener. 
  • Benih / Nener tidak perlu diberi pakan sebelum dipanen untuk mencegah penumpukan metabolit yang dapat menghasilkan amoniak dan mengurangi oksigen terlarut secara nyata dalam wadah pengangkutan.

Panen dan Distribusi Induk. 
  • Panen induk harus diperhatikan kondisi pasang surut air dalam kondisi air surut volume air tambak dikurangi, kemudian diikuti penangkapan dengan alat jaring yang disesuaikan ukuran induk, dilakukan oleh tenaga yang terampil serta cermat. Seser / serok penangkap sebaiknya berukuran mata jaring 1 cm agar tidak melukai induk. 
  • Pemindahan induk dari tambak harus menggunakan kantong plastik yang kuat, diberi oksigen serta suhu air dibuat rendah supaya induk tidak luka dan mengurangi stress. 
  • Pengangkutan induk dapat menggunakan kantong plastik, serat gelas ukuran 2 m 3 , oksigen murni selama distribusi. Kepadatan induk dalam wadah 10 ekor/m 3 tergantung lama transportasi. 
  • Suhu rendah antara 25 – 27 0 C dan salinitas rendah antara 10-15 ppt dapat mengurangi metabolisme dan stress akibat transportasi. Aklimatisasi induk setelah transportasi sangat dianjurkan untuk mempercepat kondisi induk pulih kembali.
Explanation :
Alam Ikan 1Sudrajat, 2008

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat


Cara Pembesaran Budidaya Lele Sangkuriang di Kolam Terpal

Cara Budidaya Lele Sangkuriang pembesaran menggunakan kolam terpal ialah cara ternak ikan lele konsumsi dengan cara intensif dengan kolam terpal, dengan biaya cukup murah dibanding kolam semen. Lele akan mudah diawasi. Lele Sangkuriang (Clarias Sp) adalah jenis ikan yang termasuk dalam famili Claridae dan genus Clarias. ikan ini saudara dekat lele Dumbo sehingga ciri-ciri marfologinya hampir sama dan merupakan hasil perkawinan silang lele Dumbo antara Induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6) (Alam Ikan 1).

Lele Sangkuriang memiliki kecepatan tumbuh yang relative cepat yaitu umur 3 bulan pemeliharaan sudah layak panen dan memiliki prospek yang cukup baik. 

Kolam Terpal Untuk Budidaya Lele Sangkurian
Kelebihan Kolam terpal adalah dasar kolam maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam gali maupun kolam semen.
Ukuran kolam budidaya terpal memiliki ukuran yang beragam tergantung keinginan pemilik budidaya.

Pembuatan kolam terpal cukup mudah karena menghemat dalam pembuatan kolam dari pada kolam semen.

Keuntungan dari budidaya kolam terpal yaitu :
  1. Terhindar dari pemangsa ikan liar
  2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
  3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro,
  4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan seragam.

Cara Budidaya Lele kolam Terpal
Langkah Pertama Budidaya Lele kolam Terpal
Kolam terpal dicuci dengan kain atau sikat. Setelah itu kolam dikeringkan selam satu hari, barulah kolam diisi dengan air setinggi 30 cm.

Biarkan selama 1 minggu

Langkah Kedua Budidaya Lele kolam Terpal

  1. Siapkan bibit sebanyak 2.000 ekor untuk ukuran 3 - 5 cm. 
  2. Dengan ukuran kolam 3 X 4 X 1 m. Pemakaian bibit 
  3. sebaiknya ukuran yang telah memakan pelet butiran, 
Penangan Lele masuk ke kolam
Bibit yang baru dibeli (baru tiba) jangan langsung dimasukan ke dalam kolam tetapi dimasukan kedalam ember kemudian ditambahkan air kolam sedikit demi sedikit, penambahan air tersebut dilakukan hingga 3 kali. Agar bibit lele dapat beradaptasi dengan suhu air di dalam kolam.
Perawatan Lele dalam Kolam Terpal
Perawatan lele di kolam terpal pada umumnya tidak berbeda dengan perawatan di kolam lainnya. Beberapa perawatan lele yang perlu diperhatikan dalam kolam terpal adalah sebagai berikut :

Penambahan air dan Pergantian air
Penambahan air setiap 1 bulan perlu ditambah 15-20 cm.

Pergantian air setiap air mulai kotor, terlihat tanda-tanda ikan lele mengantung di permukaan air. Pergantian air umumnya 1 kali dalam sebulan. sampai umur 2 bulan.
Pada umur 3 bulan , kolam terpal, airnya perlu diganti setiap 1 minggu

Cara Pergantian air Kolam Terpal Budidaya Lele
Pergantian air dengan cara membuka saluran pengeluaran (paralon) hingga air tinggal sedikit (hampir kering). Pada saat pergantian air biasanya dilakukan penyortiran dengan memisahkan ikan yang pertumbuhan sangat cepat. Bila setelah pergantian air dilakukan beberapa hari kemudian air kelihatan coklat dan berbau anyir maka perlu dilakukan penambahan dan pengurangan air (sirkulasi air masuk dan keluar).
Pemberian Pakan Budidaya Ikan Lele
Jika pakan  menggunakan pelet, untuk ukuran pelet
Pelet pertama sampai umur 2 minggu
Pelet kedua dari umur 2 minggu sampai 2 bulan
Pelet ketiga dari umur 2 bulan sampai panen.

Dengan memperhatikan besar mulut ikan, jenis pelet dapat disesuaikan perkiraan waktu pergantian pelet biasanya 1 bulan sekali jika lele anda sehat.

Hasil Panen dengan pakan yang diberikan adalah 1 : 1 (konfersi pakan 1 kg menghasilkan 1 kg daging ikan). 


Explanation :
Alam Ikan 1 : Ade Sunarma, 2004

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat