sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Analisis Cacing Sutra - Perhitungan Biaya

Budidaya cacing sutera termasuk dalam kategori kuantitas, semakin banyak hasil atau tempat budidaya semakin banyak pendapatan dan keuntungan bagi petani cacing sutera.

Alat dan bahan cacing sutra


NoBahan
1. Kotoran per karung5 x 1000050000
2. Starter Cacing Sutra5000050000
NoBahan
1. Kayu200000200000
2. Baskom10 x 10000100000
3. Selang2000020000
4. Filter7500075000
5. Peralon5000050000
Total545000

Keterangan alat dan bahan budidaya cacing sutra, cacing darah, cacing halus

1. Harga adalah estimasi bukan harga sebenarnya, silakan di cocokan di wilayah masing - masing
2. Kayu untuk membuat tempat wadah baskom budidaya cacing tanah teknik bertingkat
3. selang, filter dan paralon guna untuk membuat aerasi air mengalir di setiap wadah atau baskom tempat budidaya cacing tanah
4. Kotoran sebagai media dan makanan cacing tanah.

Cacing sutra termasuk organisme makanan alami ikan, jenis - Jenis media yang digunakan cacing sutra 

Estimasi keuntungan cacing sutra setelah 40 hari


NoJenis Jumlah
1. Pengeluaran545000545000
2. Pendapatan200 g x 102 kg
Harga jual15000 x 2 kg30000
1 bulan 4x panen30000 x 4120000
Total Pendapatan120000
Biaya Tetap545.000
KeuntunganBulan 1120000
Bulan 2120000
Bulan 3120000
Bulan 4120000
Total65.000



Balik Modal Bulan ke 5 setelah di tambah 40 hari budidaya awal
Dengan sisa uang 65.000


  • Hasil budidaya cacing sutra dari tabel di atas hasilnya Rp. 120.000 per bulan, jika menggunakan 10 baskom.
  • Dalam satu baskom menghasilkan 200 gram cacing sutra
  • Dengan masa panen dimulai di hari 40, 50, 60, setiap 10 hari sekali atau 1 minggu. Dengan estimasi panen dalam sebulan 4 kali.
  • Jika harga jual 1 kg cacing sutra adalah 15.000 (bukan harga sebenarnya) makan dalam satu bulan hasilnya adalah 120.000 / 8 kg cacing sutra.


Demikian pembahasan analisis budidaya cacing sutra. Harga adalah estimasi bukan harga sebenarnya, sebaiknya survey terlebih dahulu harga di daerah anda untuk melakukan perhitungan secara benar.

Jumlah Cacing sutra untuk Makanan Anakan Ikan Lele

Pemberian pakan cacing sutra terhadap ikan lele,
Anakan ikan lele dapat diberi cacing sutera setelah berumur lebih dari 2 minggu setelah mulut ikan lele sudah dapat memakan cacing sutera.

Ikan lele yang makan cacing sutera terbukti memiliki pertumbuhan sangat cepat. Sebaiknya pemberian pakan secara merata di seluruh bagian.

Berapa jumlah pemberian pakan ikan lele, cacing sutra dalam 1 kg kemungkinan dapat diberikan untuk 1000 anakan ikan lele, yang akan habis dalam waktu beberapa hari.
Pemberian Pakan cacing sutra dapat dilakukan 1 minggu sekali selama 1 bulan pertama
Dan dilanjutkan pelet halus.

Terima kasih sudah membaca.
Jika anda punya pertanyaan dan info lebih banyak, silakan berkomentar dibawah

Tags : analisis Budidaya cacing sutra, perhitungan budidaya cacing sutra, cacing sutera, cacing darah, blod worm, keuntungan budidaya cacing sutera, biaya budidaya cacing sutera, hasil budidaya cacing sutera, cara menghitung biaya cacing sutera,

Cara Budidaya Cacing Tubifex

Cara Ternak  Cacing Tubifex adalah cara memelihara cacing sutra untuk menghasilkan jumlah yang lebih banyak guna untuk menjadikannya sumber makanan alami larva ikan. dengan nilai gizi yang tinggi cacing sutra sangat digemari pembudidaya sebagai salah satu pilihan utama pakan larva ikan. Cacing sutera (Tubifex)sering juga disebut cacing rambut atau cacing darah merupakan cacing kecil seukuran rambut berwarna kemerahan dengan panjang sekitar 1-3 cm,  Cacing rambut merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk memberi makan ikan  fase larva hingga benih ataupun untuk ikan hias.

Cacing sutera biasanya diperoleh dengan cara menambang/mengambilnya dari sungai.Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul.  Selama proses budidaya, media dialiri air dengan debit sekitar 3 liter per detik. Panen cacing sutera dapat dilakukan seminggu sampai dua minggu setelah ditanam. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.Hasil produksi dari budidaya cacing sutera mencapai dua kali lebih banyak dibandingkan di habitat aslinya. Apabila budidaya dilakukan di pinggir sungai, maka produksi akan lebih banyak lagi. 

Cacing Sutera untuk Budidaya
Budidaya cacing sutera sangat bermanfaat untuk ikan hias, salah satunya ikan cupang dan sangat dicari untuk pakan larva ikan seperti larva lele dan ikan lainnya.
  
Habitat (Tempat Hidup)

Berikut ini teknik budidaya cacing sutra:
Persiapan Bibit cacing sutra
  • Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam, Catatan : Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan membawa bakteri patogen. 
Persiapan Media cacing sutra
  • Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm. 
Pemupukan cacing sutra
  • Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2. 
Cara pembuatan pupuknya :
  • Siapkan kotoran ayam, jemur 6 jam.
  • Siapkan bakteri EM4 untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Cari di toko pertanian atau toko peternakan atau balai peternakan.
  • Aktifkan/Kembangkan dulu bakterinya. Caranya ¼ sendok makan gula pasir + 4ml EM4 + dalam 300ml air terus diamkan kuranglebih 2 jam.
  • Campur cairan itu ke 10kg kotoran ayam yang sudah dijemur tadi aduk hingga rata.
  • Selanjutnya masukkan ke wadah yang tertutup rapat selama 5 hari.
  • Mengapa harusdifermentasi?   
  • Karena dengan fermetasi maka kandungan N-organik dan C-organik bakal naek sampai 2 kalilipat
Fermentasi Kolam cacing sutra
  • Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
Penebaran Bibit cacing sutra
  • Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik
Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra:
  • Lahan uji coba berupa kolam tanah ber ukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Dasar kolam uji coba  diisi dengan sedikit lumpur.Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain, seperti keong mas atau kijing.
  • Pipa Air Keluar (Pipa Pengeluaran /Outlet) dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. terbuat dari paralon berdia- meter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.
  • Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
  • Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan mencapai 10 cm.
  • Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya diaduk-aduk dengan kaki.
  • Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.
  • Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
  • Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar kandungan gas hilang.
  • Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.
  • Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.
  • Wadah budidaya dapat berupa parit beton atau wadah yang dilapisi plastik, lebar 0,5 meter.
  • Pakan cacing sutra berupa campuran kotoran ayam segar 50% dan lumpur kolam 50%. Tinggi media 5 cm.
  • Pemupukan ulang dengan menambahkan kotoran ayam sebanyak 9% dari volume awal, dilakukan setiap minggu.
  • Media dialiri air irigasi, dengan debit air 900 ml/menit.
  • Benih cacing rambut ditebar sehari sesudah media kultur dialiri air, yaitu sebanyak 2 gram/ m2.
Makanan Cacing Sutra
  • Karena cacing sutra termasuk makhluk hidup, tentunya cacing sutra tersebut juga butuh makan. Makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan.
Panen cacing sutra
  • Panen cacing sutera dilakukan setelah beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggusekali.
  • Cara pemanenan dengan menggunakan serok halus/lembut. Cacing sutera masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama enam jam. cacing menggerombol diatas media diambil dengan tangan.
  • Dengan cara ini didapat cacing sutera sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu.
  • Untuk mendapatkan cacing rambut yang cukup dan berkesinambungan, panjang parit perlu dirancang sesuai dengan keperluan setiap harinya.
Pakan alami juga dapat menjadi hama, berikut adala penanganan jenis-jenis pakan alami yang tepat :
Chlorella
  • Untuk mencegah berkembangnya hama dan pengganggu, medium dibubuhi dengan larutan tembaga sulfat atau trusi (CuSO4) sebanyak 1,5 mg/l. Selain itu air baru yang akan ditambahkan harus disaring dengan kain saringan 15 mikron.
  • Hama yang sering mengganggu adalah Brachionus, Copepoda, dll. Untuk memberantas hama tersebut dalam wadah 60 liter atau 1 ton dapat dilepas ikan mujair 4-5 ekor.
Kutu Air
  • Moina yang bergerombol di permukaan menunjukkan mutu medium menurun.
  • Cendawan yang meningkat pada hari ke-3. Bila cendawan sudah banyak, budidaya dihentikan dan bak dikeringkan.
  • Bila muncul Brachionus dan Ciliata, budidaya dihentikan dan kolam dicuci dengan larutan klorin 100 ml/m3 dan dikeringkan.
  • Hama yang mengganggu, antara lain : semut, cecak, dan tikus. Pencegahan dilakukan dengan mengolesi wadah dengan minyak mesin (Oli).

Panen Pakan Alami
  • Chlorella dipanen dari perairan masal 60 l/ 1 ton dan dapat langsung diumpankan pada ikan.
  • Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1 ton.
  • Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1 ton.
  • Pemanenan menggunakan alat penyaring pasir yang terbuat dari ember plastik 60 l, yang bagian bawahnya dipasang pipa PVC (d = 5 cm) yang berlubang-lubang kecil sebagai saluran pembuangan air.
  • Ember diisi kerikil yang berukuran 2-5 mm dan pasir (d = 0,2 mm, koefisien keseragaman 1,80). Tinggi lapisan pasir ± 4/5 bagian dari jumlah seluruh isi pasir dan kerikil, dan ± 8 cm diatas permukaan pasir dibuat lubang perluapan.
  • Diatomae dari bak pemeliharaan dimasukkan ke dalam bak penyaring pasir dengan pompa air dan akan tersaring oleh lapisan pasir.
  • Dari lubang pengurasan dipompakan air yang akan menembus lapisan kerikil dan pasir dan meluapkan air beserta Diatomae melalui lubang peluapan kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
  • Panen Brachionus dilakukan pada waktu kepadatannya mencapai 100 ekor/ml dalam jangka waktu 5-7 hari atau 2 minggu kemudian dengan kepadatan 500-700 ekor / ml.
  • Panen sebagian dapat dilakukan selama 45 hari, dimana 1-2 jam sebelum penangkapan, air diaduk , kemudian didiamkan. Brachionus yang berkumpul di permukaan diseser dengan kain nilon no 200 / kain plankton 60 mikron.
  • Panen total dilakukan dengan menyedot air dengan selang plastik dan disisakan 1/3 bagian kemudian disaring dengan kain nilon 200 atau kain plankton 60 mikron.
  • Hasil tangkapan dicuci bersih dan sudah dapat dimanfaatkan.
  • Usaha Pembesaran
  • Panen dilakukan pada umur 2 minggu dan ukuran Artemia mencapai 8 mm. Sebelum penangkapan, aerasi dihentikan selama 30 menit, lalu Artemia yang naik ke permukaan diserok dengan seser kain halus.
  • Artemia dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam freezer.
Produksi Nauplius
  • Penangkapan dilakukan dengan memanfaatkan kotak keping penyaring yang dilengkapi saringan 200 mikron pada ujung pipa peluapannya. Nauplius diambil setelah yang terkumpul dalam jumlah banyak.
Produksi Telur Nauplius
  • Cara penangkapan sama dengan produksi nauplius
  • Telur dicuci bersih dan direndam 1 jam dalam larutan garam 115 permil, dikeringkan selama 24 jam, 35-40 derajat C.
  • Penyimpanan dilakukan di kantong plastik yang diisi gas N2/kaleng hampa udara.
  • Infusoria dipanen dalam waktu 1 minggu, ditandai dengan perubahan warna medium menjadi keputih-putihan.
  • Pemanenan dilakukan dengan menghentikan aerasi, penyedotan dan penyaringan medium dengan saringan ukuran 200-250 mikron dan 800-1500 mikron untuk memisahkan dari jentik-jentik nyamuk.
  • Panen dilakukan setelah 10 hari dengan cara memungutnya dengan tangan beserta lumpurnya, kemudian dicuci.
  • Panen total dilakukan apabila kondisi tanah dan medium tidak dapat menyediakan makanan lagi.
  • Pemanenan dilakukan jika larva ulat berumur 2 bulan dan berukuran 1,5-2 cm. Caranya dengan menggunakan alat penyaring/ayakan dengan agak besar.
Pasca Panen Pakan Alami
  • Hasil panen phytoplankton dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam bentuk basah/kering, setelah dikonsentratkan dengan plankton net, plate separate, atau centrifuge.
  • Penyimpanan stok murni phytoplankton dilakukan dalam media cair/agar dan disimpan dalam lemari pendingin dengan masa simpan 1 bulan.
Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kandungan Gizi Cacing Tubifex sebagai Pakan Alami

Cacing sutra atau cacing rambut (Tubifex sp) adalah  pakan alami yang penting dalam kegiatan pembenihan ikan. Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan selain dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk hidup dan tumbuh, juga untuk memenuhi kebutuhan pigmen warna dalam tubuh bagi ikan hias. (Alam Ikan 10).

Secara umum cacing sutra atau cacing rambut terdiri atas dua lapisan otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya 10–30 mm dengan warna tubuh kemerahan, saluran pencernaannya berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Hal yang sama juga disampaikan oleh (Alam Ikan 11), menyatakan Spesies ini mempunyai saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Cacing sutra (Tubifex sp) ini hidup berkoloni bagian ekornya berada dipermukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.

Nilai gizi cacing tubifex (Alam Ikan 12)
ProteinLemakSerat KasarKadar AbuAir
57%13,3%2,04%3,6%87,7%

Keadaan habitat cacing tubifex
SuhuOksigen terlarutPH
28-30 C2,75-56-8 

Reproduksi cacing tubifex

Jumlah telurPanen pertamaPanen Kedua Umur Cacing
6-8>65 hari>12 hariJangka Panjang

Dari tabel diatas kandungan protein cacing sutra sangat baik untuk pakan alami ikan, walaupun mempunyai kadar nilai tinggi tetapi cacing tubifex merupakan pakan yang hanya dapat ditempatkan pada dasar perairan. Sehingga sering dijumpai ikan yang berada dipermukaan air tidak makan cacing tersebut. Sehingga menyebabkan perbedaan pertumbuhan larva ikan yang berada di dasar perairan dan permukaan air.


1. Biologi dan Morfologi Cacing Sutra (Tubifex sp)
Cacing sutra atau cacing rambut termasuk kedalam kelompok cacing–cacingan (Tubifex sp). Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing sutra digolongkan kedalam kelompok Nematoda. Embel–embel sutra diberikan karena cacing ini memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti halnya sutra. Sementara itu julukan cacing rambut diberikan lantaran bentuk tubuhnya yang panjang dan sangat halus tak bedanya seperti rambut (Alam Ikan 12).

Cacing sutra (Tubifex sp) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum : Annelida
Class : Oligochaeta
Ordo : Haplotaxida
Famili : Tubificidae
Genus : Tubifex
Spesies : Tubifex sp

Menurut (Alam Ikan 13), Cacing sutra (Tubifex sp) tidak mempunyai insang dan bentuk tubuh yang kecil dan tipis. Karena bentuk tubuhnya kecil dan tipis, pertukaran oksigen dan karbondioksida sering terjadi pada permukaan tubuhnya yang banyak mengandung pembuluh darah. Kebanyakan Tubifex membuat tabung pada lumpur di dasar perairan, di mana bagian akhir posterior tubuhnya menonjol keluar dari tabung bergerak bolak-balik sambil melambai-lambai secara aktif di dalam air, sehingga terjadi sirkulasi air dan cacing akan memperoleh oksigen melalui permukaan tubuhnya. Getaran pada bagian posterior tubuh dari Tubifex dapat membantu fungsi pernafasan (Alam Ikan 14).

Hal yang sama juga disampaikan oleh (Alam Ikan 15) bahwa hampir semua oligochaeta bernafas dengan cara difusi melalui seluruh permukaan tubuh. Hanya beberapa yang bernafas dengan insang. Cacing sutra ini bisa hidup diperairan yang berkadar oksigen rendah, bahkan beberapa jenis dapat bertahan dalam kondisi yang tanpa oksigen untuk jangka waktu yang pendek. Cacing sutra dapat mengeluarkan bagian posteriornya dari tabung, guna mendapatkan oksigen lebih banyak, apabila kandungan oksigen dalam air sangat sedikit.

Menurut (Alam Ikan 16), sekitar 90% Tubifex menempati daerah permukaan hingga kedalaman 4 cm, dengan perincian sebagai berikut : juvenile (dengan bobot kurang dari 0,1 mg) pada kedalaman 0-2 cm, immature (0,1-5,0 mg) pada kedalaman 0-4 cm, mature (lebih dari 5 mg) pada kedalaman 2-4 cm.

2. Ekologi Cacing Sutra (Tubifex sp)
(Alam Ikan 23), menjelaskan bahwa cacing sutra (Tubifex sp) umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secara berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies cacing Tubifex sp ini bisa mentolerir perairan dengan salinitas 10 ppt. Kemudian oleh Chumaidi (1986), dikatakan bahwa dua faktor yang mendukung habitat hidup cacing sutra (Tubifex sp) ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Sedangkan (Alam Ikan 18), menambahkan dari setiap tubuh cacing sutra (Tubifex sp) pada bagian punggung dan perut kekar serta ujung bercabang dua tanpa rambut. Sementara sifat hidup cacing sutra (Tubifex sp) menunjukan organisme dasar yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak berputar-putar.
3. Perkembangbiakan Cacing Sutra (Tubifex sp)
(Alam Ikan 23), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 (dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur.

Sedangkan menurut (Alam Ikan 17), telur cacing sutra (Tubifex sp) terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1-2 cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio cacing sutra (Tubifex sp) akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi tubifex mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari (Alam Ikan 19).

4. Habitat dan Penyebaran Cacing Sutra (tubifex sp)
(Alam Ikan 12) mengemukakan bahwa habitat dan penyebaran cacing sutra (Tubifex sp) umumnya berada di daerah tropis. Umumnya berada disaluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan, misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk atau saluran pembuangan limbah peternakan. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah rumah tangga umumnya kaya akan bahan organik karena bahan organik ini merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing sutra (Tubifex sp).


5. Pakan dan kebiasaan Makan Cacing Sutra (Tubifex sp)
Menurut (Alam Ikan 13), makanan oligochaeta akuatik sebagian besar terdiri dari ganggang berfilament, diatom dan detritus berbagai tanaman dan hewan. Sebagian besar oligochaeta memperoleh makanan dengan menyaring substrat seperti kebiasaan cacing yang lain. Komponen organik pada substrat ditelan melalui saluran pencernaan. Cacing ini memperoleh makanan pada kedalaman 2-3 cm dari permukaan substrat. Cacing sutra mencari makan dengan cara masuk ke dalam sedimen, beberapa sentimeter di bawah permukaan sedimen dan memilih bahan makanan yang kecil serta lembek (Alam Ikan 20).

Jumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh cacing sutra (Tubifex sp) adalah 2-8 kali bobot tubuh (Alam Ikan 21). Menurut (Alam Ikan 21) cacing tersebut hanya makan pada lapisan tipis di bawah permukaan pada kedalaman 2cm-5cm. Dijelaskan pula bahwa pada lapisan tersebut banyak zat-zat makanan yang tertimbun akibat dekomposisi anaerobik.

Selain makanan, pertumbuhan populasi cacing sutra juga ditentukan oleh faktor–faktor lain seperti ruang (tempat) dan lingkungan. (Alam Ikan 22) menyatakan bahwa tubificidae memperoleh makanan pada kedalaman 2-3 cm dari permukaan substrat.

Explanation :
Alam Ikan 10 : Priambodo dan Wahyuningsih, 2001
Alam Ikan 11 : Wahyuningsih (2001
Alam Ikan 12 : Khairuman et al., 2008
Alam Ikan 13 : Pennak (1978
Alam Ikan 14 : Wilmoth, 1967
Alam Ikan 15 : Sugiarti et al., 2005
Alam Ikan 16 : Marian dan Pandian (1984
Alam Ikan 17 : Chumaidi (1986
Alam Ikan 18 : Departemen Pertanian (1992
Alam Ikan 19 : Gusrina, 2008
Alam Ikan 20 : Morgan, 1980 dalam Isyaturradhiyah, 1992
Alam Ikan 21 : Pondubnaya dan Sorokin (1961) dalam Monakov (1972
Alam Ikan 22 : Pennak (1978) dalam Febrianti (2004
Alam Ikan 23 : Khairuman dan Amri (2002

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat