sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Cara Pengoperasian Bubu Gurita

Bubu gurita adalah alat penangkap gurita yang terbuat dari karet ban . Bubu gurita diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps)  . Berikut cara pengoperasian bubu gurita.

Cara Pengoperasian Bubu Gurita
Cara pengoperasian dari bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan pengoperasian bubu lainnya. Hanya saja dalam pengoperasian bubu gurita tidak memakai umpan. Cara pengoperasiannya adalah dengan memasang bubu gurita di perairan yang diperkirakan banyak terdapat target tangkapan. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikannya sesuai dengan pengalaman, tapi umumnya antara 2-3 hari.  


Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan Bubu Gurita

  • Kapal : Perahu motor digunakan sebagai alat transportasi nelayan  .
  • Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu gurita dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas memasang bubu gurita dan mengambil hasil tangkapan dari bubu gurita (Alam Ikan 7).
  • Alat Bantu : Alat bantu pada pengoperasian bubu gurita yaitu gardan yang bisa dibuat dari bambu, kayu atau besi yang berfungsi untuk membantu dalam proses setting dan hauling bubu gurita .

Daerah Pengoperasian Bubu Gurita dan Hasil Tangkapan Bubu Gurita
Daerah pengoperasian bubu gurita yaitu dasar perairan yang berlumpur atau berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 m  .

Hasil tangkapan bubu gurita adalah gurita jenis Ocellated actopus, yaitu: Octopus oceltus, Octopus vulgaris dan Octopus dofleins  .
Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu Lipat (Trap and Guideing Barriers)

Cara Pengoperasian Bubu Lipat

Bubu lipat adalah alat tangkap yang dikhususkan untuk menangkap kepiting bakau (Scylla serrata), terbuat dari jaring berbentuk persegi atau kotak dengan besi sebagai rangka dan memiliki dua buah pintu sebagai tempat masuk kepiting, dapat dilipat apabila tidak sedang dioperasikan . Bubu lipat diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang  . Bubu lipat sangat bermanfaat dalam mendapatkan hasil tangkapan yang banyak, sehingga perlu dikerahui cara pengoperasiannya. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai cara pengoperasian bubu lipat.

Bubu lipat

Berikut cara pengoperasian Bubu Lipat
Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu lipat ada empat tahap, yaitu sebagai berikut  .


  • Pemasangan umpan. Posisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya. Umpan dipasang di bagian tengah bubu lipat;
  • Pemasangan bubu (setting). Bubu yang telah siap diturunkan ke perairan. Sebagai penanda posisi pemasangan bubu udang dilengkapi dengan pelampung. Hal ini akan memudahkan nelayan menemukan kembali bubunya;
  • Perendaman bubu (soaking). Lama perendaman bubu lipat adalah 2-3 hari, kadang bahkan sampai beberapa hari; dan
  • Pengangkatan bubu (hauling). Proses hauling pada bubu dapat dilakukan dengan setelah perendaman selesai.


Hasil Tangkapan Bubu Lipat dan Daerah Pengoperasian Bubu Lipat
Hasil tangkapan alat tangkap bubu ini, antara lain kepiting bakau (Scylla serrata), udang galah (Macrobracium spp.), ikan kerapu (Epinephelus spp.), ikan sidat (Anguilla mauritiana), mumi bulan (Tachyleus spp.)  .

Daerah pengoperasian bubu lipat yaitu perairan bakau serta perairan karang. Distribusi bubu lipat yaitu di Perairan Sungai Radak, Kecamatan Kubu, Kabupaten Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat  dan jawa.

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu Udang (Shrimp Traps)

Cara Pengoperasian Bubu Udang

Bubu udang adalah alat penangkap ikan yang didesain untuk menangkap udang dan kepiting atau rajungan, berbentuk silinder dengan diameter lingkaran atas lebih kecil daripada diameter lingkaran bawah dan dioperasikan di dasar perairan. Bubu udang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang. Dari pengertiannya, Bubu Udang tentunya sangat bermanfaat. Berikut artikel mengenai cara pengoperasian Bubu Udang.

Bubu udang

Cara Pengoperasian Alat Bubu Udang (Shrimp Traps)
Beirkut cara  pengoperasian bubu udang dalam empat tahap, yaitu sebagai berikut :
  1. Pemasangan umpan. Posisi umpan harus didesain sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian ikan baik dari bau maupun bentuknya. Biasanya umpan dipasang di dalam tempat umpan dan diletakkan di atas mulut bubu udang bagian atas.
  2. Pemasangan bubu (setting). Bubu yang telah siap diturunkan ke perairan baik dengan tangan maupun alat bantu mechanical line hauler. Sebagai penanda posisi pemasangan bubu udang dilengkapi dengan pelampung. Hal ini akan memudahkan nelayan menemukan kembali bubunya.
  3. Perendaman bubu (soaking). Lama perendaman bubu udang adalah 2-3 hari.
  4. Pengangkatan bubu (hauling). Proses hauling pada bubu dapat dilakukan dengan alat bantu. Penggunaan alat bantu akan mempercepat dan mengefisienkan tenaga nelayan selama proses hauling. Setelah bubu sampai di atas kapal, ikan dikeluarkan dan dilakukan penanganan.


Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan Bubu Udang (Shrimp Traps)
  • Kapal : Kapal kecil atau perahu hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan
  • Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu udang dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat bubu, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam bubu udang.
  • Alat Bantu : Alat bantu pada pengoperasian bubu udang yaitu mechanical line hauler, berfungsi untuk membantu menurunkan bubu udang ke dasar perairan tempat bubu akan dioperasikan
  • Umpan : Bubu udang bersifat pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang akan dijadikan target tangkapan mau masuk ke dalam bubu udang. Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam, ada yang memakai umpan hidup atau ikan rucah 


Hasil Tangkapan Bubu Udang (Shrimp Traps) dan daerah pengoperasian 
Hasil tangkapan bubu udang adalah udang penaeid, kepiting (Scylla serrata) dan rajungan (Portunus spp.) 
Daerah pengoperasian bubu udang biasanya di perairan karang atau di antara karang-karang atau bebatuan

Semoga Bermanfaat

Jenis Salinitas Air

Salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air. Di perairan samudera, salinitas biasanya akan berkisar antara  34 - 35 derajat/oo . Di daerah pantai karena terjadi pengenceran oleh aliran sungai, salinitas biasanya lebih rendah. Sebaliknya di daerah yang penguapannya sangat kuat maka salinitasnya sangat tinggi. Salinitas pada air tawar 0 – 0,5 derajat/oo , air payau 0,5 – 7 derajat/oo ,  dan air laut 17 derajat/oo .
salinitas

Setiap daerah perairan di bumi  memiliki salinitas yang berbeda-beda. Faktor yang memengaruhi salinitas air laut diantaranya adalah:

  • Penguapan : Makin besar tingkat penguapan air laut maka kadar salinitasnya akan semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya di daerah yang rendah tingkat penguapannya maka salinitasnya akan semakin rendah.
  • Banyak sedikitnya sungai yang bermuara : Semakin banyak sungai yang bermuara  ke laut, maka salinitas semakin rendah. Sedangkan jika sedikit sungai yang bermuara maka kadar salinitasnya akan semakin tinggi.
  • Curah hujan : Semakin besar curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitasnya akan rendah.


Salinitas sungai sebesar 18 ‰  lebih rendah daripada ekosistem lainnya sebab kandungan garam yang terdapat di sungai rendah. Meskipun demikian, salinitas air sungai menyimpang dari yang seharusnya tawar (dibawah 5 ‰). Hal ini menunjukkan bahwa air di sungai memiliki kandungan garam yang cukup besar, yang disebabkan karena adanya percampura air tawar dan air laut di mana komposisi air tawar lebih banyak.

hampir semua organisme hidup pada daerah yang mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil. Daerah estuaria adalah suatu daerah dimana kadar salinitasnya berkurang karena adanya sejumlah air tawar yang masuk dan berasal dari sungai-sungai disebabkan oleh terjadinya pasang surut.

Klasifikasi Salinitas :

salinitas perairan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Hyperhaline, salinitas  40 derajat/oo
2. Euryhaline, salinitas 30 – 40 derajat/oo
3. Mixohaline, 30 – 0,5 derajat/oo
4. Mixo-euryhaline, salinitas > 30, tetapi lebih < dari laut yang  berbatasan dengan darat.
5. Polyhaline, salinitas 20 – 18 derajat/oo
6. Mesohaline, salinitas 18 – 5 derajat/oo
7. Oligohaline, salinitas 5 – 0,5 derajat/oo
8. Limneak, salinitas 0,5 derajat/oo

berdasarkan toleransinya terhadap salinitas organisme perairan pada umumnya digolongkan ke dalam:
a.    Stenohaline
Stenohaline yaitu organisme perairan yang kisaran toleransinya terhadap salinitas sempit.

  • Stenohaline laut, hidup pada salinitas > 30 derajatoo  
  • Stenohaline tawar, hidup pada salinitas < 0,5 derajat/oo

b.    Yunihaline

  • Yunihaline laut, organisme  yang masih dapat hidup pada salinitas < 3 derajat/oo 
  • Yunihaline tawar, organisme  yang masih dapat hidup pada salinitas < 6 derajat/oo 

c.    Estuaria asli
Yaitu organisme perairan yang mempunyai perairan  salinitas 2 - 2,5 derajat/oo

d.    Migran
Yaitu organisme perairan yang karena alasan biologisnya melakukan migrasi dari laut ke perairan tawar/sebaliknya.

  1. Anadromous, yaitu organisme laut yang bermigrasi pada air tawar
  2. Katadromous, yaitu organisme tawar yang bermigrasi ke air laut.

  
Semoga Bermanfaat

Fungsi Angka Dan Nilai Pada Derajat PH

Pengertian Derajat Keasaman (pH)
pH adalah derajat keasaman. Dalam air murni pada suhu 25ยบ C, harga  pH = 7. Jika keasamannya bertambah harga [H ] membesar dan harga pH pun turun dibawah 7. Sebaliknya jika basa, pH naik diatas 7. Harga pH dapat diketahui dengan menggunakan ph paper atau dengan kertas lakmus. Istilah dan konsep pH (Puissance de Hydrogen) dikemukakan oleh Sorensen


Dengan elektormetrik didasarkan pada pengukuran tegangan listrik antara 2 elektrode (elektrode acuan dan ukur) yang berada dalam larutan yang mengandung ion-ion hidrogen. Sedangkan dengan indikator warna, pH didapat dengan indikator yang dilarutkan atau disebarkan pada kertas indikatornya. Perubahan warna indikator tergantung konsentrasi ion hidrogen dalam larutan yang diukur. Nilai pH ditentukan dengan membandingakan warna tersebut dengan warna larutan-larutan standar atau skala warna. Cara ini tidak cocok untuk larutan warna yang sangat keruh.

Derajat keasamannya mendekati basa dengan nilai 8 terlarut di sungai. Hal ini membuktikan bahwa air sungai cukup bagus untuk kelangsungan hidup organisme.
Nilai pH air yang normal adalah sekitar netral, yaitu antara pH 6-8. Sedangkan pH air yang terpolusi berbeda-beda, tergantung dari jenis buangannya. Contohnya air buangan pabrik pengalengan memiliki pH 6,2 - 7,6 air buangan pabrik susu memiliki pH 5,5 - 7,4. Perubahan keasaman pada air buangan, baik kearah alkali (pH naik) maupun ke asam (pH turun). Air buangan dengan pH rendah bersifat sangat korosif, terhadap baja dan sering menyebabkan pengkaratan pada pipa-pipa besi .

Contoh pH air yang sering ada atau kita pakai dan temukan setiap hari, pH air minum mineral yang sesuai standar DEPKES (6,5 - 8,5), pH air minum demineral / murni / reverse Osmosis (6,0 - 7,5) sedangkan pH air yang ideal adalah (7 atau netral), pH air hujan tergantung lokasi (3 - 6) sedangkan air laut (>7,5)

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bubu belut

Cara Pengoperasian Bubu belut

Bubu belut atau bubu paralon adalah alat penangkap belut yang berbentuk silinder dan terbuat dari paralon . Bubu belut diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps). Berikut artikel mengenai cara pengoperasia bubu belut.



Metode Pengoperasian Alat Bubu belut
Pemasangan bubu di perairan bisa dipasang satu demi satu kemudian diuntai atau dipasang dua atau tiga bubu dalam satu ikatan, kemudian dipasang dengan cara diuntai dengan jarak satu dengan yang lainnya antara 5-6 cm. Metode pengoperasiannya adalah dengan memasang bubu baik secara tunggal maupun dipasang secara beruntai di perairan yang diperkirakan banyak terdapat target tangkapan. Pemasangan bubu di perairan bisa dilakukan sebelum matahari terbenam dan diangkat keesokan harinya. Jumlah bubu yang akan dipasang sebaiknya disesuaikan dengan besar kecilnya perahu dan kemampuan orang yang akan mengoperasikannya.

Kelengkapan Penangkapan Ikan Bubu belut
1. Kapal : Perahu tanpa motor atau perahu motor tempel hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan .
2. Nelayan : Untuk mengoperasikan bubu belut dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat bubu, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam bubu belut.
3. Umpan : Umpan yang dipakai selain berupa umpan hidup yaitu cacing, juga dapat berupa irisan daging ikan atau rucah.

Daerah Pengoperasian Bubu belut dqan Hasil Tangkapan Bubu belut

Daerah pengoperasian bubu belut yaitu perairan yang dasarnya berlumpur, bercampur pasir atau di muara sungai dan danau.

Hasil tangkapan bubu belut adalah belut (Monopterus albus) dan ikan-ikan yang ada di sungai yaitu ikan gabus (Channa striata), ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila (Oreochromis niloticus).

Berikut macam - macam Alat penangkap ikan

1. Alat Penangkap Bubu Udang (Shrimp Traps)
2. Alat Penangkap Bubu Belut
3. Alat Penangkap Bubu Gurita
4. Perangkap dan Penghadang Bubu lipat (Trap and Guideing Barriers)
5. Perangkap dan Penghadang Pakaja (Trap and Guiding Barriers)
6. Alat Tangkap Krendet Menggunakan Jaring Insang

Semoga Bermanfaat

Fungsi Alat Navigasi dan Komunikasi Kapal

Fungsi Alat Navigasi dan Komunikasi Kapal
Berikut beberapa jenis alat navigasi kapal beserta fungsinya.
A. Navigasi kapal Marine RADAR
RADAR merupakan singkatan dari radio detection and ranging (ini bahasa menurut bahasa daerah saya). Radar merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mengukur jarak, mendeteksi, dan membuat map benda-benda seperti pesawat dan hujan.

Radar
Alat navigasi kapal ARPA dirancang khusus memberikan presentasi dari situasi navigasi kapal pada saat itu dan dapat memprediksi navigasi atau arah kapal beberapa saat kemudian dengan menggunakan teknologi komputer. Berikut ini adalah fungsi alat navigasi ARPA :

  1. Kemampuan berasal dari input seperti giro dan log kecepatan kapal
  2. Kemampuan untuk menampilkan informasi tabrakan penilaian langsung pada PPI, dengan menggunakan vektor (benar atau relatif) atau Prediksi grafis Luas Bahaya (PAD) layar. 
  3. Kemampuan untuk melakukan manuver kapal, termasuk perubahan. Tentu saja, perubahan kecepatan, dan  gabungan / perubahan kecepatan. Otomatis stabilisasi tanah untuk keperluan navigasi. 
  4. Kemampuan ARPA proses informasi radar jauh lebih cepat dari radar konvensional tetapi masih berada pada keterbatasan yang sama.
  5. Kemampuan data ARPA seakurat data yang memungkinkan menentukan arah navigasi kapal dengan persentasi RADAR KAPAL
  6. Kemampuan Otomatis akuisisi target akuisisi ditambah manual. Digital membaca target diakuisisi yang menyediakan course kapal speed atau kecepatan kapal, bearing, range, closest point of approach (CPA, and time to CPA (TCPA).


B. Satelit Kapal

Satelit alat navigasi kapal merupakan satelit yang menggunakan sinyal radio yang disalurkan ke penerima di permukaan tanah untuk menentukan lokasi sebuah titik kapal di permukaan bumi atau di lautan.

C. Alat navigasi kapal PETA 
Alat navigasi kapal yang ketiga adalah peta, yang merupakan perlengkapan utama dalam pelayaran kapal bentuk dua dimensi (pada bidang datar) keseluruhan atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan perbandingan/skala tertentu atau dengan kata lain representasi dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Kartografi adalah ilmu yang mempelajari pembuatan peta.

D. Navigasi Kapal IRS
Alat navigasi kapal modern yang kelima adala IRS(Inertial Reference Sytem). IRS kapal merupakan perangkat yang dapat mengetahui posisi koordinat kapal berdasarkan efek inertial. Tidak seperti GPS kapal, perangkat IRS kapal tidak memerlukan stasiun sehingga sangat cocok untuk digunakan di bumi maupun di ruang angkasa.

E. Navigasi Kapal TELEGRAF 
Alat komunikasi kapal telegraf merupakan sebuah mesin untuk mengirim dan menerima pesan pada jarak jauh . Telegraf menggunakan Kode Morse dengan frekwensi gelombang radio. Kode morse adalah metode dalam pengiriman informasi, dengan menggunakan standard data pengiriman nada atau suara,cahaya dengan membedakan ketukan dash dan dot dari pesan kata, huruf, kalimat, angka dan tanda baca. Kode morse dapat dikirimkan melalui cahaya, peluit, bendera, dan ketukan morse.

F. Navigasi Kapal KOMPAS
Alat navigasi kapal yang ke empat adalah kompas. Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah kapal berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.


G. Navigasi Kapal Marine VHF radio
Marine VHF radio merupakan alat komunikasi kapal yang dipasang untuk memenuhi tujuan komunikasi kapal yaitu memanggil tim penyelamat dan berkomunikasi dengan pelabuhan, kunci, bridges and marines.  Marine vhf radio beroperasi di rentang frekuensi VHF, antara 156-174 MHz. Walaupun secara luas alat komunikasi kapal marine vhf radio digunakan untuk menghindari tabrakan, satu set marine vhf radio adalah gabungan pemancar dan penerima dan hanya beroperasi pada standar frekuensi internasional yang dikenal sebagai salurannya.





Semoga Bermanfaat