sponsor

sponsor

Slider

Recent Tube

Aquascape

Produk

Pakan Ikan

Analisis

Budidaya

Ikan Hias

Penyuntikan Hormon Hypofisa Cara Pembenihan Lele Buatan

Kebutuhan benih ikan lele semakin hari semakin banyak permintaan untuk menanggulangi banyaknya jumlah permintaan kita perlu mencari solusi.

Salah satu solusi untuk mengatasi besarnya jumlah permintaan yaitu melakukan proses penyuntikan hormon HIPOFISA. Penyuntikan hormon HIPOFISA bertujuan untuk merangsang ikan agat telur cepat matang dan merata telur yang siap untuk menetas.

Ikan lele salah satu jenis ikan yang bisa dilakukan proses penyuntikan hormon HIPOFISA. Dengan penyuntikan atau rangsangan hormon ini jumlah telur ikan lele yang akan keluar saat proses perkawinan atau pemijahan akan lebih banyak. Dengan hormon ini kematangan telur ikan lele akan meningkat banyak.

apabila permintaan benih ikan lele mencapai ratusan ribu, satu ikan lele tidak mencukupi anaknya jika dilakukan dengan cara normal.

Maka perlu dilakukan penyuntikan hormon. hormin ini dapat disiapkan dari kelenjar hipofisa ikan lele atau dari ikan mas ataupun menggunakan hormon buatan sintesis buatan pabrik.
hormon hipofisa buatan


Beberapa jenis hormon sintesis tersebut misalnya Ovaprim, HCG, dan LHRH. Hormon Ovaprim relatif mudah diperoleh karena sudah dijual umum seperti di toko perikanan di beberapa kota besar. HCG sebenarnya merupakan hormon untuk manusia sehingga hanya dapat diperoleh bila disertai resep dokter, sedangkan LHRH tergolong agak sulit diperoleh.


Penyuntikan hormon alamiah (hipofisa)
Penyuntikan memerlukan kelenjar hipofisa. kelenjar hormon bisa didapatkan padapikan yg terletak di bawah otak kecil. Setiap ikan (juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak kecil.

Ikan lele akan menjadi resipien. Resepien adalah penerima hormon dari donor kelenjar hipofisa. Pendonor Hipofisa antara lain dapat dipilihkan dari lele, ikan mas (tombro, karper, Cyprinus carpio), atau lele lokal (Clarias batrachus). 


Bagaimana cara melakukan proses penyuntikan hipofisa?


a. Jumlah Dosis hipofisa
Pertama perhatikan jumlah dosis yang akan dipakai untuk ikan lele
  • Jumlah dosis Hormon hipofisa untuk indukan lele adalah 3 dosis, Dengan ukuran berat 0,5 kg.
  • Dengan Ikan donor seberat 1,5 kg itu dapat terdiri dari 3 ekor yang masing-masing beratnya 0,5 kg atau 2 ekor yang beratnya 1 kg dan 0,5 kg atau dapat juga dipakai seekor yang beratnya 1,5 kg.
  • Ikan donor diharuskan sudah dewasa atau matang gonat, Ikan dewasa merupakan pilihan yang memiliki hormon hipofisa yang tinggi dibanding yang belum dewasa. Ikan donor dapat dipilihkan dari ikan jantan maupun dewasa.

b. kedua proses pengambilanhipofisa dan pembuatan ekstrak
Cara mengambil kelenjar hipofisa dari ikan donor adalah sebagai berikut :
  • Pertama siapkan ikan donor, Ikan lele atau ikan mas
  • Pegang menggunakan lap agar tidak licin. Pegang bagian kepala, badan dengan lap, 
  • Bagian badan diletakan diatas talenen. 
  • Kepala ikan dipotong dibagian belakang tutup insangnya hingga kepalanya putus.
  • Setelah terpotong, sisir tulang kepalanya di atas mata hingga tulang tengkoraknya terbuka dan otaknya kelihatan.
  • Singkap otaknya menggunakan pinset, tepat dibagian bawah otak akan terlihat kelenjar hipofisa berwarna putih sebesar butiran kacang hijau.
  • Dengan tetap menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diangkat dan diletakan ke dalam cawan yang bersih untuk dicuci dengan aquades hingga darah yang melekat hilang. Cara membersihkannya dengan disemprot aquades menggunakan pipet.
  • Setelah butir kelenjar hipofisa bersih, lalu masukan ke dalam tabung penggerus (dapat menggunakan kantong plastik kecil atau gelas). Selanjutnya kelenjar hipofisa digerus atau dipencet hingga hancur.
  • Encerkan kelenjar hipofisa tersebut dengan 1-1,5 ml aquades atau larutan garam fisiologis. Larutan garam fisiologis atau sering pula disebut cairan infus yang dapat diperoleh di apotek (dijual bebas). Dengan demikian, hormon GSH yang terkandung didalam hipofisa akan terlarut dalam cairan.
  • Larutan tersebut diendapkan beberapa menit hingga kotoran tampak mengendap didasar. Cairan dibagian atas diambil dengan tabung injeksi (spuit) untuk disuntikan pada ikan.
c. ketiga Penyuntikan ekstrak hipofisa
    Induk sebagai resipien yang telah dipersiapkan sebelumnya, diambil dari dalam hapa. Induk tersebut dipegang dengan bantuan penyerok dari jaring supaya tidak licin. Hormon didalam spuit disuntikan didekat sirip punggung kedalam daging induk (intramuscular). Setelah disuntik, induk betina dimasukan kedalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan. Biarkan lele dalam keadaan tenang.

Proses diatas tersebut merupakan cara penyuntikan menggunakan tumbal ikan untuk mengambil kelenjar hormon dari ikan lain. bisa disebut PROSES PENYUNTIKAN HORMON ALAMI DENGAN IKAN TUMBAL.

Selanjutnya PENYUNTIKAN MENGGUNAKAN HORMON BUATAN
ovaprim hormon hipofisa

Penyuntikan hormon buatan
untuk melakukan penyuntikkan tahap tahap hormon buatan adalah sebagai berikut: 
  • Hormon sintesis (buatan) kini dapat dibeli di toko-toko obat perikanan, yaitu hormon yang disebut Ovaprim. Ovaprim berbentuk cairan yang disimpan dalam ampul. Satu ampul berisi 10 ml. Dosis pemakaiannya 0,3-0,5 ml untuk lele yang beratnya 1 kg. induk lele seberat 0,5 kg berarti memerlukan hormon ovaprim 0,15-0,25 ml.
  • Penyuntikan menggunakan hormon Ovaprim sangat praktis sebab sudah berupa larutan sehingga tinggal disuntikan saja, hormon sisa di dalam ampul dapat disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung (suhu kamar), dalam ruang ini, Ovaprim tahan hingga 3-4 bulan.

BERIKUT TAHAP PENYUNTIKAN HORMON HIPOFISA
Urutan pemijahan lele dengan hormon buatan adalah sebagai berikut :
a. Siapkan kolam pemijahan
  • Keringkan dan bersihkan kolam/bak yang hendak digunakan untuk pemijahan.
  • Cuci dan jemur kakaban atau tempat meletakan telur dengan jumlah cukup menutupi 75% dasar kolam.
  • Pasang kakaban di dasar kolam/bak, letakan kakaban itu 5-10 cm diatas dasar kolam.
  • Gunakan bata merah yang sudah dicuci bersih sebagai pengganjalnya. Diatasnya juga ditindih dengan bata agar kakaban tidak mudah bergeser.
  • Menjelang dilakukan penyuntikan, kolam tersebut diisi dengan air sampai kakaban terendam air 5 cm-10 cm.
b. Memilih Seleksi induk lele betina dan jantan yang siap memijah
  • Tangkap tangkap induk lele betina dan jantan sebaiknya pagi hari sebelum jam 9.00
  • Pilih induk betina yang matang telur, perutnya besar dan lunak, tetapi kalau diurut tidak dapat keluar telurnya.
  • Pilih induk jantan yang sehat, tidak cacat, tidak berpenyakit. Lele jantan terlihat dari alat kelaminnya (perut tetap langsing) kalau diurut juga tidak dapat mengeluarkan sperma. 
  • Lele yang tidak dapat mengeluarkan telur dan sperma merupakan lele yang perlu diberikan hormon hipofisasi
  • Pisahkan induk jantan dan betina didalam wadah atau hapa tersendiri sambil menunggu saat disuntik.
c. Siapkan alat dan hormon Ovaprim untuk disuntikan
Alat suntik harus steril bersihkan dengan air Aquades atau alat baru.

d. Tentukan dosis ovaprim dengan menimbang indukan betina
  • Hormon ovaprim 0,3-0,5 cc untuk 1 kg lele. dan jika berat lebih sedikit atau 0,5 kg tinggal dibagi saja. 
  • Ambil 0,5 ml hormon, lalu injeksi spuit, 
  • Setelah selesai, sedot lagi jarum yang sama dengan aquades atau larutan garam fisiologis 0.7% sebanyak 0,5 ml yang juga untuk mengencerkan hormon tadi.
e. Cara penyuntikan Hormon hipofisasi
  • Pegang ikan lele sebaiknya dilakukan dua orang
  • Suntik betina terlebih dahulu
  • Letakan diatas meja, 1 orang pegang ekor ikan atau badan, dan yang lain melakukan penyuntikan dan diberi alas handuk/lap bersih.
  • Penyuntikan dibagian punggung. Sebanyak setengah dosis disebelah kiri sirip punggung dan setengah dosis lagi disebelah kanan.
  • Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah hormon didorong masuk, jarum dicabut, lalu bekas suntikan tersebut ditekan/ditutup dengan jari beberapa saat agar hormon tidak keluar.
  • Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukan kedalam kolam pemijahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
f. Siapkan kolam penetasan telur
  • Kolam penetasan untuk sepasang indukan ukuran 25-100 meter2, 
  • Kolam harus sudah dilakukan penangan untuk pemijahan untuk mencegah penyakit

g. Tips air pembenihan lele

  • Air menggunakan sumur bor
  • Ukuran tandon besar 3-5 m3, ditaburi 100 gr setiap 1 m3 air.
  • Endapkan beberapa hari.
  • Setelah diendapkan air dapat digunakan untuk budidaya pembenihan
  • Perlakuan tersebut, penetasan dan pemeliharaan benih lancar akan dapat berjalan lancar.

Selesai sudah bagaimana cara untuk melakukan penyuntikan hormon hipofisa baik menggunakan hormon alami asli dan hormon buatan pabrik. 

Cara Mengukur PH Perairan Kertas Lakmus

Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital.
Bagi anda penghobi ikan hias yang sering bermasalah menghadapi kematian ikan, coba deh di tes pH air nya mungkin belum cocok dengan kondisi optimal ikan itu hidup. Sebaiknya kita dalam memelihara ikan, siapkan kondisi air yang optimal agar sesuai dengan kondisi umum ikan hias hidup, misalnya dalam optimalisasi nilai pH air.

pH merupakan cara untuk mengukur kandungan asam, basa dan netral pada suatu cairan dan benda padat. Dengan pengukuran tersebut diharapkan akan diketahui kualitas nilai pH dari benda tersebut.

Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital. dengan memasukkan alat pH kedalam air atau pasir akan terlihat nilai yang cocok pada pH, amati secara hati-hati nilai yang tertera pada alat pH.




Menentukkan kondisi nilai pH dapat ditunjukkan dengan angka dan warna. Misal :
  • Warna merah berarti menandakan asam kuat 1-6
  • Warna hijau berarti menandakan basa kuat >7
  • Warna kuning berarti menandakan  tingkat pH netral 5,5 – 6,5, ini berati asam dan basa berada dalam keadaan seimbang.

Perlu diperhatikan bahwa kandungan air akan asam cenderung akan meningkat akibat penggunaan bahan kimia untuk menjernihkan air atau karena adanya pencemaran
Jadi mengatur pH sangatlah perlu agar tanaman tumbuh sesuai dengan yang kita harapkan.

Dengan pengukuran pH diharapkan kondisi perairan sesuai dengan keadaan organisme budidaya ikan, sehingga ikan dapat hidup sehat dan tidak mengalami stres. Penyimpangan terlalu jauh dengan sifat ikan yang dibudidayakan dapat menyebabkan kematian pada ikan budidaya.

Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital.

Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital.


Penanganan pH
Seperti disebutkan sebelumnya, pengananan atau pengubahan nilai pH akan lebih efektif apabila alkalinitas ditanganai terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa cara pangananan pH, yang kalau diperhatikan lebih jauh, cenderung mengarah pada penanganan kesadahan atau alkalinitas

Penurunan pH
Untuk menurunkan pH, pertama kali harus dilakukan pengukuran KH. Apabila nilai KH terlalu tinggi (12 atau lebih) maka KH tersebut perlu diturunkan terleibh dahulu, yang biasanya secara otomatis akan diikuti oleh menurunnya nilai pH. Apabila nilia pH terlalu tinggi (lebih dari 8) sedangkan KH tergolong bagus ( antara 6 -12)maka hal ini merupakan petunjuk terjadinya proses keseimbangan yang buruk. 

Penurunan pH dapat dilakukan dengan melalukan air melewati gambut (peat), biasanya yang digunakan adalah peat moss (gambut yang berasal dari moss). bisa juga dilakukan dengan mengganti sebagaian air dengan air yang berkesadahan rendah, air hujan atau air yang direbus, air bebas ion, atau air suling (air destilata). Selain itu bisa juga dapat dilakukan dengan menambahkan bogwood kedalam akuairum. Bogwood adalah semacam kayu yang dapat memliki kemampuan menjerap kesadahan. Sama fungsinya seperti daun ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya. 



Peningkatan pH 
Menaikkan pH dapat dilakukan dengan memberikan aerasi yang intensif, melewatkan air melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur. Atau dengan menambahkan dekorasi berbahan dasar kapur seperti tufa, atau pasir koral. Atau dengan melakukan penggantian air.

Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir kemasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas sedang.
Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas diatas 20 ppm.

Garam merupakan senyawa yang terbentuk dari reaksi asam dan basa.  Kalian tahu garam dapur bukan? Garam dapur (NaCl) merupakan salah satu contoh garam yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari.  Selain itu ada juga Baking Soda (NaHCO3) yang digunakan untuk menetralkan sengatan lebah yang bersifat asam, serta tawas dengan rumus senyawa Al2(SO4)3 yang digunakan untuk proses penjernihan air.
   
 Adapun ciri-ciri dari garam antara lain:
  • Dalam bentuk leburan (cairan) atau lelehan dapat menghantarkan listrik
  • Sifat larutannya dapat berupa asam, basa, atau netral tergantung jenis asam (kuat atau lemah) dan basa (kuat atau lemah) pembentuknya.
  • asam kuat dan basa kuat akan terbentuk garam yang bersifat netral
  • asam kuat dan basa lemah akan terbentuk garam yang bersifat asam
  •  asam lemah dan basa kuat akan terbentuk garam yang bersifat basa
Contoh mengukur PH,
Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital.

Cara pengukuran pH ada beberapa macam antara lain menggunakan kertas pH (kertas lakmus) dan menggunakan alat elektronik misalnya pH meter digital.


Pilih jenis ikan, saya akan menggunakan ikan neon tetra
Kondisi optimal neon tetra adalah kadar air dalam kondisi asam antara 
5,5-6,5 

Dengan Suhu dibawah 28 derajat, 20-26
pada waktu pemijahan kondisi air ikan neon adalah
Air harus steril dingin dan bersifat asam (pH lebih kecil dari 6,4, jika tidak memenuhi syarat ikan tidak mau bertelur. 

Cara melakukan tes

  • Sediakan kertas lakmus
  • Ambil air,
  • Masukkan kertas lakmus tunggu sampai berubah warna
  • Cek angka atau warna kertas lakmus, 
  • Hitung nilai pH nya
  • Cocokan kondisi dengan kondisi ikan neon tetra. 
  • Jika sudah cocok ikan bisa di masukkan ke dalam air. 

Cara Pengukuran DO atau Kadar oksigen terlarut

Perairan atau suatu kolam atau pun tambak pastinya mengandung oksigen didalam air tersebut. Oksigen menjadi kebutuhan ikan yang hidup didalam kolam atau tambak tersebut. Maka perlu diketahui kadar oksigen terlarut didalamnya apakah sudah sesuai dengan kebutuhan ikan. Kadar oksigen terlarut juga menjadi salah satu parameter dalam menentukan kualitas air.
kadar oksigen terlarut didalamnya apakah sudah sesuai dengan kebutuhan ikan. Kadar oksigen terlarut juga menjadi salah satu parameter dalam menentukan kualitas air.
kadar oksigen terlarut didalamnya apakah sudah sesuai dengan kebutuhan ikan. Kadar oksigen terlarut juga menjadi salah satu parameter dalam menentukan kualitas air.


Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) ataupun disebut kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan suatu kadar oksigen di dalam air yang akan menentukan atau menjadi  parameter penting dalam analisis kualitas air.

Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air.

Kadar DO atau oksigen terlarut yang ada didalam air dapat ditentukan apabila :

  • Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. 
  • Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. 

Dengan dilakukan suatu Pengukuran DO diharapkan akan mendapatkan kadar yang baik, karena Kadar DO bertujuan untuk mengetahui sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme.

Selain itu dengan banyaknya kadar terlarut DO akan menentukan kemampuan air untuk membersihkan pencemaran air tersebut.  Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping parameter lain seperti kob dan kod.
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) a

Bagaimana cara mengukur DO? siapkan Bahan-bahan pengukuran DO sebagai berikut :

Tabel Bahan Yang digunakan

BahanUkuranKeterangan
Botol BOD125 ml
MnSO41 mlMengikat oksigen dalam air sampel
NaOH dalam KI1 mlMengikat oksigen dalam air sampel
H2SO4 pekat1 mlMengurai oksigen dalam air sampel
Na2S2O3 0,025 N ?Sebagai titran titrasi uji kelarutan oksigen
Indikator amilum 2 tetesSebagai indikator dalam uji kelarutan oksigen.

Metode yang digunakan dalam pengukuran kadar oksigen terlarut adalah
  • Mengambil sampel air dengan menggunakan botol BOD 125 ml (tidak boleh ada udara yang masuk), 
  • Kemudian menambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml NaOH dalam KI, 
  • Tutup botol tersebut dan kocok hingga larutan homogen dan terjadi endapan. 
  • Langkah selanjutnya menambahkan 1 ml H2SO4 pekat kemudian menutup botol BOD, 
  • kocok sampai endapan hilang dan larutan berwarna kuning, 
  • setelah itu memasukkan 50 ml sampel ke dalam erlenmeyer 250 ml.
  • Melakukan titrasi dengan 0,025 N  Na2S2O3 hingga larutan berwarna kuning muda. 
  • Menambahkan 2 tetes amilum, apabila timbul warna biru kemudian 
  • Melanjutkannya dengan titrasi Na2S2O3  0,025 N hingga bening. 

Untuk mengetahui berapa jumlah volume titran dengan membaca skala penurunan titran dan memasukkan dalam rumus :
Titrasi oksigen

Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) a
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.

Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit.

Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen.

Mungkin kamu bertanya apabila kita menggunakan dua buah larutan yang tidak bewarna seperti H2SO4 dan NaOH dalam titrasi, bagaimana kita bisa menentukan titik equivalent?

Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses titrasi.

Sebagai contoh titrasi H2SO4 dengan NaOH digunakan indicator fenolpthalein (pp). Bila semua larutan H2SO4 telah habis bereaksi dengan NaOH maka adanya penambahan sedikit mungkin NaOH larutan akan berubah warna menjadi merah mudah. Bila telah terjadi hal yang demikian maka titrasi pun kita hentikan.

Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut sebagai titik akhit titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama.

Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus:

V.N titran = V.N analit

Dimana V adalah volume dan N adalah normalitas. Kita tidak menggunakan molaritas (M) disebabkan dalam keadaan reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen sama-sama habis bereaksi) yang sama adalah mol-equivalen bukan mol. Mol-equivalen dihasilkan dari perkalian normalitas dengan volume.

Cara Pembuatan Aquarium

Aquarium merupakan tempat pengganti kolam. Ikan hias seperti ikan cupang atau ikan molly ataupun jenis ikan lainnya. agar terlihat lebih cantik dapat ditempatkan dalam Aquarium. Aquarium dapat ditempatkan dalam ruang tamu atau ruang santai dirumah anda. Kegunaan Aquarium dapat mempercantik dekorasi rumah anda, bagi hobi ikan hias dapat menghilangkan stres. 

Cara pembuatan Aquarium
Bagi yang ingin membuat aquarium sendiri, pembuatan aquarium dapat dilakukan sendiri. Jika anda memiliki ide membuat aquarium sesuai imajinasi sendiri seperti Aquarium buat penganti tembok ataupun menjadikannya meja. wah keren sepertinya. Pembuatan tersebut dapat mencontoh dasar-dasar pembuatan Aquarium dibawah ini.

Alat dan bahan Pembuatan Aquarium yaitu:
  • Kaca Sebagai bahan dalam pembuatan.
  • Penjepit kertas sebagai alat untuk menjepit antara potongan kaca yang kecil\
  • Pemotong kaca sebagai alat pemotong kaca
  • Lem kaca, yang digunakan adalah lem silikon yaitu lem khusus untuk merekatkan kaca agar melekat dengan   baik dan tidak bocor.
  • Alat tembak lem silicon, berfungsi untuk memudahkan pembuat akuarium dalam merakit akuarium.
  • Lakban, yang digunakan dalam merakit akuarium sebaiknya lakban plastik yang berwarna coklat atau hitam.Lakban ini berfungsi untuk membantu berdirinya kaca dengan kaca lainnya agar tidak bergeser yang memudahkan dalam pemberian lem kaca.

Ukuran kaca Aquarium
yang akan digunakan biasanya berkisar antara 3 mm – 16 mm. Sebagai acuan dalam membuat akuarium, ukuran kaca yang akan digunakan dapat dilihat sebagai berikut.
  • Tebal kaca (mm) 3, Panjang akuarium (cm) 20, Lebar akuarium (cm) 20, Tinggi akuarium (cm) 20
  • Tebal kaca (mm) 3, Panjang akuarium (cm) 30, Lebar akuarium (cm) 20, Tinggi akuarium (cm) 20
  • Tebal kaca (mm) 3, Panjang akuarium (cm) 40, Lebar akuarium (cm) 20, Tinggi akuarium (cm) 30
  • Tebal kaca (mm) 3, Panjang akuarium (cm) 50, Lebar akuarium (cm) 30, Tinggi akuarium (cm) 30
  • Tebal kaca (mm) 5, Panjang akuarium (cm) 60, Lebar akuarium (cm) 30, Tinggi akuarium (cm) 35
  • Tebal kaca (mm) 5, Panjang akuarium (cm) 70, Lebar akuarium (cm) 35, Tinggi akuarium (cm) 35
  • Tebal kaca (mm) 5, Panjang akuarium (cm) 80, Lebar akuarium (cm) 40, Tinggi akuarium (cm) 40

Cara Pembuatan Aquarium
Untuk kaca yang akan digunakan sebagai dasar akuarium ketebalannya ditambah 0,5–1 mm,. Setelah menentukan bentuk dan ukuran kaca yang akan dipergunakan untuk membuat akuarium maka langkah selanjutnya adalah memotong kaca. Kaca yang dipergunakan untuk membuat akuarium masih dalam bentuk lembaran kaca.

Perakitan Pembuatan Aquarium
Dalam membuat akuarium, ada beberapa hal yang harus dikuasai agar akuarium yang dibuat tidak bocor dan tahan lama, yaitu dengan; merancang/mendesain akuarium, memotong kaca, merakit akuarium dan melakukan uji coba terhadap akuarium tersebut.

Akuarium yang akan dirakit, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyiapkan kaca sebagai dasar utama    pembuatan akuarium. 
Ada beberapa dalam memotong kaca antara lain adalah :
  • Letakkan lembaran kaca pada meja kerja, meja kerja harus dalam keadaan datar dan bersih.  
  • Ukuran kaca yang akan dipotong ini disesuaikan dengan bentuk akuarium yang akan dibuat. 
  • Dalam membuat  potongan-potongan kaca, lembaran kaca dibuat polanya terlebih dahulu   dengan menggunakan spidol dan  penggaris besi. Pola yang sudah dibentuk dapat langsung dipotong.
  • Untuk memotong kaca gunakan alat pemotong kaca
  • Setelah kaca terpotong, bagian pinggir dari potongan-potongan kaca harus dihaluskan dengan gerinda atau batu asahan karborondum. 
  • Kaca yang akan dirakit menjadi akuarium ini sudah dalam bentuk potongan-potongan kaca yang ukurannya  disesuaikan dengan ukuran akuarium yang akan dibuat. 
  • Sebelum dirakit kaca-kaca tersebut sebaiknya dilakukan penggosokan dengan menggunakan batu asahan karborundum atau gerinda,
  • Kaca-kaca yang telah dihaluskan seluruh bagian pinggirnya dengan gerinda ini telah siap untuk dirakit.
Cara Pembuatan Aquarium :  
  • Menempelkan lem kaca (lem silicon) pada bidang pertemuan potongan kaca.lem kaca.
  • Bila lem sudah terpasang dengan baik kaca bagian sisi kecil bisa dipasang.
  • Kedua sisi lainnya selanjutnya bisa dipasang.
  • Setelah semua kaca menempel, jaga posisi mereka dengan menggunakan "plak band". Biarkan dalam kondisi  demikian hingga lem mengering 
  • Setelah bagian dalam sambungan antar kaca perlu dilapisi dengan lem, untuk mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran akibat perekatan yang tidak sempurna sebelumnya. 
  • Lakukan hal ini dengan hati-hati agar hasil akhirnya rapi tetapi kuat. 
Bila diperlukan, bagian dalam dan atas kaca bisa diperkuat dengan potongan kaca sedemikian rupa. Kaca penguat ini bisa juga berfungsi sebagai dekorasi
  • Pada saat menempelkan lem silicon ke kaca sebaiknya ketebalan lem pada seluruh permukaan kaca sama. Hal ini akan membuat ketebalan lem sama pada setiap sudut . Setelah seluruh kaca terakit menjadi akuarium, langkah selanjutnya adalah mengeringkan akuarium tersebut minimal selama 24 jam agar lem silikon tersebut benar-benar kering. 
  • Langkah terakhir dalam merakit akuarium adalah melakukan uji coba terhadap akuarium tersebut. Ujicoba tersebut dilakukan dengan mengisi air ke dalam akuarium selama 24 jam dan perhatikan apakah ada bagian yang bocor. 


Cara Pembuatan Aquarium

Cara Pembuatan Aquarium

Cara Pembuatan Aquarium

Cara Pembuatan Aquarium

Cara Pembuatan Aquarium





Semoga Bermanfaat

Bagian - Bagian Kapal Perikanan dan Sebutan Ukuran Kapal

Indonesia negara kepualauan yang memiliki banyak laut menjadikan banyak dijumpai kapal perikanan penangkap ikan, kapal penangkap ikan memiliki karakteristik yang unik dibanding kapal biasa, dengan ukuran dan koefisien bentuk serta kecepatan kapal ditujukan agar cocok sebagai penangkap ikan. Kapal penangkap ikan ini bentuk nya disesuaikan untuk menampung hasil tangkapan ikan baik dari alat tangkap jaring, perangkap, atau pun memancing. Bahan utama dalam pembuatan kapal berupa kayu, fibre glass, besi atau baja. Untuk kapal-kapal perikanan tradisional umumnya kayu yang digunakan disesuaikan dengan daerah masing-masing pulau indonesia, sehingga jenis kayunya mengikuti jenis kayu setempat.


Kontruksi dan Bagian Kapal Perikanan

Untuk mengetahui lebih dalam tentang bentuk kapal perikanan kita perlu tahu bagian-bagian umum yang terdapat pada kapal perikanan atau kapal Ikan.
Berikut Bagian-bagian Kapal Ikan
1. Rumah kemudi
Kapal perikanan memiliki rumah kemudi yang dibagun atau didirikan diatas geladak kapal yang dibagun kuat agar menyerupai bangunan rumah. Ruang kemudi ini terletak pada geladak utama di bangunan atas, dengan kelengkapan pintu sorong dan jendela depan sorong, rinting kemudi (diameter 20 cm) dan pangsi kemudi, bangku meja kompas, papan pembagi instalansi listrik dan meja peta panjang yang fungsinya sebagai tempat tidur atau tempat duduk. Dinding depan ruang kemudi terdapat tiga jendela dimana dua jendela sorong dan satu jendela permanen yang terletak di tengah-tengah. Ketebalan kaca jendela ialah 5 mm

2. Geladak
Kapal ikan juga dilengkapi geladak, geladak fungsinya untuk mempertahankan bentuk melintang dari kapal, disamping itu dapat digunakan untuk mendirikan bangunan di atas geladak, serta untuk menutup badan bagian atas sehingga kedap air dan bagian utama kekuatan memanjang kapal. Geladak merupakan tempak kerja awak kapal jadi harus dibuat tidak licin, dan papan geladak dipasang secara memanjang.

Pembuatan geladak menggunakan papan potongan yang diambil sepanjang mungkin, dengan sambungan papan tumpul, hal ini dilakukan untuk mengagatasi perubahan mengembang dan menyusut. Papan geladak juga bertugas mencegah air masuk ke dalam badan kapal, makan sambungan harus dipakai, untuk melindungi dari cuaca. Kampuh yang dipakai harus disiram dengan ter atau didempul.
Kontruksi dan Bagian Kapal Perikanan

3. Ruang mesin

Kapal perikanan memiliki kamar mesin sendiri. Ruang mesin berguna untuk menyimpan perkakas dan spare part mesin maka ditempatkan lemari didalam ruang mesin. Ruang mesin juga di lengkapi cerobang asap yang disesuaikan agar dapat menembuh sampai geladak atas. Sehingga Ruang mesin perlu kuat dan kokoh, dengan atas dilindungi dengan bahan yang tidak menghantarkan panas (Bahan asbestos.

Ruang mesin adalah tempat keberadaan mesin dalam suatu kapal, yang mempunyai pondasi yang kuat sebagai penyangganya. Pondasi mesin berfungsi menyangga berat mesin utama dan manahan mesin utama pada waktu kapal oleng atau mengangguk. Pondasi mesin terdiri dari sepasang pemikul bujur kayu yang masing-masing terdiri dari satu pasang kayu. Pada umumnya, ruang mesin terletak dibelakang kapal, sehingga poros baling-baling akan lebih pendek dan ruang muat dapat lebih besar.

4. Palka ikan
Palkan ikan merupakan ambang palka setinggi 150-200 mm dari geladak utama. Palka mempunyai ukuran dan kapasitas yang sesuai dengan gambar rencana umum. Palka mempunyai lubang pengeluaran air (saluran bilga) dan disediakan tangga yang tidak permanen. Menurut (Alam Ikan 4), dinding palka terdiri dari beberapa lapisan antara lain:

  • Dinding kapal 
  • Lapisan poly urethane
  • Dinding papan
  • Lapisan seng / aluminium / fiberglass
Ruang palka adalah ruang yang digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan. Dalam satu kapal ikan, mempunyai palka ikan sebanyak 4-5 ruang tergantung besarnya kapal. Tutup sisi geladak ruang ikan dibuat dari kayu keras, sistem konstruksi penutupan lubang palka adalah dengan menggunakan sistem penutup yang diangkat.

Sistem ini adalah yang paling sederhana bila dibanding dengan sistem lainnya. Sistem ini terdiri dari dari balok lubang palka, tutup lubang palka dan tutup dari kain terpal untuk kekedapan. Setiap ruang palka diberi lubang palka di atas yaitu tempat dimana barang atau muatan kapal dimasukkan dan dikeluarkan. Lubang palka ini dibuat sedemikian rupa sehingga lubang di satu pihak cukup luas untuk keluar masuknya barang dan di lain pihak dengan adanya lubang palka ini tidak mengurangi kekuatan kapal (Alam Ikan 4).
Kontruksi dan Bagian Kapal Perikanan

5. Ruang kerja
Ruang kerja adalah bangunan atas yang berada diatas geladak kapal yang tidak meliputi seluruh lebar kapal. Ruang kerja berfungsi sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan diatas kapal seperti ruang makan, ruang tidur, ruang memasak, kamar mandi. Ruang kerja harus dilengkapi dengan fentilasi yang cukup dan memadai, memiliki penerangan yang cukup, dinding dan lantai yang bersih. Sehingga diharapkan dengan adanya ruang kerja dapat menampung seluruh aktifitas awak kapal (Alam Ikan 5).


Ukuran Utama Kapal
Ukuran utama kapal merupakan besaran scalar yang menentukan besar kecil sebuah kapal. Ukuran utama kapal adalah meliputi panjang kapal, lebar kapal, tinggi kapal serta sarat air kapal (Alam Ikan 2).
Bagian - Bagian dari Ukuran Utama Kapal

1. Panjang kapal
Menurut (Alam Ikan 1), dalam penentuan panjang kapal (L) ada 4 (empat) macam pengertian panjang kapal yang sering kali dipergunakan dalam perencanaan kapal, yaitu :

a. Panjang seluruh kapal (Length over all = Loa)
Loa Adalah jarak mendatar antara ujung depan linggimhaluan sampai dengan ujung belakang linggi buritan.
b. Panjang geladak kapal (Length deck line = Ldl)
Ldl Adalah jarak mendatar antara sisi depan linggi haluan sampai dengan sisi belakang linggi buritan yang diukur pada garis geladak utama atau geladak buritan.
c. Panjang garis air kapal (Length water line = Lwl)
Lwl Adalah jarak mendatar sisi belakang linggi haluan sampai dengan sisi depan linggi buritan yang diukur pada garis air muat tertinggi atau garis air muatan penuh (tidak termasuk tebal kulit lambung kapal).
d. Panjang garis tegak kapal (Length berween perpendicular = Lpp)
Lpp Adalah jarak mendatar antara garis tegak haluan sampai dengan garis tegak buritan yang diukur pada garis air muatan penuh.
Bagian - Bagian dari Ukuran Utama Kapal

2. Lebar kapal 
Menurut (Alam Ikan 3), lebar kapal selalu diukur pada ban terlebar dari badan kapal. Terdapat tiga ukuran lebar kapal untuk keperluan yang berbeda yaitu sebagai berikut :


1. Lebar maksimum (Breadth Maximum) adalah jarak mendatar antar sisi luar kulit lambung kapal yang diukur pada lebar kapal yang terbesar.
2. Lebar garis air kapal (Breadth Water Line) adalah jarak mendatar antara sisi luar kulit lambung kapal yang diukur pada garis muatan penuh.
3. Lebar geladak kapal (BDL), yaitu jarak horizontal yang diukur antara sisi sisi geladak utama. Informasi BDL diperlukan untuk pengukuran gross tonnage kapal.
Bagian - Bagian dari Ukuran Utama Kapal

3. Tinggi kapal
Menurut (Alam Ikan 3), tinggi kapal adalah jarak tegak yang diukur di bidang tengah kapal dari bidang dasar (lunas) sampai dengan garis atau sisi atas geladak bagian tepi geladak bagian dan tepi geladak utama .Ukuran tinggi kapal meliputi. tinggi sarat air (d), tinggi geladak (H), tinggi maksimal (H maks).   
Menurut (Alam Ikan 1), disebutkan bahwa ada 2 (dua) jenis garis tegak kapal :  
  1. Garis tegak haluan ( fore peak perpendicular = fp) adalah garis tegak yang ditarik melelui titik perpotongan antara linggi haluan dengan garis air muatan penuh dan tegak lurus dengan garis dasar (base line).
  2. Garis tegak buritan ( after peak perpendicular = AP) adalah garis tegak yang ditarik melalui titik perpotongan antara sisi belakang linggi kemudi (titik tengah tongkat atau poros kemudi, apabila tidak terdapat linggi kemudi) dan tegak lurus dengan garis dasar.
Menurut (Alam Ikan 4), sarat air kapal (Draft atau   Draught : d atau kadang-kadang menggunakan notasi T) adalah jarak vertikal antara garis dasar sampai dengan garis air muatan penuh atau tanda lambung timbul  untuk garis muat musim panas yang diukur pada pertengahan panjang garis tegak kapal.
  1. Sarat air maksimum (Dranght maximum atau draft max : d max) adalah tinggi  terbesar dari lambung kapal yang berada dibawah permukaan air yang diukur dari garis muatan penuh sampai dengan bagian kapal yang paling rendah.
  2. Sarat haluan kapal  adalah sarat air kapal yang diukur pada garis tegak haluan.
  3. Sarat buritan kapal  adalah sarat air kapal yang diukur pada garis tegak buritan.
  4. Apabila kapal dalam keadaan trim, maka sarat kapal rata-rata adalah selisih antara sarat haluan dengan sarat buritan kapal atau sebaliknya dibagi 2 (dua).
Tinggi maksimum ( Hmax) adalah tinggi kapal yang diukur dari dasar kapal sampai ke garis geladak tertinggi. Sedangkan tinggi kapal ( H ) adalah jarak vertikal antara garis dasar sampai garis geladak yang terendah dan diukur di tengah-tengah panjang kapal.
Bagian - Bagian dari Ukuran Utama Kapal

4. Perbandingan ukuran utama kapal
Menurut (Alam Ikan 4), pada umumnya bentuk kapal tergantung daripada ukuran utama kapal, perbandingan ukuran utama kapal dan koefisien bentuk kapal. Ukuran utama kapal terdiri dari panjang kapal = L, lebar kapal = B, tinggi kapal = H dan sarat air kapal = d. Perbandingan ukuran utama kapal meliputi harga-harga perbandingan L/B, L/H, B/d, H/d, sedang koeffisien bentuk kapal terdiri dari koefisien balok = Cb, koefisien gading besar = Cm, koefisien garis air = Cw dan koefisien prismatic = Cp.

Biro Klasifikasi Indonesia ( BKI ) 2004 mensyaratkan perbandingan ukuran kapal sebagai berikut :
1. L/H = 14 Untuk daerah pelayaran samudra
2. L/H = 15 Untuk daerah pelayaran pantai
3. L/H = 17 Untuk daerah pelayaran local
4. L/H = 18 untuk daerah pelayaran terbatas

Menurut (Alam Ikan 5), perbandingan ukuran utama kapal per alat tangkap tersaji pada tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan ukuran utama kapal per alat tangkap

No.Alat TangkapL/BL/DB/D
1.Inspection of research boat (steel)5,43610,691,97
2.Whale catcher5,78810,561,85
3.Fish carrier boat (steel)5,8311,401,95
4.Fish ditto boat (wood)4,689,602,04
5.Tuna long liner (steel)5,56810,921,96
6.Tuna ditto boat (wood)4,569,162,01
7.Trawler (steel)5,9511,151,87
8.2- boat trawler (steel)5,1310,342,01
9.2- ditto trawler (wood)5,209,301,79
10.Stick held dip net boat (wood)4,669,902,12
11.Long liner (wood)4,689,702,07
12.Mackerel angling boat (wood)4,279,742,06
13.Squid angling boat (wood)4,949,992,02
14.Spearing boat (wood)4,679,802,10
Sumber: Nomura dan Yamuzaki, 1977.

Pengukuran Kecepatan angin dan Alatnya

Pengertian Kecepatan Angin
Angin ada disekitar kita biasanya merupakan hembusan udara yang dapat dirasakan badan kita dan dapat menerbangkan debu, Angin memiliki suatu kecepatan Atau kecepetan angin. Kecepatan Angin dapat diukur dengan satuan kilomeer atau mil per kesatuan waktu. Kecepatan angin merupakan gejalan alam yang menyebabkan hembusan udara, untuk mengukur kecepatan angin dapat dilakukan dengan skala beaufort. Skala alat beaufort ini berada pada 0-12.

Pengertian angin adalah hembusan udara atau sebuah massa udara yang bergerak secara horizontal yang memiliki sebuah arah dan kecepatan tertentu dengan gerakan yang memiliki kecepatan vervariasi. Terjadinya gerakan massa udara yang memiliki kecepatan atau angin tersebut terjadi jika adanya pengaruh ketidakseimbangan pemasanasan sinar matahari pada suatu lokasi yang berbeda di bumi. pengukur kecepatan angin disebut skala beaufort dengan Arah angin diukur dengan alat yang disebut wind vane dan bias juga dengan slayer.


Arah angin diukur dengan alat yang disebut wind vane dan bias juga dengan slayer.  pengukur kecepatan angin disebut skala beaufort.
Gerakan angin pastinya memiliki arah, arah angin ini dipengaruhi gaya Coriolis (pengaruh perputaran bumi terhadap arah angin. Gaya coriolis merupakan gerakan arah angin yang menyebabkan berputar searah jarum jam. Gaya Coriolis tergantung pada kecepatan berputar bumi atas sumbunya lintang dimana angin yang bersangkutan bertiup dan kecepatan dari angin yang bersangkutan.

Kecepatan angin yang berada pada ketinggian 2 meter di atas tanah dengan gerakan horisontal merupakan angin permukaan yang pada dasarnya terjadi jika ada perbedaan tekanan udara dari tempat terjadinya angin sampai tujuan angin yang menjadi faktor pendorong gerakan kecepatan angin. 
Kecepatan angin yang berada pada ketinggian 2 meter di atas tanah dengan gerakan horisontal merupakan angin permukaan yang pada dasarnya terjadi jika ada perbedaan tekanan udara dari tempat terjadinya angin sampai tujuan angin yang menjadi faktor pendorong gerakan kecepatan angin.

Pada daerah tropis dan subtropis angin pada umumnya dapat bergerak dari arah tenggara bmi selatan dan dari arah timur laut ke belahan bumi utar atau Prevailing wind pada daerah tropis disebut trade wind.

Semakin iklimnya menjadi sedang, akan terjadi gerakan angin uang berhembuh dari arah barat laut pada belahan bumi selatan dan arah barat daya untuk belahan bumi utara. beriklim sedang disebut westerly wind

Pergerakan angin juga berbeda di daerah kutub yang umumnya angin akan bergerak dari daerah timur yakni searah dengan angin pada daerah tropis. daerah kutub disebut disebut polar wind

Pada dasaranya sebuah angin, kecepatannya dapat diukur dengan satuan KNOP (mm laut per jam) menggunakan alat anemometer. 
  1. Kisaran kecepatan angin (range of wind speed) yang dapat dideteksi. Beberapa anemometer mekanis hanya dapat bekerja jika kecepatan angin melampaui batas minimalnya (starting threshold wind speed).
  2. Kelinier tanggapan (linearity of response) pada kisaran kecepatan angin yang diukur.
  3. Kecepatan tanggapan (speed of respone). Kecepatan tanggapan ini biasanya diukur berdasarkan waktu yang dibutuhkan bagi anemometer untuk mulai melakukan pengukuran.
  4. Ukuran alat (size of the instrument). Ukuran ini penting diselaraskan dengan jenis angin yang akan diukur atau ruang tempat pengukuran. Misalnya untuk mengukur kecepatan angin dalam sistem tajuk tanaman dibutuhkan anemometer yang kecil.
  5. Kesesuaian alat dengan arah angin yang akan diukur kecepatannya.

Semoga Bermanfaat

Kegunaan Alat Fish Finder

Kegunaan Alat Fish Finder
Menurut SOLAS 1974, walaupun sebuah kapal telah dilengkapi dengan peralatan navigasi yang canggih / modern, tetapi peralatan navigasi konvensional masih harus ada di kapal. Peralatan navigasi konvensional adalah peralatan navigasi yang tidak memerlukan kelistrikan kapal, sehingga apabila generator kapal padam alat masih dapat digunakan secara normal. Yang termasuk alat navigasi konvensional adalah:

alat navigasi konvensional adalah:
1. Perum (Klasik);
2. Topdal;
3. Sextant;
4. Chronometer pegas;
5. Pedoman magnet; dan
6. Pesawat baring.

Fish finder adalah alat elektronik yang terdapat di kapal yang digunakan untuk mengukur kedalaman air laut. Prinsip kerja “Fish finder” sama dengan “echo sounder” yaitu mengukur kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa tersebut dipancarkan “transducer” kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa tersebut, kemudian diterima oleh “transducer” kapal

selang waktu pulsa saat dipancarkan sampai kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan suara di air dapat dikatakan tetap, maka setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung kedalaman air.

“Fish finder” merupakan alat akustik pendeteksi benda-benda di perairan seperti kelompok ikan, dimana beam yang dihasilkan mendeteksi secara vertikal. Prinsip menggunakan “fish finder” untuk mendeteksi kelompok ikan dan bentuk dari dasar perairan adalah pendeteksian yang dilakukan oleh “transducer”, hasilnya ditampilkan oleh display (layar)  (Alam Ikan 3).

“fish finder” adalah alat bantu penangkapan yang menggunakan prinsip pantulan gelombang suara yang dipancarkan oleh kapal, kemdian setelah menyentuh dasar laut, pulsa gelombang itu dipantulkan kembali ke kapal, sehingga nelayan dapat membaca kedalaman laut di layar “fish finder”. Frekuensi yang digunakan lebih tinggi sehingga dapat mendeteksi keberadaan ikan di perairan, sehingga penggunaan alat bantu penangkapan ini akan mempercepat  nelayan untuk menangkap ikan.

Cara interpretasi fish finder
Beberapa cara interpretasi pada “fish finder” adalah sebagai berikut:

  • Frekuensi rendah (“Low frequency”)

Digunakan untuk area yang lebih luas dan dalam, karena gelombang suara yang dipancarkan rendah maka sinyal yang diterima oleh “receiver” akan lebih baik daripada menggunakan frekuensi tinggi. Frekuensi ini sangat baik untuk pencarian ikan dan memilih kondisi dasar perairan (Alam Ikan 3).

  • Frekuensi tinggi (“High frequency”)

Frekuensi ini digunakan pada kondisi perairan yang dangkal. Sangat baik untuk mendeteksi ikan yang berada dipermukaan perairan. Gelombang suara yang dihasilkan oleh transducer pada kedalaman yang dangkal akan lebih cepat dipantulkan kembali di dasar perairan. Sehingga frekuensi yang cocok untuk dasar perairan yang dangkal adalah frekuensi tinggi


  •  Pilihan Warna (“Color bar”)

“Color bar” berfungsi sebagai pilihan warna pada “fish finder” serta menerangkan adanya hubungan antara intensitas yang digunakan pada “fish finder” dan warna gambar pada layar monitor. Warna gambar pada layar monitor terdiri atas warna merah, orange, kuning, hijau, biru, dan biru gelap. Sedangkan untuk intensitas warna, warna yang paling atas adalah warna merah tua, kemudian semakin ke bawah intensitas semakin redup dan dasar perairan berwarna biru tua. Untuk pemilihan warna latar belakang pada layar monitor, dapat dipilih dengan memilih pada tampilan menu utama


  • Kumpulan Ikan ( “Fish schools”)

Jumlah ikan pada suatu kumpulan ikan dapat diduga dengan melihat pantulan atau gema ikan pada layar monitor, tetapi faktor pengalaman lebih berperan untuk menentukan jumlah ikan. Untuk menentukan jumlah ikan pada layar monitor biasanya sebanding dengan ukuran ikan yang sebenarnya. Tetapi bila ada ikan dengan ukuran yang sama namun berada pada kedalaman yang berbeda, ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dangkal akan lebih kecil ukurannya dibanding dengan ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dalam, karena pantulan gelombang ultrasonik yang dihasilkan akan melebar, hal ini menyebabkan ikan yang berada lebih dalam akan terlihat lebih besar


  • Plankton

Lapisan plankton yang berada di permukaan perairan air mirip dengan kumpulan ikan, dengan tampilan warna pada layar monitor berwarna hijau atau biru. Plankton biasanya turun kebawah permukaan dasar perairan pada siang hari dan muncul ke permukaan pada malam hari. Untuk membedakan plankton dengan kumpulan ikan maka dibutuhkan kecermatan untuk mengamati tampilan pada monitor, dalam hal ini pengalaman sangat berperan untuk membedakannya


  •  Pertemuan arus laut (“Current rip”)

Apabila ada dua arus laut yang bertemu dengan kecepatan yang berbeda arah dan temperatur air, akan menghasilkan arus pertemuan. Pada layar monitor akan terlihat seperti adanya garis kurva di antara permukaan dan dasar perairan


  • Gangguan permukaan (“Surface Noise”)

Ketika kapal melewati gelombang, maka akan menimbulkan suara bising. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pada layar monitor terutama pada bagian atas layar monitor yang menyebabkan adanya warna gelap. Hal ini dapat dihilangkan dengan memfungsikan clutter function


  • Aerated water

Apabila kapal melewati perairan atau melakukan putaran maka akan menyebabkan perbedaan pada gema dasar laut di layar monitor. Hal ini disebabkan karena adanya gelembung udara yang menghambat pancaran gelombang suara yang dipancarkan oleh “transducer”. Untuk meminimalkan hal ini maka harus menggunakan gelombang yang berfrekuensi rendah (“low frekuensi”)

  •  Kepadatan Ikan ( “Fish schools density”)

Jika ada dua ikan yang terlihat dengan warna yang sama namun pada kedalaman yang berbeda, maka ikan yang berada pada kedalaman yang lebih dalam akan terlihat lebih tebal, karena gelombang ultrasonik yang dipancarkan melemah dan menyebar. Tampilan pada layar monitor juga menampakan warna yang lebih lemah

  •  Pantulan Dasar Perairan (“Bottom echoes”)

Pantulan dasar perairan biasanya lebih cerah, pada layar monitor berwarna merah kecoklatan atau merah, tetapi warna dan intensitas akan berubah-ubah sesuai dengan bahan dasar perairan, kedalaman, kondisi laut, frekuensi, panjang gelombang yang digunakan dan sensivitas perairan

  • Bottom lock

NPada perairan yang menampilkan daerah diantara “zoom marker” dan dasar laut, “bottom lock” digunakan untuk memperjelas gambar ikan yang berada didekat dasar perairan. Pada layar monitor, gambar akan dibagi menjadi dua bagian, yang disebelah kanan adalah gambar normal, sedangkan gambar disebelah kiri adalah gambar yang telah diperjelas dimana kumpulan ikan akan tampak lebih jelas dan dasar laut akan terlihat seperti garis lurus

  • Zero line

“Zero line” berfungsi untuk menerangkan posisi “transducer” pada saat terakhir. Apabila terjadi perubahan jarak (pergerakan kapal) maka tampilan pada layar juga akan berubah sesuai dengan kontur dasar perairan

Semoga Bermanfaat

Alat Navigasi Suar dan Pelampungan

Alat Navigasi Suar dan Pelampungan
Mercusuar merupakan sebuah bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut. Sumber cahaya yang digunakan beragam mulai dari lampu sampai lensa dan (pada jaman dahulu) api. Karena saat ini navigasi kapal laut telah berkembang pesat dengan bantuan GPS, jumlah mercusuar di dunia telah merosot menjadi kurang dari 1.500 buah. Mercusuar biasanya digunakan untuk menandai daerah-daerah yang berbahaya, misalnya karang dan daerah laut yang dangkal

Pembangunan mercusuar pada umumnya  memiliki dua fungsi yaitu:
1. Mengingatkan bahwa daerah itu dangkal dan mengamankan jalur laut.
2.  Mengklaim bahwa suatu daerah termasuk kedauatan Indonesia. Negara Indonesia memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan tergabung dalam  “International Maritim Organiztion“ (IMO).

Pembangunan mercusuar merupakan salah satu kewajiban Indonesia sebagai Negara kepulauan.Kewajiban kita sebagai Negara kepulauan untuk memberikan jaminan keamanan navigasi di alur laut kepulauan 

Suar atau lampu suar atau penerangan suar adalah benda pembantu navigasi yang digunakan oleh para navigator untuk petunjuk di mana kapal berada dan kapal harus berlayar ke mana. Pada siang hari suar dapat dikenal dengan melihat bentukbangunan fisiknya, sedangkan pada malam hari dapat dikenal dari karakter pancaran suarnya. Suar terdiri dari berbagai macam, antara lain:
1. Mercu Suar / Menara Suar (Light House)
Alat bantu navigasi yang dibangun di dekat pantai atau di puncak bukit, sehingga jelas kelihatan dari arah laut saat kapal-kapal melintas berlayar. Pada umumnya terbuat dari beton yang dicat putih, atau hitam-putih, maupun merah-putih. Atau dari rangka baja yang dicat dengan warna mencolok, agar terlihat dari kejauhan.
2. Kapal Suar (Light Vessel)
Suar yang dibangun pada sebuah kapal khusus, ditempatkan di suatu perairan yang ramai dan di tambatkan menggunakan jangkar. Untuk masalah perawatan, tiap kapal suar dijaga oleh petugas dari distrik navigasi seperti pada mercu suar.
3. Rambu-Rambu Berpenerangan (Light Beacon)
Suar yang  pada umumnya di bangun di pantai sehingga sebagian bangunannya berada di bawah permukaan air (terendam air). Sebuah rambu terbuat dari rangka baja dengan cat warna merah-putih atau warna mencolok lainnya. Rambu berpenerangan baik untuk patokan penentuan posisi kapal karena posisinya tetap dan kemungkinan bergeser sangat kecil (fix).
4. Pelampung Suar (Light Buoy)
Alat bantu navigasi yang dipasang pada perairan-perairan tertentu, misalnya di perairan sempit, ramai dan memasuki wilayah pelabuhan atau sungai. Pelampung suar dipancangkan di laut dengan menggunakan rantai jangkar dan  jangkar, sehingga dapat membantu para navigator dalam memilih alur pelayaran yang aman.  Adanya bahaya navigasi seperti karang, gosong dan sejenisnya serta memandu kapal pada waktu memasuki dan keluar dari suatu wilayah  pelabuhan.

Berikut penjelasan mengenai sifat penerangan suar.
Menurut (Alam Ikan 1), sifat penerangan dan warna suar secara rinci dapat dilihat pada Daftar Suar, tetapi informasi singkat dapat diketahui pada peta laut. Sifat penerangan suar antara lain:
1. Tetap (Fix = F)
Suar yang memancarkan cahaya tidak terputus.
2. Cerlang (Flashing = Fl.)
Suar yang memancarkan sinarnya secara berkedip dengan selang waktu tetap, dimana nyalanya lebih pendek dari waktu padamnya.
3. Okluting (Occulting = Occ.)
Suar yang memancarkan sinarnya secara berkedip dengan selang waktu tetap, dimana waktu nyalanya lebih lama dari waktu padamnya.
4. Iso-phase (Iso)
Suar yang memancarkan sinarnya berkedip dengan selang waktu tetap, dengan waktu nyala sama dengan waktu padamnya.
5. Huruf kode Morse (Morse Code = Mo)
Suar yang nyalanya mengandung arti kode morse satu huruf dari huruf A sampai Z.
6. Kelompok Cerlang (Group Flashing = Gp. Fl.)
Suar yang nyalanya merupakan kelompok beberapa kali cerlang.
7. Cerlang Cepat (Quick Flashing = Qk. Fl.) atau Cerlang Sangat Cepat (Very Quick Flashing = V.Qk.Fl.)
Suar yang nyalanya merupakan cerlang dengan selang waktu cepat atau sangat cepat.

Warna penerangan daru suatu suar dapat dilihat pada Daftar Suar dan pada peta laut yang digunakan. Warna penerangan yang digunakan adalah hijau, merah, putih dan kuning. Sedangkan warna fisik bangunannya adalah hijau, merah, merah-putih, hitam-putih dan kuning (Alam Ikan 1).

Pelampung suar dan sistem pelampungan
Pelampung suar adalah alat pembantu navigasi yang sangat penting bagi para navigator untuk memasuki wilayah perairan suatu pelabuhan. Selain tipe pelampung yang berbeda-beda, tiap-tiap Negara menggunakan sistem pelampungan yang berbeda pula. Sistem yang digunaklan Negara yang satu dengan Negara yang lain juga berbeda dan mungkin dalam beberapa hal berlawanan (Alam Ikan 1).

Pelampung dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Pelampung Kardinal
Pelampung yang menunjukkan arah pelayaran yang harus diikuti adalah sisi sesuai mata angin (Selatan, Utara, Timur dan Barat).
2. Pelampung Lateral
Pelampung yang menunjukkan arah sisi kanan dan kiri dari lambung kapal untuk menunjukkan sisi perairan yang aman dilayari oleh kapal-kapal.

Dari tipe kelompok pelampung  di atas, Kardinal dan Lateral, IALA (International Association on Lighthouse Authorities) yaitu sebuah badan internasional yang berwenang mengatur tentang suar dan pelampungan, menetapkan bahwa di dalam dunia maritim tiap Negara dapat menggunakan salah satu dari dua system pelampungan yang disetujui yaitu:

1. Sistem Pelampungan “A”
Sistem pelampungan yang merupakan gabungan antara sistem Lateral dan sistem Kardinal. Sistem ini adalah yang digunakan kebanyakan Negara maritim, termasuk Indonesia.
2. Sistem Pelampungan “B”
Sistem pelampungan yang hanya menggunakan sistem Lateral saja, tidak banyak Negara yang menggunakan sistem ini. Contoh Negara yang menggunakannya adalah Jepang.

Semoga Bermanfaat

Klasifikasi dan Metode Bubu Dasar

Cara Pengoperasian Bubu Dasar

Bubu dasar merupakan Alat tangkap yang bersifat pasif, dibuat dari anyaman bambu (bamboos netting), anyaman rotan (rottan netting), anyaman kawat (wire netting), kere bambu (bamboos screen), misalnya bubu (fish pot), sero (guiding barrier). Bubu dasar merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuknya banyak sekali, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu dasar  ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lain-lainnya.
Bubu lipat adalah alat perangkap yang mempunyai satu atau dua pintu masuk dan diangkat dengan mudah (dengan atau tanpa perahu) ke daerah penangkapan. Kemudian alat tersebut dipasang di permukaan atau dasar perairan selama jangka waktu tertentu. Untuk menarik perhatian ikan, kadang-kadang didalam bubu lipat ini diberi umpan, umpan dapat berupa Ikan asin. dapat pula dilipat sehingga dapat diletakkan diperahu dalam jumlah banyak dan efisien.




Alat-alat tangkap tersebut baik secara temporer (temporarity), semi permanen (semi permanently) maupun permanen (tetap), dipasang (ditanam) di dasar laut, diapungkan atau di hanyutkan, ikan-ikan atau sumber daya perikanan laut yang tertangkap atau terperangkap disebabkan oleh adanya rangsangan dari umpan ataupun tidak.  

Metode dan cara pengoperasian bubu dasar dan bubu lipat
bahwa cara penggunaan bubu tergantung dari jenis bubunya. Pengoperasian bubu ini dapat digunakan secara berganda ataupun secara tunggal. Bubu biasanya diletakkan di dasar perairan dengan diberi umpan atau tanpa umpan. Selanjutnya untuk alat tangkap jenis traps yang digunakan di daerah pantai sifatnya adalah menghadang ikan atau biota laut lainnya, yang pada saat pasang mendekati pantai dan pada saat surut menjauhi pantai. Pada prinsip utama bubu dalam pengoperasiannya adalah mengarah pada biota yang menjadi sasarannya menuju ke mulut selanjutnya terperangkap didalam ruangan. Bubu merupakan perubahan atau modifikasi dari bubu yang telah ada. Perubahan tersebut berdasarkan biota yang akan ditangkapnya.


Dalam pengoperasiannya bubu dilengkapi dengan tali untuk mengikat pelampung yang dimaksudkan agar mempermudah dalam pengambilan bubu tersebut dari dasar perairan. Bubu juga dilengkapi dengan umpan dari potongan ikan terutama ikan yang menimbulkan bau sehingga pemangsa mau mendekat. Pemberian umpan ini bertujuan untuk menarik perhatian ikan agar terperangkap didalam bubu. Setelah itu dilakukan penurunan pelampung tanda dilanjutkan penurunan bubu beserta pemberatnya. Setelah dianggap posisinya sudah baik maka pemasangan bubu dianggap sudah selesai. Bubu dimasukkan kedalam air selama kurang lebih sehari semalam, setelah sehari semalam pengangkatan bubu dilakukan.

Klasifikasi Bubu Dasar dan Bubu Lipat
mengklasifikasi bubu menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Berdasarkan sifatnya sebagai tempat bersembunyi / berlindung : 
  • Perangkap menyerupai sisir (brush trap)
  • Perangkap bentuk pipa (eel tubes)
  • Perangkap cumi-cumi berbentuk pots (octoaupuspots) 

2. Berdasarkan sifatnya sebagai penghalang
  • Perangkap yang terdapat dinding / bendungan 
  • Perangkap dengan pagar-pagar (fences)
  • Perangkap dengan jeruji (grating)
  • Ruangan yang dapat terlihat ketika ikan masuk (watched chambers) 

3. Berdasarkan sifatnya sebagai penutup mekanis bila tersentuh
  • Perangkap kotak (box trap)
  • Perangkap dengan lengkungan batang (bend rod trap) 
  • Perangkap bertegangan (torsion trap)

4. Berdasarkan dari bahan pembuatnya
  • Perangkap dari bahan alam (genuine tubular traps)
  • Perangkap dari alam (smooth tubular)
  • Perangkap kerangka berduri (throrrea line trap)

5. Berdasarkan ukuran, tiga dimensi dan dilerfgkapi dengan penghalang 
  • Perangkap bentuk jambangan bunga (pots)
  • Perangkap bentuk kerucut (conice) 
  • Perangkap berangka besi

Klasifikasi Bubu Dasar
Alat ini dapat dibuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting), dan anyaman kawat (wire netting). Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti silinder, setengah lingkaran, empat persegi panjang, segi tiga memanjang dan sebagainya. Dalam pengoperasiannya dapat memakai umpan atau tanpa umpan. 


Konstruksi Bubu Dasar
bahan bubu biasanya terbuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rottan netting) dan anyaman kawat (wire netting). Pada umumnya, bubu yang digunakan terdiri dari: 
a.  Badan atau tubuh bubu
  • Badan atau tubuh bubu umumnya terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm dan tinggi 40 cm. bagian ini dilengkapi pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu ke dasar perairan yang terletak pada keempat sudut bubu.

b.  Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
  • Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak pada bagian bawah sisi bubu. Lubang ini berdiameter 35 cm, posisinya tepat di belakang mulut bubu. Lubang ini dilengkapi dengan penutup.

c. Mulut bubu
  • Mulut bubu berfungsi untuk tempat masuknya ikan yang terletak pada bagian depan badan bubu. Posisi mulut bubu menjorok ke dalam badan atau tubuh bubu berbentuk silinder. Semakin ke dalam diameternya semakin mengecil. Pada bagian mulut bagian dalam melengkung ke bawah sepanjang 15 cm. Lengkungan ini berfungsi agar ikan yang masuk sulit untuk meloloskan diri keluar  

Semoga Bermanfaat

Cara Pengoperasian Bagan Tancap

Cara Pengoperasian Bagan Tancap
Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang digunakan nelayan di tanah air untuk menangkap ikan pelagis kecil, pertama kali diperkenal oleh nelayan Bugis-Makassar sekitar tahun 1950-an.  Selanjutnya dalam waktu relatif singkat sudah dikenal di seluruh indonesia.  Bagan dalam perkembangannya  telah banyak mengalami perubahan baik bentuk maupun ukuran yang dimodifikasi sedekian rupa sehingga sehingga sesuai dengan daerah penangkapannya.  Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan ke dalam  jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing


Klasifikasi Bagan Tancap
Bagan tancap merupakan perkembangan dari alat tangkap anco atau jodang, di mana letak perbedaannya adalah pada daerah penangkapannya.
  1.   mengklasifikasikan bagan tancap ke dalam liftnet dengan prinsip dasar pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan serta menaikkan ke dalam air.
  2.  menggolongkan alat ini ke dalam “ mengajak atau menggiring “ lalu menyesatkan ke dalam alat tangkap
  3.   memasukkan bagan tancap ke dalam “ capture, then kill with trap and net “ (mengklasifikasikan alat ini berdasarkan pemakaian net sebagai jebakan)
  4.  mengelompokkan bagan tancap bersama Hanco (anco), Yotsudo ami, Bouke ami (stick held dip net) ke dalam alat “menghamparkan alat” menunggu sampai ikan berada atau berkumpul di atasnya, untuk kemudian diangkat atau ditarik ke atas.
  5.  dalam bukunya Fish Catching Methods of The World mengelompokkan bagan tancap termasuk dalam lift net. 

Ada dua jenis tipe bagan yang ada di Indonesia. Yang pertama adalah bagan tancap yaitu bagan yang ditancapkan secara tetap di perairan dengan kedalaman 5-10 meter, yang kedua adalah bagan apung, yaitu bagan yang dapat berpindah dari satu fishing ground ke fishing ground lainnya (Mulyono, 1999). Bagan terapung dapat diklasifikasikan lagi menjadi bagan dengan satu perahu, bagan dua perahu dan bagan rakit.


Bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk segi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh diatas perairan, dimana pada tengah bangunan tersebut dipasang jaring. Dengan kata lain alat tangkap ini sifatnya inmobile. Hal ini karena alat tersebut ditancapkan ke dasar perairan, yang berarti kedalaman laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas yaitu pada perairan dangkal yang subtrat baik untuk pemasangan adalah lumpur campur pasir (Alam Ikan 9) 

Cara pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut :

  • Terlebih dahulu nelayan mempersiapkan perlengkapan yang akan di pergunakan dalam operasi penangkapan. Perlengkapan tersebut dapat berupa ; perbekalan pribadi nelayan, beberapa lampu pompa lengkap dengan cadangannya (kaos lampu, minyak tanah, serta korek api), kapal dan perlengkapan yang di butuhkan lainnya.
  • Sebaiknya sebelum matahari terbenam, dengan mempergunakan perahu nelayan telah meninggalkan daratan untuk menuju ke bagan. Setelah tiba di bagan, nelayan menambatkan perahunya pada salah satu tiang bagan. kemudian nelayan dapat membawa seluruh perlengkapan yang diperlukan ke atas bagan.
  • Setelah sampai diatas bagan, jaring bagan kemudian diturunkan kedalam air. Lalu menyalakan beberapa (3 – 4 buah) lampu pompa, dan menurunkan tali lampu pompa tersebut hingga mendekati permukaan air, jarak lampu dengan permukaan laut ± 0,5 - 3,5 m.
  • Kemudian dilakukan ialah setting, yaitu penurunan jaring bagan ke dalam air. Lama setting pada tiap bagan berbeda-beda, tergantung pada kedalaman air pada tiap bagan tancap serta tenaga dan jumlah orang yang melakukan penurunan jaring tersebut. 
  • Menurunkan tali lampu tekan petromak tersebut hingga mendekati permukaan air. Jarak peletakan lampu tekan petromak dengan permukaan laut tergantung pada keadaan gelombang dan angin. Peletakan lampu petromak pada bagan 2, 3, dan 4 berkisar 50 cm dari permukaan air. 
  • Langkah selanjutnya yaitu immersing, yaitu perendaman jaring beberapa waktu sampai ikan-ikan berkumpul. Setiap berkala dilakukan pengamatan terhadap ikan-ikan yang berkumpul mendekati lampu dan masuk ke dalam jaring. Akan tetapi ketentuan waktu tersebut tidak mengikat karena tergantung Bapak nelayannya. Jaring bagan dapat segera diangkat, pada saat terdapat banyak ikan yang berada didalam jaring, atau pada saat ikan telah mendekat dan 
  • lampu petromak  atau jenset dinaikkan dari permukaan air setelah banyak ikan yang berkumpul.
  • Hauling, yaitu pengangkatan jaring setelah banyak gerombolan ikan yang terkurung di jaring dengan menggunakan alat bantu penarik jaring (katrol) yang terbuat dari bambu dengan cara memutar batang penggiling atau katrol, kemudian jaring bagan secara perlahan-lahan naik ke atas sampai kerangka jaring bagannya terangkat seluruhnya. 
  • Ikan-ikan yang tertangkap dalam jaring kemudian diambil dengan menggunakan alat “serok”  atau scop net untuk di pindahkan kedalam keranjang ikan yang telah dipersiapkan.
  • Pengoperasian berikutnya dilakukan seperti tahapan di atas dengan selang waktu penangkapan berkisar 1 – 1,5 jam.

Kontruksi Bagan Tancap
Bagan terdiri dari komponen-komponen penting, yaitu: jaring bagan, rumah bagan (anjang-anjang, kadang tanpa anjang-anjang), serok dan lampu. Jaring bagan umumnya berukuran 9 x 9 m, # 0,5 – 1 cm, bahan dari benang katun atau nilon atau kadang menggunakan bahan dari jaring karuna. Jaring tersebut diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu, tapi kadang juga tanpa diberi bingkai (bagan perahu). Rumah bagan (anjang-anjang) terbuat dari bambu atau kayu yang berukuran bagian bawah 10 x 10 m, sedang bagian atas berukuran 9,5 x 9,5 m (itu untuk tipe bagan tancap). Pada bagian atas rumah bagan (baca, plataran bagan) terdapat alat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu penangkapan. Penangkapan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan 

Bagian-bagian bagan menurut (Alam Ikan 8) adalah sebagai berikut:
  1. Jaring : bahan dari waring berbentuk bujur sangkar.
  2. Bingkai (rangka) : bingkai (rangka) terbuat dari bambu atau bahan lainnya berbentuk bujur sangkar yang berfungsi untuk menggantungkan jaring.
  3. Tali penarik jaring : tali yang terbuat dari Polyetheline (PE) atau bahan lainnya yang berfungsi untuk menaikturunkan jaring bagan.
  4. Pemberat : bahan yang mempunyai daya tenggelam dipasang pada bingkai dan bagian tengah jaring, berfungsi untuk menenggelamkan jaring.
  5. Lampu : alat penerangan berupa lampu tekan minyak atau lampu penerangan lainnya berfungsi sebagai alat pengumpul ikan.

Semoga Bermanfaat