sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Klasifikasi dan Metode Bubu Dasar

Cara Pengoperasian Bubu Dasar

Bubu dasar merupakan Alat tangkap yang bersifat pasif, dibuat dari anyaman bambu (bamboos netting), anyaman rotan (rottan netting), anyaman kawat (wire netting), kere bambu (bamboos screen), misalnya bubu (fish pot), sero (guiding barrier). Bubu dasar merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuknya banyak sekali, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu dasar  ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lain-lainnya.
Bubu lipat adalah alat perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan diangkat dengan mudah (dengan atau tanpa perahu) ke daerah penangkapan. Kemudian alat tersebut dipasang di permukaan atau dasar perairan selama jangka waktu tertentu. Untuk menarik perhatian ikan, kadang-kadang didalam bubu lipat ini diberi umpan, umpan dapat berupa Ikan asin. dapat pula dilipat sehingga dapat diletakkan diperahu dalam jumlah banyak dan efisien.




Alat-alat tangkap tersebut baik secara temporer (temporarity), semi permanen (semi permanently) maupun permanen (tetap), dipasang (ditanam) di dasar laut, diapungkan atau di hanyutkan, ikan-ikan atau sumber daya perikanan laut yang tertangkap atau terperangkap disebabkan oleh adanya rangsangan dari umpan ataupun tidak.  

Metode dan cara pengoperasian bubu dasar dan bubu lipat
bahwa cara penggunaan bubu tergantung dari jenis bubunya. Pengoperasian bubu ini dapat digunakan secara berganda ataupun secara tunggal. Bubu biasanya diletakkan di dasar perairan dengan diberi umpan atau tanpa umpan. Selanjutnya untuk alat tangkap jenis traps yang digunakan di daerah pantai sifatnya adalah menghadang ikan atau biota laut lainnya, yang pada saat pasang mendekati pantai dan pada saat surut menjauhi pantai. Pada prinsip utama bubu dalam pengoperasiannya adalah mengarah pada biota yang menjadi sasarannya menuju ke mulut selanjutnya terperangkap didalam ruangan. Bubu merupakan perubahan atau modifikasi dari bubu yang telah ada. Perubahan tersebut berdasarkan biota yang akan ditangkapnya.


Dalam pengoperasiannya bubu dilengkapi dengan tali untuk mengikat pelampung yang dimaksudkan agar mempermudah dalam pengambilan bubu tersebut dari dasar perairan. Bubu juga dilengkapi dengan umpan dari potongan ikan terutama ikan yang menimbulkan bau sehingga pemangsa mau mendekat. Pemberian umpan ini bertujuan untuk menarik perhatian ikan agar terperangkap didalam bubu. Setelah itu dilakukan penurunan pelampung tanda dilanjutkan penurunan bubu beserta pemberatnya. Setelah dianggap posisinya sudah baik maka pemasangan bubu dianggap sudah selesai. Bubu dimasukkan kedalam air selama kurang lebih sehari semalam, setelah sehari semalam pengangkatan bubu dilakukan.

Klasifikasi Bubu Dasar dan Bubu Lipat
mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung : 
  • Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
  • Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
  • Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots) 

2. Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
  • Perangkap yang terdapat dinding / bendungan 
  • Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
  • Perangkap dengan jeruji (grating)
  • Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers) 

3. Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
  • Perangkap kotak (box trap)
  • Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap) 
  • Perangkap bertegangan (torsion trap)

4. Berdasarkan dari bahan pembuatnya
  • Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
  • Perangkap dari alam (smooth tubular)
  • Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)

5. Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilerfgkapi dengan penghalang 
  • Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
  • Perangkap bentuk kerucut (conice) 
  • Perangkap berangka besi

Klasifikasi Bubu Dasar
Alat ini dapat dibuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting), dan anyaman kawat (wire netting). Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti silinder, setengah lingkaran, empat persegi panjang, segi tiga memanjang dan sebagainya. Dalam pengoperasiannya dapat memakai umpan atau tanpa umpan. 


Konstruksi Bubu Dasar
bahan bubu biasanya terbuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting) dan anyaman kawat (wire netting). Pada umumnya, bubu yang digunakan terdiri dari: 
a.  Badan atau tubuh bubu
  • Badan atau tubuh bubu umumnya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm dan tinggi 40 cm. bagian ini dilengkapi pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu ke dasar perairan yang terletak pada keempat sudut bubu.

b.  Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
  • Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada bagian bawah sisi bubu. Lubang ini berdiameter 35 cm, posisinya tepat di belakang mulut bubu. Lubang ini dilengkapi dengan penutup.

c. Mulut bubu
  • Mulut bubu berfungsi untuk tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badan bubu. Posisi mulut bubu menjorok ke dalam badan atau tubuh bubu berbentuk silinder. Semakin ke dalam diameternya semakin mengecil. Pada bagian mulut bagian dalam melengkung ke bawah sepanjang 15 cm. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk sulit untuk meloloskan diri keluar  

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bagan Tancap

Cara Pengoperasian Bagan Tancap
Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang digunakan nelayan di tanah air untuk menangkap ikan pelagis kecil, pertama kali diperkenal oleh nelayan Bugis-Makassar sekitar tahun 1950-an.  Selanjutnya dalam waktu relatif singkat sudah dikenal di seluruh indonesia.  Bagan dalam perkembangannya  telah banyak mengalami perubahan baik bentuk maupun ukuran yang dimodifikasi sedekian rupa sehingga sehingga sesuai dengan daerah penangkapannya.  Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan ke dalam  jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing


Klasifikasi Bagan Tancap
Bagan tancap merupakan perkembangan dari alat tangkap anco atau jodang, di mana letak perbedaannya adalah pada daerah penangkapannya.
  1.   mengklasifikasikan bagan tancap ke dalam liftnet dengan prinsip dasar pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan serta menaikkan ke dalam air.
  2.  menggolongkan alat ini ke dalam “ mengajak atau menggiring “ lalu menyesatkan ke dalam alat tangkap
  3.   memasukkan bagan tancap ke dalam “ capture, then kill with trap and net “ (mengklasifikasikan alat ini berdasarkan pemakaian net sebagai jebakan)
  4.  mengelompokkan bagan tancap bersama Hanco (anco), Yotsudo ami, Bouke ami (stick held dip net) ke dalam alat “menghamparkan alat” menunggu sampai ikan berada atau berkumpul di atasnya, untuk kemudian diangkat atau ditarik ke atas.
  5.  dalam bukunya Fish Catching Methods of The World mengelompokkan bagan tancap termasuk dalam lift net. 

Ada dua jenis tipe bagan yang ada di Indonesia. Yang pertama adalah bagan tancap yaitu bagan yang ditancapkan secara tetap di perairan dengan kedalaman 5-10 meter, yang kedua adalah bagan apung, yaitu bagan yang dapat berpindah dari satu fishing ground ke fishing ground lainnya (Mulyono, 1999). Bagan terapung dapat diklasifikasikan lagi menjadi bagan dengan satu perahu, bagan dua perahu dan bagan rakit.


Bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk segi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh diatas perairan, dimana pada tengah bangunan tersebut dipasang jaring. Dengan kata lain alat tangkap ini sifatnya inmobile. Hal ini karena alat tersebut ditancapkan ke dasar perairan, yang berarti kedalaman laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas yaitu pada perairan dangkal yang subtrat baik untuk pemasangan adalah lumpur campur pasir (Alam Ikan 9) 

Cara pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut :

  • Terlebih dahulu nelayan mempersiapkan perlengkapan yang akan di pergunakan dalam operasi penangkapan. Perlengkapan tersebut dapat berupa ; perbekalan pribadi nelayan, beberapa lampu pompa lengkap dengan cadangannya (kaos lampu, minyak tanah, serta korek api), kapal dan perlengkapan yang di butuhkan lainnya.
  • Sebaiknya sebelum matahari terbenam, dengan mempergunakan perahu nelayan telah meninggalkan daratan untuk menuju ke bagan. Setelah tiba di bagan, nelayan menambatkan perahunya pada salah satu tiang bagan. kemudian nelayan dapat membawa seluruh perlengkapan yang diperlukan ke atas bagan.
  • Setelah sampai diatas bagan, jaring bagan kemudian diturunkan kedalam air. Lalu menyalakan beberapa (3 – 4 buah) lampu pompa, dan menurunkan tali lampu pompa tersebut hingga mendekati permukaan air, jarak lampu dengan permukaan laut ± 0,5 - 3,5 m.
  • Kemudian dilakukan ialah setting, yaitu penurunan jaring bagan ke dalam air. Lama setting pada tiap bagan berbeda-beda, tergantung pada kedalaman air pada tiap bagan tancap serta tenaga dan jumlah orang yang melakukan penurunan jaring tersebut. 
  • Menurunkan tali lampu tekan petromak tersebut hingga mendekati permukaan air. Jarak peletakan lampu tekan petromak dengan permukaan laut tergantung pada keadaan gelombang dan angin. Peletakan lampu petromak pada bagan 2, 3, dan 4 berkisar 50 cm dari permukaan air. 
  • Langkah selanjutnya yaitu immersing, yaitu perendaman jaring beberapa waktu sampai ikan-ikan berkumpul. Setiap berkala dilakukan pengamatan terhadap ikan-ikan yang berkumpul mendekati lampu dan masuk ke dalam jaring. Akan tetapi ketentuan waktu tersebut tidak mengikat karena tergantung Bapak nelayannya. Jaring bagan dapat segera diangkat, pada saat terdapat banyak ikan yang berada didalam jaring, atau pada saat ikan telah mendekat dan 
  • lampu petromak  atau jenset dinaikkan dari permukaan air setelah banyak ikan yang berkumpul.
  • Hauling, yaitu pengangkatan jaring setelah banyak gerombolan ikan yang terkurung di jaring dengan menggunakan alat bantu penarik jaring (katrol) yang terbuat dari bambu dengan cara memutar batang penggiling atau katrol, kemudian jaring bagan secara perlahan-lahan naik ke atas sampai kerangka jaring bagannya terangkat seluruhnya. 
  • Ikan-ikan yang tertangkap dalam jaring kemudian diambil dengan menggunakan alat “serok”  atau scop net untuk di pindahkan kedalam keranjang ikan yang telah dipersiapkan.
  • Pengoperasian berikutnya dilakukan seperti tahapan di atas dengan selang waktu penangkapan berkisar 1 – 1,5 jam.

Kontruksi Bagan Tancap
Bagan terdiri dari komponen-komponen penting, yaitu: jaring bagan, rumah bagan (anjang-anjang, kadang tanpa anjang-anjang), serok dan lampu. Jaring bagan umumnya berukuran 9 x 9 m, # 0,5 – 1 cm, bahan dari benang katun atau nilon atau kadang menggunakan bahan dari jaring karuna. Jaring tersebut diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu, tapi kadang juga tanpa diberi bingkai (bagan perahu). Rumah bagan (anjang-anjang) terbuat dari bambu atau kayu yang berukuran bagian bawah 10 x 10 m, sedang bagian atas berukuran 9,5 x 9,5 m (itu untuk tipe bagan tancap). Pada bagian atas rumah bagan (baca, plataran bagan) terdapat alat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu penangkapan. Penangkapan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan 

Bagian-bagian bagan menurut (Alam Ikan 8) adalah sebagai berikut:
  1. Jaring : bahan dari waring berbentuk bujur sangkar.
  2. Bingkai (rangka) : bingkai (rangka) terbuat dari bambu atau bahan lainnya berbentuk bujur sangkar yang berfungsi untuk menggantungkan jaring.
  3. Tali penarik jaring : tali yang terbuat dari Polyetheline (PE) atau bahan lainnya yang berfungsi untuk menaikturunkan jaring bagan.
  4. Pemberat : bahan yang mempunyai daya tenggelam dipasang pada bingkai dan bagian tengah jaring, berfungsi untuk menenggelamkan jaring.
  5. Lampu : alat penerangan berupa lampu tekan minyak atau lampu penerangan lainnya berfungsi sebagai alat pengumpul ikan.

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Jaring Perawai dan Rawai Tuna

Cara Pengoperasian Jaring Perawai dan Rawai Tuna
Alat penangkapan ikan ini disebut rawai karena bentuk alat sewaktu dioperasikan adalah rawe-rawe (rawe = bahasa Jawa) yang berarti sesuatu yang ujungnya bergerak bebas. Rawai disebut juga dengan longline yang secara harfiah dapat diartikan dengan tali panjang. Hal ini karena alat ini konstruksinya berbentuk rangkaian tali-temali yang disambung-sambung sehingga merupakan tali yang panjang dengan beratus-ratus tali cabang
Persyaratan daerah operasi bagai perawai  : 
- pantai yang keadaannya landai
- kedalamannya merata
- bersih dari tonggak, bangkai kapal yang rusak         
- terhindar dari kesibukan lalu-lintas perahu/kapal      
       

Pengertian Rawai Tuna
Tuna Long Line adalah salah satu bagian dari rawai yang didasarkan atas jenis ikan yang ditangkap, dalam hal ini ialah ikan Tuna. Tuna Long Line atau yang di sebut dengan Rawai Tuna merupakan jenis rawai yang paling terkenal. Meskipun dalam kenyataanya bahwa hasil tangkapannya bukan hanya ikan Tuna, tetapi juga berbagai jenis ikan lain seperti ikan Layaran, ikan Hiu dan lain-lain. 

Rawai tuna tergolong rawai hanyut (drift longline) tetapi umumnya hanya disebut ”tuna longline” saja. Dalam perikanan, indrustri pancing ini termasuk penting dan produktivitasnya tinggi. Satu perangkat rawai tuna bisa terdiri dari ribuan mata pancing dengan panjang tali mencapai puluhan km (15-75 km). 

Dilihat dari segi kedalaman operasi (Fishing depth) Tuna Long Line dibagi dua yaitu : 
  1. Tuna Long Line pada perairan yang bersifat dangkal (Subsurface). Pada Tuna Long Line jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing
  2. Tuna Long Line pada perairan yang bersifat dalam (Deep). Pada Tuna Long Line jenis ini dalam satu basket rawai diberi sekitar 11-13 pancing sehingga lengkungan tali utama menjadi lebih dalam.

sifat dari kedua tipe ini adalah :
  1. Rawai tipe dalam memerlukan line hauler yang lebih kuat dibanding tipe   dekat permukan.
  2. Rawai tipe dalam menangkap jenis big eye yang lebih banyak (sehingga nilai produksinya  lebih baik) dibanding tipe permukaan. Tuna yang tertangkap dengan rawai dangkal  didominasi oleh yellowfin tuna yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan big eye. 

Klasifikasi Perawai dan Rawai Tuna
ada berbagai macam bentuk rawai yang  secara keseluruhan dapat dikelompokkan dalam berbagai kelompok antara lain :
1. Berdasarkan letak pemasangannya di perairan rawai dapat dibagi menjadi :
  • Rawai permukaan (Surface longline)
  • Rawai pertengahan (Midwater longline)
  • Rawai dasar (Bottom longline)

2. Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama :
  • Rawai tegak (Vertikal long line)
  • Pancing ladung
  • Rawai mendatar (Horizontal long line)

3. Berdasarkan jenis-jenis ikan yang banyak tertangkap :
  • Rawai Tuna (Tuna longline)
  • Rawai Albacore (Albacore longline)
  • Rawai Cucut (Shark longline), dan sebagainya.

Menurut (Alam Ikan 5), secara garis besar perikanan pancing ini dapat dilihat dari jenis-jenisnya sebagai berikut :
  • Pole and line : untuk ikan cakalang (skip jack), mackerel, dan lainnya.
  • Long line : untuk jenis tuna, salmon, mackerel, sea perch cod, sea bream, octopus dan lain sebagainya
  • Hand line : untuk squid dan lain-lain
  • Trolling : untuk ikan-ikan tongkol, spanish, mackerel, yellowfin tuna dan lain-lain.
  • Vertikal longline : untuk ikan-ikan mackerel, bottom fish dan lain-lain.

Long line terdiri dari rangkaian tali utama, tali pelampung dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan lebih kecil dia meternya, dan diujung tali cabang ini diikat pancing, yang berumpan. 

pada prinsipnya ”rawai tuna” terdiri dari komponen-komponen utama yang biasanya terdiri dari : tali utama (main line), tali cabang (tali pancing, branch line) berikut bagian-bagiannya, yaitu : tali pelampung (float line) berikut pelampungnya, batu pemberat dan tali penyambungnya.

Metode dan Cara Pengoperasian Perawai dan Rawai Tuna
 rawai adalah merupakan salah satu alat penangkapan ikan yang terdiri dari rangkaian tali-temali yang bercabang-cabang dan pada tiap–tiap ujung cabangnya diikatkan sebuah pancing. Secara teknis operasional rawai sebenarnya termasuk jenis perangkap, karena dalam operasionalnya tiap-tiap pancing diberi umpan yang tujuannya untuk menangkap ikan agar ikan-ikan mau memakan umpan tersebut sehingga terkait oleh pancing. Akan tetapi, secara material rawai ada yang mengklasifikasikan termasuk dalam golongan penangkapan ikan dengan tali line fishing karena bahan utama untuk rawai ini terdiri dari tali-temali.

Cara pengoperasiannya adalah sebagai berikut :

  • Mula-mula pengapung pertama diikatkan dengan talinya, begitu pula batu pemberatnya.
  • Setelah itu perahu dijalankan, sementara itu pancing demi pancing ditanggalkan dari tempat penyimpanan, kemudian mata pancing diberi umpan yaitu ikan yang sudah terpotong-potong, setelah itu dilemparkan ke dalam air.
  • Tali cabang diikatkan pada tali utama.
  • Sementara perahu masih tetap berjalan, tali cabang diulur sampai panjang yang dibutuhkan terpenuhi. Setelah itu kapal/perahu dapat dihentikan.
  • Rangkaian pancing oleh nelayan dibiarkan hanyut oleh arus dan angin bersama perahunya. Dan lamanya tidak ditentukan waktunya dan hauling (penarikan) dilakukan 2-3 kali. 
Hauling dilakukan dengan cara :
Tali cabang dengan perlahan-lahan ditarik ke dalam perahu, setelah penarikannya sampai pada pelampung, untuk penarikan selanjutnya dilakukan dengan cara menarik tali utamanya.

Ikan-ikan yang tertangkap dilepaskan dari kaitannya.


Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Jaring Trammel Net

Cara Pengoperasian Jaring Trammel Net
Trammel net adalah jaring tiga lapis yang menetap di dasar atau hanyut menurut arus/kapal atau ditarik salah satu sisinya. Dua lapis jaring dindingnya mampunyai mata besar sedangkan yang didalam hermata lebih kecil dan tergantung longgar. Ikan dapat terpuntal pada jaring bagian dalam setelah menembus bagian luar


Alat ini banyak digunakan untuk penangkapan udang. Sesuai dengan lingkungan dan cara hidup dari udang dan jenis binatang demersal lainnya. Maka alat setelah dilepas/dilabuh diharapkan dapat mendasar dengan baik. Dengan hal tersebut diharapkan bahwa selain udang dan ikan-ikan demersal yang menjadi sasaran/tujuan penangkapan yang dalam perdagangan mempunyai harga yang layak dapat tertangkap juga. Contoh : kakap, bawal hitam, bawal putih, manyung, dll (Alam Ikan 2).

Metode dan Cara Pengoperasian Trammel Net
metode yang digunakan dalam pengoperasian trammel net adalah sebagai berikut:
  • ·         Langkah awal yakni mencari daerah fishing ground dan menuju daerah fishing  ground yang telah ditentukan.
  • ·         Setting atau penurunan jaring trammel net yang dimulai dari penurunan pelampung tanda dan jangkar, selanjutnya dilakukan penerunan jaring yang direntangkan.
  • ·         Immersing atau rentan waktu tunggu kira-kira 2-3 jam.
  • ·         Hauling atau penarikan jaring dari laut. Penataan jaring untuk mempermudah penggunaan jaring kembali dilakukan sekaligus pada saat hauling.


Klasifikasi  Trammel Net
Trammel net menurut klasifikasi dapat dimasukkan kedalam jenis gill net. Menurut (Alam Ikan 3), berdasarkan kontruksinya, jaring insang dikelompokkan menjadi 3 (dua), yaitu berdasarkan jumlah lembar jaring utama dan cara pemasangan tali ris. Klasifikasi berdasarkan jumlah lembar jaring utama ialah sebagai berikut:
1. Jaring insang satu lembar (single gill net)
  • Jaring insang satu lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari hanya satu jaaring, tinggi jaring ke arah dalam atau mesh depth dan ke arah panjang atau mesh length disesuaikan dengan target tangkapan, daerah penangkapan, dan metode pengoperasian.
2. Jaring insang double lembar (double gill net atau semi trammel net)
  • Jaring insang dua lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari dua lembar jaring, ukuran mata jaring dan tinggi jaring dari masing-masing lembar jaring, bisa sama atau berbeda antara satu dengan yang lainnya.
3. Jaring insang tiga lembar (trammel net)
  • Jaring insang tiga lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari tiga lembar jaring, yaitu dua lembar jaring bagian luar (outer net) dan satu lembar jaring bagian dalam (inner net). 
  • Berdasarkan FAO (International Standard Statistical Classification Fishing Gear / ISSCFG)  Trammel net termasuk dalam jaring puntal dengan singkatan GTR kode ISSCFG 07.6.0. Klasifikasi trammel net menurut (Alam Ikan 4) merupakan entangled gear.

Daerah Penangkapan Trammel Net
Daerah yang sering dipilih oleh nelayan ialah daerah perairan pantai yang kedalaman lautnya sekitar 15-30 meter, yang dasar perairannya berupa lumpur, lumpur campur pasir, bersih daripada kerikil tajam, batu karang dan tonggak Bagan serta landai. 

Daerah penangkapan fishing ground yang baik untuk alat tangkap trammel net adalah daerah pantai, teluk, muara, dan perairan yang bersih dari tonggak, batu karang, dan perairan tersebut bukan merupakan alur atau lalu lintas perairan umum. Hal ini bertujuan agar jaring tidak rusak atau sobek karena tersangkut karang dan agar pengoperasian jaring tidak terhambat oleh adanya kapal yang lewat. 


cara penangkapan alat tangkap trammel net adalah sebagai berikut:
1. Cara Lurus.
  • Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan, Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 - 25 tinting. Perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 - 4 orang. 
  • Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 - 1 jam, kemudian dilakukan penarikan dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.
2. Cara Setengah Lingkaran.
  • Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam (inboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring 60 – 80 tinting dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. 
  • Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring hingga membentuk setengah lingkaran Kemudian ditarik ke kapal dan ikan & udang yang tertangkap dilepaskan.
3. Cara Lingkaran.
  • Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah lingkaran. 
  • Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan yang tertangkap diambil.


Konstruksi Trammel Net
Trammel net merupakan jaring tiga lapis yang terdiri dari tali ris bawah dan atas, pelampung terbuat dari karet atau spon, pemberat dari timah dan batu. Jaring lapis luar “outer nets” terbuat dari nilon benang ganda (nylon multi fillament) berdiameter benang 0,5 mm (PA 210 d/9) dan berukuran mata 254,00 mm (10 inchi). Dimensi jaring lapis luar adalah (lo) 21,30 m dan dalam (ho) 1,17 m.

.
konstruksi alat tangkap trammel net adalah sebagai berikut:
1. Tubuh Jaring.
  • Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan tertangkap secara terpuntal ( tersangkut ) jaring. Tubuh jaring terdiri dari 3 lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit lapisan jaring dalam. 
  • Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada ukuran mata jaring lapisan luar. - Lapisan jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran mata jaring nya berkisar antara 1,5 - 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). 
  • Setiap lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51 mata. Lapisan jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min).
2. Selvage ( Srampat ).
  • Untuk memperkuat kedudukan jaring pada penggantungnya, makes pada bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage (srampat). 
  • Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang rangkap sehingga lebih kuat. Selvage tersebut mempunyai mata jarring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 - 2 mata pada pinggiran jaring bagian atas dan 5 - 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah. 
  • Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran 210 d4 - 210 d6.
3. Tali Ris.
  • Trammel net dilengkapi dengan dua buah tali ris yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris adalah untuk menggantungkan tubuh jaring dan sebagai penghubung lembar jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang). 
  • Sebagai bahan untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 - 4 mm. Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 – 30 m, sedangkan tali ris bawah antara 30 - 32 m.
4. Pelampung.
  • Pelampung merupakan bagian dari ,Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung jaring pada saat diopera4,ikan. 
  • Jenis pelampung yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40 - 50 cm. Tali pelampung terbuat dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 - 4 mm
5. Pemberat.
  • Pada Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring pada saat dioperasikan. Dengan adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak lurus di perairan sehingga dapat menghadang ikan atau udang yang menjadi tujuan penangkapan. 
  • Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah ( timbel ) yang berbentuk lonjong, dengan berat antara 10 - 13 gram/buah. Pemasangan pemberat dilakukan dengan jarak antara 19 - 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene dengan garis tengah 2 mm. 
  • Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan dari batu seberat kira-kira 20 kg.
6. Tali Penghubung ke Kapal.
  • Trammel net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah 7,5 - 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung antara jaring dengan pelampung utama ( berbendera ) sebagai tanda. 
  • Selain itu juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 - 7,5 cm yang dipasang pada sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris atas dan bawah).
  • Trammel net ini biasa dikenal dengan jaring gondrong. Jaring ini mempunyai perbedaan dibanding dengan alat jenis gill net terdiri dari tiga lapis dinding rajutan. 
  • Dinding/lembar rajutan yang di bagian tengahnya disebut inner net. Ukuran mata jaringnya kecil, tetapi ukuran panjang rentangan badan jaring lebih panjang jika dibandingkan dengan lebar jaring yang sebelah luar yang disebut outter net. 
  • Pada jaring ini mempunyai ukuran mata jaring yang lebih besar daripada inner net. Ketiga lembar jaring ini dirakit pada satu hanging line. Trammel net sering digunakan nelayan, karena ikan-ikan yang besar/kecil setelah menumbuk dinding rajutan akan dapat secara mantap terbelit-belit di mata jaring  


Hasil Tangkapan Trammel Net
Jenis-jenis ikan yang umumnya tertangkap dengan gill net ini ialah jenis-jenis ikan yang berenang dekat permukaan laut (Cakalang, jenis-jenis tuna, Saury, flying fish dan lain-lain) dan jenis-jenis ikan demersal atau ”bottom” (flat fish, karamba, ”sea bream” dan lain-lain), juga jenis-jenis udang, lobster, kepiting, dan lain-lain Dengan mempertimbangkan sifat-sifat ikan yang akan menjadi tujuan penangkapan, lalu menyesuaikan dengan dalam atau dangkal dari renang ruaya ikan-ikan tersebut, dilakukan penghadangan terhadap arah renang dari ikan-ikan tersebut. Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan tersebut menerobos jaring, dan terjerat pada mata jaring ataupun tebilit-bilit terhadap mata jaring .

Hasil tangkapan utama jaring trammel adalah udang penaeid yang berukuran relatif besar dan hasil tangkap sampingannya adalah ikan-ikan demersal. Udang penaeid yang tertangkap dengan jaring trammel terdiri dari udang jerbung (Penaeus merguensis), udang windu (Penaeus monodon), udang dogol (Metapenaeus ensis). Hasil tangkapan sampingan jaring trammel antara lain adalah Tigawaja (Johnius spp.), Gulamah (Pseudosciena spp.), Layur (Trichiurus spp.), Kerong-kerong (Therapan spp.), Kerot-kerot ( Pomadasys spp.), Petek (Leiognathus spp.) dan ikan Lidah (Cynoglosus spp.). Rasio hasil tangkapan udang dan ikan sampingan biasanya sekitar 0,25. Komposisi hasil tangkapan udang umumnya adalah udang jerbung 50%, udang windu 20% dan udang dogol 30% 

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Jaring Gill Net Permukaan dan Dasar

Cara Pengoperasian Jaring Gill Net Permukaan dan Dasar
Istilah gill net berdasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gill net terjerat di sekitar operculumnya pada mata jaring. Gill net sering juga disebut sebagai “jaring insang”. Dalam bahasa jepang, gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berarti tertangkapnya ikan-ikan pada gill net, ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”.  Di indonesia, penanaman gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutnya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring karo, jaring udang, dan sebagainya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang bayeman), dan sebagainya


Jaring insang (gill net) yang umum berlaku di Indonesia adalah satu jenis alat penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana mata jaring dari bagian utama ukurannya sama, jumlah mata jaring ke arah panjang atau ke arah horisontal (Mesh Length (ML)) jauh lebih banyak dari pada jumlah mata jaring ke arah vertikal atau ke arah dalam (Mesh Dept (MD)), pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung (floats) dan di bagian bawah dilengkapi dengan beberapa pemberat (sinkers) sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan memungkinkan jaring insang dapat dipasang di daerah penangkapan dalam keadaan tegak

Warna jaring pada gill net harus disesuaikan dengan warna perairan tempat gill net dioperasikan, kadang dipergunakan bahan yang transparan seperti monofilament agar jaring tersebut tidak dapat dilihat oleh ikan bila dipasang diperairan 

Klasifikasi Gill Net
jaring insang dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu berdasarkan jumlah lembar jaring utama dan cara pemasangan tali ris. Klasifikasi berdasarkan jumlah lembar jaring utama ialah sebagai berikut:
1.  Jaring insang satu lembar (Single Gill Net)
  • Jaring insang satu lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari hanya satu jaaring, tinggi jaring ke arah dalam atau mesh depth dan ke arah panjang atau mesh length disesuaikan dengan target tangkapan, daerah penangkapan, dan metode pengoperasian.

2.  Jaring insang double lembar (Double Gill Net atau Semi Trammel Net)
  • Jaring insang dua lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari dua lembar jaring, ukuran mata jaring dan tinggi jaring dari masing-masing lembar jaring, bisa sama atau berbeda antara satu dengan yang lainnya.

3.  Jaring insang tiga lembar (Trammel Net)
  •  Jaring insang tiga lembar adalah jaring insang yang jaring utamanya terdiri dari tiga lembar jaring, yaitu dua lembar jaring bagian luar (outter net) dan satu lembar jaring bagian dalam (inner net).

kontruksi dari cara pemasangan tali ris, jaring insang dibagi ke dalam 4 (empat) jenis yaitu:
  1. Pemasangan jaring utama bagian atas dengan tali ris atas dan jaring utama bagian bawah dengan tali ris bawah disambungkan secara langsung.
  2. Jaring utama bagian atas disambungkan secara langsung dengan tali ris atas dan bagian jaring utama bagian bawah disambungkan melalui tali penggantung (hanging twine) dengan tali ris bawah.
  3. Pemasangan jaring utama bagian atas dengan tali ris atas disambungkan melalui tali penggantung dan bagian bawah dari jaring utama disambungkan secara langsung dengan tali ris bawah.
  4. Jaring utama bagian atas dengan tali ris atas dan bagian jaring utama bagian bawah dengan tali ris bawah disambungkan melalui tali penggantung.

Penamaan gill net berdasarkan cara operasi ataupun kedudukan jaring dalam perairan maka (Alam Ikan 1)  membedakan antara:
a. Surface Gill Net
  • Pada salah satu ujung jaring ataupun pada kedua ujungnya diikatkan tali jangkar, sehingga letak (posisi) jaring jadi tertentu oleh letak jangkar. Beberapa piece digabungkan menjadi satu, dan jumlah piece harus disesuaikan dengan keadaan fishing ground. Float line (tali pelampung, tali ris atas) akan berada di permukaan air (sea surface). Dengan begitu arah rentangan dengan arah arus, angin dan sebagainya akan dapat terlihat.
  • Gerakan turun naik dari gelombang akan menyebabkan pula gerakan turun naik dari pelampung, kemudian gerakan ini akan ditularkan ke tubuh jaring. Jika irama gerakan ini tidak seimbang, juga tension yang disebabkan float line juga besar, ditambah oleh pengaruh-pengaruh lainnya. Kemungkinan akan terjadi peristiwa the rolling up of gill net yaitu peristiwa dimana tubuh jaring tidak lagi terentang lebar, jaring tidak berfungsi lagi sebagai penghalang/penjerat ikan.

b. Bottom Gill Net
  • Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, sehingga letak jaring akan tertentu. Hal ini sering disebut set bottom gill net. Jaring ini direntangkan dekat dengan dasar laut, sehingga dinamakan bottom gill net, berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan demersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera/bertanda yang diletakkan pada kedua belah pihak ujung jaring.
  • Pada umumnya yang menjadi fishing ground adalah daerah pantai, teluk, muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap dapat berbagai jenis, misalnya hering, cod, flat fish, halbut, mackerel, yellow tail, sea bream, udang, lobster dan sebagainya.

c. Drift Gill Net
  • Sering juga disebut dengan drift net saja, atau ada juga yang memberi nama lebih jelas misalnya ”salmon drift gill net”, atau ”salmon drift trammel net”, dan ada pula yang menerjemahkannya ”jaring hanyut”
  • Drift gill net juga dapat digunakan untuk mengejar gerombolan ikan, dan merupakan alat penangkap yang penting untuk perikanan laut bebas. Karena posisinya tidak ditentukan oleh jangkar, maka pengaruh dari kekuatan arus terhadap tubuh jaring dapat diabaikan. Gerakan jaring bersamaan dengan gerakan arus sehingga besarnya tahanan dari jaring terhadap arus dapat diabaikan.
  • Ikan-ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain saury, mackarel, flying fish, skip jack, tuna, salmon, hering, dan lain-lain.

d. Encircling Gill Net atau Surrounding Gill Net
  • Gerombolan ikan dilingkari dengan jaring, antara lain digunakan untuk menghadang arah lari ikan. Supaya gerombolan ikan dapat dilingkari/ditangkap dengan sempurna, maka bentuk jaring sewaktu operasi ada yang berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, bentuk huruf V atau U, bengkok-bengkok seperti alun gerombolan dan masih banyak jenisnya lagi.
Berikut metode dan cara pengoperasian jaring Gill Net.
 metode yang digunakan dalam pengoperasian gill net adalah sebagai berikut:
Langkah awal yakni mencari daerah fishing ground dan menuju daerah fishing  ground yang telah ditentukan.
Setting atau penurunan jaring gill net yang dimulai dari penurunan pelampung tanda dan jangkar, selanjutnya dilakukan penerunan jaring yang direntangkan.
Immersing atau rentan waktu tunggu kira-kira 2-3 jam.
Hauling atau penarikan jaring dari laut. Penataan jaring untuk mempermudah penggunaan jaring kembali dilakukan sekaligus pada saat hauling.

Konstruksi Gill Net
menyatakan bahwa pada konstruksi umum, yang disebutkan dengan gill net ialah jaring yang berbentuk persegi panjang yang mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan kata lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah diletakkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju ke atas dan sinking force dari sinker diditambah dengan berat jaring di dalam air yang bergerak menuju ke bawah, maka jaring akan terlentang. Detail konstruksi, kedua ujung jaring diikatkan pemberat. 

Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada keduabelah pihak ujung jaring. Karakteristik, gill net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah. Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan.
Semoga Bermanfaat

Zona Laut Berdasarkan Kedalamannya

Tekanan air laut bertambah terhadap kedalaman air laut. Kedalaman air laut biasanya diukur dengan menggunakan CTD (Conductivity, Temperature, Depth) atau echo sounder . Kedalaman yang diukur dengan menggunakan CTD didasarkan pada harga tekanan


Berdasarkan kedalamannya wilayah perairan laut dibagi atas empat zona, yaitu:
1. Zona Litoral
Zona Litoral merupakan wilayah antara garis pasang dan garis surut air laut. Wilayah ini terkadang kering pada saat air laut surut dan tergenang pada saat air laut mengalami pasang. Zona litoral biasanya terdapat di daerah yang memiliki pantai landai.

2. Zona Neritik
Zona Neritik adalah Daerah dasar laut yang mempunyai kedalaman rata-rata kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Contohnya wilayah perairan laut dangkal di Paparan Sahul dan Paparan Sunda di wilayah perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Arafuru, dan Selat Sunda.

3. Zona Batial
Zona Batial adalah Wilayah perairan laut yang memiliki kedalaman berkisar 200 meter – 1.800 meter. Karena sinar matahari sudah tidak dapat menembus zona ini, maka tumbuhan mulai berkurang namun binatang masih banyak terdapat di wilayah laut dengan zona batial.

4. Zona Abisal
Zona Abisal adalah Wilayah perairan laut yang memiliki kedalaman berkisar lebih dari 1.800 meter. Contoh zona abisal adalah Palung Laut Banda (7.440meter) dan Palung Laut Mindanao (10.830 meter).


Semoga Bermanfaat

Cara Mendeteksi Fishing Ground (Daerah Penangkapan Ikan)

Cara Mendeteksi Fishing Ground (Daerah Penangkapan Ikan)
Daerah Penangkapan Ikan merupakan suatu perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan diharapkan dapat tertangkapsecara maksimal, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdayanya.
Sedangkan fishing ground atau   daerah penangkapan ikan  adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdaya.
Berikut persyaratan daerah penangkapan ikan.

Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya;
    Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah yaitu Memungkinkan melakukan operasi penangkapan secara aman dari benda-benda pengganggu (tonggak bagan, bangkai kapal tenggelam) tidak terlalu jauh dari operasi penangkapan sehingga dicapai penghematan atau efisiensi dalam penggunaan bahan bakar;
      Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu diperhitungkan yaitu daerah cukup luas memungkinkan suatu kelompok ikan tinggal (menetap) secara utuh dalam waktu cukup lama; dan
        Faktor lingkungan (kadar garam/salinitas, suhu perairan) sesuai dengan yang disenangi ikan yang menjadi sasaran penangkapan, cukup tersedia makanan bagi semua anggota kelompok ikan, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.
          saat di lapangan untuk mendapatkan suatu daerah penangkapan dari suatu jenis ikan bukanlah hal yang mudah tanpa alat bantu, karena luas wilayah lautan kita cukup besar, mencakup kurang lebih ⅔ dari seluruh wilayah nusantara, belum tebiasanya nelayan kita menggunakan data oceanografi untuk mencari daerah penangkapan ikan, dan terbatasnya peralatan yang dimiliki oleh suatu unit kapal tangkap yang dipergunakan diperairan kita oleh nelayan.
            alat bantu yang dapat membantu nelayan kita dalam mencari daerah penangkapan ikan dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 
              1. Alat bantu yang berasal dari alam
                Yang dimaksud dengan alat bantu yang berasal dari alam alat bantu untuk mencari daerah penangkapan suatu jenis ikan yang berasal dari alam. Alat bantu itu sendiri terbagi menjadi empat, yaitu :
                  • Adanya burung-burung laut yang menukik dan menyambar ke permukaan laut.
                  • Adanya gerakan beberapa ikan lumba-lumba.
                  • Adanya buih-buih atau riakkan air di permukaan perairan
                  • Adanya cahaya spesifik yang dikeluarkan oleh suatu jenis ikan.
                          2. Alat bantu buatan
                            Yang dimaksud dengan alat bantu bantuan adalah alat bantu untuk mencari daerah penangkapan suatu jenis ikan yang merupakan buatan dari manusia. Alat bantu itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu :
                              a. Rumpon
                                b. Lampu
                                Semoga Bermanfaat

                                Cara Pengoperasian Pakaja (Trap and Guiding Barriers)

                                Cara Pengoperasian Pakaja

                                Pakaja adalah alat penangkap ikan yang berbentuk silinder, dioperasikan dengan cara dihanyutkan dan dikhususkan untuk menangkap ikan terbang. Pakaja diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang . Dari pengertian tersebut, dapat dijelaskan lebih lanjut mengenai cara pengoperasian pakaja, sebagai berikut.


                                Cara Pengoperasian Alat Pakaja
                                Adapun tahapan dalam pengoperasian pakaja ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut 

                                • Pada sekeliling mulut pakaja diikatkan rumput laut atau “gusung/gosek”. 
                                • Pakaja disususun dalam 3 kelompok yang satu dengan yang lainnya berhubungan melalui tali penonda (drift line) dan penyusunan kelompok (contoh: misalnya ada ±20 buah bubu): 
                                • 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung dihubungkan (diikat) dengan perahu penangkap dan diulur sampai antara 60-150 m. 
                                • Kemudian pakaja dibiarkan selama beberapa jam dan untuk proses haulingnya dilakukan dengan menarik tali pada pakaja lalu mengangkat pakaja ke atas perahu.


                                Hasil Tangkapan Pakaja dan Daerah Pengoperasian Pakaja
                                Hasil tangkapan alat tangkap pakaja adalah ikan terbang (flying fish) 

                                Daerah pengoperasian pakaja adalah di perairan yang tidak terlalu dalam. Daerah distribusi pakaja yaitu Makassar

                                Semoga Bermanfaat