sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Konstruksi Alat Tangkap Bottom Gillnet


Gillnet adalah jenis jaring yang berbentuk empat persegi panjang dimana di dalam air kedudukannya menghadang pergerakan ikan dan akan menjerat insang ikan atau membelit badannya (Alam Ikan 1). Sedangkan menurut (Alam Ikan 2), jaring insang (gillnet) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring atau terpuntal pada bagian tubuh jaring.


Klasifikasi Gillnet
Klasifikasi jaring insang menurut Internasional Standart Clasification of Fishing Gear menggunakan singkatan dan berkode ISCFG 07.1.0. (FAO,1971).
(Alam Ikan 3), menjelaskan bahwa klasifikasi jaring insang berdasarkan metode pengoperasian yaitu dengan cara dibiarkan hanyut di perairan. Jaring insang yang dihanyutkan di bagian permukaan disebut dengan jaring insang hanyut permukaan (surface drift gillnet), yang dihanyutkan di kolam perairan disebut jaring insang hanyut kolam perairan (mid water / Submerged drift gillnet) dan yang dihanyutkan di dasar perairan disebut dengan jaring insang hanyut dasar (bottom drift gillnet).
Menurut (Alam Ikan 4), mengelompokkan gillnet ke dalam empat kelompok besar, sebagai berikut :
1. Berdasarkan letak alat dalam perairan, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet permukaan (surface gillnet), gill net pertengahan (midwater gillnet) dan gillnet dasar (bottom gillnet).
2. Berdasarkan kedudukan alat waktu dipasang, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet hanyut dan gillnet tetap.
2. Berdasarkan bentuk alat waktu operasi, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet melingkar (encircling gillnet) dan gillnet mendatar (drift gillnet).
3. Berdasarkan jumlah lembaran, gillnet dikelompokkan menjadi gillnet rangkap (trammelnet) dan gillnet tunggal.

Konstruksi Bottom Gillnet
Menurut (Alam Ikan 4), menyebutkan walau terdapat perbedaan pokok pada tiap-tiap jenis gillnet sesuai dengan klasifikasinya, namun  secara umum gillnet mempunyai persamaan bentuk yang umum yang terdapat pada tiap-tiap jenis, sehingga tiap-tiap jenis gillnet mempunyai persamaan bentuk pokok.
Menurut (Alam Ikan 4), alat tangkap jaring insang mempunyai bagian-bagian sebagai berikut :

1. Jaring Utama atau Badan Jaring
Jaring utama adalah merupakan sebuah lembaran jaring yang tergantung pada tali ris atas. Warna jaring yang umum dipakai untuk gillnet adalah warna bening atau biru laut, agar ikan sulit mendeteksi keberadaan jaring di dalam perairan. Warna jaring apabila pengoperasian pada waktu malam hari yaitu jenis jaring yang dipilih sebaiknya warna biru atau hijau, sedangkan untuk operasi siang hari dipilih warna putih.

2. Tali Ris Atas
Tali ris atas adalah tempat untuk menggantungkan jaring utama dan tali pelampung. Untuk menghindarkan agar gillnet tidak terbelit sewaktu dioperasikan (terutama pada bagian tali ris atasnya) biasanya tali ris atas  dibuat rangkap dua dengan arah pintalan yang berlawanan (S-Z).
 Fungsi dari tali ris atas terutama adalah untuk tempat melekatnya pelampung serta bersama dengan tali ris bawah memberi bentuk pada jaring tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa bahan dari tali ris atas sebaiknya dipilih bahan yang memiliki berat jenis kurang dari satu serta tahan terhadap gesekan, baik itu gesekan dengan bahan diluar jaring (misalnya gesekan tali dengan bagian tertentu dari perahu). Tali ris yang biasanya digunakan untuk jaring insang biasanya  terbuat dari polyethylene (Alam Ikan 5).

3. Tali Ris Bawah
Pada gillnet permukaan jarang menggunakan tali ris bawah sedangkan pada gillnet pertengahan dan gillnet dasar kadang-kadang digunakan tali ris bawah. Tali ris bawah ini berfungsi untuk tempat melekatnya pemberat.

4. Tali Pelampung
Untuk gillnet pertengahan dan gillnet dasar disamping tali ris atas yang berfungsi melekatkan pelampung jaring, masih ada lagi pelampung tambahan  yang berada di permukaan perairan yang berfungsi sebagai tanda tempat gillnet  dioperasikan. Pelampung ini biasanya dipasang pada tiap-tiap piece (pada sambungan antara piece dengan piece). Tali  pelampung ini, terentang panjangnya dari tempat pemasangan alat itu, kedudukan alat dipasang sampai permukaan laut.

5. Pelampung
Pelampung yang melekat pada tali ris atas, pada gillnet pertengahan  dan gillnet dasar berfungsi untuk mengangkat tali ris agar jaring dapat berdiri tegak terhadap permukaan air, diperlukan pelampung tambahan yang berfungsi sebagai tanda di permukaan perairan. Bahan pelampung umumnya dari gabus/plastik/busa karet.

6. Pemberat
Ada dua macam pemberat yang biasanya digunakan untuk gillnet, yaitu pemberat dari saran dan pemberat dari logam atau batu. Pemberat dari saran adalah berbentuk jaring dengan ukuran mata yang sama dengan ukuran mata jaring yang dipergunakan dan umumnya memang sudah dipasang langsung dari pabrik pembuatannya. Pemberat dari logam biasanya bahannya dari timah atau logam lain yang tidak mudah berkarat dan dibentuk serta murah harganya. Kadang-kadang  pemberat juga dapat mempergunakan bahan dari batu atau benda-benda lain yang  berat jenisnya  lebih besar daripada  berat jenis air laut. Fungsi dari pemberat adalah memperbesar kekuatan jaring dan memberikan gaya rentangan pada jaring bersama dengan pelampung.

7. Tali Selambar
Pada ujung gillnet (yang pertama diturunkan sewaktu operasi) dipasang  tali selambar yang disebut tali selambar depan dan gunanya untuk mengikatkan  ujung gillnet yang lain diikatkan dengan tali selambar yang disebut tali selambar belakang. Fungsi  tali selambar belakang  disamping untuk  mengikatkan  ujung gillnet  dengan pelampung tanda kadang-kadang juga untuk mengikatkan gillnet dengan kapal.

8. Mata Jaring
(Alam Ikan 6), mengatakan bahwa satu mata jaring dibentuk oleh empat simpul. Mata jaring akan terbuka secara maksimum, jika keempat simpul ini bekerja gaya-gaya yang sama besarnya, dua gaya pada arah horizontal yang berlawanan arah dan dua gaya pada arah vertikal yang berlawanan arah pula. Baik arah maupun besar dari gaya-gaya ini haruslah selalu berada dalam keadaan seimbang sehingga biarpun keadaan perairan berubah-ubah, mata jaring tetap terbuka maksimum. Pada kenyataannya tidaklah mudah untuk mendapatkan hal yang demikian.


Prinsip Pengoperasian Gillnet
Pada prinsipnya dalam pengoperasian jaring insang (gillnet) tidak menggunakan keahlian yang khusus. Adapun cara tertangkapnya ikan pada gillnet, karena ikan-ikan menumbukkan dirinya pada dinding rajutan jaring, atau oleh karena terbelit-belit tubuhnya oleh mata jaring (Alam Ikan 3).

Cara operasi alat tangkap bottom gillnet pada prinsipnya yaitu membentangkan jaring di dasar perairan secara horisontal di mana bottom gillnet berdiri tegak lurus terhadap dasar perairan (Alam Ikan 9 ).

(Alam Ikan 4) mengemukakan, bahwa sebelum penebaran jaring harus diperhatikan beberapa hal supaya gillnet yang dioperasikan bisa bekerja optimal, yaitu :

  • Posisi perahu ditempatkan sedemikian rupa sehingga arah angin datangnya dari tempat penurunan alat.
  • Kedudukan jaring sebaiknya disesuaikan dengan arah arus agar jaring tersebut tidak menggulung. Kedudukan terbaik dari jaring gillnet pada waktu dioperasikan yaitu memotong arus.
  • Selanjutnya dijelaskan pula bahwa penebaran jaring dimulai dengan penurunan pelampung (tanda ujung jaring) kemudian tali selambar depan lalu jaring gillnet, disusul tali selambar belakang diikuti oleh pelampung tanda. Sedangkan urutan penarikan bottom gillnet adalah kebalikan dari penebarannya, yaitu mulai dari penarikan pelampung pada ujung jaring lalu tali selambar belakang, kemudian jaring bottom gillnet diikuti penarikan tali selambar muka dan terakhir yaitu pengangkatan pelampung tanda.
Daerah Penangkapan Gillnet
Syarat-syarat daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gillnet menurut (Alam Ikan 4) adalah :
1. Bukan daerah pelayaran umum
2. Untuk gillnet dasar, dasar perairan  tidak berkarang
3. Arus arahnya beraturan  dan paling kuat  sekitar empat knot
4. Untuk gillnet permukaan dalam perairan sekitar 20 - 30 meter
5. Untuk gillnet pertengahan (midwater gillnet) dalam perairan dari 50 meter.

Menurut (Alam Ikan 8), menyatakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan daerah penangkapan ikan antara lain sebagai berikut :
1. Daerah perairan dengan dasar yang karang berpasir.
2. Perairan dengan kecepatan arus dan gelombang yang tidak cukup kuat.
3. Arus pasang surut yang tidak terlalu kuat.
4. Daerah perairan yang kaya akan bahan makanan berupa sejenis plankton.

Menurut (Alam Ikan 6), daerah penangkapan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Arus laut tidak terlalu kuat
2. Dasar peraiaran terdiri dari lumpur atau pasir, tidak terdapat benda yang dapat       menyangkut pada jaring  saat dilakukan operasi penagkapan
3. Dasar perairan datar, tidak terdapat perbedaan kedalaman perairan yang mencolok

Kegiatan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang pasif umumnya dilakukan pada malam hari, salah satu alasannya adalah supaya indera penglihatan dari ikan (hewan air lainya) sulit untuk mendeteksi keberadaan jaring  dalam perairan. Salah satu alasan tertangkap atau tidak tertangkapnya ikan pada jaring insang adalah karena adanya pengaruh internal dan eksternal, pengaruh internal adalah karena adanya pengaruh indera ikan, seperti indera penglihatan, penciuman, lateral line dan indera lainnya. Pengaruh eksternal dapat ditimbulkan  karena adanya  pengaruh dari konstruksi alat tangkap, kondisi perairan termasuk cuaca  dan pengaruh lainnya.

Warna jaring didalam air sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman dari perairan, transparansi, sinar matahari, sinar bulan, sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan-ikan yang berbeda-beda. Hal ini sehubungan dengan  keberadaan jaring yang terlentang di dalam air bagi ikan yang sedang berenang merupakan  penghalang / pengganggu. Pengaruh hari bulan (age of moon) juga dapat memberi pengaruh terhadap hasil tangkapan   (Alam Ikan 6).

Kapal yang Digunakan Gillnet
Menurut (Alam Ikan 7), jenis kapal yang digunakan untuk operasi gillnet dan trammel net sebaiknya di rancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut:

  • Keleluasan dalam olah gerak pada saat penebaran dan penarikan jaring, serta untuk menempatkan jaring diatas kapal, hal ini membutuhkan lebar yang cukup.
  • Stabilitas yang mantap dengan mengurangi frekuensi goncangan dan ayunan, akan memberikan kenyamanan bagi nelayan dalam melakukan operasi penangkapan, untuk keperluan ini dapat diperbesar.
Hasil Tangkapan Gillnet
Jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Direktorat Jendral Perikanan, 1991
Alam Ikan 2 : Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan 2006
Alam Ikan 3 : Mulyono 1986
Alam Ikan 4 : Sadhori 1985
Alam Ikan 5 : Yusuf, 1985
Alam Ikan 6 : Ayodhyoa 1981
Alam Ikan 7 : Direktorat Jenderal Perikanan 1991
Alam Ikan 8 : Balai Pengembangan Penangkapan Ikan 1985
Alam Ikan 9 : Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, 1993

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Kondisi dan Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan

Daerah Penangkapan Ikan

1. Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan
Kondisi-kondisi yang perlu dijadikan acuan dalam menentukan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut :
a)Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang bersama-sama dalam kelompoknya, dan tempat yang baik untuk dijadikan habitat ikan tersebut. Kepadatan dari distribusi ikan tersebut berubah menurut musim, khususnya pada ikan pelagis. 

Daerah yang sesuai untuk habitat ikan, oleh karena itu, secara alamiah diketahui sebagai daerah penangkapan ikan. Kondisi yang diperlukan sebagai daerah penangkapan ikan harus dimungkinkan dengan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan dan habitat ikan, dan juga melimpahnya makanan untuk ikan. 

Tetapi ikan dapat dengan bebas memilih tempat tinggal dengan kehendak mereka sendiri menurut keadaan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Oleh karena itu, jika mereka tinggal untuk waktu yang agak lebih panjang pada suatu tempat tertentu, tempat tersebut akan menjadi daerah penangkapan ikan.


b)Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan.

Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan. 

Terkadang tempat tersebut memiliki arus yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar. Pada tempat tersebut para nelayan sedemikian perlu memperhatikan untuk menghiraukan mengoperasikan alat tangkap. Terkadang mereka menggunakan trap nets, gill nets dan peralatan memancing ikan sebagai ganti peralatan jaring seperti jaring trawl dan purse seine.

Sebaliknya, daerah penangkapan lepas pantai tidak mempunyai kondisi seperti itu, tapi keadaan menyedihkan datang dari cuaca yang buruk dan ombak yang tinggi. Para nelayan juga harus mengatasi kondisi buruk ini dengan efektif menggunakan peralatan menangkap ikan.

c) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis.
Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. 

Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan. Para manajer perikanan harus membuat keuntungan pada setiap operasi. 

Jika daerah penangkapan tersebut terlalu jauh dari pelabuhan, itu akan memerlukan bahan bakar yang banyak. Jika usaha perikanan tersebut benar-benar memiliki harapan yang besar, usaha yang dijalankan mungkin boleh pergi ke tempat yang lebih jauh. 

Nelayan yang dalam kasus demikian dapat memperoleh keuntungan dengan manajemen usaha perikanan. Jika kita dapat membuat alat untuk meningkatkan efisiensi usaha perikanan seperti menggunakan mesin perikanan yang lebih efisien, kemudian kita dapat juga memperbesar kapasitas kita untuk menangkap ikan ke tempat yang lebih jauh.

Daerah penangkapan ikan juga dikontrol oleh permintaan pasar untuk ikan. Permintaan untuk produk ikan akan dipengaruhi oleh kapasitas ketersediaan dari tempat tersebut, sebagai contoh, adalah baru saja dikembangkan sebagai daerah penangkapan ikan. Jadi, daerah penangkapan ikan selalu memiliki nilai yang relatif, berhubungan dengan keseimbangan ekonomi, daerah penangkapan ikan lainnya, efisiensi usaha perikanan dan permintaan ikan di dalam pasar. Begitulah, harus selalu berusaha menemukan daerah penangkapan ikan yang ekonomis dan efektif dari metode penangkapan ikan yang dimodernisasi.


2. Pemilihan Daerah Penangkapan Ikan
Hal pertama yang harus kita ketahui tentang keberadaan daerah penangkapan ikan menurut spesis ikan dan dari musim. Pemilihan daerah penangkapan ikan akan dibahas dengan sesuai pemahaman dari efisiensi, keuntungan dan ekonomi usaha perikanan. Metode pemilihan akan dibahas sebagai berikut :
  • Asumsi awal tentang area lingkungan yang cukup sesuai dengan tingkah laku ikan yang diarahkan dengan menggunakan data riset oseanografi dan meteorologi.
  • Asumsi awal tentang musim dan daerah penangkapan ikan, dari pengalaman menangkap ikan yang lampau yang dikumpulkan ke dalam arsip kegiatan penangkapan ikan masa lampau.
  • Pemilihan daerah penangkapan ikan yang bernilai ekonomis dengan mempertimbangkan dengan seksama jarak dari pangkalan, kepadatan gerombolan ikan, kondisi meteorologi, dan lain sebagainya.

3. Karakter Permukaan Dasar
Secara umum keadaan permukaan dasar mempunyai karakter yang ditunjukkan pada tabel kelautan. Sedimen lautan sendiri terdiri dari sedimen terrigeneous, hemi-pelagis dan sedimen pelagis.

Tingkah Laku Ikan Hubungannya dengan Daerah Penangkapan Ikan dan Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
1. Tingkah Laku Ikan dan Kondisi dari Daerah penangkapan Ikan
Tidak dapat dikatakan bahwa ikan hidup dimana saja di seluruh lautan. Menurut spesiesnya, ikan didistribusikan secara horizontal atau vertikal di pada daerah batasan tertentu. Daerah penangkapan ikan juga berbeda menurut garis lintang dan garis bujur seperti kedalaman air di mana ikan berada.
Alasan utama kenapa spesies ikan tertentu berkumpul di daerah tertentu diperkirakan jadi seperti berikut :
  • Ikan memilih kehidupan lingkungan yang sesuai untuk spesiesnya.
  • Mereka memburu sumber makanan yang berlimpah.
  • Mereka mencari tempat yang sesuai untuk memijah dan berkembang biak.

Dituntun oleh instingnya dan terbawa oleh arus musiman, ikan bergerak sesuai temperatur perairan, mencari makanan dan tempat memijah di perairan tersebut. Pergerakan ini disebut migrasi, dan pengalaman migrasi mereka selalu lebih baik sepanjang tahun. 


Migrasi yang untuk mencari makanan disebut food-seeking ground (pencarian daerah makanan). Kemudian migrasi untuk memijah disebut spawning migration dan area perairan dimana mereka memijah disebut spawning ground (daerah bertelur/memijah). Selama mereka bermigrasi dan dalam pencarian makanan dan daerah memijah, ikan tersebut bergerombol bersama dalam kelompok yang padat. 

Tempat tersebut yang penuh sesak dengan ikan secara alamiah menjadi daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan. Peristiwa dari gerombolan ikan haring di awal musim semi adalah satu contoh yang bagus dari migrasi ikan untuk mencari tempat memijah.

Di samping jenis ikan tersebut diatas di mana terjadi migrasi yang besar, ada spesies ikan lainnya di mana telah tertentu pada suatu daerah terbatas di lautan. 

Radius pergerakan mereka terbatas. Jenis utama dari pergerakan mereka adalah secara vertikal, yang dimana, mereka berpindah antara dasar dan permukaan air pada siang hari atau malam hari. 

Ada juga beberapa spesies yang berpindah antara perairan pantai yang dangkal dan perairan lepas pantai yang dalam sepanjang musim. Jenis pergerakan ini disebut secara horizontal atau perpindahan kedalaman. Ikan yan tinggal menetap terus-menerus juga menjadikan daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan.

Variasi kondisi dari laut memberi dampak perubahan pada daerah penangkapan ikan. Lautan dipengaruhi oleh arus hangat dan arus dingin. Ikan memilih masing-masing perairan tempat tinggal mereka menurut kisaran temperatur optimum mereka. 

Pada continental shelf yang mana adalah daerah subur yang terdapat aliran nutrisi garam dari daratan pantai adalah suatu daerah penangkapan ikan yang baik untuk ikan yang menetap terus-menerus. Jumlah plankton yang besar berkembang pada pusaran yang terbentuk oleh arus atau bentuk konvergen dari arus dingin dan arus hangat. 

Organisme ini menarik bagi makhluk hidup secara umum, khususnya ikan yang berkumpul bersama pada titik daerah pencarian makanan mereka. Tempat seperti itu juga disebut daerah penangkapan ikan yang bagus. Area selanjutnya di mana dasar lautan naik menjorok dan membentuk apa yang disebut sea bank (gugus laut) juga sesuai untuk daerah penangkapan ikan.

Kebanyakan gugus laut berada lebih dangkal dibandingkan 400 meter pada kedalaman. Asal usul gugus laut dibagi menjadi dua: vulkanik dan tektonik. Berbicara secara umum, bentuk dari kehidupan pada gugus laut adalah lebih berlimpah dan bervariasi daripada di continental shelf. Banyaknya perpindahan dan ikan demersal yang ditemukan di gugus laut membuatnya jadi suatu daerah penangkapan ikan yang bagus. Pengetahuan tentang oseanografi seperti itu akan bermanfaat ke arah peningkatan produksi perikanan.


2. Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi :
  • Spesies dari ikan: tuna dan skipjack fishing ground, salmon fishing ground, dan sebagainya.
  • Jenis alat tangkap ikan: trawl fishing ground, long line fishing ground, fixed-net fishing ground, pole and line fishing ground, surrounding-net (jaring lingkar) fishing ground, dan sebagainya.
  • Kawasan perairan: daerah penangkapan dalam laut atau permukaan, daerah penangkapan yang dekat dengan pantai, daerah penangkapan pantai dan daerah penangkapan pada perairan darat.
  • Kawasan laut: daerah penangkapan di Pasifik Utara, daerah penangkapan di Laut China Selatan, daerah penangkapan di China Bagian Tenggara, dan lain sebagainya.

Tetapi daerah daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut: daerah penangkapan ikan di perairan pantai dan di laut lepas, atau daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat) dan ikan perairan dasar secara berturut-turut.

1. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai
Pada keadaan normal, pesisir pantai memiliki banyak daerah penangkapan ikan yang bagus. Produksi perikanan dari daerah ini dengan baik meningkat dari tahun ke tahun. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai termasuk meliputi usaha rumput laut, ikan dan kerang-kerangan dan untuk jenis yang khusus bergerak seperti ikan haring, ikan salmon, ikan ekor kuning, ikan tuna dan ikan laut air tawar yang mendekati daerah pantai untuk mencari makanan atau untuk memijah. 

Daerah penangkapan ikan di perairan pantai ini mungkin dibagi lagi ke dalam trap-net (jaring perangkap) fishing ground, small trawling (pukat tarik yang kecil) fishing ground, driving in net fishing ground, beach seine (pukat pantai) fishing ground, hand purse seine (purse seine tangan) fishing ground, surrounding net (jaring lingkar) fishing ground, pole and line fishing ground, dan lain sebagainya.

Untuk tujuan konservasi sumberdaya perikanan di pesisir perairan pantai dan menjaga mutu dari daerah penangkapan ikan, ukuran harus diambil di sepanjang garis pembangunan pada pembatas di laut, penangkaran buatan dan melepaskan anak ikan lalu menjaganya. Ini juga sangat penting untuk pemeliharaan dan pembangunan dari nilai mutu dari daerah penangkapan ikan, untuk menghasilkan pemahaman dan kerja sama dari nelayan untuk konservasi sumberdaya perikanan sama halnya sesuai pengambilan keputusan dan manajemen dari administrasi perikanan.


2. Daerah penangkapan ikan pelagis
Salah satu contoh ikan pelagis di Lautan Pasifik adalah ikan skipjack. Daerah penangkapan untuk ikan skipjack utamanya berlokasi pada lapisan subtropis yang konvergen yang dibentuk oleh pertemuan aliran arus hangat dan arus dingin. Spesies ikan lainnya yang bermigrasi, di kedua jenis arus hangat dan dingin, seperti ikan tuna dan ikan salmon, secara musiman naik menuju utara atau turun ke selatan untuk mencari makanan di dalam pusaran air atau arus rip yang dibentuk oleh pertemuan dua aliran arus.

Lebih lanjut, bentuk topografi yang rumit pada pantai dan perairan sampai kedalaman 200 meter di mana arus dasar laut naik keatas dan bercampur dengan massa air hangat pada bagian atas, menghasilkan plankton dalam jumlah yang sangat besar yang dimana mengundang ikan untuk bermigrasi dan menetap di sana. Area migrasi ikan skipjack, tuna dan salmon di Pasifik adalah sangat luas dan hampir tak terhingga dari bagian atas garis katulistiwa hingga ke perairan daerah utara.

Tapi hal itu harus diperhatikan bahwa daerah penangkapan ikan yang sesuai untuk spesies ikan pelagis adalah hampir terbatas pada daerah arus rip di perairan tersebut.

3. Daerah penangkapan ikan demersal
Pada continental shelf (paparan benua) di mana umumnya terdapat pada kedalaman 200 m adalah sangat sesuai untuk ikan demersal atau yang hidup di dekat dasar laut. Kolom perairan yang kedalamnya lebih dari 400 m adalah sangat tidak sesuai untuk ikan, kecuali beberapa spesies yang khusus. Makhluk hidup pada dasar laut termasuk yang selalu tinggal di satu tempat, meliputi pergerakan secara horizontal atau pada kedalaman dan pergerakan menuju daerah dangkal, atau secara musiman membuat suatu migrasi yang panjang. 

Pada continental shelf dimana terdapat pasir atau berbagai bahan organik lain yang mengalir dari perairan pantai lalu mengendap, sebagian besar menjadi pupuk dan sesuai untuk pertumbuhan plankton. Oleh karena manfaat dari daerah paparan (shelf), pada daerah pesisir pantai atau pintu masuk perairan adalah daerah penangkapan yang ideal untuk kerang-kerangan dan rumput laut, khususnya ikan-ikan kecil. Ketika melakukan penangkapan ikan, jaring yang tarik di dasar perairan (bottom drag nets) adalah yang paling sering digunakan. Beberapa spesies ikan pelagis mungkin tertangkap di perairan tersebut.

Tapi kolom perairan yang lebih dari kedalaman 800 meter, meskipun ada ditemukan beberapa spesies ikan, sangat tidak sesuai untuk digunakan sebagai daerah penangkapan ikan bukan hanya karena kesulitan dalam operasi penangkapan ikan tetapi juga jarangnya terdapatsumberdaya perikanan.


4. Exploitasi Daerah Penangkapan ikan dan Pemeliharaannya
Dengan mulai ditingkatkannya konstruksi kapal perikanan menjadi berukuran besar, modernisasi pada peralatannya dan pengenalan pada peningkatan peralatan observasi untuk keperluan penangkapan ikan, luas dari daerah penangkapan ikan semakin diperbesar.

Adalah menjadi hal vital yang sangat penting demi pengembangan daerah penangkapan ikan dengan persiapan melalui kapal perikanan yang sempurna dan dengan kru kapal yang terlatih dengan baik, bersama dengan seluruh ilmu pengetahuan praktis dan pengetahuan oseanografi dan ilmu tentang sumberdaya perikanan yang ditambah dengan studi berbagai faktor penilaian dan pengamatan oseanografi. 

Arus rip, temperatur air, salinitas dan kecerahan pada daerah penangkapan ikan di lepas pantai seperti halnya temperatur air pada lapisan pertengahan dan lapisan bawah adalah faktor yang sangat penting untuk tujuan operasi penangkapan ikan. Sebagai contoh, pengenalan detektor akustik untuk penangkapan ikan telah membawa revolusi operasi penangkapan ikan. 

Pengembangan dari echo sounder juga telah memperjelas keadaan dasar laut yang mana dahulu tidak diketahui nelayan. Sebagai hasil, ruang lingkup penangkapan ikan, yang mana dahulu dioperasikan dengan hanya melihat gerombolan ikan pada bagian atas permukaan air, sekarang telah dikembangkan untuk menjadi lebih vertikal dan pada waktu yang bersamaan tipe yang lebih efektif dari usaha perikanan.

Sumberdaya perikanan di daerah perairan yang sangat luas nampak seperti tidak akan ada habis-habisnya pada pengamatan pertama. Tapi jika hal tersebut diabaikan ke exploitasi yang bersifat agresif dengan mekanisasi terbaru operasi penangkapan yang tanpa menghiraukan ketentuan konservasi dalam mengambil sumberdaya, maka seluruh daerah penangkapan ikan akan mengalami kerusakan. 


Lagipula, dan tidak adanya larangan menangkap ikan yang memijah dan anak ikan atau ikan muda akan menghancurkan stok persediaan diri mereka sendiri. 

Oleh karena itu, ketentuan pencegahan yang melawan penangkapan ikan secara berlebihan pada tingkat nasional dan tingkat internasional tentu saja merupakan hal yang penting demi pemeliharaan dan penjagaan daerah penangkapan ikan secara luas. 

Inilah alasannya mengapa berbagai konvensi internasional dan hukum nasional telah ditetapkan di seluruh dunia.

Explanation :
Alam Ikan 1 : Fyson, 1985
Alam Ikan 2 : BPPI, 1988
Alam Ikan 3 : Pasaribu, 1985

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat

Alat Tangkap Ikan Bubu dasar lawan Bubu Lipat

Pengertian bubu dasar
Bubu dasar merupakan alat yang terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti selinder, setengah lingkaran,empat persegi panjang, segitiga memanjang, dan sebagainya, dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa umpan. Sebagai contoh yang dapat di kemukakan adalah jenis bubu yang banyak di operasikan di perairan kepulauan Spermonde sulawesi selatan untuk menangkap berbagai jenis ikan karang, khususnya ikan kerapu.(Alam Ikan 1)

Umumnya bubu yang digunakan terdiri dari tiga bagian yaitu:
1) Badan atau tubuh bubu
Badan atau tubuh bubu biasanya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 40 cm bagian ini di lengkapi dengan pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu kedasar perairan yang terletak pada keempat sudut bubu.

2)Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada sisi bagian bawah bubu, lubang ini berdiameter 35 cm, posisisnya tepat di belakang mulut bubu. Lubang ini di lengkapi dengan penutup.

3)Mulut bubu
Mulut bubu berfungsi sebagai tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badan bubu, posisi mulut bubu menjorok kedalam badan atau tubuh bubu berbentuk selinder, semakin kedalam diameter lubangnya semakin mengecil dan bagian mulut dalam melengkung kebawah sepanjang 15 cm. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk akan kesulitan untuk keluar.


Pengertian bubu lipat
Bubu lipat merupakan bubu dasar yang sudah di modifikasi bentuknya hingga bubu ini dilihat tampak lebih modern. Biasanya berbentuk kotak dan di bagian tengahnya terdapat pintu bukaan yang berfungsi untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Bubu lipat pada bagian - bagian ujungnya memiliki beberapa tuas agar dapat di lipat dan lebih praktis dalam pembawaanya (Alam Ikan 3).

Klasifikasi bubu dasar
Bubu dasar menurut (Alam Ikan 2), termasuk ke dalam alat tangkap yang berupa perangkap (Traps). Telah banyak jenis perangkap yang ditujukan baik bagi ikan maupun crustacea. Adapun caranya adalah dengan memikat ikan agar masuk ke dalamnya, setelah masuk mereka sukar keluar ataupun tidak dapat keluar lagi. Pemasangan perangkap didasari pengetahuan tentang lintasan-lintasan yang merupakan jalan ikan ataupun hal yang erat hubungannya dengan  ruaya-ruaya ikan ke arah pantai yang mereka lakukan pada waktu-waktu tertentu.

Klasifikasi bubu lipat
Bubu lipat menurut (Alam Ikan 2), sama seperti bubu dasar yaitu termasuk traps atau alat tanggap dengan menggunakan perangkap. Penggunaanya dapat di sesuaikan dengan daerah hasil penangkapan. Apakah itu terapung, hanyut, maupun tenggelam. Tujuanya untuk menjebak ikan agar masuk ke dalam bubu dan tidak dapat keluar kembali. Bubu bentuknya lipat bentuknya telah di modifikasi sebagai alat tangkap berupa jebakan.


Metode dan cara pengoprasian bubu dasar 
Menurut (Alam Ikan 3), alat tangkap bubu lebih cocok dioperasikan di perairan dangkal, berkarang clan berpasir dengan keadalaman 2-7 m karena umumnya terbuat dari bambu. Bubu diletakkan pada celah karang untuk menghadang ikan yang keluar dari celah karang clan posisi mulutnya harus menghadap ke hilir mudik ikan yang berada di perairan karang. Metode pengoperasian untuk semua jenis bubu biasannya sama, yaitu dipasang di daerah penangkapan yang sudah diperkirakan adanya stok ikan seperti ikan dasar, udang, kepiting, keong, cumi-cumi dan biota lainnya yang bisa ditangkap oleh bubu. Pemasangan bubu ada yang dipasang secara tunggal dan juga ada yang berantai (seperti pemasangan rawai). 

Menurut (Alam Ikan 4), cara pengoperasiaan bubu dapat dimulai antara lain pemberian umpan, selanjutnya perahu berangkat menuju daerah operasi (fishing ground) sambil mengamati kondisi perairan. Bubu dipasang di perairan karang dan merupakan habitat ikan karang. Kemudian pengangkatan bubu harus dilakukan dengan perlahan-lahan untuk memberikan kesempatan ikan dalam beradaptasi terhadap perbedaan tekanan air dalam perairan.


Explanation :
Alam Ikan 1 : Martasuganda, 2002
Alam Ikan 2 : A Von Brandt,1984
Alam Ikan 3 : BPPI, 1996
Alam Ikan 4 : Direktorat Jendral Perikanan, 1997

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat